Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Pesugihan dan Kerasukan jadi Satu
![]() |
| Paragon Pictures |
Sinema horor review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tentang pesugihan dan kerasukan jadi satu.
Sekuel horor Kuasa Gelap tentang eksorsisme kini kembali tayang yaitu Perjanjian Darah tentang pesugihan dan kerasukan jadi satu.
Kali ini premis cerita lebih besar dan sepertinya rumit, serta elemen suspense misteri dalam film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah.
Baca juga: Kuasa Gelap: Eksorsisme Rasa Lokal dengan Atmosfir Horor Kental
Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah masih melanjutkan film terdahulu, tradisi eksorsisme Gereja Katolik di Indonesia berdasarkan peristiwa nyata.
Lukman Sardi sebagai Romo Rendra dan Jerome Kurnia sebagai Romo Thomas masih melanjutkan petualangan mereka sebagai dua figur protagonis utama.
Berdasarkan kesuksesan jumlah penonton 1,5 juta orang di bioskop pada film Kuasa Gelap pertama, kemudian dikembangkan jadi sebuah sekuel.
Sang penulis merangkap salah satu produser Robert Ronny kali ini menyerahkan kursi sutradara kepada Rizal Mantovani yang terbiasa menangani berbagai film horor Indonesia.
Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah ini semakin meneguhkan varian horor baru eksploitasi eksorsisme Gereja Katolik di Indonesia.
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah mengisahkan saat Romo Rendra dan Romo Thomas mendapatkan tugas dari gereja untuk menyelidiki keluarga Halim.
Diketahui bahwa Halim (Ferry Salim) adalah pengusaha perikanan, memiliki istri Linda (Feby Febiola) seorang Katolik yang taat, serta anak tunggal, Daniel (Venly Arauna).
Romo Rendra dan Romo Thomas ditugaskan untuk menyembuhkan sekaligus mengusir roh jahat yang merasuki Daniel.
Keluarga Halim tinggal di kota pesisir pantai, yang juga jadi masa kecil Romo Rendra saat ia bersama Halim tinggal di panti asuhan.
Pertemuan kembali Romo Rendra dengan Suster Aloysia (Lydia Kandou) penjaga panti asuhan yang kini sudah saki-sakitan, menjadi refleksi diri masa kecil nya dengan Halim.
Atas insiden masa kecil, Rendra dan Halim kehilangan sahabat mereka, Yanto sehingga Halim menyalahkan Rendra.
Sementara, Daniel seringkali kerasukan roh jahat yang memiliki kekuatan besar dan sepertinya terkoneksi dengan pesugihan keluarga Halim.
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah selama 1,5 jam durasi cerita film, secara keseluruhan masih mampu memberikan tontonan tipikal horor eksorsisme Gereja Katolik di Indonesia yang kaya akan akulturasi budaya dan kearifan lokal.
Kali ini tema pesugihan yang kembali tren dan viral di Indonesia menjadi premis cerita sangat relevan dalam masyarakat Indonesia.
Tampaknya pengembangan cerita Kuasa Gelap: Perjanjian Darah kali ini diupayakan agar lebih dalam dan rumit, serta bergilir.
![]() |
| Paragon Pictures |
Apa yang dimaksud bergilir yaitu kali ini eksploitasi masa lalu Romo Rendra, setelah sebelumnya karakter jangkar dipegang Romo Thomas juga melalui pemulihan dari tragedi masa lalu.
Secara premis cerita, film ini memang menarik dan cenderung mengangkat elemen suspense misteri, terasa lebih menggigit terutama dalam babak pertama cerita.
Dalam kilas balik yang jadi cerita pembuka, sangat disayangkan banyak kekurangan terutama adegan insiden tenggelamnya figur Yanto dan setelahnya, seperti adegan murahan ala AI, tidak ada drama emosional yang pas, termasuk gerak reaksi karakter dan lingkungan sekitar.
Babak pertama setting waktu masa kini mungkin yang terbaik di film ini, terutama saat pertama kali mengunjungi rumah Keluarga Halim yang sudah menunjukkan kesan misterius, serta atmosfir horor yang meyakinkan.
Babak kedua cerita sebenarnya memiliki potensi yang lebih baik, seandainya bisa dieksekusi lebih matang dari semua aspek, terutama alur terperinci serta adegan yang lebih natural ataupun pendalaman karakter yang lebih emosional.
Lubang besar alur cerita memang terjadi dalam babak ketiga, saat Romo Thomas seketika sendirian haus melakukan eksorsisme terhadap Daniel, sedangkan Romo Rendra harus mengurusi Suster Aloysia yang sakitnya itu tidak parah secara medis.
Entah mengapa dibuatkan jeda waktu yang rasanya tidak masuk akal, dan alah mengulur waktu.
Hampir semua adegan film ini terasa kaku, terutama dalam proses eksorsisme dan perlawanan roh jahat dari dalam tubuh Daniel, bagaimana reaksi kedua romo tersebut misalnya terjatuh, terpukul, terhantam, meski adegan terpental cukup bagus.
![]() |
| Paragon Pictures |
Puncaknya yaitu yang terjadi pada kekasih Daniel yaitu Nia (Keysha Angelica) yang terasa janggal eksekusi nya.
Selain itu, salah pemilihan casting perbedaan usia Lydia Kandou dengan Lukman Sardi pun, tidak sesuai dengan adegan masa kecil Rendra saat diasuh Suster Aloysia muda yang diperankan Sisca Saras.
Adegan puncak atau finale yang seharusnya epik, malah terkesan konyol dan malah hancur, terutama sejumlah anak buah Halim yang melakukan demo tapi akhirnya hendak menghabisi nyawa Halim sementara Romo Rendra dan Romo Thomas melakukan eksorsisme terhadap Daniel di sebuah gudang yang terkunci di dalam nya.
Tapi dari semua kekurangan itu, film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga menyimpan sejumlah nilai plus, terutama performa Venly Aruna sebagai Daniel yang bermain eksploitasi psikologis diantara momen saat kerasukan roh jahat.
Performa mengesankan sekaligus menyingkirkan stereotip bahwa wujud seram horor Indonesia juga bisa pada figur laki-laki.
Efek tata rias dengan kombinasi CGI film ini saya patut apresiasi melalui eksekusi yang tidak murahan.
Oh ya, sementara wujud iblis roh jahat itu dalam adegan terakhir setelah sempat melakukan monolog, juga digarap cukup impresif meskipun ya berbasis CGI.
Adegan paling intens dengan atmosfir horor terbaik film ini yaitu saat Linda terbangun tengah malam dan mengalami teror yang menakutkan.
![]() |
| Paragon Pictures |
Karakter pendukung yaitu Romo Wicaksana yang diperankan Kiki Narendra merupakan nilai plus film ini yang memberikan nuansa segar, melalui selingan humor dan menghadirkan intrik tersendiri.
Sebuah pelintiran besar dalam narasi cerita film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah juga turut memperkuat alur cerita yang memberikan kejutan tersendiri, dari semua kekurangan yang ada.
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah merupakan sekuel yang secara keseluruhan dibalik hal yang lebih besar, malah sedikit menurunkan kualitas daripada film sebelumnya.
Eksekusi yang hadir dalam film ini sangat disayangkan untuk sekelas Rizal Mantovani melalui alur cerita terperinci, casting, serta beberapa adegan tertentu saat eksorsisme.
Bagaimanapun juga, film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah ini tetap layak dan mendapatkan apresiasi sebagai tontonan horor eksorsisme Gereja Katolik yang sangat langka untuk produksi Indonesia.
Kuasa Gelap: Perjanjian Darah saya rasa mampu menangkap momen melalui tema pesugihan yang berkenaan dengan eksorsisme saat ini dalam dunia perfilman horor Indonesia.
Itulah sinema horor review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah tentang pesugihan dan kerasukan jadi satu.
Score: 2.5 / 4 stars
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah | 2026 | Horor, Misteri | Pemain: Lukman Sardi, Jerome Kurnia, Venly Arauna, Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra, Faiz Vishal | Sutradara: Rizal Mantovani | Produser: Robert Ronny, Prima Taufik | Penulis: Robert Ronny, Andi Cahyadi | Musik: Ricky Lionardi | Sinematografi: Yadi Sugandi | Penyunting: Wawan I. Wibowo | Distributor: Paragon Pictures | Negara: Indonesia | Durasi: 96 menit





Comments
Post a Comment