John Carpenter, Sang Maestro Independen (Bagian 1)

Dunia Sinema Profile John Carpenter
Metro

Era 70'an dan 80'an adalah puncak kejayaaan karirnya yang mengkombinasikan berbagai
genre film, melalui berbagai karakter ikonik, bahkan rata-rata filmnya berstatus cult. Gaya penuturan dan penyajian yang unik, terutama melalui karakter, visual dan atmosfir misteri, kadang tercampur dengan kengerian, adalah berkat kejeniusan seorang sineas maestro visioner yang sukses melalui jalur independen.

Tak pelak, saya nobatkan John Carpenter sebagai sineas film terfavorit, karena dia juga satu-satunya orang yang memiliki multi-talenta dalam menulis cerita dan membuat naskah, menyutradarai, memproduseri, serta mengaransemen tema musik di hampir semua film garapannya.

Siapa yang tak kenal film Halloween (1978), Escape from New York (1981), The Thing (1982) atau They Live (1988)? Kenalkah anda dengan karakter Michael Myers atau Snake Plissken? Memang tidak semua moviegoers masa kini familiar, tapi tentunya penggemar film cult kenal betul yang saya sebutkan tadi. 

Kepopuleran Carpenter mulai memudar di era 90'an, dan sayangnya hingga kini belum ada gebrakan karya barunya selain sebagai eksekutif produser film Halloween (2018), karena sibuk pada proyek musik. Carpenter seringkali mendapat sukses lewat distribusi film independen, namun kerap pula gagal lewat distribusi studio besar. Tampaknya, julukan maestro independen patut menjadi milik John Carpenter, sineas profesional unik dalam mengkreasi secara total akan keterbatasan materi dalam proses pembuatan film.


Awal Perjalanan Karir John Carpenter

John Carpenter lahir pada tanggal 16 Januari 1948 di Carthage, New York, Amerika Serikat. Masa kecilnya dipengaruhi oleh film-film western karya Howard Hawks dan John Ford, juga film fiksi ilmiah horor seperti The Thing from Another World (1951) dan Forbidden Planet (1956). Ia sempat kuliah di Western Kentucky University, di tempat ayahnya memimpin departemen di jurusan musik, pantas saja ia handal sebagai menjadi komposer film!

Carpenter lalu melakukan transfer studi School of Cinema di University of Sothern California. Di tahun 1969, ia menulis dan menyutradarai sebuah film pendek berdurasi delapan menit dengan beberapa elemen yang kelak dijadikan basis film Halloween, yakni Captain Voyeur.

Setahun kemudian, ia berkolaborasi dengan John Longenecker sebagai co-writer, editor film sekaligus komposer musik dalam The Ressurection of Bronco Billy (1970), sebuah pencapaian prestisius, karena memenangkan penghargaan Oscar sebagai The Best Live Action Short Film.


Pembuktian Sukses Jalur Independen

Karir profesionalnya sebagai sutradara sekaligus produser layar lebar ditandai dengan hadirnya Dark Star (1974), sebuah film fiksi ilmiah dengan elemen dark comedy, berduet dengan penulis cerita yang terkenal dengan film Alien, yakni Dan O’Bannon. Film yang berstatus cult tersebut dapat dikatakan merupakan parodi dari 2001: A Space Odissey (1968). Menonton film Dark Star memang agak sulit dicerna, meski cukup fun.

Nama Carpenter kian dikenal saat ironisnya dipuji oleh Eropa melalui film keduanya, yakni Assault on Precinct 13 (1976), kali ini ber-genre action thriller, sekaligus tribut dari terhadap sineas Howard Hawks dari film western-nya, Rio Bravo (1959) serta zombie-nya George A. Romero, Night of the Living Dead (1968). Film ini tentu saja cult classic, begitu eksploitatif dan mengejutkan, begitu menegangkan sekaligus melahirkan one-liner quote.

Setahun kemudian, Carpenter menggarap film horor standar untuk televisi, Someone’s Watching Me! (1978) dan menulis cerita horor di tahun yang sama untuk film Eyes of the Laura Mars, film yang disebut sebagai American Giallo tersebut memang menarik, meski naskah Carpenter saat itu telah dirombak.

Di tahun yang sama, tentu saja berkat Halloween (1978) yang dirilis melalui jalur independen tersebut, nama Carpenter mulai diperhitungkan sebagai sineas top. Film itulah sebagai format slasher modern, yang kemudian ditiru oleh yang lain, meski basis awal dirintis oleh Black Christmas (1974). Film tersebut menjadi salah satu film horor independen terlaris sepanjang masa, masuk daftar National Film Registry, Michael Myers yang ikonik, hingga menjadi bagian dari pop culture global. 

Tahun 1979 menandakan kolaborasi pertama Carpenter dengan aktor yang populer dalam beberapa film Disney, yakni Kurt Russell, dan dirilislah film biopic untuk televisi berjudul Elvis (1979) yang dinominasikan dalam Golden Globe dan Emmy Awards.

 
Puncak Masa Kejayaan Carpenter
Dunia Sinema Profile John Carpenter
Indiewire
 
Film The Fog (1980) menandakan kembalinya Carpenter ke jalur horor sekaligus berkolaborasi dengan Adrienne Barbeau dan Jamie Lee Curtis. Film tersebut memang begitu terasa atmosfir kengerian horor di tepi pantai berkabut.

Berduet kembali dengan produser Debra Hill, lagi-lagi dengan kondisi yang sama : film independen, dipuji kritik belakangan dan sukses secara komersil, maka puncak kejayaan Carpenter ditandai dengan mengorbitkan karakter ikonik anti-hero, Snake Plissken dalam Escape From New York (1981).  Dengan genre action science fiction thriller, film tersebut kembali berkolabroasi dengan Kurt Russel, Donald Pleasence, Adrienne Barbeau dan Tom Atkins.
 
Escape From New York yang meraih empat nominasi Saturn Awards itu, tentu saja salah satu film favorit saya sepanjang masa bersama dengan Halloween dan The Thing. Tahun berikutnya tak disangka bahwa Carpenter menggarap sebuah remake, tepatnya adaptasi kedua yang lebih setia dari novel Who Goes There?, yakni The Thing (1982) sebuah science fiction horror yang merupakan kolaborasi ke-3 nya dengan Russell.
 
Sialnya, perilisan film studio pertamanya Carpenter tersebut, berdekatan dengan
E.T. dengan genre kontras yang punya segmen pasar lebih luas, serta saat itu diperparah oleh hujan kritik negatif. Lambat laun setelah perilisan video-nya, The Thing kian mendapat apresiasi dan peninjauan ulang kritik sehingga kini berstatus cult. Jelas sekali bahwa film ini sangat menarik dari sisi cerita, karakterisasi, suspens serta efek spesial dahsyat!

Carpenter sempat ditawari menggarap film adatpasi Stephen King, Firestarter, namun dibatalkan karena kegagalan film The Thing. Malah lucunya, di tahun 1983 melalui Columbia Pictures, Carpenter menggarap adaptasi King lainnya, yakni Christine. Memperoleh kesuksesan dan pujian cukup baik, film tersebut memang berkesan sebagai horor menarik dengan spesial efek impresif dan mobil ikoniknya.

Film Starman (1984) adalah sebuah drama fiksi ilmiah yang bertemakan mirip
E.T. versi dewasa yang diperankan Jeff Bridges dan Karen Allen yang bermain apik dan berhasil meraih beberapa nominasi di ajang bergengsi. Film studio dengan pendapatan sedikit moderat namun sukses dipuji para kritikus tersebut memang terasa cukup membosankan.
 
Kolaborasi ke-4 nya dengan Kurt Russell dalam film studio Big Trouble in Little China (1986), menegaskan bahwa Carpenter terbukti melahirkan karya hebat lainnya yang berstatus cult di kemudian hari. Film yang mengkombinasikan berbagai genre tersebut, mirip kondisinya dengan film The Thing (1982) dan kalah bersaing dengan The Golden Child dan Aliens. Film tersebut memang berhasil menghibur saya dengan melupakan segala keseriusan yang ada.

Dari serangkaian kerjasamanya dengan studio besar yang umumnya berujung kekecewaan karena kegagalan box office dan kritik itulah, Carpenter akhirnya fokus untuk pembiayaan rendah. Adalah di dua film berikutnya, meski dengan Universal Studio untuk film Prince of Darkness (1987), dengan penghasilan moderat, meski adanya sambutan kritik yang kurang bagus. Film tersebut memang terasa aneh dan ambigu, meski cukup dibuat merinding.

Sedangkan yang satunya lagi, They Live (1988) juga performa box office-nya moderat namun dipuji kritikus. Film satir dengan salah satu kreativitas Carpenter terbaik yang pernah ada itu, mengetengahkan salah satu adegan terbaik adalah perkelahian dengan tangan kosong yang intens dan cukup menyita waktu.

Carpenter sempat ditawarkan untuk menggarap horor The Exorcist III, namun akhirnya batal setelah tidak memiliki persamaan visi di akhir cerita dengan penulis William Peter Blatty.

Bersambung

Comments