Shaft (2019) : Generasi Baru yang Setia pada Tradisinya

sekuel shaft generasi baru setia tadisi
Warner Bros Pictures, Netflix

Lupakan apa kata kritikus melalui berbagai media mainstream yang sudah mulai terjangkit virus SJW (Social Justice Warrior) terhadap film Shaft yang baru dirilis kemarin.

Kontras dengan penilaian audiens umum yang normal serta cenderung objektif atas suka atau tidaknya terhadap film ini.

Film Shaft terbaru ini merupakan sekuel dari empat film sebelumnya, generasi baru yang melanjutkan sekaligus tetap setia pada tradisinya sebagai detektif pria kulit hitam dalam Blaxploitation aksi laga komedi.

Seperti yang pernah dibahas sebelumnya, film kali ini yang masih memakai judul sama, yakni Shaft sebagai generasi ke-3 dari film rilisan 1971 dan 2000. Shaft merupakan sekuel yang mengisahkan John “JJ” Shaft Jr. (Jessie T. Usher) adalah putra dari John Shaft II (Samuel L. Jackson), serta cucu dari John Shaft (Richard Roundtree).


Baca juga: 3 Generasi 'Shaft' dalam 5 Film 

JJ berprofesi sebagai analis FBI yang menangani kriminalisasi atas keamanan jaringan digital. Setelah sahabat karibnya tewas dengan tidak wajar, JJ mendatangi ayahnya, John Shaft II yang tidak pernah bertemu sejak ia masih bayi, lalu ia diasuh oleh ibunya bernama Maya (Regina Hall).

Meski awalnya pertemuan mereka mengejutkan dan sedikit canggung, namun penyelidikan pun dilakukan, hingga terungkap sebuah jaringan terselubung di wilayah Harlem. Saat mereka membutuhkan amunisi, maka sang kakek John Shaft (Richard Roundtree) pun mulai turut membantu.

Tidak seperti empat film Shaft sebelumnya, film Shaft yang satu ini adalah aksi laga komedi ringan, yang bertujuan untuk menghibur sekaligus bereuni antar tiga generasi berbeda.


review sekuel film shaft
Warner Bros Pictures, Netflix

Meski penuturan ceritanya begitu klise, melalui alur tanpa mengindahkan nalar dasar, film ini lebih mengangkat isu jurang pemisah antar generasi ayah-anak, khsususnya terhadap kultur serta sosialisasi kaum millennial.

Trilogi Shaft awal yang diperankan Roundtree di era 70’an tentu saja lebih mengedepankan maskulinitas, aksi yang mengacu hormon testoteron, perilaku vigilante, namun tetap respek pada lawan jenis, serta keanekaragaman melalui sejumlah satir berupa humor segar.

Selanjutnya, memasuki era millennium yakni tahun 2000, generasi kedua yakni John Shaft II yang diperankan Samuel L. Jackson, mengulangi apa yang telah dirintis oleh pendahulunya, sehingga perbedaan generasi keduanya tidak merubah karakteristik pria sejati dalam dunia fiksi. Pria tetaplah pria, wanita tetaplah wanita!

Sejumlah isu sosial yang mencuat ke permukaan akhir-akhir ini dalam industri hiburan khususnya film, semakin buruk sehingga menimbulkan dampak negatif seperti munculnya esktrimis “Far-left” dari kaum Liberalis dengan standar gandanya.

Maka generasi millennial berperan besar dalam mengantisipasi hal tersebut melalui film Shaft berupa sindiran tajam sebuah dilema besar tersebut.

Tidak hanya aspek Blaxploitation semata yang diekspos, namun mencakup teknologi, globalisasi, serta geopolitik, sehingga meruncing pada kesetaraan gender dalam peran signifikan, seksualitas, serta perbedaan keragaman etnik dan ras, terukir dalam sejumlah dialog humor di film ini.


ulasan sekuel film shaft
Warner Bros Pictures, Netflix
 
Film Shaft menjawab berbagai kontroversi yang merusak industri perfilman Amerika, sekaligus memberangus politik identitas yang menyusup ke dalam beberapa waralaba film populer.

Karakter John Shaft II seakan meluruskan pandangan negatif sekaligus mempertahankan kualitas akan tradisi protagonis yang badass sebagaimana mestinya, sehingga nilai hiburannya tetap terjaga.

Bagaikan dua sisi yang kontradiktif, film ini pula berfungsi sebagai sebuah parodi terhadap karakter JJ yang mewakili millennial, versus karakter John Shaft II sendiri yang boleh dibilang sebagai “dinosaurus” di jaman modern.

Karakter JJ direpresentasikan anti kekerasan dan senjata, terlalu khawatir akan pikiran dan perasaan seorang wanita yang ia taksir bernama Sasha (Alexandra Shipp) sehingga ragu untuk menyatakan cintanya, serta ia terlihat enggan mengancam balik seorang wanita yang dicurigai terlibat kriminal, padahal wanita tersebut sudah bersiap menyerangnya.

Dari berbagai aksi kocak itulah, sang ayah mengajari anaknya bagaimana seorang detektif swasta seperti dirinya -yang mewakili penegak hukum- harus bertindak layaknya seorang pria sejati.

Melalui nasihat dan pengalaman di generasinya bagaimana kehidupan dengan para wanita dan istrinya yang cukup rumit, atau bagaimana ia bertindak seoptimal mungkin terhadap situasi yang mengancam, termasuk dengan seorang wanita antagonis, tanpa menjadi seorang misoginis.

Tidak seperti film sebelumnya, karakter John Shaft II saat setelah sekian lama berpisah dengan istrinya, tak lepas dari kesenangan dengan para wanita karena sifat alamiah pria, namun bukan berarti ia seorang seksis yang memperlakukan rendah para wanita.


sinopsis sekuel film shaft
Warner Bros Pictures, Netflix

Karakter Maya sendiri meski sempat berkencan dengan pria lain, masih cemburu sekaligus mengisyaratkan agar ia dan Shaft rekonsiliasi.

Setelah bertualang dengan JJ, Shaft II pun mendapat pengalaman berharga, terutama nilai egoisme dalam dirinya saat ia tidak pernah sekalipun meminta maaf terhadap wanita seumur hidup.

Mereka berdua lambat laun saling belajar untuk merubah dirinya masing-masing ke arah yang lebih baik, dalam rangka menjembatani jurang antar genreasi.

Banyak sekali aksi dan dialog renyah tersaji dalam film ini, bagaikan kombinasi komedi dengan action flick ala 90’an. 


Baca juga: Lintas Generasi Karakter dalam Film Sekuel 

Sementara sang kakek dan ayah masih cuek menyeberang jalan raya, yang membuat para pengemudi mobil marah-marah, begitu pula umpatan kasar ala kulit hitam tentu mendominasi dialog secara proporsional.

Generasi baru dalam film Shaft yang masih setia pada tradisinya memberikan tamparan keras terhadap politik identitas SJW, melalui satir cerdas guna mempertahankan nilai dari waralaba itu sendiri.

Film Shaft meski tampaknya menjadi korban yang terlewatkan akibat “lawakan konyol” kritikus, namun begitu menghibur audiens sebagai sekuel signifikan.

Score : 3.5 / 4 stars

Shaft | 2019 | Aksi Laga, Komedi | Pemain: Samuel L. Jackson, Jessie T. Usher, Regina Hall, Richard Roundtree, Alexandra Shipp, Isaac de Bankloé | Sutradara: Tim Story | Produser: John Davis | Penulis: Berdasarkan karakter karya Ernest Tidyman. Skenario: Kenya Barris, Alex Barnow | Musik: Christopher Lennertz | Sinematografi: Larry Blanford | Distributor: Warner Bros Pictures (Amerika Serikat), Netflix (Internasional) | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 105 Menit

Comments

Popular Posts