Blue Thunder (1983) : Malapetaka Dibalik Helikopter Canggih

blue thunder malapetaka helikopter canggih
Columbia Pictures

Unik, jarang ada, bahkan mungkin inspiratif buat beberapa film penerusnya semacam serial televisi Airwolf maupun film lepas seperti Fire Birds (1990). Berdasarkan ide yang ditulis oleh Dan O’Bannon dan Don Jakoby, Blue Thunder mengeksploitasi malapetaka berupa konspirasi dibalik helikopter canggih.

Apakah anda sadar, jika ada helikopter sedang melintas di atas, apa yang mereka lakukan? Bagaimana jika mereka memantau semua aktivitas manusia melalui seperangkat alat pengintai mutakhir yang bahkan bisa tembus pandang, dengan merekam visual serta percakapan?

Terlebih jika deru mesin helikopter tersebut memiliki peredam suara, sehingga nyaris tak terdengar.

Berbagai film tentang pengintaian dan penyadapan memang sudah banyak yang diproduksi, terutama di era digital sekarang ini, seperti Enemy of the State (1998) atau Eagle Eye (2008).

Baca juga: The Conversation (1974) : Terobsesi oleh Penyadapan

Konspirasi dan paranoia menjadi sajian utama dari berbagai film bertema sejenis, termasuk Blue Thunder, yang kesuksesannya kemudian diadaptasi melalui format serial televisi.

Film Bluethunder mengisahkan petugas Frank Murphy (Roy Scheider) dan rekan kerjanya yakni Richard Lymangood (Daniel Stern), berada dalam Kesatuan Bantuan Udara Kepolisian Los Angeles. Aktivitas mereka yakni memantau kota tersebut melalui helikopter, guna mencegah berbagai tindakan kriminal untuk keamanan warga.

Suatu ketika, mereka mengintai perampokan dengan korban tewas bernama Diane McNeely, seorang anggota dewan di pemerintahan. Atasan Murphy bernama Jack (Warren Oates) mengajaknya untuk menghadiri uji coba helikopter militer canggih  yang dikemudikan oleh Kolonel Cochrane (Malcolm McDowell).

Namun perlahan, masalah besar mulai muncul secara perlahan satu demi satu, dimulai dengan pengintaian berbahaya hingga terjadi insiden, serta duel besar di udara yang membawa malapetaka tak terhindarkan.

review film blue thunder
Columbia Pictures

Film Blue Thunder sejatinya mengisahkan tentang bagaimana aktivitas pengintaian dan penyadapan yang dilakukan dengan menggunakan perangkat canggih -dalam hal ini helikopter- melibatkan kepentingan politik, lalu berlanjut pada investigasi yang berakhir dalam duel helikopter di atas kota Los Angeles.

Karakter protagonis Murphy memiliki latar belakang militer eks veteran Perang Vietnam sebagai pilot helikopter. Dalam adegan kilas balik, diperlihatkan sebuah insiden yang membuatnya trauma.

Performa Roy Scheider dalam menghidupkan karakter Murphy dilakukan dengan baik, seperti halnya yang ia lakukan dalam film Jaws (1975) dan sekuelnya.  
 
Sedangkan karakter Cochrane yang diperankan Malcolm McDowell sebagai seorang yang sinis dan tidak terprediksi sehingga sulit ditebak apakah ia sebagai protagonis atau antagonis, tentu saja mengingatkan saya akan film A Clockwork Orange (1971). Terkadang absurd sebagai orang militer Amerika dengan logat British yang kental.

Ada pula performa Daniel Stern sebagai Richard digambarkan terlihat naif dan agak ceroboh. Namun bintang sesungguhnya di film ini yakni helikopter "Blue Thunder" sendiri!

Kesan pertama ketika melihatnya, mirip dengan helikopter Apache, yang ternyata adalah modifikasi dari helikopter buatan Perancis, yakni Aérospatiale SA-341G Gazelles.

Dengan warna hitam garang, berkemampuan siluman dengan peredam suara, dilengkapi sensor kamera melalui arah pergerakkan kepala pilot, alat pengintai canggih akan tampilan visual dan sound terhadap hasil rekaman, serta amunisi persenjataan layaknya pesawat tempur. 

Sejumlah adegan menakjubkan di udara, seperti saat pengintaian, latihan serta puncaknya yakni pertempuran, menjadi salah satu keunggulan sinematografi yang dilakukan
John A. Alonzo di film ini. Alonzo sebelumnya pernah menangani adegan aksi laga di film Vanishing Point (1971) dan Black Sunday (1977).

ulasan sinosis blue thunder
Columbia Pictures

Perpaduan antara aksi kombat helikopter dengan latar belakang diantara gedung bertingkat Los Angeles, lengkap hiruk-pikuknya lalu lintas, serta hamparan pegunungan jauh dibelakangnya, begitu memanjakan mata.

Beberapa adegan fantastis tentu saja saat Murphy dan Richard sedang latihan dengan helikopternya, mengikuti instruksi dari Cochrane dengan "Blue Thunder"-nya.

Bagaimana diperlihatkan beberapa manuver indah, hingga helikopter Muprhy mengalami kecelakaan, lalu mendarat darurat di sebuah proyek bangunan. Adegannya cukup kocak, karena helikopter tersebut menimpa salah satu kantor kontraktor, hingga sang manajer yang marah-marah kepada Murphy.

Juga ada adegan laga yang terkocak, adalah ketika sebuah pesawat tempur F-16, menembakkan rudal kearah helikopter "Blue Thunder" yang dikemudikan Murphy, malah menghantam sebuah gedung!


Dan lucunya, lagi-lagi F-16 dipancing Murphy dengan sasaran peluncuran rudal, yang berakhir di sebuah restoran hotdog, kawasan Little Tokyo.

Namun, tak ada yang bisa mengalahkan adegan di puncak cerita, ketika Murphy dengan "Blue Thunder"-nya berduel dengan musuh sesungguhnya yang juga menggunakan helikopter tempur.
 
 

Adegan pertempuran yang teramat taktis itu pun luar biasa. Bagaimana mereka saling menembaki, diantara gedung-gedung bertingkat dan sebuah pabrik. Juga ketika Murphy dan musuhnya bergantian bersembunyi di balik gedung-gedung tinggi, kejar-mengejar, dan begitu pas berhadapan, langsung saling tembak-menembak.

Adegan tergila yakni ketika Murphy mengemudikan Blue Thunder, dengan manuver hingga 360 derajat! Meski agak lebay, saya tak habis pikir bagaimana mereka bisa membuat efek spesial yang begitu mengaggumkan dan berlangsung seru, apa adanya, tanpa bantuan CGI.

Berbagai pergerakkan kamera dari adegan satu menuju adegan laga lainnya di udara begitu halus transisinya, karena tidak memainkan speed atau zoom secara cepat yang menyakiti mata seperti pada film aksi laga masa kini.

helikopter canggih film blue thunder
Columbia Pictures

Film Blue Thunder memperlihatkan ritme yang cukup sibuk dalam beberapa awal adegan, seakan begitu dinamisnya pekerjaan polisi unit bantuan udara Kondisi markas di sebuah gedung, digambarkan memiliki atap gedung luas, khusus untuk landasan helikopter yang mirip dengan hiruk-pikuknya kapal induk di film Top Gun (1986).

Ritme mulai melambat dalam adegan pengintaian pertama Murphy dan Richard, terlebih saat mereka mengamati seorang wanita di sebuah apartemen. Bisa anda bayangkan, apa yang dilakukan wanita tersebut!

Sutradara John Badham yang saya kenal melalui beberapa film drama dipadukan dengan aksi laga mumpuni, ditambah elemen thriller yang berhasil membuat adrenalin ketegangan seakan nyata di depan mata. Berbagai keseruan dan kejutan di beberapa adegan yang signifikan, dengan brilian dipadukan oleh permainan sorot kamera yang enak dilihat.

Untuk porsi laga dan drama, masing-masing memiliki takaran yang seimbang. Berbagai dialog yang dipaparkan pun disisipi humor segar. Bahkan menurut saya, quote yang mudah ditangkap di film ini adalah beberapa kali Cochrane mengatakan “Catch you later” kepada Murphy.

Oh ya, juga ada istilah yang bersifat sarkastik, seperti huruf JAFO yang terdapat di topi milik Richard. JAFO yang artinya “Just A Fuckin’ Obeserver” secara tak langsung, menyindir dirinya sendiri, yang artinya hanyalah tak lebih dari seorang pengamat.

Film Blue Thunder mungkin menjadi acuan dari sejumlah film aksi laga tentang pertempuran di udara, baik itu pesawat tempur maupun helikopter.


Menurut saya, film ini cukup komplit dari penyajian cerita yang kuat terhadap narasi yang melibatkan konspirasi politik, dialog yang mudah dimengerti, aksi laga spektakuler hingga selingan humor segar.

Blue Thunder sangat direkomendasikan sebagai cerita yang bukan sekadar performa aksi helikopter canggih, namun ada malapetaka dibaliknya.

Score : 4 / 4 stars

Blue Thunder | 1983 | Aksi Laga, Petualangan, Thriller | Pemain: Roy Scheider, Warren Oates, Malcolm McDowell, Daniel Stern, Candy Clark | Sutradara: John Badham | Produser: Gordon Caroll, Phil Feldman, Andrew Fogelson | Penulis: Dan O’Bannon, Don Jakoby | Musik: Arthur B. Rubinstein | Sinematografi: John A. Alonzo | Distributor: Columbia Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 109 Menit

Comments