Bill & Ted : Lelucon Duo Karakter Dinamis


Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer

Party on, Dudes!

Ringan dan Renyah, itulah kesan pertama saat mencoba mengikuti dua film komedi Bill & Ted, melalui cara yang paling cringe dan awkward!

Duo karakter komedi telah ada sejak lama, mulai dari era klasik yakni Laurel and Hardy atau Abbott and Costello, dilanjutkan pada era yang lebih modern seperti Cheech and Chong dan The Blues Brothers. Era 90’an hingga kini mulai bermunculan seperti Wayne’s World, Dumb and Dumber, Jay and Silent Bob, Harold & Kumar, atau dalam buddy cop, yakni Bad Boys dan Rush Hours, juga genre yang bervarian seperti trilogi Three Flavours Cornetto.

Namun tidak ada yang paling ‘fun’ diantara semua dekade, kecuali era 80’an saat industri hiburan di Amerika mengalami masa kejayaan, khususnya film dan musik. Dengan didukung oleh kemajuan ekonomi dan teknologi di masanya, berbagai produk sponsor, MTV dan home video turut memiliki andil besar dalam menciptakan pop culture global. Dua film Bill & Ted merupakan salah satu dynamic duo komedi yang lahir dalam generasi tersebut, hingga akhirnya merambah ke dalam bentuk serial animasi, serial live-action televisi, komik seta video games.

impawards.com

Di Indonesia, franchise tersebut sempat dikenal melalui serial animasi melalui TV swasta, yang hingga kini mungkin saja Bill & Ted agak terlewatkan, sebagai salah satu fondasi duo karakter komedi dinamis yang memiliki impact dalam budaya populer modern, khususnya remaja. Nama Keanu Reeves mulai dikenal saat itu, meski ia lebih dikenal luas mendampingi Patrick Swayze dalam Point Break (1991), bersama Winona Ryder dan Gary Oldman dalam Bram Stoker’s Dracula (1992), serta tentu saja puncak popularitasnya di film Speed (1994) dan The Matrix (1999).

Bagi Hollywood, semuanya mugkin ketika beberapa waktu lalu mereka mengumumkan sebuah sekuel Bill & Ted yang akan rilis tahun depan berjudul Bill & Ted Face the Music, melanjutkan kisah mereka sejak film Bill & Ted’s Bogus Journal, 29 tahun silam. Yang menarik tentu saja premisnya saat Bill dan Ted di paruh baya, masing-masing memiliki putri remaja, namun harus menciptakan musik demi keselamatan masa depan dari ancaman kejahatan.

Maka, sekuel itupun menegaskan bahwa franchise tersebut bangkit kembali sekaligus mengenalkannya kepada generasi baru, akan dua karakter komedi penting dalam film hiburan yang mempengaruhi film-film masa kini. Berikut ulasan kedua film Bill & Ted :


Bill & Ted’s Excellent Adventure (1989)

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1989

Be excellent to each other!

Dua remaja metalhead, masing-masing bernama William “Bill” S. Esquire (Alex Winter) dan Theodore “Ted” Logan (Keanu Reeves) tinggal di San Dimas, California, yang bercita-cita mendirikan sebuah band bernama Wyd Stallins dan menciptakan musik. Namun di sekolah, mereka adalah murid dungu yang kurang peduli dengan pelajaran, apalagi mereka terancam tidak lulus Pelajaran Sejarah yang harus dipresentasikan keesokan harinya. Ternyata jauh di masa depan, musik yang mereka ciptakan ternyata menyelamatkan kehidupan utopia sosialitas manusia, sehingga terhindar dari keburukan dan kejahatan.

Adalah Rufus (George Carlin) yang diutus dari masa depan, guna menyelamatkan Bill dan Ted dalam membantu meluluskan pelajaran sejarah, dengan menyediakan transportasi berupa booth telepon umum untuk menjelajah masa lalu, mengamati serta bertemu dengan para tokoh sejarah. Dalam sebuah insiden, tak sengaja Napoleon Bonaparte terbawa mesin waktu mengikuti mereka, menyelamatkan Billy the Kid, serta membawa dan menculik Socrates, Sigmund Freud, Ludwig van Beethoven, Joan of Arc, Genghis Khan hingga Abraham Lincoln! Apa yang selanjutnya terjadi, merupakan petualangan kocak yang penuh kejutan!

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1989

Terlihat sepele, tapi bukan murahan. Sepertinya garing, tapi sebenarnya kocak. Kelihatannya cenderung norak, padahal sesungguhnya COOL. Itulah kesan yang berhasil menghibur saya melalui sebuah film yang mungkin underrated, namun sesungguhnya memiliki nilai komedi dan filosofi signifikan, melalui cara yang aneh dan tidak wajar. Elemen humor dan komedinya memang medioker, tapi mampu ditutup oleh petualangan penjelajahan ruang dan waktu, melalui cerita mengejutkan serta one-liner dan dialog yang memorable.

Lupakan segala nalar dasar dan jangan anggap serius film ini, karena tujuannya memang untuk hiburan menyenangkan. Nikmati saja alur plot yang absurd, karena bagaimanapun juga saya tidak berhasil menebak solusi dari Bill dan Ted agar bisa menyelesaikan laporan Pelajaran Sejarah mereka di sekolahan. Gaya komedi yang hilarious namun tidak perlu heboh, dialog sederhana namun efektif, gaya bahasa tubuh dan sikap seperti karakter kartun, ternyata sanggup diarahkan secara pas.

Karakter Bill dan Ted sendiri adalah sepasang sahabat karib yang selalu kompak dalam berkata sesuatu bersamaan, seperti “Whoah”, “Excellent!”, “No way, dude”, “Sixty-nine, dude” atau “Waterloo!” juga impresi bermain gitar listrik bersamaan yang diiringi background berupa score alunan gitar listrik.

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1989

Mereka adalah remaja yang tumbuh dalam era kejayaan MTV dan musik heavy metal, makanya tak heran mereka memainkan musik metal melalui gitar listriknya, hingga dalam satu adegan, Rufus memainkan Eruption-nya Van Halen, tak lama setelah Bill dan Ted berencana ke masa lalu ingin menemui Eddie Van Halen. Begitu pula saat mereka hendak dibawa menuju Iron Maiden (alat penyiksa di abad pertengahan) oleh King Henry, mereka malah girang karena mereka sangka akan bertemu dengan band heavy metal legendaris!

Banyak kekonyolan yang terjadi, saat mereka bertemu para tokoh sejarah, terutama begitu mudahnya mereka berkomunikasi dengan Socrates, saat mengatakan “All we are is dust in the wind, dude” sambil mengambil pasir dari genggaman tangan dan meniupnya, maka Socrates pun langsung mengerti dan akrab dengan mereka! Padahal kalimat tersebut merupakan potongan dari lirik lagu Kansas, berjudul Dust in the Wind!

Yang tak kalah gilanya yakni tingkah laku para tokoh sejarah ketika mereka dalam satu momen di dalam mall. Bagaimana saat Billy the Kid, Socrates dan Sigmund Freud menggoda dan merayu dua orang cewek, Joan of Arc kehilangan kendali saat menyaksikan performa aerobik, Beethoven memainkan dua keyboards sekaligus di toko musik, Genghis Khan mengamuk di toko olahraga, sedangkan Lincoln bertengkar dengan salah seorang pegawai di studio foto.

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1989

Belum lagi, saat Napoleon yang sejak semula dititipkan pada adiknya Ted bernama Deacon, lalu diajak bermain termasuk menyantap es krim dan bermain bowling, hingga pada suatu insiden, ia seorang diri berada di waterboom dan ketagihan bermain seluncur air!

Semua kegilaan para tokoh sejarah tersebut dibuat menjadi sangat konyol dan karakternya dibuat menjadi harmless (Genghis Khan, Napoleon dan Billy the Kid), dan malah cenderung friendly. Hal tersebut mungkin mengundang kekhawatiran akan ‘pelecehan’ para figur tersebut. Belum lagi karakter Missy, ibu tiri Bill yang merupakan siswi senior mereka, sehingga saat Ted memicu Bill dengan beberapa perkataan yang menyerempet, Bill selalu meresponnya dengan berkata : “Shut up, Ted!”

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1989

Sungguh merupakan kekacauan besar terhadap penciptaan karakter dan alur cerita dalam film ini, yang bikin ngakak tentunya! Belum lagi objek teleportasi berupa booth telepon umum dan Yellow Pages yang berisi destinasi peristiwa sejarah, juga saat Bill dan Ted beserta ketujuh tokoh sejarah berdesak-desakkan berada dalam satu booth! Oh ya, teurtama bagi generasi 90’an dan sebagian millenial, tentunya sudah tak asing terhadap objek tersebut.

Efek spesial berupa komputer animasi yang menggambarkan perjalanan menembus ruang dan waktu itu, diperlihatkan seadanya meski tidak mengecewakan. Adegan puncak menjelang akhir cerita, disajikan dengan impresif meski tetap saja ada satu quote kejutan.

Bill & Ted’s Excellent Adventure adalah film komedi cheesy yang tidak pusing terhadap absurditas belaka, dan memiliki pesan positif dari duo karakter utama mereka, meski mereka jauh dari kata ‘pintar’!

Bill & Ted’s Excellent Adventure | 1989 | Score: 3.5 / 4 stars   Pemain: Keanu Reeves, Alex Winter, George Carlin | Sutradara: Stephen Herek | Produser: Scott Kroopf, Michael S. Murphey, Joel Soisson | Penulis: Chris Matheson, Ed Solomon  | Musik: David Newman | Sinematografi: Timothy Suhrstedt | Distributor: Orion Pictures (Amerika Serikat), De Laurentis Entertainment Group (Internasional)  | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 89 Menit 


Bill & Ted’s Bogus Journey (1991)

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1991

Don’t Fear the Reaper!

Jauh di masa depan, dengan niat menyingkirkan musik ciptaan Wyld Stallyns, Chuck De Nomolos (Joss Ackland) mengirimkan dua robot versi jahat Bill dan Ted ke masa lalu, dan berhasil membunuh Bill (Alex Winter) dan Ted (Keanu Reeves) yang sesungguhnya. Arwah mereka pun gentayangan dan bertemu dengan Death / Malaikat Maut (William Sadler) yang menantang permainan.

Setelah mereka mengalahkan Death yang mengakibatkan dirinya harus patuh pada mereka, lalu terlaksanalah sebuah ide untuk menciptakan robot baik versi Bill dan Ted, guna melawan robot jahat versi mereka sendiri, dengan bantuan Station, dua mahluk Mars saat bertemu di Surga. Bill dan Ted yang kembali hidup serta kedua robot baik versi mereka, dibantu oleh Death dan Station, menuju kompetisi rock band, untuk menghentikan niat jahat robot jahat versi mereka yang mengikui audisi, sekaligus menyelamatkan masing-masing kekasih Bill dan Ted yang disandera.

Meski tidak se-asyik film pertamanya, Bill & Ted’s Bogus Journey masih tetap menyajikan semua kekonyolan sekaligus kerenyahan dalam hal karakerisasi yang seperti kartun, alur dan setting dalam cerita, serta berbagai adegan akan aksi dan dialognya. Selain fiksi ilmiah, cerita film ini menekankan elemen fantasi yang begitu nyeleneh dan gamblang, seperti penggambaran surga dan neraka versi lelucon tentunya.

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1991

Karakter Setan yang ditampilkan pun cukup meyakinkan dan dibuat serius, melalui sosok yang ganas. Beberapa karakter dalam Neraka, tampaknya merupakan refleksi dari Bill dan Ted sendiri terhadap karakter yang mereka takuti di kehidupan nyata mereka, seperti Kolonel Oats yang merupakan ancaman ayah Ted untuk masuk militer jika Ted gagal di sekolah (mereferensikan dalam cerita film terdahulu) dan karakter neneknya Bill yang menakutkan.

Sedangkan Surga digambarkan seperti saat memasuki gedung pertunjukkan yang di depannya terdapat banyak staf yang melayani orang-orang yang berpakaian formal berwarna putih dominan dan memberikan sesuatu seperti tiket dan selebaran. Parahnya, Bill dan Ted yang masih berpakaian ala remaja, serta Death yang masih terlihat menyeramkan dengan jubah hitam dan paritnya harus melakukan sesuatu, dengan menghajar dua pria dan satu wanita. Alhasil, mereka mengenakan pakaian ketiga orang tersebut, dan hasilnya bakal mengejutkan!

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1991

Lucunya, khusus bagi generasi 90’an, saat mereka hendak menuju Tahta Tuhan, dicegat oleh Malaikat pencatat yang menanyakan “Makna Kehidupan”, mereka sempat terdiam beberapa detik hingga akhirnya Bill dan Ted mengutip lirik lagu-nya Poison, Every Rose Has its Thron ….. adegan terkocak di film ini! Apalagi karakter Death juga tak kalah hebohnya, dijadikan lelucon konyol di film ini dibalik topeng putih pucat menyeramkannya, sehingga begitu powerless ketika dalam permainan dikalahkan oleh Bill dan Ted.

Karakter Bill dan Ted sendiri masih sama persis, kecuali gaya rambut Ted yang lebih baik dibandingkan film sebelumnya. Selain itu, karakter Rufus masih ada meski kemunculannya tidak sebanyak sebelumnya, serta cameo dari gitaris Faith No More, yakni James Martin di awal cerita, sebagai salah satu karakter dirinya sendiri yang didatangkan Rufus bersama dengan Johann Sebastian Bach, dari masa lalu.

Courtesy of Metro-Goldwyn-Mayer, 1991

Adegan pemuncak sebelum berakhirnya cerita film cukup menarik, dan setelahnya lebih impresif saat Bill dan Ted yang berpenampilan menirukan ZZ Top beserta anggota band Wyld Stallyns lainnya kembali dari masa depan dan mahir memainkan lagu rock, yang sebenarnya intro gitarnya dimainkan oleh Steve Vai yang menyambungkan lagu-nya KISS, God Gave Rock and Roll to You.

Mereka masing-masing telah mempunyai anak yang masih bayi, sebuah petunjuk dari potensi sekuel yang akhirnya akan segera terwujud. Bill & Ted’s Bogus Journey meski tidak sebagus film terdahulunya, namun tetap saja masih mengguncang komedi ringan nan renyah. Keep rock on, dudes!

Bill & Ted’s Bogus Journal | 1991 | Score: 2.5 / 4 stars   Pemain: Keanu Reeves, Alex Winter, William Sadler, Joss Ackland, George Carlin | Sutradara: Pete Hewitt | Produser: Scott Kroopf | Penulis: Chris Matheson, Ed Solomon  | Musik: David Newman | Sinematografi: Oliver Wood | Distributor: Orion Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 93 Menit 

Comments