Love Story (1970) : Bukan Romansa Kacangan

Courtesy of Paramount Pictures, 1970

Dari sekian banyak kisah cinta antara dua insan yang romantis namun tragis sekaligus cukup realistis, jarang ada yang populer sepanjang masa dan bahkan menjadi benchmark untuk generasi selanjutnya. Mengingat tragedi kisah romansa dari awal kesusasteraan modern, banyak orang merujuk pada Romeo dan Juliet yang diadaptasi ke banyak film. Namun dalam dunia kontemporer modern saat ini, novel Love Story karya Erich Segal di tahun 1970 yang laris tersebut, langsung diadaptasi ke dalam layar lebar di tahun yang sama.

Seperti novelnya, film Love Story juga langsung laris manis di tangga perolehan box office, meski secara kritik terbagi menjadi dua bagian yang pro dan kontra. Filmnya sendiri mengisahkan tentang sepasang kekasih yang baru saja menikah, namun si wanita tersebut ternyata sakit. Berikut sinopsisnya :  

Dalam sebuah perpustakaan, Oliver (Ryan O’ Neal) murid jurusan hukum di Harvard, bertemu dengan Jenny (Ali MacGraw), murid jurusan musik Radcliffe College. Mereka saling jatuh cinta dan menjalin hubungan. Ketika Oliver mengetahui rencana Jenny menuju Paris guna melanjutkan studinya, ia kecewa dan segera meminang Jenny serta memperkenalkannya kepada orangtuanya.

Orangtua Oliver tidak merestui hubungan keduanya, namun Oliver dan Jenny nekat menikah diam-diam, sehingga orangtua Oliver tidak lagi mendukung finansial Oliver yang belum lulus kuliah. Mereka berdua bertahan hidup, sementara Jenny yang telah lulus menjadi guru musik. Ketika Oliver lulus kuliah dan bekerja di salah satu konsultan hukum, Jenny menjalani serangkaian tes terkait rencana mereka memiliki anak.

Seorang dokter diam-diam memberitahu Oliver, bahwa Jenny mengidap penyakit kanker.dengan kemungkinan sulit hidup lebih lama. Dokter pun menyarankan Oliver agar berusaha untuk hidup normal dengan Jenny, sementara di satu sisi Oliver sangat sedih dan khawatir …

impawards.com

Mengikuti cerita dalam film Love Story, terlihat dari karakterisasi dan dialog, dari awal hingga akhir, terasa tidak ada ‘pemaksaan’ romansa picisan fiktif seperti dalam dongeng-dongeng ketika seorang putri bertemu pangeran. Dari awal adegan pertemuan mereka terkesan biasa saja, malah jauh dari kata romantis dan bertolak belakang atau tidak menyukai satu sama lain.

Namun ada sebuah chemistry kuat akan ketertarikan mereka satu sama lain, yang tidak bisa dijelaskan hanya lewat percakapan, tatap mata atau bahkan mimik wajah dan gestur tubuh mereka. Ketika mereka pacaran pun, dialog yang mereka ucapkan terdengar layaknya mereka berteman yang saling mengejek, seperti ketika Oliver menggunakan kata “bitch” (bercanda dengan maksud perumpamaan) kepada Jenny atau sebaliknya Jenny sering memanggil Oliver dengan kata “preppy” (ejekan terhadap mahasiswa anak orang kaya, lulusan universitas terkemuka), tapi mereka sangat menikmati masa-masa kebahagiaan mereka berdua itu.

Courtesy of Paramount Pictures, 1970

Mungkin hal itulah yang membuat keunikan tersendiri dalam film ini, benih-benih cinta mereka tumbuh perlahan dan natural sedikit demi sedikit, bahkan mereka seperti anak pra-remaja dalam bersikap, sehingga tidak ada sifat asli mereka yang ditutup-tutupi satu sama lain. Gaya mereka mulai dari pertemuan pertama, berpacaran hingga menikah tidak berubah, semuanya sama dan tetap menarik, berkat dialog brilian yang disusun sendiri oleh Erich Segal.

Seperti ketika bagaimana temperamennya Oliver dalam pertandingan hoki es dan ia harus konsentrasi, meski digoda oleh Jenny saat ia mendapat skors duduk di bangku hukuman, namun di suatu momen Oliver bersemangat atas support Jenny. Sementara Jenny yang menganggap hubungannya dengan Oliver bakal sebentar, memang berencana ingin ke Paris meneruskan studinya. Ketika ia berdialog emosional dengan Oliver, rencana Jenny pun akhirnya pupus sudah, saat tiba-tiba Oliver mengajaknya menikah.

Sebuah konflik yang puncaknya terasa yakni saat kedua orangtua Oliver yang tidak merestui hubungannya dengan Jenny, bahkan hingga setelah mereka menikah pun, hubungan Oliver dengan sang ayah (Ray Milland) terputus tanpa ada komunikasi sekalipun. Jenny yang berusaha merangkul hubungan Oliver dengan ayahnya tampaknya sia-sia hingga ia ribut dengan Oliver, maka Jenny pun kabur entah kemana.

Courtesy of Paramount Pictures, 1970

Oliver yang panik langsung mencari Jenny keluar rumah, ia mencari Jenny ke semua tempat yang mungkin bisa ketemu namun tidak ada hasil, hingga akhirnya ia kembali ke rumah dan menemukan Jenny yang sedang menunggu di sebuah teras dengan menggigil kedinginan dan berkata pada Oliver bahwa ia lupa membawa kunci rumah. Oliver pun minta maaf kepadanya, namun Jenny meresponnya berupa sebuah kalimat yang sangat populer, berisi kata-kata yang sarat makna dan begitu dalam, yakni :

Love means never having to say you’re sorry

Menurut saya, itu adalah momen paling memorable dan menyentuh dalam film tersebut.
Ali MacGraw yang berperan sebagai Jenny digambarkan sebagai seorang gadis yang cerdas, optimis dan pekerja keras, ia sepertinya terlihat tidak mudah terbuai oleh roman yang memabukkan. Karena ia berasal dari keluarga kelas pekerja (working class), maka ia orang yang low profile sekaligus setia.

Courtesy of Paramount Pictures, 1970

Kebalikannya dengan Oliver yang diperankan sama baiknya oleh Ryan O’Neal, sebagai anak orang kaya yang bisa mendapatkan siapa saja, yang malah larut akan jalinan romansanya dengan Jenny sehingga ia ingin ‘mengikat’nya dengan komitmen yang menandakkan keseriusannya, bahkan memutuskan hubungan dengan orangtuanya dan memilih untuk struggle sendiri bersama dengan Jenny. Persamaan Oliver dengan Jenny tampaknya sama-sama keras kepala.

Kelebihan film ini juga adanya original score romantis nan melankolis mendayu-dayu, berupa dentingan indah piano yang dimainkan dan diaransemen oleh Francis Lai, sangat membangkitkan emosi dan melodrama dalam tragedi romansa yang menjadi something so memorable. Sayangnya, versi vokal yang diisi oleh Andy Williams untuk lagu (Where Do I Begin?) Love Story, tidak ada di filmnya itu sendiri.

Gaya penyorotan dan penataan kamera pun sepertinya diperlihatkan lebih dinamis, yang disorot “shaky” tatkala Oliver mencari-cari Jenny di berbagai tempat, turut membuat emosi audiens akan cemasnya Oliver yang takut kehilangan Jenny. Atau juga dalam adegan pertandingan hoki es, pertemuan Oliver dengan ayahnya setelah pertandingan, juga ketika Oliver dan Jenny bermain salju, sangat terasa goyangan kameranya seperti gaya semi dokumenter yang kadang janggal.

Film Love Story bukanlah film rormansa kacangan yang mendramatisir sesuatu akan kisah cinta, problema rumah tangga atau tragedi dalam hubungan pasangan dan keluarga misalnya, namun lebih memposisikan  secara realistis baik dalam karakterisasi maupun dialog yang sangat terasa untuk dinikmati. Hubungan romantis yang kuat antara Oliver dan Jenny sangat terasa riil bahkan hingga akhir cerita, meski tidak berhasil membuat saya menitikkan air mata, namun karena fondasi solid akan narasinya itu menjadikan sebuah drama yang pantas.  

Score : 3.5 / 4 stars  

Love Story | 1970 | Drama, Romantis | Pemain: Ali MacGraw, Ryan O’ Neal,  John Marley, Ray Milland, Katharine Balfour | Sutradara: Arthur Hiller |  Produser: Howard G. Minsky | Penulis: Berdasarkan novel “Love Story” karya Erich Segal. Naskah: Erich Segal | Musik: Francis Lai | Sinematografi: Richard Kratina | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 100 Menit

Comments