Highlander (1986) : Ksatria Abadi Bangsa Skotlandia

Dunia Sinema Highlander Connor MacLeod
EMI Films, 20th Century Fox

Here we are … born to the king, we’re the princes of the universe …
 
Kalimat pembuka dari lirik lagu tersebut menghiasi opening credit dari film Highlander, baik versi layar lebar maupun serial televisinya. Popularitas film Highlander begitu familiar ketika ditayangkan oleh salah satu televisi swasta di medio 90'an, melalui karakter ksatria abadi bernama Duncan MacLeod yang diperankan Adrian Paul.

Oh ya, saat itu juga ditayangkan versi serial animasinya dengan karakter utama bernama Quentin MacLeod. Hingga setelah menonton versi layar lebarnya yakni Highlander (1986), malah karakter utamanya bernama Connor MacLeod, akibatnya saya menyadari bahwa kedua serial televisi itu merupakan sebuah spin-off.

Popularitas franchise film Highlander yang melahirkan empat sekuelnya, kemudian merambah kepada berbagai format termasuk merchandise. Entah mengapa dengan para kritikus yang menilai film tersebut dengan angka medioker, yang diperparah dengan pendapatan yang merugi dari biaya produksi yang dikeluarkan. Namun berkat sejumlah fans melalui format video hingga kini, film tersebut berstatus cult.
 
Dugaan awal saya bahwa Highlander merupakan adaptasi dari mitos atau legenda bangsa Skotlandia adalah salah besar. Idenya berasal dari seorang penulis naskah dan sineas Amerika, yakni Gregory Widen. Terinspirasi saat ia menjadi mahasiswa yang berkunjung ke Skotlandia dan mengamati kostum ksatia perang peninggalan abad pertengahan, maka ia berimajinasi bagaimana jika mereka masih hidup hingga kini.

Film Highlander mengisahkan
para ksatria abadi yang memperebutkan "The Price" atau hadiah berupa seluruh pengetahuan semesta dan tujuan akhirnya yakni "Puncak Hidup", syaratnya mereka harus saling membunuh dengan cara kepalanya dipenggal, hingga akhirnya hanya seorang ksatria saja yang berhak mendapatkannya.

Adapun setelah kepala musuh dipenggal, maka muncul proses "The Quickening", berupa kilatan cahaya yang menyerap energi dari musuhnya itu. Puncak semua ksatria abadi yang masih bertahan akan saling berhadapan, akan berada di lokasi yang disebut "The Gathering" yang berada di tanah suci.

Dan Connor MacLeod (Christopher Lambert) dari klan MacLeod, penduduk bangsa Skotlandia yang hidup di abad pertengahan, tidak menyadari bahwa ia adalah salah satu ksatria abadi, hingga ia bertemu dengan Juan Sánchez Villa-Lobos Ramírez (Sean Connery) yang mengajarinya cara menjadi ksatria, sejak MacLeod adalah orang yang terpilih berdasarkan ramalan.



Dunia Sinema Highlander Kurgan
EMI Films, 20th Century Fox

Namun, seorang ksatria antagonis yang tak terkalahkan, yakni Kurgan (Clancy Brown) juga berambisi memperebutkan hadiah demi kekuasaan pribadinya. Malah Kurgan dengan nafsu mencari dan ingin membunuh MacLeod dari awal, sebelum MacLeod sendiri menyadari bahwa ia seorang ksatria.
 
Pertama kali menyaksikan film Highlander, mungkin anda akan bingung terhadap alur cerita yang non-linear, saat MacLeod selalu teringat peristiwa di masa lalunya dalam berbagai jaman dan lokasi yang berbeda, tertuang dalam berbagai adegan flashback. Sedangkan setting waktu ceritanya memang berada di jaman modern kontemporer (boleh dikatkaan tahun 1986 saat itu), melalui adegan pembuka pertarungan MacLeod dengan seorang ksatria abadi lainnya di sebuah parkiran mobil!

MacLeod memakai nama Russell Nash sebagai seorang pedagang barang antik yang menjalani kehidupan normalnya. Akibat dari pertarungan yang menyebabkan tewasnya pihak lawan, Nash/MacLeod dicurigai oleh Brenda Wyatt (Roxanne Heart), seorang polisi forensik yang juga tertarik dengan berbagai benda logam purbakala.Hingga akhirnya Nash/MacLeod bertemu kembali dengan musuh besarnya, yakni Kurgan yang nantinya akan berduel memperebutkan "The Price".

Maka, ada dua setting waktu yang berjalan pararel dalam film itu, yakni masa abad pertengahan saat MacLeod bertemu dengan
Ramírez yang kemudian menjadi mentornya, serta kisah asmara romantis MacLeod dengan Heather (Beatie Edney) yang setia hingga wafat, serta awal konfrontasi MacLeod dengan Kurgan.

Sedangkan setting waktu modern, MacLeod sebagai Nash yang menjalin romansa dengan Brenda, kembali berhadapan dengan Kurgan seorang ksatria abadi maniak.

Kedua plot tersebut yang diselipkan dengan beberapa penggalan sub-plot kisah MacLeod sendiri, mampu diarahkan dengan brilian oleh Russell Mulcahy, sehingga menguatkan emosi dan empati audiens dalam berbagai momen yang pas.

Seperti saat MacLeod bertemu dengan Brenda, jadi teringat akan momen romantis dengan Heather. Begitu pula diperkenalkannya karakter Rachel, seorang sekretaris Nash di masa kini, mengingatkan momen MacLeod yang menyelamatkan Rachel dalam masa Perang Dunia II.


Dunia Sinema Highlander Duel MacLeod dan Kurgan
EMI Films, 20th Century Fox

Akting seorang aktor Perancis yang lahir di Amerika, Christopher Lambert sebagai MacLeod, saya rasa memang pas untuk seorang penyendiri yang hidup berabad-abad, serta merasa terasingkan sekaligus kesepian tentunya karena ditinggal orang-orang yang diasayanginya.

Hal itu terlihat jelas dari mimik muka, serta sorotan mata yang tajam dan dingin namun berkesan aneh, menegaskan keunikan tersendiri akan seseorang yang penuh misteri dalam sebuah rahasia terdalam. Aksen Scottish-nya juga cukup baik dalam adegan di abad pertengahan.

Malah ironisnya, aktor berkebangsaan Skotlandia yakni Sean Connery, berperan menjadi Ramirez, yang berasal dari Mesir dan lama menetap di Spanyol, dengan aksen British yang cukup kental. Namun karismanya itulah yang kadang melakukan humor dengan mencairkan suasana tegang akan keganasan Kurgan, serta dialog yang berwibawa dan menyejukkan MacLeod sebagai muridnya.

Sedangkan aktor Amerika yang sering berperan antagonis, Clancy Brown sebagai Kurgan, begitu terlihat menakutkan, dengan nada suara serak dan rendah –gara-garanya leher dia hampir terpenggal oleh musuhnya- serta berbadan tinggi besar dan memiliki muka sangar serta sadis. 

Tahukah anda bahwa
Mulcahy melakukan debutnya lewat film ini? Sebelumnya ia adalah seorang sineas video clip lagu dan komersil, yang ternyata memang lihai mengarahkan sinematografi yang begitu indah dan artistik. Kekuatan visual terutama di abad pertengahan akan indahnya Skotlandia yang dikontraskan dengan pakaian tradisional kelt yang dominan berwarna biru atau merah tua.
 

Dunia Sinema Highlander MacLeod dan Ramirez
EMI Films, 20th Century Fox

Berbagai setting berupa pemandangan eksotis alam Skotlandia di pemukiman klan MacLeod tersaji, lengkap dengan jalur yang sepertinya sebagai Tembok Hadrian, dataran tinggi yang menjadi latar belakang tempat tinggal Macleod dan Heather, danau dengan latar belakang kastil serta pantai tempat Macleod dan Ramirez berlatih. Sudut dan sorotan kamera berhasil memainkan view artistik dan kedalaman fokus di banyak adegan dengan baik.

Kekuatan film ini tak lepas dari aransemen Michael Kamen dan beberapa lagu yang dibawakan oleh Queen. Lagu Princes of the Universe yang powerfull berada dalam opening credits, lagu Theme from New York, New York dalam pertengahan cerita dengan setting di kota New York, hingga lagu A Kind of Magic berada di ending credits.

Salah satu adegan memorable serta sangat emosional dan menyentuh, yakni sekuen kebersamaan MacLeod dan Heather dengan latar belakang di kediaman mereka dari masa ke masa, hingga Heather bertambah usia, semakin tua dan akhirnya wafat di pelukan MacLeod yang setia mendampinginya, diiringi oleh lagu Queen, Who Wants to Live Forever.

Film Highlander menggambarkan karakter heroik yang awalnya menolak takdirnya sendiri sebagai ksatria abadi, dan mengalami pergumulan batin, meski memang terdengar klise. Namun dari sisi manusiawi, siapa yang akan menyangka jika ternyata hidup abadi adalah menyakitkan, karena ditinggal oleh orang-orang sekitar yang disayanginya.

Highlander merupakan warisan budaya populer orisinal yang berhasil membuat legenda modern terhadap kultur bangsa Skotlandia, sebagai simbol
heroik ksatria abadi yang manusiawi. Lalu untuk apa lagi dibuat ulang? 

Karena sesuai dengan slogannya ... There can be only one!

Score : 4 / 4 stars

Highlander | 1986 | Petualangan, Aksi Laga, Fantasi, Period | Pemain: Christopher Lambert, Roxanne Hart, Clancy Brown, Sean Connery | Sutradara: Russell Mulcahy | Produser: Peter S. Davis, William N. Panzer | Penulis: Gregory Widen | Musik: Michael Kamen (Aransemen), Queen (Lagu) | Sinematografi: Gerry Fisher | Distributor: EMI Films (Inggris), 20th Century Fox (Amerika Serikat) | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 116 Menit

Comments