Dragonslayer (1981) : Sang Pembantai Naga Beringas

Courtesy of Paramount Pictures, Buena Vista International Distribution, 1981

Jika kita membicarakan film-film tentang dragon atau naga –mitos naga dari barat- tentu tidak banyak yang diproduksi, dari jaman dulu hingga sekarang. Maksudnya, film-film yang fokus membahas tentang naga, bukan film-film yang berasosiasi dengan naga seperti franchise Lord of the Rings, The Hobbits, Harry Potter atau Narnia. Dari sekian banyak film itu, sebagian adalah animasi dan live-action, namun tentu saja versi yang terakhir sebenarnya lebih membuat kita penasaran, sebagus apa sih naga-nya?

Film-film di akhir 90’an hingga kini, mungkin menggunakan hampir 90% CGI –seperti film Reign of Fire (2002) misalnya- untuk membuat naga, jadi ketauan kan ‘bohongan’nya? Adapun di film-film klasik, memakai teknik seperti stop-motion dan animatronic puppet sudah lazim, meski terlihat kekakuan dan manipulasinya, tapi … it’s real, wujudnya nyata! Film klasik yang berjudul Dragonslayer, adalah salah satu film live-action naga yang perlu diperhitungkan, salah satunya adalah objek dari naga itu sendiri, yang nanti kita bahas selanjutnya.

Premis ceritanya sebenarnya sederhana dan klise, layaknya tema pengorbanan, penebusan, jati diri dan kepahlawanan yang terjadi pada masa abad pertengahan. Terjadi sebuah terror menakutkan dari seekor naga Vermithax Pejorative yang muncul setaip 400 tahun, dan kini terjadi pada masa kerajaan Urland di tanah Inggris. Agar naga tersebut tidak mengganggu penduduk, maka Raja Casiodorus (Peter Eyre) mengadakan undian, dengan mengumpulkan para gadis perawan, dan satu orang yang mendapatakan undian tersebut, menjadi tumbal untuk sang naga.

Seorang pria muda bernama Valerian (Caitlin Clarke) memimpin ekspedisi untuk mencari dan menemui seorang penyihir terkenal bernama Ulrich of Craggenmoor (Ralph Richardson) dan membujuknya untuk membunuh sang naga, sekaligus menyelamatkan desanya. Ekspedisi mereka diikuti oleh sekelompok tentara kerajaan yang dipimpin oleh Tyrian (John Hallam) yang menyangsikan kehebatan Ulrich.

Dalam sebuah konfrontasi, Tyrian menantang Ulrich, yang akhirnya tewas terbunuh di tangan Tyrian sendiri, dan disaksikan oleh Valerian, serta murid Ulrich bernama Galen Bradwarden (Peter MacNicol) dan asisten Ulrich yang bernama Hodge (Sydney Bromley). Merasa sia-sia, akhirnya rombongan Valerian kembali menuju desanya. Sementara itu, Galen terpilih sebagai penyihir berikutnya berkat sebuah jimat sihir berupa kalung milik Ulrich.

Galen dan Hodge lalu menyusul rombongan Valerian dan bertekad menyelamatkan mereka dari sang naga. Malangnya, Hodge tewas di tangan para serdadu Tyrian, setelah mereka menyerang rombongan Valerian. Ketika mereka tiba di wilayah Urland, mereka melewati sarang naga. Galen memaksa mereka untuk mendekati sarang tersebut beruap sebuah gua di pegunungan batu, dan dengan sihirnya, ia berhasil menjatuhkan batu-batu besar dari atas pegunungan dan menimbun sang naga.

Penduduk desa pun merayakan kemenangan mereka dengan mengklaim bahwa sang naga telah mati, sedangkan Galen dibawa menuju istana raja oleh Tyrian. Rupanya Raja Casiodorus menginginkan jimat yang dipakai Galen, namun mereka semua tidak menyadari, bahwa sebenarnya sang naga belumlah mati …

impawards.com

Layaknya film-film fantasi berdasarkan fairy tales, yang terjadi pada abad pertengahan, cerita di film ini lebih menitikberatkan kepada perseteruan antar manusia, akibat tirani seorang raja yang berkuasa, dengan melibatkan sosok antagonis seekor naga yang buas, secara alami memerlukan tumbal manusia.

Sentralisasi karakter Galen yang diperankan dengan baik oleh Peter MacNicol, mengalami proses pembelajaran dalam bersikap dan bertindak, tidak semata-mata ingin menunjukkan kemampuan sihirnya, namun nuraninya atas kondisi yang terjadi dalam wilayah kerajaan, baik di dalam istana maupun di luar istana. Pengalamannya itu timbul, setelah ia semakin akrab dengan Valerian yang ia ketahui identitas dan motifnya dalam usaha untuk menyelamatkan desanya.

Karakter Valerian sebagai seorang pemberani yang diperankan oleh Caitlin Clarke pun berhasil memanipulasi saya sebagai audiens di awal cerita, dengan penampilan dan suara, hingga terjadi perubahan karakter yang cukup signifikan. Juga ada karakter Elspeth yang diperankan oleh Chloe Salaman, sebagai putri raja yang memiliki nurani tinggi dan lebih bijak, dengan maksud ingin mengorbankan dirinya, setelah Raja Casiodorus menipu rakyatnya sendiri dalam undian, demi menyelamatkan Elspeth agar tidak terpilih.

Disini kita mengetahui karakter antagonisnya, selain sang raja, tentunya karakter Tyrian yang menyebalkan itu. Tak ketinggalan karakter berkarisma dari maestro penyihir Ulrich yang bijaksana, serta asistennya yang sudah lanjut usia, Hodge, namun penampilan dan dialognya menghibur (mengundang tawa), bahkan saat menjelang kematiannya.

Sementara itu, sang bintang antagonis yang sesungguhnya tak lain adalah seekor naga buas bernama Vermithax Pejorative, yang ditampilkan begitu impresif (pada jamannya) dari berbagai shoot angle, mulai dari penampilan kaki dan cakar, ekor, hingga muncul kepalanya, dan akhirnya dalam penampilan keseluruhan, bagaimana binatang itu merangkak, terbang, bermanuver hingga menyemburkan api. Berkat tim hebat dari Industrial Light & Magic itulah, sosok naga tersebut bisa tampil total dan lewat film inilah, popularitas karakter naga yang menjadi tokoh utama, berperan besar di sepanjang cerita.

Courtesy of Paramount Pictures,
Buena Vista International Distribution, 1981


Tak hanya naga dewasa, namun di film ini, beberapa ekor bayi naga pun ditampilkan, memang wujudnya tidak seimpresif naga dewasa, namun cukup mengerikan dalam sekuen di sebuah gua, bagaikan monster di film-film horor. Semuanya akan sia-sia, jika karakter naga tersebut tidak di-
shoot dengan berbagai sudut dan motion yang brilian. Seperti yang telah saya sebut sebelumnya, sosok naga tadi tidak langsung diperlihatkan begitu saja, namun perlahan-lahan, sedikit demi sedikit sesuai dengan jalan cerita. 

Penggunaan close-up kamera memperlihatkan ekspresi naga, mulai dari gerakan dan tatapan bola mata, deretan taring yang menakutkan, hingga jajaran sirip yang tampak riil dan sepertinya tajam. Selain itu, diperlihatkan pula bagaimana kamera berada di posisi naga itu sendiri, ketika naga tersebut sedang menukik tajam dari langit untuk menyerang seseorang atau ketika dari kejauahan landskap sebuah desa yang diserang naga yang terbang dari kejauhan, lalu mendekat menyemburkan api serta membakar desa tersebut, adalah salah satu memorable scene yang dahsyat.

Anehnya, film produksi Disney –melalui Buena Vista International Distribution- yang bekerjasama dengan Paramount Pictures tersebut lebih bertemakan pada dark fantasy story, serta ditujukkan untuk penonton dewasa, karena ada beberapa adegan dengan konten seksualitas dan kekerasan yang cukup sadis diperlihatkan. Hal itulah yang membuat pihak Disney melahirkan Touchstone Pictures yang memproduksi film-film berkonten dewasa.

Film Dragonslayer boleh dibilang sebagai pelopor film modern tentang naga, selain penampilannya signifikan, juga diimbangi dengan penyajian storyline mumpuni, serta akting yang baik dan sinematografi yang handal. Anda jangan sekali-kali underrated film ini yang semata-mata menghibur dan ringan, karena beberapa adegan memang terasa menegangkan, cukup mengerikan, sekaligus tragis …
  
Score : 4 / 4 stars

Dragonslayer | 1981 |  Aksi Laga, Petualangan, Fantasi  Pemain: Peter MacNicol, Caitlin Clarke, Ralph Richardson, John Hallam, Peter Eyre, Sydney Bromley, Chloe Salaman, Ian McDiarmid | Sutradara: Matthew Robbins | Produser: Hal Barwood, Howard B. Koch  | Penulis: Hal Barwood, Matthew Robbins  | Musik: Alex North | Sinematografi: Derek Vanlint | Distributor: Paramount Pictures (Amerika Serikat), Buena Vista International Distribution (Internasional) | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 109 Menit 

Popular Posts