Body Double (1984) : Sajian Erotis dari Tuan De Palma

Courtesy of Columbia Pictures, 1984

Jarang sekali ada film thriller erotis barat yang menampilkan aktor-aktris terkenal … maksud saya … film dengan genre tersebut yang menampilkan adegan vulgar secara eksplisit. Sebut saja Sharon Stone dalam Basic Instinct (1992) yang fenomenal itu, atau Glenn Close dalam Fatal Attraction (1987), Kim Bassinger dalam 91/2 Weeks (1986) atau Kathleen Turner dalam Body Heat (1981). 


Tapi tidak semua film yang dimaksud merupakan film yang memiliki unsur suspens yang kental ala Brian De Palma, sang sineas brilian yang terkenal lewat karya-karyanya seperti Carrie (1976), Scarface (1983), The Untouchables (1987), Carlito’s Way (1993) ataupun Mission: Impossible (1996). Dengan mengusung gaya Hitchcock, hampir semua filmnya secara keseluruhan mengandung unsur kejahatan atau kriminal dan misteri.

Film Body Double (1984) adalah salah satu film thriller erotis dengan para pemain yang sebenarnya tidak begitu dikenal. Namun nama aktris Melanie Griffith dengan penampilan beraninya yang boleh dikatakan menjadi daya tarik film ini di jaman nya. Tampaknya film tersebut mungkin merupakan film yang agak ‘terlewatkan’ oleh moviegoers, terlebih secara pendapatan juga tidak menguntungkan, artinya jauh dari kata ‘box office’. 

Yang membuat saya heran, ternyata film tersebut juga dianugerahi nominasi di Golden Globe Awards dan merebut penghargaan di ajang lainnya, sekaligus mendapatkan nominasi sebagai sutradara terburuk di ajang Golden Raspberry Awards. Bagaimanapun juga film tersebut berstatus cult.

Jalan cerita film Body Double mengisahkan tentang Jake Scully (Craig Wasson), seorang aktor film horor kelas-B, memergoki kekasihnya sedang selingkuh di rumahnya. Merasa frustasi, Jake yang dalam ‘pelarian’ akhirnya curhat kepada Sam (Gregg Henry), pada saat mereka bertemu di kelas akting. Sam yang akan berangkat ke Eropa untuk urusan bisnis, menawarkan kepada Jake, untuk menjaga kediaman mewahnya di daerah perbukitan. 

Di rumah mewahnya tersebut, Sam memanggil Jake untuk mengintip lewat teleskop. Sam memberitahu Jake untuk mengintip di salah satu rumah tetangga, yang dihuni oleh seorang wanita seorang diri. Ternyata, setiap malam, secara mengejutkan ada sebuah ‘pertunjukkan dewasa’ dari balik jendela rumah tersebut. Hal itu membuat Jake girang.

Pada suatu malam, Jake yang sedang mengintip rumah tersebut, terusik oleh seorang pria yang bertengkar dengan wanita yang diketahui bernama Gloria (Deborah Shelton), dan meninggalkan rumah tersebut, setelah mengambil uang yang terdapat di dalam brankas kamar Gloria. Jake secara tak sengaja memergoki Gloria yang baru berangkat dari rumahnya dan membuntutinya. Jake menyadari, bahwa Gloria ternyata juga dibuntuti oleh seorang pria yang kemudian merampas tas Gloria di sebuah pantai. 

Jake lalu mengejar pria tersebut, yang berhasil mengambil sebuah kartu kredit dari dalam tas Gloria. Jake yang kalah bergumul dengan pria tadi, akhirnya mengambil tas dan kartu identitas Gloria serta mengembalikan tas kepadanya, lalu mereka berkenalan. Di malam berikutnya, Jake yang mengamati lewat teleskop, menyadari bahwa nyawa Gloria sedang dalam bahaya, setelah melihat pria yang sama -yang pernah merampas tas Gloria- sedang mencoba mencuri uang di brankas di dalam kamar Gloria. 

Jake yang panik lalu menelepon Gloria dan nekat lari menuju rumahnya untuk mencegah pria tersebut yang sempat mencekik dan akan membunuh Gloria. Lalu, berhasilkah Jake menyelamatkan Gloria? Jika berhasil, apakah ceritanya hanya sampai disitu saja? Siapa pria yang sempat bertengkar dengan Gloria, apakah kekasihnya ataukah suaminya? Lalu apakah memang ada unsur kesengajaan akan adanya perampasan dan perampokan di rumah Gloria?

Di sekitar lima belas menit pertama, sebenarnya jalan cerita sudah bisa saya tebak. Saya berpikir … jangan-jangan … jangan-jangan neh … Namun memang, berkat kepiawaian Brian De Palma, dalam menyusun adegan demi adegan film yang selalu menghadirkan rasa penasaran, patut saya acungi jempol. Adanya eksplorasi karakter seorang Jake Scully yang agak ‘lugu’ dan begitu terobsesi oleh seseorang bernama Gloria, cukup meyakinkan sekaligus konyol. 

Adegan konyol pertama, pada saat Jake yang ‘melongo’, sedang mengintip Gloria dari balik kaca display sebuah outlet pakaian dalam, sedang mengamati Gloria yang sedang mengganti pakaian dalam dari balik tirai ruang ganti, yang tidak ditutup penuh –suatu kesengajaan?- namun penjaga outlet segera menyadari dan langsung memanggil sekuriti mallshame on you, Jake!

Adegan konyol lainnya, seperti dengan santainya mengamati Gloria yang sedang menelepon seseorang di teras kamar hotel depan pantai. Tanpa Gloria sadari, Jake yang sedang mengamatinya dari teras atas, dengan jarak yang begitu dekat, yang seharusnya bisa dengan mudahnya terlihat oleh Gloria. Banyak hal yang mustahil, begitu cerobohnya kah seorang Gloria yang tidak menyadari bahwa dirinya diikuti dan diintip oleh Jake? 

Ditambah lagi dengan adegan Jake yang sedang mencumbui Gloria di pantai, setelah mengembalikan tasnya dari seorang perampas, divisualisasikan dengan arahan kamera yang terus berputar mengelilingi mereka, yang parahnya diiringi oleh latar musik romantis … WTF! Mirip sebuah klip lagu karaoke??!!

impawards.com

Oh ya, tadi di awal saya sempat singgung nama Melanie Griffith … yup, ia termasuk berani berakting dan beradegan polos di film tersebut. Bagi yang asing dengannya, ia adalah salah satu aktris top di masa nya, terutama di era 70an dan 80an. Menurut saya, aktingnya pun biasa-biasa saja dan bagi saya pribadi, malah ‘agak terlupakan’. 

Namun dibalik itu semua, kekuatan cerita misteri yang menghasilkan sebuah kesimpulan, dibuat cukup rapih dan jelas. Meski di adegan puncak, ada sesuatu yang absurd bagi saya, seperti sebuah ilusi yang tidak masuk akal.

Mungkin menjadi trademark-nya Brian De Palma, untuk menghadirkan sisi suspens yang kental, yakni memadukan unsur musik yang melankolis dengan beberapa adegan yang cukup membuat saya terkadang ikut terbawa emosi, meski tidak sekuat film Blow Out (1981). Dan bahkan film ini masih kalah jauh dari film sejenis yang juga digarap oleh De Palma, Dressed to Kill (1980). Menurut saya, banyak kekurangan di film ini.

Boleh dikatakan inti dari film ini adalah sebuah obsesi. Obsesi yang begitu tinggi, hingga mungkin bisa menjadi posesif. Bagi penggemar film-filmnya Brian De Palma, film ini tidaklah spesial, malah menurut saya, under rate. Film ini tidak sebaik The Fury (1978), Dressed to Kill (1980), bahkan jauh dari Scaface (1983) misalnya. 

Bagaimanapun juga, film ini adalah bukan sembarang film erotis, namun kekuatan dari sisi suspens dan misteri bisa mengimbangi materi film tersebut.  Jadi kesimpulannya? So-so

Score : 2.5 / 4 stars

Body Double | 1984 | Drama, Erotis, Thriller, Suspens | Pemain:  Craig Wasson, Gregg Henry, Melanie Griffith, Deborah Shelton  | Sutradara: Brian De Palma | Produser:  Brian De Palma | Penulis: Brian De Palma, Robert J. Avrech | Musik: Pino Donaggio | Sinematografi: Stpehen H. Burum | Distributor: Columbia Pictures | Negara:  Amerika Serikat | Durasi: 114 Menit 


Popular Posts