Gosford Park (2001) : Drama Pembunuhan Sang Industrialis


Courtesy of Entertainment Film Distributors, 2001

Mungkin ini adalah review paling berat, perlu ekstra fokus, ketenangan dan harus dapat feel yang bagus …
 
Perlu nonton berulang-kali, biar saya ngerti banget karakternya satu-persatu, serta memahami betul problema apa yang terjadi diantara mereka semua, beserta korelasinya satu sama lain. Entah saya dalam keadaan tidak mood, feel-nya gak dapet, atau apapun itu, yang pasti film ini sebenarnya enak untuk dinikmati apa adanya … yang penting, fokus pada masing-masing karakter dan dialog!

Adalah sesuatu yang langka ditemui, film yang menuturkan tentang drama pembunuhan ala novel-novelnya Agatha Christie, dengan ide orisinal tanpa adaptasi dari manapun, ya kecuali terinspirasi dari sang novelis itu. Berawal dari aktor Bob Balaban yang mengenalkan penulis Julian Fellowes  kepada sutradara Robert Altman, untuk mengembangkan cerita film drama misteri ala Agatha Christie ini.

Film Gosford Park cukup sukses pada saat perilisannya, baik dari pendapatan maupun kritik. Sejatinya, film ini produksi Inggris, namun kru-nya gabungan antara Inggris dan Amerika Serikat, sesuai dengan ceritanya tentang pertemuan besar orang-orang kaya Inggris dengan aktor-produser Amerika di Gosford Park, sebuah country house di Inggris. Setting ceritanya sendiri berada di tahun 30’an.

Karena kapasitas saya yang serba terbatas ini, singkatnya saya coba rangkum sinopsis cerita film ini, sebagai berikut :

Seorang industrialis kaya-raya bernama Sir William McCordle (Michael Gambon), memiliki seorang istri bernama Lady Sylvia McCordle (Kristin Scott Thomas) dan seorang putri, Isobel, mengundang para relasi dalam rangka berburu, di sebuah country house mereka di Gosford Park, Inggris. Ketika para tamu mulai berdatangan, mereka disambut dan dilayani oleh kepala penjaga rumah, Mrs. Wilson (Helen Mirren), kepala pembantu rumah tangga, Elsie (Emily Watson) dan kepala pelayan Mr. Jennings (Alan Bates).  

Sementara, para tamu undangan berkumpul untuk minum teh, kemudian mereka makan malam. Setelah itu, di dapur diketahui bahwa salah satu pisau makan hilang, namun para pelayan menganggap mungkin hanya salah penempatan. Keesokan harinya, para pria pergi berburu dan sebuah insiden terjadi ketika telinga Sir William nyaris terkena sasaran peluru.

Ketika makan malam, Lady Sylvia memulai percakapan yang menyulut emosi Sir William dan Elsie yang mendukungnya. Mereka berdua segera meninggalkan meja makan, sementara Sir William pergi ke ruang perpustakaan pribadinya. Setelah makan malam usia, para tamu bersantai di sebuah ruang, dan seorang tamu yang merupakan aktor, Ivor Novello (Jeremy Northam) menyanyi sambil memainkan piano, untuk mencairkan suasana. Nyanyiannya pun menggema ke seluruh ruangan, termasuk para pelayan yang diam-diam mendengarkannya dari berbagai ruang di sebelah-sebelahnya.

Di saat momen itulah, seseorang menikam Sir William yang berada di perpustakaan pribadinya, dengan sebuah pisau dapur. Salah satu tamu, yakni Louisa, Lady Stocbridge (Geraldine Sommerville) ketika menghampiri Sir William, kaget dan berteriak histeris, sehingga para tamu pun berlarian menuju ruang perpustakaan. Invstigasi pun dilakukan, dengan mengundang seorang detektif polisi bernama Thompson (Stephen Fry) … lalu, terungkapkah siapa pembunuh Sir William?

impawards.com

Dalam kompleksitas cerita di film ini, pada dasarnya terbagi dua kelompok besar : kelompok majikan alias orang-orang terpandang dan kelompok para pelayan yang bekerja pada mereka. Masing-masing kelompok tersebut terdiri dari banyak karakter, yang jika pertama kali nonton filmnya, bikin sedikit pusing dan bingung. Apalagi pengenalan masing-masing karakter terjadi begitu saja, dengan berbagai dialog dan obrolan yang mengalir, antar beberapa grup yang sedang beraktivitas satu sama lain.

Setelah beberapa kali saya tonton beberapa dialog penting, maka dapat ditarik satu kesimpulan penting : Karakter Sir William adalah kuncinya! Ia adalah seorang kaya-raya, yang mengakibatkan semua orang yang terlibat bersamanya, terlihat seperti ‘mengerumuni’ dirinya, karena uang! Berbagai cara, siasat atau taktik mereka perankan untuk dekat sekaligus mempengaruhi dirinya.

Sir William sendiri memiliki sisi gelap, salah satunya terlibat affair dengan Louisa, yang merupakan istri dari Raymond alias Lord Stockbridge (Chales Dance), yang mengalami kesulitan keuangan. Sir William yang terus mendukung keuangan Raymond, tiba-tiba bermaksud untuk berhenti melakukannya, karena sudah muak.

Selain itu, ada pula Panglima Anthony Meredith (Tom Hollander) yang memohon kepada Sir William, untuk tidak mundur dari skema bisnis yang dijalaninya dengan Raymond dan Louisa. Hal tersebut dikatakannya pada saat makan siang, setelah insiden peluru nyasar yang hampir kena telinga Sir William dalam aktivitas berburu.

Juga ada affair antara Freddie Nesbit (James Wilby) dengan Isobel, putri tunggal Sir William, padahal Freddie telah memiliki istri bernama Mabel (Claudie Blakely). Freddie terus merayu Isobel, agar bisa bekerja atau berbisnis dengan Sir William, tentunya dengan mengharapkan uang yang banyak. Tambahan lainnya, yakni Lord Rupert Standish dan Jeremy Bond yang memiliki hubungan bisnis dengan Sir William. Salah satu diantara merekapun terlibat affair dengan salah satu pelayan Sir William! What a mess!

Karakter unik lainnya, yakni aktor Ivor Novello, adalah sepupu Sir William. Ivor membawa temannya, Morris Weissman (Bob Balaban), seorang produser Hollywood, dengan harapan mengajak Sir William untuk investasi dalam dunia hiburan. Ada satu hal yang menggelikan, ketika Morris sibuk menelepon koleganya di Amerika untuk urusan skenario film, tepat pada saat Sir William tewas dibunuh. Tampak dialog Morris dengan koleganya di telepon, membicarakan naskah cerita pembunuhan, seakan menyambung dengan peristiwa pembunuhan Sir William itu sendiri.

Boleh dikatakan, bahwa sudut pandang dalam cerita ini, adalah Mary MacEachran (Kelly MacDonald), pelayan dari Constance, Countess of Trentham (Maggie Smith). Dari awal cerita pun, ia diperlihatkan berangkat bersama majikannya, menuju kediaman Sir William. Countess of Trentham dan Lady Sylvia memiliki relasi keluarga dilihat dari berbagai dialog yang mereka bicarakan, dan tampak Mary dua kali berada dalam satu ruangan, ketika mereka sedang asyik mengobrol.

Kehadiran Mary pun selalu menjadi fokus dari awal hingga akhir cerita, bagaimana interaksinya dengan beberapa karakter ‘pelayan’ seperti Robert Parks (Clive Owen) dan seorang pelayan yang bertingkah aneh, yang ingin selalu mau tau, yakni Henry Denton (Ryan Phillipe), hingga Mary akhirnya menjalin persahabatan dengan Elsie. Selain itu, beberapa karakter yang diperkenalkan dalam dunia ‘pelayan’ tersebut, seperti Mrs. Croft (Eileen Atkins), Probert (Derek Jacobi) dan Dorothy (Sophie Thompson).

Selingan cerita antara dunia majikan dan dunia pelayan dihadirkan secara bergantian, menghasilkan dua sisi yang berbeda namun berkaitan erat satu sama lain. Hal tersebut memberikan sentuhan warna dinamika agar menghindari kejenuhan di satu sisi saja.  Jika anda sedikit lengah fokus, bakal merusak pemahaman cerita di dalamnya, serta motivasi masing-masing karakter.

Courtesy of Entertainment Film Distributors, 2001

Arahan Robert Altman dalam menyuguhkan drama misteri full dialog tersebut, dihadirkan tanpa memberikan ruang yang luas kepada eksploitasi karakter, sentuhan emosi, serta berbagai tragedi atau kesuraman yang mendalam. Sepertinya, semua itu dialirkan dengan cukup deras dan spontan, tanpa ada prolog atau introduksi mendetail dari masing-masing karakter … sekali lagi, konsentrasi!

Kekuatan visual dalam beberapa sekuen, dirasa cukup signifikan akan adanya gradasi halus antara suasana riang, meriah, tenang atau damai dengan hasrat nafsu, suram, remang-remang, kesendirian, gelap atau creepy. Namun bagi anda yang tidak biasa nonton film drama ‘membosankan’, berbagai adegan yang menegangkan pun mungkin bakal dianggap bikin ngantuk … wajarlah.

Beberapa selingan sedikit humor, cukup membangkitkan sedikit hiburan di film ini, seperti bagaimana cerobohnya seorang Anthony Meredith yang membuat Sir William jadi muak terhadapnya, karakter Morris Weissman yang hanya peduli soal filmnya, karakter Lady Sylvia yang sepertinya ingin mencari petualangan baru, atau bahkan Sir William sendiri yang diam-diam berhasrat besar kepada Louisa. Namun karakter yang paling konyol adalah detektif Thompson, bagaimana ketika ia akan memperkenalkan diri dengan menyebut namanya, selalu dipotong oleh lawan bicaranya.

Dari semua aktor/aktris yang memerankan masing-masing karakter itulah, hanya dua orang yang membuat saya simpati terhada mereka, yakni karakter Mary dan Elsie. Dengan status sosial yang lebih rendah sebagai pelayan atau pembantu, dunia mereka memiliki latar belakang yang lebih sederhana dan mereka juga bersikap rendah hati serta setia dalam keteguhan.

Film Gosford Park saya simpulkan, selain terinspirasi dari gaya Agatha Christie, juga terpengaruh dari gaya penuturan film-film Hitchcock umumnya, meski tidak ada penjelasan yang absah dan logis akan pembunuhan Sir William. Penyampaiannya memang difilmkan dengan cerdas dan apik, cukup menghibur dan agak mengejutkan, namun kurang memuaskan saya dalam penyelesaian akhir … mengesankan? Overall, okey!

Score : 3 stars (out of 4 stars)

Gosford Park | 2001 | Drama, Thriller, Misteri, Period | Pemain: Eileen Atkins, Bob Balaban, Alan Bates, Chales Dance, Stephen Fry, Michael Gambon, Richard E. Grant, Derek Jacobi, Kelly MacDonald, Helen Mirren, Jeremy Northam, Clive Owen, Ryan Phillipe, Maggie Smith, Kristin Scott Thomas, Emily Watson  | Sutradara: Robert Altman  |  Produser: Robert Altman, Bob Balaban, David Levy | Penulis: Julian Fellowes | Sinematografi: Andrew Dunn | Musik: Patrick Doyle | Distributor: Entertainment Film Distributors | Negara: Inggris | Durasi: 137 Menit


Baca juga : Film Head to head : Film Murder on the Orient Express 1974 dan 2017

Popular Posts