Blade Runner (1982) : Dampak Penciptaan 'Manusia'

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1982

Karena banyak yang mengulas film Blade Runner 2049 (2017), maka saya pun tidak mau kalah untuk mengulasnya. Tak kepalang tanggung, saya buat dua ulasan dari kedua seri tersebut. Saya pun akhirnya menonton ulang film seri pertamanya, yang entah berapa tahun yang lalu saya nikmati di video.

Bagi generasi milenial, banyak yang tidak mengetahui film Blade Runner 2049 adalah sebuah film sekuel dari Blade Runner (1982). Sepertinya banyak yang ‘tertipu’ oleh pesona poster teaser ataupun poster teaternya, dengan gaya tokoh utama yang memegang senjata dan bernuansa futuristik. Mungkinkah pada umumnya mereka malas untuk browsing lebih lanjut apa itu film Blade Runner 2049?

Dulu, saya juga sempat ‘tertipu’ ketika pertama kali menonton Blade Runner (1982) di format VCD. Kejadiannya di sekitar tahun 2002, pada saat informasi yang didapat tidak semudah sekarang. Masa saya harus bela-belain browsing di warnet? Mbah google aja belum sepopuler seperti saat ini, apalagi waktu itu belum ada gadget canggih. Segala keterbatasan informasi tersebut tidak saya pedulikan, yang penting nonton!

Awalnya pada saat opening credits, saya sudah punya feeling dan ambience yang tidak enak … dimulai dari adegan pembuka, hingga akhirnya … Jreeng! Rasa kantuk mulai menggoda saya, namun akhirnya saya paksakan hingga ending credits. Waktu terus berlalu, setelah saya nonton film itu, dan ketika saya baca di Wikipedia –salah satu sumber inofrmasi jagoan saya, meski validitasnya belum tentu 100%- bahwa film itu ternyata memiliki genre yang dikatakan sebagai film : science fiction, drama, thriller dan neo-noir … oh iya, pantas!

Film neo-noir? Bagi yang belum mengetahui genre tersebut, singkatnya adalah : film drama kriminal, biasanya tentang detektif/polisi atau gangster/mafia. Ciri khas film neo-noir yakni : alur cerita lambat, suasana muram nan suram, permainan warna cahaya yang dominan (kadang bergiliran dari satu adegan ke adegan berikutnya), sering terdapat adegan di malam hari, cuaca mendung dan cenderung hujan atau suasana jalanan biasanya basah bekas hujan, banyak dialog, penonjolan karakter dan tragedi. Oh ya, dan musik, boleh dikatakan umumnya menggunakan musik dengan tempo lambat dan irama yang agak melankolis.

Film Blade Runner sendiri menceritakan tentang android yang disebut replicant, yang diproduksi oleh Tyrell Corporation untuk membantu eksplorasi koloni manusia ke planet-planet lain. Jadi, setting waktunya adalah di masa depan, tepatnya di tahun 2019 … lhaaa, dua tahun dari sekarang, doong!!  Namun replicant yang merupakan generasi Nexus 6, yakni Roy Batty (Rutger Hauer) bersama dengan replicant lainnya, ternyata memberontak dan menjadi buronan. Mereka disinyalir kembali ke bumi untuk memburu pemilik Tyrell Corporation. Adalah Rick Deckard (Harrison Ford), seorang polisi Los Angeles di kesatuan unit Blade Runner, yang ditugaskan memburu para replicant tersebut. Pertanyaannya, berhasilkah Peckard dalam misinya tersebut?

Ditinjau dari ceritanya, sebenarnya sangat sederhana, yakni memburu replicant penjahat. Namun nilai terbesar dari film tersebut adalah pengembangan diri dari seorang replicant, yang semakin lama bertransformasi menjadi ‘manusia’. Dari sisi emosi, empati, perasaan, perilaku dan bahkan mungkin apakah memiliki jiwa, seorang replicant rasanya sulit dibedakan dengan manusia. Hal itu mengingatkan saya akan film A.I. Artificial Intelligence (2001) karya Steven Spielberg. Tak heran jika Roy Batty ingin bertemu dengan penciptanya, yakni pemilik Tyrell Corporation, dengan segudang pertanyaan dan kekecewaan serta kemarahan yang tersimpan.

Film ini diadaptasi lepas dari buku pengarang fiksi ilmiah terkenal, Philip K. Dick yakni Do Android Dream of Electric Sheeps? Berbagai buku fiksi ilmiah karya Philip K. Dick banyak yang diadaptasi ke layar lebar, seperti Total Recall (1990), Minority Report (2001), Paycheck (2003), A Scanner Darkly (2006) atau The Adjustment Bureau (2011). Film Blade Runner memiliki keunggulan dari sisi premis, karakter dan dialog.

impawards.com

Rasanya pas jika sineas Ridley Scott didapuk sebagai sutradara film tersebut, mengingatkan saya pada film Alien (1979) dengan gaya yang mirip. Ridley Scott terkenal dengan alur film yang lambat, memainkan tempo tanpa tergesa-gesa. Meski terkesan membosankan, namun beberapa adegan kekerasan –tidak perlu dijelaskan lebih detil- cukup mengejutkan dan membuat merinding dan ngilu rasanya.

Akting dan eksplorasi karakter saya acungkan jempol untuk Rutger Hauer sebagai tokoh antagonis Roy Batty. Dengan sosok menyeramkan, memiliki rambut putih ala punk layaknya, sekaligus memiliki karisma, yang terkadang saya bersimpati padanya. Dengan pancaran mata dan raut muka yang menunjukkan kesendirian sekaligus kebengisan, karakter Roy Batty merasa dirinya sebagai produk gagal dan terlihat kecewa dan sakit hati. Maka dengan jalan kekerasan, ia lampiaskan, meski tidak secara eksplisit.

Akting menawan lainnya yakni Sean Young –yang termasuk pendatang baru kala itu- sebagai Rachael, asisten Dr. Eldon Tyrell. Rachael terlihat sebagai sosok yang rapuh dan kecewa dibalik penampilan ‘jaim’, dingin seklaigus mempesona. Ada pula karakter Gaff yang misterius, stylish dan kadang terlihat kocak. Karakter kecil namun signifikan tersebut diperankan oleh Edward James Olmos, yang kemudian berperan sebagai kapten polisi di serial Miami Vice.

Sedangkan karakter utamanya, Rick Deckard, malah terlihat biasa saja, tipikal akting Harrison Ford. Dengan sinisme namun minus komedi ala Han Solo, Deckard adalah seorang penyendiri yang temperamental. Dari semua dialog, tentunya dialog Roy Batty lah yang paling mengena sepanjang film. Unsur kejutan lainnya ada di penutup film, sungguh adegan yang tak saya sangka sebelumnya.

Adalah sinematografi dengan segala keindahan visual, sound juga efek spesial yang mumpuni, mampu mempesonakan saya sepanjang film. Layaknya film 2001 : A Space Odyssey (1968) atau Star Wars (1977), film ini menonjolkan detil yang ‘wah’ akan suasana futuristik dengan segala kehidupannya. Itu di tahun 1982 lho! Kalo jaman sekarang mah, bosen liat CGI melulu! Dan juga uniknya di film itu, kebanyakan adegan lokasi di Chinatown dan yang saya bingung, beberapa kali terlihat kampanye promosi budaya Jepang (?) yang memperlihatkan video seorang Geisha … padahal itu di Chinatown.

Vangelis, sebuah nama yang membuat aransemen musik pada saat opening credits, seolah tidak terdengar dan sesekali terdengar kencang di beberapa adegan. Namun minim penggunaan original score-nya, karena lebih banyak dialog. Pada saat ending credits-lah, saya menyukai musik melankolisnya, pas dengan gaya neo-noir dari film tersebut.

Setelah saya menyelidiki film tersebut, maka wajar jika pendapatan film ini tidak semeriah film Star Wars atau Indiana Jones misalnya, mengingat sebuah film science fiction yang dibintangi oleh Harrison Ford yang sedang dalam puncak jayanya saat itu. Namun Blade Runner berhasil berstatus cult dan banyak dipuji oleh kritikus top. Bahkan oleh Library of  Congress dalam United States National Film Registry dipilih sebagai sebuah film yang signifikan secara kultur, historis atau estetis. Bandrol tersebut tidak main-main, dan sangat selektif, layaknya penghargaan sekelas Oscar.

Blade Runner bukanlah salah satu film science fiction favorit saya, namun pesan moral yang dibangun sangat bermakna, hingga kita pun bertanya pada diri sendiri : “Jika kita suatu saat bertemu dengan Sang Pencipta, mampukah kita bertanya segala sesuatu yang berada diluar jangkauan kita?”“mengapa begini?””mengapa begitu?” atau juga : “Manusia tidak mungkin bisa mereplika dirinya sendiri secara sempurna, bagaimana mungkin campur tangan dunia supranatural dapat mengisi jiwa seorang replicant menjadi begitu ‘hidup’?” … ahh, bagaimanapun juga itu hanya pendapat saya semata.

Intinya adalah, film Blade Runner tidak direkomendasikan sebagai hiburan menarik, kecuali efek spesial yang menakjubkan. Namun film tersebut sangat unggul dalam hal filosofi hidup yang mungkin ada hubungannya dengan sains, kepercayaan dan moral. Sebuah pesan menarik!

Score : 3.5 / 4 stars
  
Blade Runner | 1982 | Fiksi Ilmiah, Drama, Thriller | Pemain: Harrison Ford, Rutger Hauer, Sean Young, Edward James Olmos, M. Emmet Walsh  | Sutradara: Ridley Scott | Produser:  Michael Deeley | Penulis: Hampton Fancher, adaptasi dari buku “Do Android Dream of Electric Sheeps?” oleh Philip K. Dick | Musik: Vangelis | Sinematografi: Jordan Cronenweth | Distributor: Warner Bros | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 117 Menit 


Baca juga : Blade Runner 2049 (2017) : Jati Diri yang Dipertanyakan | The Osterman Weekend (1983) : Jebakan Maut di Akhir Pekan

Popular Posts