Annihilation (2018) : Ancaman yang Dianggap ‘Terlalu Ilmiah’?

Dunia Sinema Review Annihilation
Paramount Pictures, Netflix

Sebagian pihak mengatakan bahwa film Annihilation terlalu cerdas untuk ditonton. Film dengan genre thriller dan horor science fiction tersebut, mungkin saja penjabarannya dianggap terlalu ilmiah, sehingga tidak banyak audiens yang sanggup menikmatinya. 

Begitu pula dengan saya saat menonton filmnya, perasaan bercampur-aduk dengan menebak tema dan premis yang mungkin saja mengkombinasikan film fiksi ilmiah populer seperti Invasion of the Body Snatchers (1978), Alien (1979), The Thing (1982), Lifeforce (1985) hingga The Abyss (1988). Intinya film tersebut mengisahkan entitas yang mengancam kehidupan manusia di Bumi.
 
Film Annihilation mengisahkan Adapun Lena (Natalie Portman), seorang biologis dan mantan tentara. Suaminya bernama Kane (Oscar Isaac) juga seorang tentara yang pernah dikirim ke zonaThe Shimmer, namun tiba-tiba kembali, padahal dinyatakan telah hilang. Ketika Kane tiba-tiba sakit dan dibawa oleh Lena ke rumah sakit, mereka berdua segera dikarantina menuju instalasi riset di dekat zona.

Pimpinan instalasi riset bernama Dr. Ventress (Jennifer Jason Leigh) lalu merekrut Lena untuk menyelidiki zona yang merupakan lokasi kejatuhan benda luar angkasa tersebut, ditemani oleh Anya (Gina Rodriguez) seorang paramedis, Josie (Tessa Thompson) seorang psikis, dan Cass (Tuva Novotny) seorang geomorfologis.

Akhirnya mereka menemukan beberapa hal yang diluar dugaan, berbagai teror dan ancaman baik secara fisik maupun psikologis.

Annihilation memiliki alur cerita non-linear, yang dipaparkan maju-mundur dan seterusnya, sehingga terdapat tiga timeline. Dari awal cerita, Lena diinterogasi oleh seorang ilmuwan di dalam karantina. Lalu cerita beralih flashback ketika Lena bersedih kehilangan Kane dalam tugas militer dan teringat pada mereka berdua melalui flashback lagi secara sekilas, hingga akhirnya tiba-tiba Kane kembali tiba di rumah.

Disajikan dengan tempo yang lambat dan original score terkadang berupa petikan gitar, yang malah menurunkan mood saya, yang diperparaha melalui alur cerita yang acak.

Setelah mengikuti kisahnya hingga selesai, saya mulai memahami alasan film Annihilation dianggap terlalu ilmiah atau cerdas. Sedikit berpotensi SPOILER, kesimpulan yang saya tangkap dalam film ini, yakni : Entitas mahluk asing yang tampaknya ingin merubah dan memperbaiki ekosistem dan kehidupan di bumi, melalui cara yang tidak biasa.


Dunia Sinema Review Annihilation
Paramount Pictures, Netflix

Namun hal tersebut, tentu saja bertentangan dan malah menjadi ancaman bagi Bumi dan sleuruh mahluk hidupnya. Sesuai judulnya, kata “annihilation” sendiri artinya : kehancuran, kemusnahan, pembinasaan, pemunahan, pemusnahan, penghancuran, penghapusan. 

Memang film Annihilation disajikan melalui gaya yang tidak klise, seperti alur cerita yang dibolak-bailk, aspek suspens dan misteri yang dibangun secara perlahan, serta berbagai teror mengerikan dan berkesan ambigu. Film ini juga banyak menggambarkan tentang hal-hal ilmiah, yang berhubungan dengan yang namanya sel, organ, molekul, asimilasi, mutasi atau transformasi.

Performa Natalie Portman sebagai Lena, terkesan kurang maksimal dalam meraih empati penonton. Emosi yang terekspresikan cukup mengena, meski kurang terksploitasi secara psikologis. Sedangkan aktris lainnya bermain standar, kecuali Gina Rodriguez sebagai Anya yang cukup badass.

Untung film ini juga diselamatkan oleh visual yang menarik, permainan warna dan cahaya yang soft dan vivid,  mulai dari sorot kamera pada rumah Lena dan Kane, kondisi alam yang indah penuh warna di zona “The Shimmer”, hingga bersihnya pasir pantai dan elegannya mercu suar yang disertai oleh kristal transparan berbentuk pepohonan di sekelilingnya.

Objek seperti tanaman berbentuk manusia, serta tanaman dan bunga yang bermutasi juga seakan-akan seperti kita mengunjungi objek wisata atau taman kreatif. Ada satu hal yang mengusik saya, jika diperhatikan ketika Lena memasuki sebuah lubang di dalam mercusuar, tampak dinding lubang tersebut seperti gua, yang penuh dekorasi ala H.R. Giger-nya Alien.

Secara keseluruhan film Annihilation mampu melawan kisah klise, melalui cara yang unik dan mampu membangkitkan rasa kepenasaran audiens dalam merangkai berbagai adegan, yang didukung visual yang kontras antara keindahan dan horor. Meskipun bukan favorit, film ini cenderung mengambil sudut pandang lebih ilmiah, dibandingkan beberapa film sejenis.

Score : 3 / 4 stars

Annihilation | 2018 | Fiksi Ilmiah, Drama, Thriller, Horor | Pemain: Natalie Portman, Jennifer Jason Leigh, Gina Rodriguez, Tessa Thompson, Tuva Novotny, Oscar Isaac | Sutradara: Alex Garland | Produser: Scott Rudin, Andrew Macdonald, Allon Reich, Eli Bush | Penulis: Berdasarkan novel Annihilation karya Jeff VanderMeer. Skenario: Alex Garland | Musik: Ben Salisbury, Geoff Barrow | Sinematografi: Rob Hardy | Distributor: Paramount Pictures (U.S.A dan China), Netflix (Internasional) | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 115 Menit

Comments