John Carpenter, Sang Maestro Independen (Bagian 1)

metro.us (credit to Michael Ochs/Getty Images)

Era 70an dan 80an adalah puncak kejayaaan karirnya yang melahirkan berbagai film dengan berbagai genre, telah menghasilkan berbagai ikon karakter dan keunikan tersendiri, bahkan film-filmnya kebanyakan berstatus cult. Gaya penuturan dan penyajian yang unik, terutama melalui karakter, visual dan atmosfir misteri, kadang tercampur dengan kengerian, adalah berkat kejeniusan seorang sutradara visioner yang pernah dimiliki insan perfilman Amerika. 


Tak pelak, saya nobatkan John Carpenter sebagai sutradara film terfavorit, karena dia juga satu-satunya orang yang memiliki multi talenta dalam menulis cerita, membuat naskah, menyutradarai, sekaligus sebagai komposer tema musik di hampir semua film garapannya.

Siapa yang tak kenal film Halloween (1978), Escape from New York (1981), The Thing (1982), atau Vampires (1998)? Kenalkah anda dengan karakter Michael Myers atau Snake Plissken? Memang tidak semua moviegoers masa kini paham atau bahkan familiar, tapi tentunya penggemar film-film cult kenal betul yang saya sebutkan tadi. Perkenalkan, salah satu sutradara terhebat yang besar melalui jalur independen, John Carpenter! 

Namanya populer di era 70an hingga 80an, mulai memudar di era 90an, dan sayangnya hingga kini belum ada gebrakan karya barunya, karena sedang fokus pada proyek musik. Seringkali mendapat sukses lewat distribusi film independen, namun seringkali pula gagal lewat distribusi studio besar. Tampaknya, julukan maestro independen patut menjadi milik John Carpenter, seseorang profesional unik dalam mengkreasi secara total akan keterbatasan materi dalam proses pembuatan film. 

Memang tidak banyak film yang dihasilkan sejak merintis karir di awal tahun 70an, meski juga kebanyakan film-filmnya signifikan, namun karya-karyanya selalu dinantikan penggemar di seluruh dunia, termasuk saya.  

Perjalanan Karir Film dari Era 70an hingga 80an

John Carpenter lahir pada tanggal 16 Januari 1948 di Carthage, New York, Amerika Serikat. Masa kecilnya dipengaruhi oleh film-film western karya Howard Hawks dan John Ford, juga film science fiction horror berbiaya rendah seperti The Thing from Another World (1951) dan film science fiction berbiaya tinggi seperti Forbidden Planet (1956) … suatu penjelasan yang sangat mempengaruhi karya-karyanya kelak. John sempat kuliah di Western Kentucky University, di tempat itulah ayahnya memimpin departemen di jurusan musik … pantas saja dia bisa menjadi komposer musik! 

Ia lalu melakukan transfer studi di School of Cinema, University of Sothern California. Semasa kuliah di tahun 1969, ia menulis dan menyutradarai sebuah film pendek berdurasi delapan menit, yang beberapa elemennya kelak dijadikan basis film Halloween, yakni Captain Voyeur. Setahun kemudian, ia berkolaborasi dengan John Longenecker sebagai co-writer, editor film sekaligus komposer musik dalam film The Ressurection of Bronco Billy (1970), sebuah pencapaian prestisius, karena memenangkan penghargaan Oscar sebagai The Best Live Action Short Film. Film yang disorot dengan kamera 35mm, film yang dicetak sebanyak 60 lembar dan bertahan selama dua tahun perilisan di bioskop AS dan Kanada oleh Universal Studio.

Karir profesionalnya sebagai sutradara sekaligus produser layar lebar ditandai dengan hadirnya Dark Star (1974), sebuah film dark comedy science fiction, berduet dengan penulis cerita yang terkenal dengan film Alien, Dan O’Bannon. Film yang bersetting di masa depan tersebut, mengisahkan tentang awak pesawat luar angkasa dalam misi menghancurkan planet-planet yang tidak stabil, yang berpotensi mengancam keberadaan koloni manusia. Film tersebut dapat dikatakan merupakan parodi dari film 2001: A Space Odissey (1968) karya Stanley Kubrick dan bernuansa komedi hitam. Film Dark Star berstatus cult diantara para penggemarnya. 

Dengan biaya terbatas dan efek spesial seadanya, film tersebut akhirnya berstatus cult classic setelah pelirisan lewat video di awal 80an dan mendapat pujian dari para kritikus. Sebagai sutradara sekaligus penulis cerita, di film kedua ber-genre action thriller, Assault on Precinct 13 (1976) merupakan tribut dari filmmaker idolanya, Howard Hawks, yang mengambil basis dari film western, Rio Bravo (1959) dan film horor George A. Romero, Night of the Living Dead (1968). 

Masih dengan biaya terbatas, film yang mengisahkan tentang seorang polisi yang terjebak dengan beberapa orang termasuk narapidana dalam kantor polisi (kalau di kita, polsek), harus berjibaku dan bekerjasama dalam menghadapi seragan gangster beringas dan ingin membalas dendam. Film inilah yang mendapat peninjauan secara estetis oleh direktur Festival Film London 1977, Ken Wlaschin, yang kemudian kritik menyebar di seantero Eropa. Meski awalnya di Amerika kurang sukses secara pendapatan dan kritik, akhirnya dievaluasi kembali dan berstatuskan cult classic.

Setahun kemudian, John menggarap film horor untuk televisi, Someone’s Watching Me! (1978) dan menulis cerita horor di tahun yang sama, untuk film studio besar, Eyes of the Laura Mars. Namanya terkenal dimana-mana setelah John merilis horor slasher, Halloween (1978). Film yang juga melambungkan nama Jamie Lee Curtis dan menaikkan kembali pamor Donald Pleasence, adalah sebuah film dengan sub genre slasher horror, bahwa nantinya bakal dijadikan basis dari film-film serupa di tahun-tahun berikutnya, meski sebelumnya telah ada film sejenis, Black Christmas (1974). 

Namun kekuatan Halloween –lagi-lagi sebagai film horor independen- sangatlah signifikan dalam menghasilkan pujian kritik, mendapat keuntungan besar –dari biaya sekitar US$ 300,000 mendapatkan pemasukkan sebesar US$ 70 juta dan menjadi salah satu film independen tersukses sepanjang masa- dan tentunya karakter Michael Myers yang memakai topeng dan sebilah pisau dapur sebagai The Shape adalah salah satu ikon horor legenda. 

Film Halloween merupakan sebuah terobosan horor modern di jamannya, bukan hanya membicarakan seorang pembunuh berantai, namun unsur psikologi dan supernatural serta atmosfir mengerikan dibuat sangat berkelas. Sungguh suatu prestasi yang luar biasa, ketika di tahun 2006 film ini terseleksi untuk kelestarian di National Film Registry Amerika Serikat oleh Library of Congress sebagai “film signifikan yang secara kultur, historis dan estetis”. 

Penyeleksian tersebut adalah predikat yang diberikan kepada film-film besar yang dikategorikan “terbaik” oleh insan perfilman Amerika. Di tahun berikutnya, ia pertama kali berkolaborasi dengan aktor Kurt Russel sebagai Elvis Presley, dalam film drama untuk televisi ABC, yakni Elvis (1979). Hasilnya, film tersebut dinominasikan sebagai Best Motion Picture Made for Television di Golden Globe Awards dan di Primetime Emmy Awards salah satunya untuk Outstanding Lead Actor in a Miniseries or a Movie.

indiewire.com

Film The Fog (1980) menandakan spesialisasi John Carpenter dalam menggarap film horor yang memasuki era 80an. Bersama (lagi) dengan Adrienne Barbeau dan Jamie Lee Curtis, serta kolaborasi pertamanya dengan Tom Atkins, film yang menceritakan legenda kawanan hantu perompak yang singgah ke kota kecil di pinggiran pantai, untuk menebar horor dan membantai penduduk tersebut. 

Berduet kembali dengan produser Debra Hill, lagi-lagi dengan kondisi yang sama : film independen, dipuji kritik belakangan dan sukses secara komersil. Suatu pencapaian yang berbanding terbalik dengan kekecewaan John terhadap hasil akhir editing filmnya. Inilah puncak kejayaan John Carpenter, setahun kemudian ditandai dengan mengorbitkan karakter ikon anti-hero, Snake Plissken dalam film Escape From New York (1981). Sebuah film dengan genre –jika boleh dikatakan- science fiction adventure action thriller yang (lagi) dibintangi oleh Kurt Russel, juga berkolaborasi dengan (lagi-lagi) Donald Pleasence, Adrienne Barbeau dan Tom Atkins. 

Sedangkan deretan aktor legendaris lainnya seperti Ernest Borgnine, Lee Van Cliff, serta Harry Dean Stanton turut meramaikan film yang mengisahkan petualangan Snake Plissken untuk menyelamatkan seorang Presiden yang disandera oleh penjahat yang menguasai wilayah kejahatan yang terisolasi di Manhattan, New York, dengan setting cerita futuristik di tahun 1997. Dan gilanya, lagi-lagi diproduksi sekaligus didistribusikan oleh studio independen, film ini meraih sukses signifikan baik dari pendapatan maupun kritik. Tak ketinggalan meraih empat nominasi dari Saturn Awards, seperti Best Science Fiction Films dan Best Direction

Film yang ditulis berdasarkan inspirasi dari skandal Watergate, dan diproduseri Debra Hill dan Larry Franco tersebut meraih status cult classic. Tahun berikutnya adalah film cult lainnya, sebuah versi lain dari remake film science fiction horror garapan Howard Hawks dan Christian Nyby, The Thing From Another World (1951). Namun film The Thing (1982) versi John Carpenter memiliki adaptasi yang lebih setia dari sumber orisinilnya, berupa novel berjudul Who Goes There? (1938) karya John Campbell. 

Dengan genre yang sama dengan film versi 1951 tersebut, kembali dibintangi oleh Kurt Russel sebagai seorang pilot dari sekeompok peneliti yang terisolasi di Antarika, dan harus menghadapi parasit alien yang dapat berimitasi sebagai mahluk hidup, termasuk manusia. Namun kala itu nasib berkata lain, film yang didanai oleh Universal Pictures –kali pertama John Carpenter menggarap film studio besar- memperoleh pendapatan yang mengecewakan, hanya gara-gara jadwal penayangannya berdekatan dengan film karya Stven Spielberg tentang alien yang bersahabat, E.T. (1982), serta di hari yang sama juga ditayangkan film science fiction thriller-nya Ridley Scott, Blade Runner (1982). 

Akhirnya film The Thing memperoleh status cult, akibat dari tingginya rental video, yang akhirnya para kritikus meninjau ulang film tersebut, dan kini dipertimbangkan sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa oleh The Boston Globe.

John sempat ditawari untuk menggarap film dari novel Stephen King, Firestarter, namun dibatalkan karena kegagalan box office dari film The Thing. Malah di tahun 1983 lewat studio besar Columbia Pictures, John menggarap dari novel Stephen King lainnya, yakni Christine. Film yang mengisahkan tentang mobil mistis di era 50an tersebut, memperoleh pendapatan dua kali lipat dibandingkan biaya produksi dan kritik yang cukup moderat, juga (untuk kesekian kalinya) mendapat status cult

Di tahun berikutnya adalah saatnya John beralih kembali menggarap drama dengan campuran romansa dan science fiction, yakni Starman (1984), yang menceritakan alien berbentuk manusia yang terdampar ke bumi atas ‘undangan’ alat perekam suara dari pesawat antariksa, dan menemukan arti cinta setelah bertemu dengan seorang wanita. Sebuah film yang masih didistribusikan Columbia Pictures dan dibintangi aktor sekelas Jeff Bridges dan Karen Allen yang bermain apik, berhasil meraih nominasi Oscar, Golden Globe dan Saturn Awards. Film dengan pendapatan sedikit moderat namun sukses dipuji para kritikus. 

Lewat studio besar lainnya, 20th Century Fox dan kolaborasi keempat dengan Kurt Russell, John menggarap genre action adventure fantasy comedy, yakni Big Trouble in Little China (1986). Dikarenakan tekanan produksi yang tergesa-gesa dan jadwal rilis yang tidak ingin bertabrakan dengan tema yang serupa, The Golden Child dan pada juga saat film Aliens sedang populer, maka akhirnya mendapatkan kekecewaan dari pendapatan film, meski dipuji para kritikus –setelah ditinjau ulang- dan entah yang keberapa kali berstatus cult classic. Suatu deja-vu pada saat menggarap The Thing.

Dari serangkaian kerjasamanya dengan studio besar Hollywood yang umumnya berakibat kekecewaan karena kegagalan box office dan kritik itulah, John Carpenter akhirnya fokus untuk pembiayaan rendah. Adalah di dua film berikutnya, meski dengan studo besar macam Universal Studio untuk film science fiction supernatural horror, yakni Prince of Darkness (1987), merupakan kolaborasi ketiga dengan aktor Donald Pleasence, yang bertemakan kejahatan purba, pesan dari masa depan, investigasi ilmiah paranormal serta penularan roh jahat menjadi semacam ‘zombie’. 

Alhasil, film tersebut mendapatkan penghasilan moderat, meski adanya sambutan kritik yang kurang bagus. Untuk film kedua ber-genre action adventure science fiction comedy, yakni They Live (1988) mengisahkan perjalanan seorang pengembara di suatu kota, yang berhadapan dengan para alien yang menyamar sebagai manusia untuk memanipulasi manusia agar menghabiskan uang, berkembang biak dan menerima status quo, melalui berbagai media massa, lewat pesan tersembunyi. 

Status cult classic kembali menjadi salah satu ganjaran untuk film tersebut, dengan catatan performa box office moderat dan dipuji kritikus. Salah satu adegan terbaik adalah perkelahian dengan tangan kosong yang intens dan cukup menyita waktu. Film They Live adalah salah satu contoh satire politik yang tersirat. Setelah itu, John sempat ditawarkan untuk menggarap horor The Exorcist III, namun akhirnya batal setelah tidak memiliki persamaan visi di akhir cerita dengan penulis William Peter Blatty.

Popular Posts