Love Actually (2003) : Cinta Ada Dimana-mana

Courtesy of Universal Pictures, 2003

Masih dalam semangat Tahun Baru, juga masih mirip dengan film yang kemarin telah dibahas sebelumnya, yakni New Year’s Eve (2011) yang sama-sama memiliki genre komedi romantis dengan banyak bintang bertaburan, namun kali ini datang dari Inggris yang bekerjasama dengan aktor/aktris Amerika. Film yang ditulis dan disutradarai oleh Richard Curtis ini mendapatkan sambutan yang lebih meriah dibandingkan film New Year’s Eve, apakah lebih menarik? Langusng simak saja sinopsisnya.

Subplot 1 : Dibantu oleh manajer setianya, Joe (Gregor Fisher), musisi rock veteran yang tengah turun popularitas bernama Billy Mack (Bill Nighy), merekam lagu bertemakan Natal yang menjadi sebuah perjudian apakah menjadi hits atau malah flop. Meski Billy merasa lagu tersebut buruk, namun ia masih berharap bisa menjadi hits.

Subplot 2 : Pernikahan Juliet (Keira Knghtley) dan Peter (Chiwetel Ejiofor) direkam oleh sahabat Peter bernama Mark (Andrew Lincoln). Namun Mark sepertinya kurang bersahabat ketika Juliet ketika meminta video hasil rekaman pernikahannya itu.

Subplot 3 : Jamie (Colin Firth) harus menghadiri pernikahan Juliet dan Peter sendirian, karena kekasihnya sakit. Namun ketika ia menjenguk kekasihnya, ia kecewa karena kekasihnya selingkuh. Jamie pun menuju Perancis untuk menyendiri sekaligus mengerjakan karya tulisnya. Jamie pun lama-lama tertarik kepada Aurélia (Lúcia Moniz), sang asisten rumah tangganya asal Portugal.

Subplot 4 : Harry (Alan Rickman) seorang pimpinan perusahaan yang hidup harmonis dengan istrinya, Karen (Emma Thompson), memiliki seorang sekretaris baru bernama Mia (Heike Makatsch) yang menggoda Harry. Padahal Mia adalah kekasih Mark.

Subplot 5 : Saudara Karen yang bernama David (Hugh Grant) adalah seorang Perdana Menteri yang baru dilantik yang tertarik kepada sekretarisnya bernama Natalie (Martine McCutcheon). Namun David kecewa dengan Natalie yang tak berdaya digoda oleh Presiden Amerika Serikat (Billy Bob Thornton) yang sedang berkunjung ke kantor David.

Subplot 6 : Sahabat Karen bernama Daniel (Liam Neeson) baru saja kehilangan istrinya yang meninggal. Daniel tinggal bersama anak tirinya bernama Sam (Thomas Sangster) yang tak lama setelah itu malah menjadi murung, lebih suka menyendiri dan menghindar dari Daniel.

Subplot 7 : Sarah (Laura Linney) adalah seorang staf dari perusahaan yang dipimpin oleh Harry yang mengetahui bahwa Sarah tertarik kepada rekan kerjanya bernama Karl (Rodrigo Santoro).

Subplot 8 : Seorang pelayan di pernikahan Juliet dan Peter, yakni Colin (Kris Marshall) merasa gagal untuk mendekati para wanita Inggris yang tidak pernah tertarik kepadanya. Ia memberitahu kepada sahabatnya, Tony (Abdul Salis) bahwa ia akan pergi ke Amerika dengan keyakinan bahwa ia akan laku disana sebagai pria Inggris.

Subplot 9 : John (Martin Freeman) dan Judy (Joanna Page) adalah sepasang pemeran pengganti dalam beberapa adegan intim yang disutradarai oleh Tony. John merasa nyaman dengan Judy yang mudah diajak bicara ketika mereka sedang syuting, sehingga chemistry hubungan keduanya semakin erat.

Subplot 10 : Rufus (Rowan Atkinson) adalah seorang penjaga toko perhiasan di sebuah mall, yang menyebabkan kekesalan Harry kepadanya.

impawards.com

Selama lebih dari dua jam, tak terasa ada sepuluh subplot yang dituangkan kedalam satu kesatuan rangkaian cerita utuh yang menarik untuk dinikmati. Timeline dari keseluruhan cerita itupun diawali setelah Tahun Baru, ketika sang narator yakni David (Hugh Grant) menjelaskan bagaimana perjumpaan di sebuah bandara adalah salah satu momen atas dasar apa yang disebut dengan “cinta” yang sebenarnya ada dimana-mana.

Dengan bergaya dokumenter, film ini memperlihatkan bagaimana berbagai perjumpaan antara penumpang yang tiba di bandara dengan orang-orang yang telah menunggu kedatangannya. Lalu cerita pun mundur hingga lima minggu sebelum hari Natal, dengan menyajikan sepuluh subplot yang saling berkaitan satu sama lain, silih berganti.

Di akhir cerita itulah, setting kembali menuju lokasi bandara tersebut, dengan memperlihatkan semua karakter yang hadir disitu, saling berinteraksi.

Courtesy of Universal Pictures, 2003

Kesepuluh subplot itulah yang menjadi inti cerita yang bervariasi tentang keluarga, sahabat, pasangan hidup, kekasih, teman tapi mesra, hingga permasalahan seputar nafsu, perselingkuhan, skandal, pengkhianatan, yang akhirnya kesetiaan, keterbukaan serta dorongan untuk melangkah maju pun menjadi pertanyaan seakan-akan ragu akan keyakinan.

Satu hal yang menjadi catatan khusus dalam cerita ini, yakni beberapa skandal atau lingkaran perselingkuhan cukup mengejutkan, terkesan seperti drama opera sabun yang populer di era 80’an atau 90’an itu. Alih-alih menjadi menarik, malah hal tersebut tampak menurunkan bobotnya.

Namun hal-hal tersebut mampu ditutupi oleh arahan Richard Curtis yang mampu memainkan mood audiens melalui karakterisasi yang cukup kuat, akting yang baik, sekuen dan adegan yang diperlihatkan dengan tidak tergesa-gesa sehingga terkesan cukup dalam untuk eksplorasi pengalaman karakter, beberapa kejutan yang terkadang memompa emosional dengan kepedihan telak sekaligus humor cerdas, serta diiringi scoring yang pas.

Courtesy of Universal Pictures, 2003

Semua aktor maupun aktris melakukan tugasnya dengan baik, terutama karakter ‘gila’ dan eksentrik Billy Mack yang diperankan oleh Bill Nighy lewat dialog dan aksinya yang selalu mengejutkan. Momen ketika Juliet mengetahui mengapa Mark bersikap dingin terhadapnya juga berkesan, meski mudah ditebak alurnya. Adegan saat Harry memberi hadiah natal kepada Karen pun adalah salah satu yang paling emosional, sedangkan karakter David memang terkesan ‘komedi’ tipikal akting Hugh Grant dalam film-film sejenis.

Karakter yang mencuri perhatian adalah Sam yang diperankan oleh aktor cilik Thomas Sangster, sebagai seorang bocah yang galau. Gejolak dan problema kehidupan yang dialami Laura pun membuat penasaran mengapa sampai memendam perasaannya terhadap Karl dan tidak move-on. Serta romansa antara John dan Judy adalah yang paling smooth dan enjoyable di sepanjang cerita, hal yang terlalu mudah dilalui oleh mereka.

Film Love Actually adalah sebuah drama komedi romantis ala Inggris yang tampaknya lebih mengedepankan karakterisasi dan akting, sehingga usaha untuk membuat kedalaman cerita cukup terasa, meski tidak menjadi sesuatu yang dikenang sepanjang masa. Intinya, film ini termasuk ringan untuk bisa dinikmati dengan penyampaian pesan jelas yang tersirat dari judulnya.

Score : 2.5 / 4 stars

Love Actually | 2003 | Drama, Romantis, Komedi | Pemain: Hugh Grant, Liam Neeson, Colin Firth, Laura Linney, Emma Thompson, Alan Rickman, Keira Knightley, Martine McCutcheon, Bill Nighy, Rowan Atkinson | Sutradara: Richard Curtis |  Produser: Duncan Kenworthy, Tim Bevan, Eric Fellner, Debra Hayward, Liza Chasin.| Penulis: Richard Curtis | Musik: Craig Amstrong | Sinematografi: Michael Coulter | Distributor: Universal Pictures | Negara: Inggris, Amerika Serikat | Durasi: 136 Menit



Comments