Jumanji : Welcome to the Jungle (2017) : Sekuel Alternatif di Dunia Game

Courtesy of Sony Pictures Releasing, 2017

Saya jadi kangen akan film orisinalnya, Jumanji (1995), yang dibintangi oleh mendiang Robin Williams dan aktris belia saat itu, Kirsten Dunst. Pada waktu jaman CGI sedang naik daun, dan masih menjadi favorit terhadap film-film fantasi atau science fiction, nonton film Jumanji di bioskop adalah hal yang spesial kala itu.

Cerita yang mengisahkan Alan Parrish (Robin Williams) yang kembali ke dunia nyata dari alam Jumanji, begitu mengesankan saya. Bagaimana keseruan ketika kotak Jumanji terbuka, dan seluruh binatang di alam liar, menyerbu sebuah kota. Saya teringat, ada seekor karakter monyet kecil yang menarik perhatian saya. Pokoknya, semua kelucuan, tingkah laku, akting, drama menyentuh dan adegan aksi seru, jauh lebih baik daripada sekuelnya.

Tapi untungnya, film Jumanji : Welcome to the Jungle (2017) adalah sebuah sekuel … untungnya bukan remake yang bakalan bisa menghancurkan semuanya. Dari jajaran kru, udah gak aneh lagi untuk film se-tipikal ini, mungkin hanya akting dan komedi Jack Black yang cukup untuk menyelamatkan energi dan aura yang ada. Ceritanya pun, sebenarnya hanya menawarkan sebuah alternatif ke dalam bentuk semacam virtual reality, atau lebih tepatnya seperti konsep avatar.

Yang disayangkan adalah Robin Williams yang telah tiada, sehingga tidak bisa gabung kembali, serta karakter aktor-aktris lainnya dari film orisinal, yang juga tidak dilibatkan. Pembuka cerita ber-setting di tahun 1996 –setahun setelah kejadian di film pertamanya- ketika ayah Alex Vreeke, menemukan kotak Jumanji di sebuah pantai dan memberikan kepada anaknya. Alex kemudian terbangun dan menemukan permainan di kotak Jumanji tersebut berubah menjadi cartridge dari video game. Alex pun memainkannya, lalu tiba-tiba ia menghilang.

Cerita beralih di tahun 2016, yang mengisahkan empat karakter remaja, yakni Spencer, Fridge, Bethany dan Martha. Mereka dihukum oleh kepala sekolah, untuk menjalani tugas diluar sekolah, dengan membersihkan sebuah gudang. Mereka lalu menemukan sebuah video game, yang berisikan permainan Jumanji. Mereka iseng dengan mencoba memainkannya, sesuai karakternya masing-masing. Spencer menjadi Bravestone, Fridge menjadi Mouse, Bethany menjadi Shelly dan Martha menjadi Ruby.

Mereka terkejut, karena satu-persatu tersedot masuk ke dalam video game tersebut. Dengan penggambaran yang ‘real’, mereka tiba-tiba ada di tengah hutan belantara. Mereka akhirnya sadar bahwa fisik mereka menjadi masing-masing karakter yang mereka mainkan. Tak lama kemudian, mereka bertemu dengan pemandu game, yakni Nigel, yang menjelaskan latar belakang serta misi mereka untuk menyelamatkan Jumanji. Merekapun diberikan Jaguar’s Eye dan sebuah invisible map oleh Nigel.

Misi mereka yakni untuk mengembalikan Jaguar’s Eye ke tempatnya, setelah Nigel berhasil merebutnya dari karakter antagonis, Russel Van Pelt (Bobby Cannavale).  Van Pelt, sebelumnya telah mengambil Jaguar’s Eye dari tempatnya dan kekuatan jahat menguasainya. Van Pelt yang memiliki banyak pasukan, juga bisa mengontrol seluruh hewan liar di alam Jumanji.

Berhasilkah misi keempat karakter tersebut dalam menantang alam liar dan niat jahat Van Pelt?

Film sekuel ini memang bisa saya katakan sebagai alternatif lain dari versi asli Jumanji. Well, ide untuk kreativitas dari sebuah sekuel, cukup oke dan fresh. Dengan penggambaran beberapa karakter protagonis yang memiliki kekuatan super, kita disuguhkan dengan berbagai adegan aksi yang standar ala jaman NOW. Premis ceritanya juga memiliki nilai filosofi dalam hal pertemanan, jati diri dan refleksi problema di kehidupan nyata.

Berbagai adegan yang disajikan, cukup menghibur dan unsur thriller yang dibangun mulai dari pertengahan cerita dan di akhir puncak aksi protagonis, cukup berhasil membuat saya mengikuti keseruannya. Tapi memang tipikal film seperti ini, alurnya mudah ditebak, terutama mulai di tiga perempat cerita, kemana arahnya akan berlanjut. Tentu saja ada happy ending … udah gak aneh!

Dengan gabungan ala Indiana Jones, Tomb Raider atau bahkan Alan Quatermain, film ini menghibur dari sisi aksi, improvisasi strategi, serta berbagai adegan humor. Mungkin hanya akting dan aksi Jack Black-lah yang bisa menjaga keberlangsungan humor elegan di sepanjang cerita. Dengan berakting seakan-akan adalah seorang gadis yang tubuhnya menjelma menjadi seorang pria gemuk, Jack Black cukup baik dalam menterjemahkannya secara proper.

impawards.com

Akting standar dan stereotip ala Dwayne Johnson, cukup lumayan sebagai seorang remaja pria yang terjebak di dalam tubuh pria kekar. Dialog dan mimik wajahnya dalam berakting, bolehlah untuk memainkan karakter yang ‘tidak biasa’ baginya. Akting dan aksi komedi Kevin Hart sebagai Mouse, saya rasa agak tanggung dan kurang dalam. Palingan adegan saat ia meledak ketika ia makan kue –kelemahan dari karakter Mouse, yang bisa menghilangkan nyawanya- di sebuah pasar, cukup mengejutkan sekaligus cukup kocak. 

Untuk aksi ketegangan serta keseruan, film ini cukup menghibur, namun sayangnya tidak diimbangi oleh kedalaman karakter dan aktingnya. Seperti halnya di film orisinalnya, ketika kedua karakter yang dimainkan oleh Robin Williams dan Bonnie Hunt berhasil mengikat emosi, di tengah-tengah petualangan seru dan komedi yang membuat saya tertawa terbahak-bahak. Sebaliknya, akting untuk para karakter di dunia Jumanji seakan-akan hanya menjalankan tugas rutin, tanpa ada eksplorasi serta keterikatan emosi. Justru saya malah lebih bersimpati pada keempat karakter remaja di dunia nyata, serta karakter Jefferson McDonough (Nick Jonas dan Collin Hanks).

Kekurangan film ini juga hanya sedikit karakter hewan CGI yang ditampilkan, tidak seperti di seri pertamanya. Dibalik beberapa nilai minus tersebut, sinematografi yang disajikan cukup menyejukan mata saya. Beberapa landskap hutan atau padang rumput yang ditampilkan di siang hari dan senja, dengan kombinasi beberapa hewan, mengingatkan saya akan film Jurassic Park (1993).

Anyway, film ini cukup berhasil untuk merealisasikan wujud ‘nyata’ para karakter di dunia game bernama Jumanji. Contohnya ketika mereka diantar oleh karakter Nigel dengan mengendarai kendaraan Land Rover, terasa akan aura rileks untuk menikmati  perjalanan menjelajahi hutan, sebelum petualangan yang dimulai sesungguhnya. Atau ketika mereka mengendap, mengintip, serta mengatur rencana untuk menyergap sebuah gudang transportasi dan amunisi musuh dari kejauhan. Berbagai dialog akan rencana konyol, persiapan untuk action, serta tentunya pada saat karakter Ruby yang menggoda dua orang penjaga, berhasil memberikan feel dan ambience, layaknya seperti permainan video game.

Film ini memang tidak bisa untuk mengimbangi seri pertamanya, namun cukup menghibur akan adanya keseruan semata saja. Saya belum pernah nonton film-filmnya Jack Kasdan, namun putra dari sineas Lawrence Kasdan tersebut ternyata cukup berbakat untuk membuat sebuah sekuel yang berani dari sisi action dan thriller yang lumayan menjual. Saya sangat menyarankan untuk tonton seri pertamanya yang lebih superior dari berbagai sisi, terutama drama yang menyentuh ditengah-tengah serbuan hewan liar dan seorang pemburu maniak!

Score : 2 / 4 stars

Jumanji : Welcome to the Jungle | 2017 | Aksi Laga, Petualangan, Fantasi, Komedi | Pemain: Dwayne Johnson, Jack Black, Kevin Hart, Karen Gillan, Nick Jonas, Bobby Cannavale |  Sutradara: Jack Kasdan  |  Produser: Matt Tolmach, William Teitler | Penulis: Berdasarkan NovelJumanji” oleh Chris Van Allsburg. Ditulis ulang oleh Chris McKenna | Musik: Henry Jackman | Sinematografi: Gyula Pados  | Distributor: Sony Pictures Releasing | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 119 Menit


Baca juga : Baywatch (2017) : Penjaga Pantai Lucu-Lucuan

Popular Posts