The Fury (1978) : Senjata Mematikan Telekinesis

Dunia Sinema The Fury Gillian
20th Century Fox

Mungkin film terpopuler yang mengisahkan tentang kekuatan kemampuan psikis berupa telekinesis mematikan yang dimiliki seseorang, adalah Carrie (1976) yang merupakan adaptasi novel Stephen King. Namun di tahun yang sama, terbit sebuah novel dengan tema serupa melalui penceritaan yang lebih kompleks dan menarik, hingga dua tahun kemudian diadaptasi ke layar lebar dengan judul yang sama, yakni The Fury.

Sang penulis novel yakni John Farris sendiri yang mengembangkan ceritanya ke dalam bentuk naskah film, sedangkan sineas yang terbiasa menangani genre suspens dan thriller bergaya Hitchcock, yakni Brian DePalma didapuk untuk mengarahkan film tersebut. Duet aktor veteran Kirk Douglas dan John Cassavetes, masing-masing memerankan karakter penting dalam berbagai intrik yang rumit dalam ceritanya.

Film The Fury sukses dalam perolehan pendapatan dari bujet yang dikeluarkan, sekaligus dipuji oleh para kritikus, termasuk scoring elegan yang diaransemen oleh John Williams serta artis efek spesial Rick Baker dan William J. Tutle yang mendapatkan penghargaan Saturn Awards.

Saat Peter (Kirk Douglas) dan putranya, Robin (Andrew Stevens) sedang berlibur di Israel, mereka bertemu dengan kawan lama Peter, yakni Ben (John Cassavetes)
seorang agen CIA. Namun tiba-tiba mereka diserang oleh sekelompok teroris.

Beberapa bulan kemudian di Chicago, seorang remaja bernama Gillian (Amy Irving) menemukan dirinya memiliki kekuatan telekinesis, yang jika disalahgunakan dapat membahayakan orang lain, sekaligus mematikan. Menyadari akan hal itu, Gillian dengan sukarela mendatangi Paragon Institute yang dipimpin oleh Dr. Keever (Charles Durning), guna mempelajari lebih lanjut cara mengkontrol kekuatannya.

Sementara Peter yang ternyata masih hidup, melacak keberadaan Robin hingga tiba di Chicago, lalu ia bertemu dengan kekasihnya yakni Hester (Carrie Snodgress) yang bekerja pada Paragon Institute. Melalui Hester-lah, Peter menemukan sebuah petunjuk dari keberadaan Gillian, guna menemukan Robin.

Sangat disarankan sebelum menonton film ini, agar jangan pernah sekalipun membaca plot ceritanya, karena tidak akan seru dan keburu basi. Meski sesungguhnya premis film ini tidak menyimpan sebuah twist besar yang mengejutkan, apalagi diadaptasi dari sebuah novel bagi yang pernah membacanya.

Saya yang tidak pernah baca novelnya, ketika menikmati film ini dari awal hingga tuntas, tampak begitu terasa bahwa sumber materi cerita tersebut memang mirip dengan gaya penceritaan ala Stephen King, terlebih film ini diarahkan oleh DePalma yang memang sebelumnya pernah menggarap karya King dari novel pertamanya, yakni Carrie.

Dunia Sinema The Fury Peter
20th Century Fox

Melalui durasi film yang hampir dua jam tersebut, dapat disimpulkan bahwa genre ini tak hanya berbicara mengenai drama suspense thriller yang dikombinasikan dengan fiksi ilmiah dan supranatural saja, namun beberapa elemen mengerikan menjadikan sebuah horor, serta beberapa adegan action pun hadir. Nah, disitulah letak perbedaan The Fury dengan Carrie!

Struktur ceritanya boleh dikatakan dibagi dalam dua bagian utama, yang pertama yakni karakter Peter harus berjibaku dengan lawan-lawan yang mengincarnya, sekaligus ia harus menemukan Robin yang ia yakini telah diculik.

Sedangkan yang kedua yakni karakter Gillian sebagai seorang gadis remaja reguler, yang kemudian ia menyadari akan kekuatan telekinesisnya untuk membaca pikiran orang lain, serta juga dapat membahayakan orang disekitarnya dengan hanya menyentuhnya saat ia dalam keadaan marah atau kesal.

Maka kedua karakter tersebut melalui serangkaian dialog dan adegan ketika alur mengalir, karakter Hester menjadi penghubung antara Peter dengan Gillian, guna melacak keberadaan Robin. Pertanyaannya : Jika memang begitu, berarti filmnya kurang menarik dong?

Anda salah besar, karena kekuatan cerita film ini bukan terletak pada karakter antagonis atau konspirasi, namun yang terpenting dan signifikan yakni bagaimana proses menuju sebuah konklusi, serta cara menggapai sebuah solusi untuk mengakhirinya. Maka disitulah letak keunggulan naskah yang disusun sendiri oleh si penulis novelnya sendiri, yakni John Farris, yang ditransformasikan oleh DePalma menjadi sebuah tontonan menakjubkan.

Kepiawaian DePalma dalam menggarap film ini sudah ditunjukkan sejak adegan pembuka, berupa serangkaian adegan aksi laga ketika para teroris menyerang Peter, Robin dan Ben di sebuah resort pantai. Seakan-akan anda disuguhi oleh sebuah film action tentang agen rahasia atau pasukan khusus versus teroris, sekaligus anda pun kemudian berpikir akan sebuah plot yang berbeda.

Permainan manipulatif akan tebak-tebakkan dalam alam bawah sadar terhadap pikiran audiens pun berlanjut, saat sekuen beralih dalam setting waktu setahun kemudian, dengan lokasi-yang sama-sama- sebuah pantai di Chicago, dengan memperlihatkan adegan Gillian dan temannya sedang berbincang santai.

Setelahnya, maka adegan demi adegan melalui berbagai dialog yang dilontarkan oleh para karakter, menghantarkan kepada sebuah konklusi sehingga menimbukan berbagai konflik yang kompleks terhadap para karakter utamanya itu. Untung saja karakterisasi yang solid mampu diimplementasikan secara proporsional oleh para aktor/aktris bersangkutan.

Aktor veteran dan living legend, Kirk Douglas bermain prima di film ini sebagai Peter dalam petualangannya mulai berjibaku melalui aksi laga dengan para teroris dan para agen rahasia, hingga investigasinya dalam pencarian putranya bernama Robin, dengan kembali mempertemukan dirinya dengan Hester yang diperankan Carrie Snodgress.


Dunia Sinema The Fury Gillian
20th Century Fox

Sementara performa aktor veteran lainnya, John Cassavetes serta pendatang baru saat itu, Andrew Stevens menunjukkan penampilan yang cukup impresif. Aktris Amy Irving di film ini memang sekilas mengingatkan akan karakter Carrie, meski terlihat lebih normal dalam sikap sosialnya, serta eksplorasi emosionalnya mulai teruji saat mengalami transisi sebagai seorang gadis berkekuatan istimewa seklaigus menakutkan.

Yang paling menarik dalam film ini adalah diperlihatkannya berbagai visi seperti mimpi buruk yang dialami oleh Gillian, bagaimana ia bisa melihat dan mencoba membangun komunikasi dengan Robin, meski sebenarnya tidak diketahui apakah Robin masih hidup atau telah mati. sekaligus melihat beberapa momen mengerikan yang akan datang.

Sudah menjadi gaya khasnya DePalma dalam teknik pengambilan gambar secara dramatis yang mampu memainkan mood audiens dengan berbagai kejutan emosional. Seperti zooming objek melalui sekuen yang disajikan secara patah-patah ketika Gillian memegang erat tangan Dr. Keever dan langsung melihat sebuah visi atau ketika Robin memandang sebuah jendela.

Teknik gerakan slow-motion juga diperlihat dalam beberapa adegan, terutama dalam adegan empat menit, saat Gillian melarikan diri dari Paragon Institute yang dibantu oleh Hester, sementara mereka dikejar-kejar oleh sekelompok orang, sedangkan Peter menunggu di dalam mobil untuk menjemput Gillian.

Selain itu, sorotan dari berbagai sudut pandang kamera terutama dalam adegan akhir ledakan, melalui sebuah efek spesial menakjubkan sekaligus mengerikan. Adegan tersebut merupakan adegan final sebelum ending credits, dengan mengulang ledakan dari berbagai sudut pandang berbeda dalam satu sekuen berkesinambungan, sehingga memberikan hasil akhir yang memuaskan.

Secara keseluruhan, mungkin adegan akhir dengan durasi sekitar dua belas menit tersebut, adalah yang paling memorable sekaligus mengerikan dan menakutkan.

Emosi audiens tentu saja dibantu oleh tema musik dan scoring yang terasa begitu riil sekaligus megah, berkat aransemen dari seorang John Williams dan London Symphony Orchestra yang tidak perlu diragukan lagi kredibilitasnya. Mulai dari opening credits, berbagai adegan hingga ending credits, begitu ‘menghantui’ telinga saya bahkan setelah menonton filmnya.

Film The Fury adalah sebuah kombinasi yang nyaris sempurna antar genre yang bertemakan tentang kekuatan telekinesis sebagai senjata mematikan, melalui penyusunan cerita yang awalnya ‘menyesatkan’, lalu sedikit diremehkan, hingga akhirnya menuju kepada akhir yang mengejutkan. Lagi-lagi membuat mind blowing, tanpa harus berpikir keras.

Film ini pulalah merupakan salah satu terobosan awal akan tema spesifik, yang mungkin menginspirasikan David Cronenberg membuat film kultus berjudul Scanners (1981).

Score : 3.5 / 4 stars

The Fury | 1978 | Suspens, Horor, Fiksi Ilmiah | Pemain: Kirk Douglas, John Cassavetes, Carrie Snodgress, Charles Durning, Amy Irving, Andrew Stevens, Fiona Lewis | Sutradara: Brian DePalma | Produser: Frank Yablans | Penulis: Berdasarkan novel The Fury karya John Farris. Naskah: John Farris | Musik: John Williams | Sinematografi: Richard H. Kline | Distributor: 20th Century Fox | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 118 Menit

Comments