Annihilation (2018) : Ancaman yang Dianggap ‘Terlalu Ilmiah’?

Courtesy of Paramount Pictures, Netflix, 2018

Mungkin ini adalah movie review saya yang ternaif, terbodoh, termalas dan tersingkat. Bagaimana tidak … katanya film ini adalah ‘terlalu cerdas’ untuk ditonton. Saya dalam menonton sebuah film, selalu dihadapkan pada dua hal penting : enjoyable or not! Terlepas dari film itu sangat berat, berat, sukar, medium, ringan hingga kualitas abal-abal. Yang pasti, pada saat menonton Annihilation, pilihan saya ada di nomor dua.

Annihilation bercerita tentang sekelompok ilmuwan yang dipimpin oleh Dr. Ventress (Jennifer Jason Leigh) untuk menyelidiki sebuah zona yang disebut “The Shimmer”. Zona tersebut eksis, karena adanya benda dari luar angkasa yang jatuh ke bumi. Penyelidikan mereka yakni, mencari tahu penyebab hilangnya grup militer yang sebelumnya dikirim ke zona tersebut dan penasaran akan adanya fenomena ilmiah tersebut.

Tokoh sentral dalam film ini, yaitu Lena (Natalie Portman), seorang biologis dan ex-tentara. Suami Lena, Kane (Oscar Isaac) adalah seorang tentara yang pernah dikirim ke zona tersebut, namun tiba-tiba kembali, padahal dinyatakan telah hilang. Ketika Kane tiba-tiba sakit dan dibawa oleh Lena ke rumah sakit, mereka berdua segera dikarantina ke suatu tempat.

Ternyata Lena dan Kane dibawa ke sebuah instalasi riset, yang terletak di dekat zona “The Shimmer”. Pimpinan riset, Dr. Ventress lalu merekrut Lena untuk menyelidiki zona tersebut, ditemani oleh Anya (Gina Rodriguez) seorang paramedis, Josie (Tessa Thompson) seorang psikis, dan Cass (Tuva Novotny) seorang geomorfologis.

Merekapun lalu berangkat menuju zona tersebut, namun akhirnya mereka menemukan beberapa hal yang diluar dugaan, berbagai teror dan ancaman baik secara fisik maupun psikologis …

Annihilation memiliki alur cerita non-linear, yang dipaparkan maju-mundur dan seterusnya, kalo gak salah, terdapat tiga timeline cerita. Dari awal cerita, Lena diinterogasi oleh seorang ilmuwan di dalam karantina. Lalu cerita beralih flashback ketika Lena bersedih kehilangan Kane dalam tugas militer dan teringat pada mereka berdua (flashback lagi sekilas), hingga akhirnya tiba-tiba Kane kembali tiba di rumah.

Disajikan dengan tempo yang lambat dan original score terkadang berupa petikan gitar, membuat saya tidak enjoy untuk menikmatinya. Saya memang merasa pusing jika dipermainkan oleh beberapa alur yang sepertinya acak, contoh ektstrim seperti Memento (2000) misalnya.

Setelah mengikuti ceritanya hingga selesai, baru saya paham, mengapa nih film yang katanya digadang-gadang ‘terlalu cerdas’, ternyata cukup reasonable. Hal itu terungkap dari berbagai argumen yang cukup ramai di berbagai media resmi, media sosial, dan lain-lain … dan saya juga males sih ngikutinnya.

Dimulai sesaat sebelum perilisan resmi filmnya, hingga distribusi, memunculkan berbagai argumentasi seputar filmnya yang ‘terlalu cerdas dan terlalu kompleks’ untuk ditonton. Padahal, secara kritik pun cukup baik, meski secara pendapatan masih underperformed.   

impawards.com

Secara garis besar, adapun kesimpulan yang saya tangkap setelah nonton film ini (yang mungkin mengandung spoiler), yakni :

Kisah yang bisa dikatakan klise … suatu keberadaan ‘semacam organisme’ alien yang berwujud cahaya -atau apapun itu- mendarat ke bumi, jatuh di suatu tempat. Wujud tersebut tampaknya ingin ‘merubah dan memperbaiki’ seluruh ekosistem dan kehidupan di bumi. Bagaimana seluruh organisme dan lingkungan alam serta sosial di bumi, mungkin dapat dipadukan secara harmoni atau selaras satu sama lain dan sebagainya.

Tapi menurut pandangan manusia, hal tersebut justru merupakan ancaman. Sesuai judul film, kata “annihilation” sendiri artinya : kehancuran, kemusnahan, pembinasaan, pemunahan, pemusnahan, penghancuran, penghapusan. Apa yang wujud alien tersebut perbuat, adalah semacam penyimpangan yang bisa ‘menghancurkan’ alam di bumi, dan memusnahkan manusia.

Hal klise lainnya yakni adanya penduplikasian manusia, sebuah cerita yang telah berulang kali hadir, seperti di film Invasion of the Body Snatchers (1956 dan remake-nya di tahun 1978) atau John Carpenter’s The Thing (1982). Cuma yang menjadi masalah adalah, kita tidak bisa mengetahui, bahwa seseorang tersebut adalah duplikat atau manusia tulen. Film ini memang banyak menggambarkan tentang hal-hal ilmiah, yang berhubungan dengan yang namanya sel, organ, molekul, asimilasi, mutasi atau transformasi.

Akting Natalie Portman sebagai tokoh sentral, yakni Lena, menurut saya terkesan kurang maksimal dalam meraih empati penonton. Emosi yang terekspresikan cukup mengena, meski tidak sekuat misalnya karakter Ellen Ripley di film Alien (1979) … we talk about survivor, right? Sedangkan aktris lainnya tidak ada yang menarik atensi, kecuali Gina Rodriguez sebagai Anya, mengingatkan saya pada Michelle Rodriguez … yang kebetulan nama belakangnya sama!

Untung film ini juga diselamatkan oleh visual yang menarik, permainan warna dan cahaya yang soft, menyejukan mata. Mulai dari sorot kamera pada rumah Lena dan Kane, kondisi alam di dalam “The Shimmer”, hingga bersihnya pasir pantai dan elegannya mercu suar yang disertai oleh kristal transparan berbentuk pepohonan di sekelilingnya.

Objek seperti tanaman berbentuk manusia, serta tanaman dan bunga yang bermutasi juga seakan-akan seperti kita mengunjungi objek wisata atau taman kreatif. Ada satu hal yang ‘mengusik’ saya, jika diperhatikan ketika Lena memasuki sebuah lubang di dalam mercusuar, tampak dinding lubang tersebut seperti gua. Namun dekorasi gua tersebut familiar bentuknya seperti kreasi H.R. Giger di franchise-nya Alien.

Overall, film yang diadaptasi dari novel karya Jeff VanderMeer tersebut, cukup berhasil digarap dengan penyajian cerita unik dan tentunya visual serta kreasi yang indah. Meskipun bukan favorit, Annihilation mengambil sudut pandang lebih ilmiah, dibandingkan film-film sejenis tentang invasi alien/extraterrestrial.

Demikian interpretasi abal-abal dari saya terhadap Annihilation. Bagi saya, cukup sekali tonton, dan cukup sedikit menghibur, walau tak perlu berpikir keras tentang hal lainnya …

Score : 3 / 4 stars

Annihilation | 2018 | Fiksi Ilmiah, Drama, Thriller, Horor Pemain: Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, Gina Rodriguez, Tessa Thompson, Tuva Novotny, Oscar Isaac | Sutradara: Alex Garland  |  Produser: Scott Rudin, Andrew Macdonald, Allon Reich, Eli Bush | Penulis: Berdasarkan Novel “Annihilation” oleh Jeff VanderMeer | Musik: Ben Salisbury, Geoff Barrow | Sinematografi: Rob Hardy  | Distributor: Paramount Pictures (U.S.A dan China), Netflix (Internasional) | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 115 Menit

Popular Posts