Crazy Rich Asians (2018) : Kultur, Tradisi dan Harga Diri

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Sejak film The Joy Luck Club (1993), tidak ada lagi film Hollywood yang mengeksploitasi kehidupan dan kultural Chinese di Amerika itu sendiri secara mainstream. Meski film The Joy Luck Club bukanlah film besar yang nge-hype namun disambut baik kritikus, serta diisi oleh berbagai kru yang berdarah Chinese dan Asia Pasifik.

Sehingga di tahun 2018, film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Kevin Kwan, yakni Crazy Rich Asians tiba-tiba menjadi hype dalam beberapa bulan kemarin. Film yang diisi oleh kru yang kebanyakan keturunan Chinese itupun banyak yang berpendapat bahwa Hollywood kini mulai menurunkan standar “white supremacy”-nya dengan pandangan berbeda, apalagi sejak meledaknya blaxploitation seperti Black Panther (2018).

Terbuktinya kesukesan film Crazy Rich Asians bisa ditinjau dari laris manisnya film tersebut dari genre komedi romantis, hingga saat tulisan ini dibuat meraih peringkat ke-6 dalam perolehan tangga box office sepanjang masa, sekaligus bisa dikatakan sebagai yang terbaik dalam dekade ini. Begitupun sambutan positif dari kritik seperti Rotten Tomatoes, Metacritic, CinemaScore, bahkan IMDB sekalipun, menunjukkan bahwa film ini memiliki kualitas, bahkan sempat masuk nominasi Golden Globe Awards.

Rachel Chu (Constance Wu) adalah seorang profesor ekonomi american-chinese yang mengajar di New York University. Suatu ketika ia diajak oleh kekasihnya, Nick Young (Henry Golding), mengunjungi Singapura lantaran Nick menjadi pendamping pernikahan sahabatnya, Colin (Chris Pang) dengan Araminta (Sonoya Mizuno), sekaligus memperkenalkan Rachel kepada keluarga besar Nick yang ternyata konglomerat.

Namun, perjumpaan Rachel dengan ibunya Nick bernama Eleanor (Michelle Yeoh) mengalami benturan yang tak dapat dihindarkan, sejak mengetahui bahwa adanya perbedaan besar yang tidak dapat diterima, padahal nenek Nick (Lisa Lu) menyukai Rachel.

impawards.com

Premis menarik yang diimplementasikan melalui berbagai elemen yang disampaikan secara komprehensif dan jelas, merupakan keunggulan dari film ini, selain tentunya mengeksploitasi sisi lain akan kultur kehidupan masyarakat keturunan Tionghoa secara global. Tatanan kehidupan di film ini bagaikan dongeng klise tentang dua dunia, yakni si kaya (yang diwakili oleh keluarga Nick Young) yang dipertemukan dengan si miskin atau jelata (yang diwakili oleh keluarga Rachel).

Berbagai nilai, prinsip, serta tradisi yang kuat kebangsawanan dari keluarga terpandang, diwariskan secara turun-temurun yang terakhir berada dalam tongkat kepemimpinan Eleanor guna diteruskan kepada Nick. Yang menjadi problema yakni sosok Rachel yang dipandang sebagai “the outsider”, meski ia seorang Chinese namun karena lahir di Amerika, maka dipandang telah ‘diracuni’ oleh kultur barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Asia Timur yang dipegang teguh dalam keluarganya. Nick sendiri yang besar di Amerika memiliki pandangan berbeda dengan ibunya, serta tetap selalu memilih Rachel, sehingga sebuah dilema dan konflik terjadi diantara ketiganya yang dipaparkan secara dinamis.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Karakterisasi yang kuat dan cukup kompleks pun disampaikan dengan jelas, bagaimana keunikan masing-masing sepupu Nick seperti : Astrid (Gemma Chan) yang hidup serba glamor namun dermawan dan rendah hati, sementara problem rumah tangga datang dari suaminya Michael. Khusus karakter Astrid, merupakan sub-plot yang cukup menarik sehingga menjelang akhir cerita, Astrid pun menantang Michael atas solusi dari problem yang mereka hadapi.

Michael (Pierre Png) yang berasal dari kalangan biasa namun seakan-akan ia terasingkan. Eddie (Ronny Chieng), sosok konyol yang menyebalkan dan angkuh, sering mem-bully orang yang lebih rendah darinya, termasuk Michael. Alistair (Remy Hii) sosok muda yang berbisnis film dan sepertinya tidak memiliki arah hidup yang jelas. Ia mengencani seorang aktris seksi yang senang hidup glamor dan berpesta. Tak lupa karakter Oliver (Nico Santos), sepupu kedua Nick yang melambai itu, sebagi sosok yang baik hati dan bersahabat.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Ada pula berbagai humor yang dihadirkan dalam keluarga Peik Lin (Awkwafina) sahabat sekaligus mantan roommate Rachel ketika kuliah, sebagai seorang yang tomboy dan berani. Ketika Rachel mengunjungi rumahnya yang mewah, ia diperkenalkan oleh karakter ibunya Peik Lin yang tipikal Singaporean dan juga tipikal ibu-ibu sinetron, ayahnya Peik Lin yang diperankan komedian Amerika Ken Jeong dengan dialog humornya yang kocak, adik laki-laki Peik Lin yang nerd, serta adik bungsunya yang kembar.

Sedangkan karakter Amanda (Jing Lusi) juga hadir untuk lebih merumitkan hubungan antara Rachel dan Nick, dalam perjuangan mereka terhadap perestuan hubungan mereka oleh Eleanor. Akibatnya, terjadi rangkaian cerita dan adegan yang mengejutkan saat bachelor party berlangsung, sehingga menurunkan mental Rachel.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Masing-masing cast memerankan karakternya dengan baik dan mengesankan. Karisma Michelle Yeoh yang kuat sebagai Eleanor digambarkan sebagai seseorang terpandang yang selalu berusaha untuk bersahaja, namun sekaligus dicap sebagai ‘antagonis’ atas konfrontasinya dengan karakter Rachel. Karakter Eleanor seakan tidak bisa ditebak arah pembicarannya, serta hatinya yang tidak mudah luluh oleh seorang Rachel.

Duet Awkwafina dan Ken Jeong sebagai anak dan ayah, saya anggap sebagai salah satu yang memorable dan terbaik di film ini. Sedangkan aksen British-nya Henry Golding sebagai seorang Singaporean sebenarnya agak janggal, mengingat ia seorang Malaysian, tapi overall tidak berpengaruh banyak.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Berbagai kemewahan dan keglamoran dalam set design serta fashion, tentu saja menjadi salah satu tontonan visual yang memanjakan mata, seperti adegan dalam pesta di kediaman keluarga Young, bachelor party di atas kapal barang yang disulap menjadi kapal pesiar, serta yang paling mengesankan tentunya dekorasi tematik dalam pernikahan Colin dan Araminta yang dipenuhi dengan rerumputan tinggi dipadukan dengan bunga warna-warni yang elegan bagaikan dalam fairy tale, terlebih ketika adegan air yang mengalir di sepanjang pathway menuju altar. Dan yang terakhir adalah adegan di rooftop gedung Marina Bay Sands.

Mengikuti cerita dalam film Crazy Rich Asians adalah enjoyable dan menarik, baik dari alur, karakter dan akting, dialog, aksi komedi dan humor, berbagai adegan drama dan fun, serta secara tak langsung mempromosikan Singapura melalui beberapa lokasi eksotis dan makanannya, ditambah dengan koreografi mengesankan dari beberapa sekuen kemeriahan pesta. Dengan durasi selama dua jam, jalinan kisah di film ini saya anggap cukup efektif dan fresh dari segala sisi meski ada beberapa adegan minor yang tidak perlu.

Sebuah film komedi romantis yang recommended.  
  
Score : 3.5 / 4 stars

Crazy Rich Asians | 2018 | Drama, Komedi, Romantis | Pemain: Constance Wu, Henry Golding, Gemma Chan, Nico Santos, Lisa Lu, Awkwafina, Ken Jeong, Micheel Yeoh, Sonoya Mizuno, Chris Pang | Sutradara: John M. Chu | Produser: Nina Jacobson, Brad Simpson, John Penotti | Penulis: Berdasarkan novel “Crazy Rich Asians” karya Kevin Kwan. Naskah: Peter Chiarelli, Adele Lim | Musik: Brian Tyler | Sinematografi: Vanja Cernjul | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 120 Menit

Comments