Endless Love (1981) : Romansa yang Menabrak Batas

Dunia Sinema Review Endless Love
Universal Pictures

Sineas yang sukses melalui Romeo and Juliet (1968), yakni Franco Zeffirelli, kembali mengadaptasi sebuah film dari novel berjudul karya Scott Spencer, yakni Endless Love yang menekankan betapa menggebunya dua insan remaja akan sebuah romansa yang menarbak batas nalar kewajaran terhadap realita serta arah hidup.

Baca juga: Head to Head : Romeo and Juliet (1968 dan 1996)

Saat itu, pemeran utamanya yakni Brooke Shields, merupakan aktris remaja yang sedang naik daun sekaligus kontroversial setelah berperan dalam film Pretty Baby (1978) dan The Blue Lagoon (1980). Sementara seorang aktor tak dikenal yakni Tom Cruise memulai debut layar lebarnya melalui peran kecil di film ini.

Film Endless Love mengisahkan tentang sepasang kekasih remaja bernama Jade (Brooke Shields) dan David (Martin Hewitt).

Ibu Jade bernama Ann (Shirley Knight), menganggap David menjadi bagian dari kelaurga, namun tidak demikian dengan sang ayah yakni Hugh (Don Murray) serta sang kakak yakni Keith (James Spader) tidak sependapat.

Suatu saat, Hugh melarang David bertemu dengan Jade selama 30 hari, setelah diketahui Jade mengkonsumsi obat tidur gara-gara David sering berada di kamar Jade hingga pagi hari.

David yang cemburu terhadap Jade yang didekati seorang pria, menjadi marah dan frustasi, sehingga ia menyulut api yang menyebabkan kebakaran di rumah kelaurga Jade. Maka seolah-olah sebuah kecelakaan, David pun menyelamatkan mereka sekaligus bisa kembali bertemu dengan Jade.


Dunia Sinema Review Endless Love
Universal Pictures

Insiden tersebut mengakibatkan Hugh dan Ketih membenci David yang akhirnya dijebloskan ke dalam institusi kejiwaan selama 2 tahun, sedangkan Jade sekeluarga pindah ke New York.

David yang rajin mengirimi surat kepada Jade pun semakin tertekan tatkala menghadapi kenyataan bahwa kedua orangtuanya memutuskan untuk bercerai. Ketika David dibebaskan bersyarat, ia nekat menuju New York untuk bertemu dengan Jade, namun ia juga sekaligus harus berhadapan dengan Hugh dan Keith. 

Awalnya memang menjanjikan sebagai film romansa remaja yang fokus terhadap karakter Jade dan David yang sedang terbakar hasrat menggebu terhadap ikatan kuat diantara mereka.

Namun pengembangan narasinya sendiri melalui alur yang disajikan, terasa bagitu ambigu dan mengganggu terutama terhadap karakter David. Film ini terkesan sebagai sebuah kesengajaan yang dibuat dalam memenuhi kuota akan durasi film yang berlangsung hampir dua jam.

Yang membuat saya kesal yakni ketika David dengan sengaja menyulut api agar terjadi kebakaran, seolah-olah seperti kecelakaan. Sebuah tindakan konyol yang malah dapat membahayakan keluarga Jade.

Atau saat ia terlibat dan berhadapan dengan sebuah insiden di kota New York, sehingga mengarah kepada sebuah konklusi yang tidak mengasyikan. Sebuah tindakan pengecut.

Dari dua hal tersebut, saya malah semakin antipati terhadap karakter David yang saya anggap cenderung antagonis, keras kepala sekaligus sepertinya kelainan jiwa, hanya karena hubungannya dengan Jade tidak direstui terutama oleh ayah dan kakak Jade.

Artinya David boleh dibilang seorang yang egois serta kurang cerdik untuk berdamai dengan sang ayah dan kakak Jade. Meski usia David masih sangat muda, namun setidaknya ia memiliki nalar dan naruni akan dampak yang ditimbulkan dari berbagai tindakannya.


Dunia Sinema Review Endless Love
Universal Pictures

Sedangkan sang ibu, yakni Ann sendiri tampaknya ingin seakan dibuat lebih simpatik, dengan menunjukkan akan pentingnya hubungan cinta dan sayang antara Jade dan David, namun melalui cara yang agak absurd terutama di tigaperempat cerita.

Meski demikian, pesona dan performa Shields sebagai Jade menunjukkan sebagai gadis remaja polos dalam proses kedewasaan, yang memang mencintai David, namun mampu memahami posisinya dalam problema keluarganya sendiri.

Terkadang Jade diperlihatkan sebagai sosok yang mencoba tegar, sedangkan di satu sisi terkadang rapuh akan bentuk cinta dari David yang tidak bisa dilupakan begitu saja sebagai sebuah kenangan. Sebuah dilema besar dalam diri Jade.

Film Endless Love sepertinya ingin mengatur alur cerita yang berliku dengan menambahkan kompleksitas lingkungan keluarga, serta mencoba untuk mengeksploitasi hubungan psikologis akan romansa Jade dan David yang menabrak batas.

Hanya saja kesan akhir yang ditimbulkan, malah tidak memberikan pesan jelas dan signifikan selain hanya begitu kuatnya kisah asmara Jade dan David tanpa batas, melalui sebuah penyelesaian yang mudah. 

Untungnya, film tersebut bisa mengandalkan sebuah tema musik dan lagu dengan judul yang sama, dilantunkan oleh duet Lionel Ritchie dan Diana Ross dalam kredit penutupnya.

Score : 1.5 / 4 stars

Endless Love | 1981 | Drama, Romansa | Pemain: Brooke Shields, Martin Hewitt, Shirley Knight, Don Murray, Richard Kiley, Beatrice Straight, James Spader | Sutradara: Franco Zeffirelli | Produser: Keith Barish, Dyson Lovell | Penulis: Berdasarkan novel Endless Love karya Scott Spencer. Naskah: Judith Rascoe | Musik: Jonathan Tunick | Sinematografi: David Watkin | Distributor: Universal Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 116 Menit

Comments