The Washington Post vs Nixon dalam Empat Film

(imdb.com) (impawards.com)

Film The Post (2017) mengingatkan kembali akan adanya berbagai kontroversi dan konspirasi yang melibatkan pemerintahan Amerika Serikat. Seakan mengulangi kembali sejarah kelam dan memalukan akan sebuah negara maju yang menjunjung tinggi demokrasi.

Di satu sisi, media ibaratnya seperti pisau bermata dua, dapat berfungsi mengungkapkan kebenaran berdasarkan fakta, atau malah menyesatkan kebenaran … istilah jaman now disebut hoax! In the end, publiklah yang akhirnya bisa menilai, apakah media dianggap sebagai pahlawan atau malah kriminal.

Sineas Steven Spielberg cukup singkat dalam menggarap The Post, karena ia merasa harus segera menunjukkannya kepada publik. Hal tersebut berkaitan dengan sindiran dan pertanyaan kepada pemerintah, akankah kebohongan terus berlanjut? Dari penembakan JFK, Pentagon Papers, Skandal Watergate, hingga yang terbaru seperti terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, memunculkan berbagai kontroversi dan teori konspirasi dari banyak kalangan.

Adapun terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden, menghadirkan beberapa hal yang belum sepenuhnya terungkap, padahal lawannya Hillary Clinton, lebih diunggulkan. Berbagai kontroversi Trump pada masa kampanye, yakni kasus pelecehan terhadap wanita, menghindari pajak dan mendapatkan dukungan dari Rusia dalam melakukan trik kotor berupa peretasan kepada pesaingnya. Dengan adanya pengungkapan FBI terhadap e-mail tentang skandal Departemen Luar Negeri, menjadi titik lemah Clinton, sekaligus manuver Trump.

Bagi yang gemar nonton film politik dengan genre thriller yang dipenuhi oleh konspirasi tingkat tinggi, rangkaian film berikut erat hubungannya dengan rangkaian peristiwa yang sesuai dengan judul tulisan ini. Dan hebatnya lagi … based on true events! WTF!

Selain film The Post yang dibintangi oleh duet Meryl Streep-Tom Hanks, juga sebelumnya dirilis film Mark Felt : The Man Who Brought Down The White House yang dibintangi Liam Neeson di tahun yang sama.

Entah mengapa fenomena kedua film yang dirilis dalam waktu yang berdekatan tersebut, memang erat kaitannya dengan dua hal penting : Pemerintahan Presiden Nixon dan media surat kabar The Washington Post. Kedua pihak tersebut yakni saling bertentangan, karena kala itu The Washington Post yang dipimpin oleh Katharine Graham dan Ben Bradlee, berhasil menyingkap dua peristiwa besar dalam waktu berdekatan di masa Pemerintahan Nixon, yakni : Pentagon Papers dan Skandal Watergate.

Lalu saya jadi teringat akan satu film besar yang merupakan film terfavorit sekaligus terberat –ironis ya- yakni, All The President’s Men (1976). Dan satu lagi film yang relevan, yakni The Pentagon Papers (2003). Hmm … saya sudah mention empat film kan? Bagi yang ingin mengetahui Pentagon Papers dan Skandal Watergate lebih detil, disarankan baca dulu informasinya di internet, karena jika nonton langsung filmnya, lumayan bikin kepala berdenyut dan dahi mengeriput.

Sebelumnya, saya telah menulis artikel tentang film The Post dan relevansi sekilas dengan film All The President’s Men di salah satu media online. Kali ini, saya cuma ingin merangkai singkat, berdasarkan kronologis di kedua peristiwa besar tersebut, melalui ke-4 film tadi. Berikut deskripsinya masing-masing :


The Pentagon Papers (2003)

Paramount Pictures, CBS Television Distribution

Pentagon Papers adalah kumpulan dokumen rahasia Pemerintah Amerika Serikat tentang berbagai kebijakan terkait Perang Vietnam, mulai dari era Truman, Eisenhower, JFK hingga Johnson. Pentagon Papers sendiri dijadikan sebuah studi yang digagas oleh Sekretaris Departemen Pertahanan kala itu, Robert McNamara.

Adalah Daniel Ellsberg seorang mantan analis militer yang tergugah hatinya untuk membocorkan dokumen tersebut kepada publik di masa Pemerintahan Nixon. Untuk pertama kalinya, dokumen tersebut dipublikasikan oleh surat kabar The New York Times. Lalu secara intens dan berkala, surat kabar The Washington Post pun mempublikasikannya.

Fokus cerita di film tersebut adalah mengenai petualangan dan kehidupan pribadi Daniel Ellsberg yang dibintangi oleh James Spader. Film lepas ini dirilis untuk televisi.


The Post (2017)

foxmovies.com

Fokus cerita di film ini yakni Katharine Graham (Meryl Streep) sebagai pemilik dan Ben Bradlee (Tom Hanks) sebagai pemimpin editor dari The Washington Post. Film ini adalah proses bagaimana The Washington Post mempublikasikan Pentagon Papers. Film ini tidak fokus pada Daniel Ellsberg.

Dengan gaya penyutradaraan dan sinematografi khas ala Spielberg, film ini memang memiliki drama akan sisi manusiawi seorang Katharine Graham dalam menentukan publikasi Pentagon Papers. Film ini pula yang mengantarkan The Washington Post dan Katharine Graham ke puncak kebesarannya.

Di akhir cerita, ada adegan ketika seorang sekuriti Gedung Demokrasi Nasional berhasil menangkap gerombolan pencuri … nah, adegan itulah yang merupakan awal cerita dari film All The President’s Men.

Film ini mendapatkan dua nominasi Oscar untuk kategori Best Picture dan Best Actress. Sedangkan di ajang American Film Institute, film ini berhasil meraih penghargaan di kategori Top Ten Films of the Year.


All The President’s Men (1976)

Warner Bros Pictures

Skandal Watergate adalah sebuah skandal yang merupakan kecurangan Nixon agar terpilih kembali menjadi Presiden Amerika Serikat yang kedua kalinya. Awal mula terungkapnya skandal tersebut adalah ditangkapnya lima orang pembobol Gedung Demokrasi Nasional di area Watergate (nama tempat).

Dari sebuah sidang penangkapan lima orang itulah, dua jurnalis The Washington Post, Bob Woodward (Robert Redford) dan Carl Bernstein (Dustin Hoffman) mulai menyelidiki keterkaitannya dengan beberpa figur terkenal yang terkoneksi dengan Gedung Putih. Hasil investigasi yang tak kenal lelah itulah yang akhirnya berhasil membongkar sebuah skandal besar.

Film ini adalah salah satu film politik terbaik, dengan perolehan Oscar untuk kategori Best Art Direction, Best Adapted Screenplay dan Best Sound. Disarankan untuk tetap fokus –meski ngantuk- mengikuti alur ceritanya … yaa itung-itung kaya baca berita kasus korupsi oleh KPK. Film ini digarap begitu apik, mulai dari akting, dialog hingga sinematografi dan thrill yang dibangun begitu natural.

Oh ya, tokoh Katharine Graham tidak dimunculkan di film ini, namun tokoh Ben Bradlee (Jason Robards) begitu memukau dan berkarisma di film ini … wajarlah jika diganjar Oscar dalam kategori Best Supporting Actor.


Mark Felt : The Man Who Brought Down The White House (2017)

Sony Pictures Classics

Boleh dikatakan film yang satu ini adalah spin-off dari All The President’s Men. Fokus ceritanya yakni Mark Felt (Liam Neeson), figur yang bertanggung jawab dalam menginvestigasi dan membocorkan informasi penting kepada jurnalis The Washington Post, Bob Woodward. 

Nama Mark Felt disebut sebagai Deep Throat oleh The Washington Post, karena figurnya sangat dirahasiakan oleh Woodward terhadap siapapun. Di film All The President’s Men, figur Deep Throat yang digambarkan misterius diperankan oleh mendiang aktor Hal Holbrook.   

Kesimpulan

Dari judul diatas, tiitk berat The Washington Post versus Pemerintahan Nixon difilmkan dalam The Post dan All The President’s Men. Sosok Katharine Graham dan Ben Bradlee, dua figure penting The Washington Post, berhasil menorehkan sejarah besar Amerika Serikat, dalam mengungkap ‘kebrobrokan’ pemerintah, termasuk Presiden Nixon itu sendiri. 

Dilema yang dihadapi oleh The Washington Post, yakni antara keberanian dan kejujuran untuk melawan arus atau main aman, dengan memendam kebohongan pemerintah. Suatu  beban moral yang begitu besar harus ditanggung oleh The Washington Post. Dan momen itulah yang membuat sang pemilik surat kabar, Katharine Graham, berada di titik pertaruhan karirnya.

So, bagi yang tertarik nonton film politik dengan sentuhan thriller non fiksi, keempat film tersebut layak diapresiasi dan dinikmati, seperti halnya kasus penembakan JFK yang sempat difilmkan oleh Oliver Stone. Jangan terlalu serius nontonnya, nanti bakal pusing tujuh keliling, browsing aja dulu beberapa referensi ringan mengenai hal-hal tersebut … maka ketika nonton, bakal mulai menikmati sambil seruput secangkir kopi.


Baca juga : The Taking of Pelham One Two Three (1974) : Tidak Sekadar Bajak Kereta | 12 Angry Men (1957) : Mereka Marah Karena Apa?

Popular Posts