Lady Bird (2017) : Jati Diri Remaja di Lingkungan Relijius

Courtesy of A24, Universal Pictures, 2017

Saya yang gak pernah updated film-film jaman NOW, merasa bahwa Lady Bird adalah film remaja yang unik dan langka ditemui. Umumnya, film-film remaja buatan Amerika, fokus di seputar puberitas dan seks. Sedangkan eksploitasi akan identitas atau jati diri, dengan nilai edukasi serta filosofi yang bagus, terlebih penampilan akting dan karakter, belum saya temui sebanyak itu.

Terlintas di benak saya, film The Breakfast Club (1985), bisa jadi mirip dengan Lady Bird. Dilihat dari jajaran kru-nya, film ini tampak asing bagi saya. Hebatnya, sutradara dan penulis Greta Gerwig yang juga aktris, memulai debutnya di film ini yang mendapatkan pujian kritik. Secara storytelling memang sederhana, yakni menceritakan seorang gadis remaja yang akan lulus SMA, untuk menentukan arah hidup selanjutnya.

Christine McPherson (Saoirse Ronan) adalah seorang anak SMA yang sebentar lagi akan lulus dan ingin melanjutkan kuliah. Christine kerap dipanggil “Lady Bird” oleh keluarga dan teman-temannya. Christine belajar di Sekolahan Katholik di Sacramento. Sekolah Katholik menerapkan berbagai aturan baku, seperti pemisahan murid laki-laki dan perempuan, disiplin tinggi, dan lain sebagainya.

Di film ini, kita juga diperlihatkan, latar belakang orang tuanya yang relijius –memiliki tradisi Katholik- dan harmonis. Christine memiliki kakak laki-laki bernama Miguel (Jordan Rodrigues), bersama dengan kekasihnya yang berpenampilan seperti ‘anak punk’ atau nyeleneh (weirdo) … Miguel bekerja di sebuah supermarket dan pindah kerja di sebuah café.

Ayah Christine, Larry (Tracy Letts) adalah seorang karyawan yang berhenti dari pekerjaannya dan berusaha untuk bekerja kembali. Larry adalah sosok ayah yang sabar dan berusaha memberikan yang terbaik untuk Christine. Sedangkan ibu Christine, Marion (Laurie Metcalf) memiliki sifat yang tegas, mudah marah, tapi bisa sekaligus terkadang akrab dengan Christine.

Berbagai problema yang dihadapi Christine adalah seputar arti persahabatan, kenakalan remaja, sosialitas dan romantika di lingkungan sekolah. Awalnya diceritakan bagaimana Christine –bersama dengan sahabatnya, Julie (Beanie Feldstein)- mencoba untuk menjajal minatnya, dengan bergabung di program teater sekolah. Christine sempat terlibat hubungan romantis dengan rekannya, Danny (Lucas Hedges) namun kandas.

Setelah Christine bekerja di sebuah café bersama kakaknya, ia juga menjalin hubungan dengan Kyle (Timothée Chalamet), bahkan hingga berhubungan seks untuk petama kalinya. Di saat itu pula, ia merasa seperti ingin berbuat kenakalan, dengan mengerjai seorang guru dan kemudian mencoba berteman dengan gadis populer, Jenna.

Akibatnya Christine ‘mencampakkan’ Julie, karena mereka selalu berdua alias akrab. Bahkan Christine harus berbohong kepada Jenna, dimana ia tinggal (dengan berpura-pura menggunakan rumah nenek Danny yang mewah), demi bisa berteman dengannya.

Di lingkungan keluarga pun, Christine selalu berkonfrontasi dan beragumen dengan ibunya, mulai dari masalah melanjutkan kuliah, hingga gaun yang akan dipakai untuk pesta perpisahan sekolah. Christine juga diam-diam mendaftarkan diri kuliah di luar kota pun, tanpa sepengetahuan orang tuanya. Ia sebenarnya diterima di perguruan tinggi lokal, namun ia merasa terlalu dekat dengan tempat tinggalnya.

impawards.com

Dengan alur dan penyajian cerita yang natural, tanpa adanya dramatisasi berlebihan dan tragedi, Lady Bird berhasil membuat saya akan adanya refleksi dari realita kehidupan. Bagaimana seorang anak SMA di tahun terakhirnya, merasa dirinya memang berada di transformasi dan ambang menuju kedewasaan, serta bagaimana akan meneruskan pendidikan selanjutnya.

Sementara di satu sisi, finansial keluarganya apakah sanggup untuk menyuplai hal tersebut. Figur Larry sebagai sang ayah tampaknya ingin seolah-olah menutupi dari segala keterpurukan dan depresiasi, serta ingin membahagiakan Christine. Kontras dengan sang ibu, Marion yang dengan apa adanya ingin memberikan pembelajaran kepada Christine, bahwa semuanya tidak bisa mulus dan semaunya … ibaratnya, “look around you, don’t you see??  

Memang dua tokoh sentral, Christine dan Marion-lah yang menjadi konflik dan tensi dari drama Lady Bird ini. Meski sebenarnya Marion juga amat menyayangi putrinya, namun ia ingin ada kejujuran, kedisplinan dan pengertian di dalam keluarga. Kedua karakter tersebutlah yang menghidupkan aura akting dan emosi.

Klimaks tak terduga terjadi di akhir cerita, setelah sebelumnya terasa sedikit flat namun dinamika adegan demi adegan tetap terjaga. Beberapa unsur kejutan pun hadir mulai dari pertengahan cerita, dengan gaya sangat natural dan terasa lebih real.

Mungkin kekurangan dari film ini adalah tidak hadirnya bumbu energi, seperti selingan soundtrack yang mumpuni atau beberapa adegan yang memorable bagi saya pribadi. Seperti halnya film remaja pubertas di lingkungan sekolah, unsur sex appeal atau sexy things selalu hadir untuk menambah semarak. Namun untungnya masih tertolong dengan penampilan aktris Odeya Rush sebagai Jenna Walton.

Pemeran utamanya, Saoirse Ronan, secara fisik memang kurang menarik bagi saya. Entah karena tuntutan penampilan sesuai dengan karakter atau hal lainnya, terasa bukan menjadi magnet yang kuat di film ini. Bagaimanapun juga akhirnya saya bersimpati dengan karakter keluarga Christine, terutama terhadap karakter Marion.  

Secara menyeluruh, film ini menarik untuk dinikmati, masih ada unsur hiburan, kejutan dan terutama nilai filosofi serta realita hidup seorang remaja menuju proses kedewasaan. Lady Bird adalah sebuah film nilai edukasi yang mengena, cerminan kehidupan realistis mengenai psikologi remaja dan kultur kehidupan Amerika di lingkungan relijius.

Score : 3.5 / 4 stars

Lady Bird | 2017 | Drama Remaja | Pemain: Saoirse Ronan, Laurie Metcalf, Tracy Letts, Lucas Hedges, Timothée Chalamet, Beanie Feldstein, Stephen McKinley, Henderson, Lois Smith   | Sutradara: Greta Gerwig | Produser: Scott Rudin, Eli Bush, Evelyn O’Neill  | Penulis: Greta Gerwig  | Musik: Jon Brion | Sinematografi: Sam Levy | Distributor: A24 (Amerika Serikat), Universal Pictures (Internasional)  | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 93 Menit 

Popular Posts