Citizen Kane (1941) : Saga Raja Media

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941


“Rosebud”

Film Citizen Kane adalah salah satu film terbaik sepanjang masa –setidaknya banyak pakar merekomendasikan- yang sudah lebih dari tujuh dekade berlalu sejak era keemasan Hollywood. Sebagai seorang sineas, penulis cerita, produser sekaligus aktor, Orson Welles memulai debut sutradaranya melalui film klasik tersebut, hingga diganjar Oscar untuk kategori Best Writing (Original Screenplay), serta sejumlah penghargaan bergengsi lainnya.

Citizen Kane memiliki pengaruh sangat besar dan luas terhadap sejumlah film lainnya dalam era selanjutnya. Film yang berkisah mengenai perjalanan hidup seorang tycoon media itu, mengungkap sebuah misteri yang diucapkan karakter utamanya, Charles Foster Kane menjelang kematiannya dengan mengucapkan kata terakhir yakni “Rosebud”.

Kisah dan latar belakang karakternya itu sendiri terinspirasi berdasarkan sebagian kehidupan dari beberapa nyata seperti bos surat kabar William Randolph Hearst dan Joseph Pulitzer, serta konglomerat Chicago seperti Samuel Insull dan Harold McCormick. Menariknya, perjalanan karir Kane tidak hanya semerta-merta menjadi konglomerat saja, namun elemen politik pun turut dibawa ke dalam cerita film ini.

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Kisahnya, di sebuah rumah peristirahatan mewah, Kane yang sudah usia lanjut, terbaring dan ia sempat berkata “Rosebud” hingga ajal menjemputnya. Maka, berbagai media pun meliput kematian Kane, termasuk sebuah dokumentasi yang mengenang kisah perjalanan karir Kane menjadi seorang konglomerat surat kabar. Seorang produser dokumentasi tersebut lalu menugaskan seorang jurnalis bernama Jerry (William Alland) untuk menyelidiki apa yang dimaksud dengan “Rosebud” itu.

Maka Jerry pun mulai menyelidikinya dengan bertemu berbagai teman dan rekan Kane semasa hidupnya, termasuk Susan Alexander Kane (Dorothy Comingore) yang menjadi alkoholik dan mengelola klub-nya sendiri namun menolak diawawancara dengan Jerry. Merasa buntu, Jerry mulai menyelidiki kisah Kane mulai dari masa kecil, melalui sebuah memoir dari berkas pribadi Kane, serta wawancara dengan beberapa pihak yang pernah dekat dengan Kane.

Dan akhirnya, flashback kisah pun dimulai dari tahun 1871 …

impawards.com

Film Citizen Kane tampaknya lebih menekankan pada elemen misteri, seiring dengan drama perjalanan kisah hidup Charles Foster Kane dari semasa kecil hingga masa tuanya yang penuh dengan perjuangan, ambisi serta eksistensi akan egosentris terhadap identitas dan jati diri.

Cerita film dibuka dengan setting berada dalam sebuah mansion bernama Xanadu yang sangat besar bagaikan istana saat Kane tua sedang terbaring sekarat, sambil menggenggam bola salju, hingga sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya, ia berkata “Rosebud”. Lalu adegan beralih dengan menyajikan film dokumenter obituari –berupa newsreel- tentang profil Kane, maka seorang jurnalis pun diutus menyelidiki kata “Rosebud” itu, oleh para eksekutif salah satu media, setelah mereka menyaksikannya. Tidak ada transisi yang terasa dalam peralihan dari adegan sebelumnya menuju obituary berupa newsreel itu, yang kadang kita harus fokus mencermatinya, meski newsreel tersebut diisi oleh narator.

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Atmosfir drama suspens begitu kuat dan boleh dikatakan chilling, saat adegan jurnalis bernama Jerry tersebut mendatangi Walter Parks Thatcher Memorial Library yang begitu megah, namun begitu sunyi yang ada hanya Jerry, seorang resepsionis serta seorang sekuriti. Ruangan lobby-nya pun terlihat premium bergaya klasik dengan pilar besar dan sebuah pintu besi menuju ruang berkas milik mendiang bankir bernama Thatcher, yang di awal cerita flashback, dia mengadopsi Kane kecil karena kedua orang tua kandungnya tidak mampu melunasi hutang bank.

Saat Jerry memasuki ruangan tersebut yang begitu luas, hanya terdapat meja panjang dan sebuah brankas yang dibuka oleh seroang sekuriti, dan Jerry pun mulai membaca sebuah memoir, maka adegan beralih menuju flashback saat Kane kecil hingga dewasa yang diadopsi Thatcher sebagai orang ke-6 terkaya di dunia.

Sejak saat itu, cerita memperlihatkan bahwa Kane muda tertarik dan mengambil alih pada salah satu bisnis kepunyaan Thatcher, yakni surat kabar Inquirer, serta Kane memiliki prinsip mengangkat pihak-pihak yang lemah atau tertindas, lewat pemberitaan media. Malah salah satu beritnya pun ‘menyerang’ salah satu perusahaan milik Thatcher sehingga dapat disimpulkan adanya perbedaan visi dan pertentangan kapitalisme dan kaum buruh antara Kane dan Thatcher.

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Sejak saat itu juga, alur cerita bergerak bergantian antara masa kini dengan flashback masa lalu, setelah Jerry berhasil mewawancarai Mr. Bernstein (Everett Sloane), manajer Kane yang mengisahkan bagaimana awal mula Kane mengelola surat kabar The New York Daily Enquirer, serta memperkenalkan Jedediah Leland (Joesph Cotton), sahabat sekaligus jurnalisnya Kane, tentang bagaimana awal mereka mengembangkan surat kabar tersebut.

Dalam adegan tersebut juga terdapat elemen humor segar yang terdapat pada karakter kocak Herbert Carter (Erskine Sanford), seorang pimpinan editor, baik dari aksi maupun dialognya.  Atau adegan saat Susan Alexander (Dorothy Comingore), istri kedua Kane yang berlatih sebagai penyanyi opera.

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Boleh dibilang motivasi Kane untuk terjun ke dalam politik, akibat masa kecilnya yang susah dan diadopsi oleh Thatcher, serta pandangan politiknya yang membenci para politikus kotor. Pernikahan Kane dengan Emily Monroe (Ruth Warrick) yang keponakan Presiden, mungkin bagian dari strateginya.

Cerita film ini memang mengisahkan beberapa alur flashback melalui masing-masing karakter yang diwawancarai oleh Jerry Thompson, selain Bernstein, juga Leland dan istri kedua Kane, yakni Susan. Performa cemerlang yang dimainkan oleh semua aktor/aktris-nya pun sangat terasa dan mampu mengimbangi performa dari Welles sendiri, terutama akting apiknya Dorothy Comingore sebagai Susan.

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Selain itu, terdapat dua dialog yang menyambung antar adegan yang berlainan dalam setting waktu maupun karakternya, seperti ketika Thatcher memberikan ucapan “Merry Christmas … and Happy New Year” kepada Kane, maupun saat Leland berkampanye dengan kalimat yang disambungkan oleh Kane saat berpidato dalam pemilihan Gubernur.

Banyak mise-en-scéne menarik di film ini. Tampaknya, format visual hitam-putih sangat membantu memanipulasi audiens akan permainan optik dan psikologis, sehingga sangat berkesan dan mind blowing di jaman itu, terutama kolaborasi antara production designer dengan sinematografernya.


Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Meski eksterior Xanadu dan sebagian landskap-nya jelas-jelas berupa matte painting, namun untuk interior-nya dipadukan dengan set design yang grandeur. Saat adegan awal, memang terkesan seperti nonton film horor klasik, yang menggambarkan kejatuhan Kane hingga akhirnya ia meninggal, dengan visual yang muram dan setting eksterior memperlihatkan sebuah kastil yang tak terawat.

Adegan saat Leland mengkampanyekan Kane yang disambung dengan pidato Kane tersebut, sama-sama dilakukan dengan sorotan kamera yang diambil dari jarak agak jauh, kemudian mendekat kepada Leland dan Kane. Maka puncaknya, salah satu adegan memorable tersebut, tampak sebuah ruangan besar dan luas, kamera menyoroti dari ketinggian yang membelakangi para penonton dan menghadap ke arah Kane berpidato di atas panggung, perlahan sambil mendekati sosok Kane yang di belakangnya dipasang backdrop foto dirinya seukuran raksasa.

Yang menarik juga ketika Susan sedang gladi resik di panggung gedung opera, saat kamera dalam posisi dekat dengan wajahnya, perlahan menjauh dengan memperlihatkan suasana panggung dengan segala atribunya, lalu perlahan kamera mulai naik keatas memperlihatkan tirai panggung, naik terus keatas memperlihatkan konstruksi besi atap hingga banak untaian semacam kabel menjulang ke bawah, hingga akhirnya disorotlah kedua kru teknisi panggung yang menonton penampilan Susan dari posisi dekat atap gedung.

Courtesy of RKO Radio Pictures, 1941

Salah satu hal menakjubkan akan teknik sinematografi di jaman itu yakni sorotan kamera terhadap eksterior gedung bernama El Rancho dari bawah keatas hingga mendekati lettering sign yang berada di atas gedung, kemudian kamera medekat kepada jendela atap, hingga adegan beralih berada di dalam gedung dengan posisi dari atas, menyorot salah satu meja dan terdapat karakter Susan, lalu kamera mendekat. Dari sekuen tersebut, tampak memberi kesan bahwa kamera menembus dari eksterior hingga interior gedung.

Elemen noir mungkin saja memang menjadi style umum atau sering dipakai di era 30’an dan 40’an, termasuk Citizen Kane, beberapa adegan seperti saat para eksekutif setelah menyaksikan newsreel Kane, mereka menugaskan Jerry Thompson. Juga Jerry yang memasuki ruang berkas di Walter Parks Thatcher Memorial Library, tampak penggunaan silhouette setengah badan, akibat pancaran sinar menghadap kamera, sehingga muka beberapa karakter tidak telrihat sama sekali.
  
Last but not least, komposisi musik atau scoring Bernard Herrmann memang luar biasa dalam membawa audiens larut untuk larut akan suasana suspens yang sangat kuat dan terkadang bikin merinding, namun juga mampu membawakan suasana glamor dan ceria saat adegan gladi resik opera, serta aransemen musik saat pertunjukkan opera. Jadi wajar saja kolborasi solidnya di beberapa filmnya Hitchcock seperti Psycho (1960), menjadi landmark tersendiri.

Score : 4 / 4 stars

Citizen Kane | 1941 | Drama, Misteri, Noir | Pemain: Orson Welles, Joseph Cotten, Dorothy Comingore, Everett Sloane, Ray Collins, George Coulouris, Agnes Moorehead, Paul Stewart, Ruth Warrick, Erskine Sanford, William Alland | Sutradara: Orson Welles | Produser: Orson Welles | Penulis: Herman J. Mankiewicz | Musik: Bernard Herrmann | Sinematografi: Gregg Toland | Distributor: RKO Radio Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 119 Menit

Comments