Creed (2015) : Spin-Off Rocky Terbaik

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2015

Andil Sylvester Stallone dalam mengembangkan naskah film Creed, terbukti menjadi salah satu formula kesuksesan film tersebut, sekaligus mengobati kerinduan fans akan karakter Rocky yang kini telah pensiun itu. Film Creed merupakan spin-off dari film Rocky, bahwasanya karakter Adonis Creed sebagai tokoh utamanya, merupakan putra dari sang legenda Apollo Creed yang pernah berseteru dengan Rocky dan akhirnya bersahabat erat.

Kelihaian seorang sineas muda kulit hitam asal Amerika, Ryan Coogler yang terkenal dengan Black Panther-nya itu, menjadi bukti nyata untuk mengangkat karakter protagonis kulit hitam yang disegani, bukan hanya semata rutinitas akting dan gaya ‘belaka’ saja, seperti stereotip umum dalam dunia perfilman. Debutnya lewat film Fruitvale Station (2013), menghantarkannya meraih berbagai penghargaan atas dasar kritik yang positif.

Kisah film ini bermula di tahun 1998 saat Adonis “Donnie” Johnson yang tinggal di panti asuhan, adalah seorang anak hasil hubungan mendiang Apollo Creed dengan seorang wanita yang tidak diketahui keberadaannya. Adalah Mary Anne (Phylicia Rashad), istri Apollo Creed yang mengangkat Adonis menjadi anaknya.

Tahun 2015, Adonis (Michael B. Jordan) berhenti dari pekerjaan di sebuah perusahaan, mengejar obsesinya sebagai seorang petinju profesional. Hal itu tentu saja dikhawatirkan oleh Mary Anne, mengingat peristiwa naas yang menimpa suaminya tewas saat bertanding melawan Ivan Drago 30 tahun yang lalu.

Adonis ternyata ditolak oleh seorang pelatih bernama Tony “Little Duke” Evers, Jr (Wood Harris), anak dari Tony Evers yang pernah melatih Apollo dan Rocky. Adonis pun menuju Philadelphia untuk bertemu dengan Rocky Balboa (Sylvester Stallone) yang mengidap trauma otak, awalnya enggan untuk melatihnya dan akhirnya menyetujuinya. Namun apa yang mereka alami, mulai dari latihan, eksebisi dan pertandingan ternyata tidak semulus yang dikira …

impawards.com

Drama dari babak baru perjalanan Rocky Balboa, terangkum dalam satu film yang tersentral kepada Adonis Creed, putra dari petinju legendaris Apollo Creed. Film ini adalah sisi lain dari kehidupan Rocky Balboa yang pernah pensiun dan menjadi pelatih sejak film Rocky V (1990) lalu kembali bertarung untuk kali pertama dan terakhir di film Rocky Balboa (2006), kini menjalani masa tuanya dengan menjadi pelatih sekaligus mentor putera sahabatnya itu.

Di film ini, Ryan Coogler berusaha keras untuk mengarahkan semua elemen agar bisa memiliki setidaknya sebagian ‘jiwa’ dari film-film Rocky. Dengan berbagai gaya yang ditampilkan dengan sentuhan modern, hal tersebut terasa lebih mirip dengan film Rocky Balboa, tanpa meninggalkan elemen tradisional yang masih melekat kuat lewat premis, adegan, dialog ataupun setting serta scoring yang dieksekusi dengan cermat.

Selain Adonis Creed sebagai karakter utama tentang bagaimana DNA seorang petinju profesional mengalir kuat dari Apollo, tentu saja tidak bisa lepas dari peran Rocky Balboa yang mengenal betul karakter Apollo di dalam maupun di luar ring tinju. Dalam film Rocky (1976), seorang petinju amatiran bernama Rocky Balboa dididik oleh Michael “Mickey” Goldmill (diperankan oleh mendiang Burgess Meredith) untuk menantang Apollo Creed (Carl Weathers) dan juga terus berulang di film Rocky II (1979). Namun dalam film Rocky III (1982), Rocky kehilangan Mickey yang meninggal saat ia akan bertanding, maka saat itulah kemudian Apollo melatih Rocky dan mereka menjadi sahabat.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2015

Di film Creed, giliran Rocky yang melatih sekaligus mendidik Adonis hingga menjadi seorang petarung hebat. Semua yang diwariskan oleh Rocky adalah juga warisan yang ia dapat dari Mickey dan Apollo, tidak hanya melulu soal teknis saja, namun juga nilai-nilai hidup seorang petarung tentang bagaimana bertahan dan bangkit dari kegagalan dan kepahitan.

Chemistry kuat yang muncul dalam hubungan antara Adonis dan Rocky juga memperlihatkan bahwa Adonis yang tidak mengenal ayahnya sejak lahir, memanggil Rocky ‘paman’, begitu pula sebaliknya, sosok Rocky yang kehilangan Apollo, ditinggal mati istrinya Adrian (Talia Shire) dan jauh dari anaknya, menganggap Adonis sebagai keluarga sendiri.

Boleh dikatakan bahwa film Creed adalah cerminan dari film Rocky itu sendiri, dengan premis klise tentang seorang anak muda –yang kebetulan keturunan Apollo Creed- dalam pencarian jati diri sebagai petarung sejati yang dididik oleh petinju legendaris Rocky Balboa, dalam perjalanannya menemukan sosok wanita biasa yang dicintainya yakni Bianca (Tessa Thompson), akhirnya menemukan lawan sepadan yang sebenarnya sudah sering jadi juara yang berpengalaman.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2015

Yang membuat perbedaan di film ini adalah seorang Adonis yang ingin keluar dari zona nyaman akan karir dan masa depannya yang semestinya menghindar dari resiko, malah terjun bebas ke dalam dunia ‘brutal’ yang dilakukan oleh ayahnya yang nyawanya terenggut akibat sebuah sikap dan tindakan yang berakibat fatal (perhatikan di film Rocky IV). Reinkarnasi dari Apollo yang terdapat dalam sosok Adonis bisa dikatakan sebagai sebuah penebusan sekaligus mempertahankan warisan dari seorang petarung untuk meraih juara.

Selain itu, rangkaian cerita dan pengembangan karakter di film ini, cukup meyakinkan dan elemen drama yang dihadirkan juga menggugah emosi audiens, seperti ketika apa yang dialami oleh Rocky Balboa ketika melatih Adonis dalam persiapannya untuk bertarung dengan petinju Inggris, “Pretty” Ricky Conlan. Kita tidak bisa mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya dan itu merupakan sebuah kejutan yang membuat was-was audiens.

Performa Michael B. Jordan sebagai Adonis Creed cukup meyakinkan, baik secara fisik yang lebih kurang mirip Carl Weathers, maupun dialog dan gaya bertinjunya. Gaya akting Jordan tidak menunjukkan identitas seorang kulit hitam modern yang terlalu menonjolkan sisi kelebayan kultur ‘hip-hop’-nya, aktingnya dilakukan serius sesuai dengan karakter yang memiliki tekad sebagai seorang petinju professional, meski tetap saja salah satu gaya ‘keangkuhan’ ia tunjukkan sesuai dengan karakter Apollo.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2015

Karakter kunci di film ini tentu saja Rocky Balboa yang diperankan Sylvester Stallone, yang penampilannya saya rasa lebih baik dibandingkan film Rocky V. Sosok Rocky Balboa terlihat jauh lebih bijak dan sabar, serta tetap down-to-earth, tanpa meninggalkan ciri khas gaya bicaranya. Tidak banyak yang bisa dikomentari mengenai hal ini. Sedangkan karakter Ricky Conlan yang dipernakan Anthony Bellew cukup meyakinkan sebagai sosok ‘antagonis’ yang arogan dan tengil.

Penyajian menarik dari berbagai sekuen dan adegan dalam film Creed, boleh dibilang merupakan formula yang menggabungkan teknik pengambilan gambar secara konservatif dan modern. Tampaknya penggunaan shaky camera di beberapa adegan, tidak mengganggu visual secara keseluruhan, meski saya tidak mengerti tujuannya untuk apa.

Salah satu sekuen memorable yang terinspirasi dari sekuen ikonik ketika Rocky latihan lari di jalanan yang diikuti oleh massa, dalam film ini terlihat ketika Adonis yang berlari di jalanan sepi namun diikuti oleh para pengendara motor di lingkungan tersebut yang dikombinasikan dengan beberapa gerakan slow-motion. Dengan memakai setelan training dan skullcap berwarna sama, aksi Adonis itupun diiringi oleh sebuah lagu “Lord Knows / Fighting Stronger” dengan kombinasi antara hip-hop dan instrumen yang mirip dengan tema musik “Gonna Fly Now”.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2015

Selain itu, berbagai adegan pertandingan tinju yang dibuat dengan dramatis, dieksekusi dengan apik, diperlihatkan secara epik terutama dalam pertandingan terakhir yang tentu saja berbagai gerakan slow-motion saat salah seorang karakter itu dipukul telak sebelum jatuh ke kanvas ring tinju. Celana tinju ikonik milik Apollo Creed dengan desain bendera Amerika pun dipakai oleh Adonis dalam pertandingan puncak itu.

Berbagai setting cerita yang sebagian besar berada di kota Philadelphia, memperlihatkan patung Rocky Balboa yang memang nyata berada di dekat “Rocky Steps” di area Philadelphia Museum of Art, nostalgia dari film Rocky Balboa juga diperlihatkan ketika Adonis bertemu dengan Rocky di restoran Adrian’s miliknya, kemudian sasana latihan tinju di Mighty’s Mickey Boxing yang terletak di sudut bangunan dekat jalur kereta layang, serta tentunya sekuen “72 steps” di depan Philadelphia Museum of Art saat fajar menyingsing.

Tema musik dan scoring kali ini sengaja dibuat beda dari film-film Rocky sebelumnya, karena memang fokus pada karakter Adonis yang merupakan orang kulit hitam dengan mengkombinasikan aransemen musik secara umum dengan selingan beberapa lagu hip-hop, sesuai dengan kultur karakter utamanya. Meski demikian, sekilas tema musik yang aslinya diaransemen Bill Conti, yakni “Gonna Fly Now” juga dilantunkan saat pertandingan terakhir, serta “The Final Bell” hadir saat pertandingan hampir selesai.

Film Creed mengangkat kembali kejayaan franchise film Rocky, dengan keberhasilan untuk menerobos sisi lain dari warisan Apollo Creed lewat karakter baru, yakni Adonis Creed. Sebuah film yang menarik, sangat menghibur, dengan pengembangan cerita yang cukup emosional, meski berangkat dari premis yang tidak istimewa. Film Creed II sebentar lagi akan dirilis, dan yang membuat penasaran adalah comeback-nya Ivan Drago … semenarik apakah filmnya?

Score : 3.5 / 4 stars

Creed | 2015 | Drama, Sport | Pemain: Michael B. Jordan, Sylvester Stallone, Tessa Thompson, Phylicia Rashad | Sutradara: Ryan Coogler | Produser: Irwin Winkler, Robert Chartoff, Charles Winkler, William Chartoff, David Winkler, Kevin King-Templeton, Sylverster Stallone | Penulis: Berdasarkan karakter yang ditulis Sylverster Stallone. Naskah: Ryan Coogler, Aaron Covington | Musik: Ludwig Göransson, berdasarkan tema musik karya Bill Conti | Sinematografi: Maryse Alberti | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 133 Menit

Popular Posts