2 Sekuel Film ‘Star Wars’ yang Mungkin Bisa Anda Tonton

Dunia Sinema Review Sekuel Star Wars
Walt Disney Studios Motion Pictures

A Long Time Ago in a Galaxy Far, Far Away …

Di tahun 2012, George Lucas menjual Lucasfilm perusahaan miliknya kepada Disney, dengan maksud agar mendapatkan suntikan dana besar untuk pengembangan proyek Star Wars selanjutnya.

Maka dirilislah trilogi sekuel dengan kombinasi antara karakter lama dengan yang baru, melalui film The Force Awakens (2015) dan The Last Jedi (2017), hingga The Rise of Skywalker di bulan Desember ini.

Pimpinan Lucasfilm yakni Kathleen Kennedy, sutradara dan penulis cerita The Last Jedi, Rian Johnson, serta terungkapnya pihak Disney yang tidak menggunakan basis narasi yang telah dikembangkan Lucas, melalui otobiografi CEO Disney yakni Bob Iger, menyebabkan berbagai kontroversi dengan pecahnya kubu fans.

Lucas yang tidak terkesan dengan The Force Awakens, sebagian fans yang membenci The Last Jedi, kegagalan Solo : A Star Wars Story, sepinya pengunjung Star Wars : Galaxy’s Edge di Disneyland, serta tampaknya spekulasi The Rise of Skywalker terhadap antusiasme fans, menjadi rangkaian kontroversi yang tampaknya tak kunjung usai.

 

Dunia Sinema Review The Force Awakens
Walt Disney Studios Motion Pictures

Star Wars : The Force Awakens (2015)

30 tahun setelah terjadinya Galactic Civil War, sebuah gerakan New Order yang dipimpin Kylo Ren (Adam Driver) bangkit sebagai kekuatan baru, sementara perlawanan datang dari The Resistance yang dipimpin Jenderal Leia Organa (Carrie Fisher).

Poe (Oscar Isaac) seorang pilot Resistance mendapat peta lokasi keberadaan Luke Skywalker (Mark Hamill) langsung menyimpan di dalam Droid BB-8, melarikan diri dengan seorang pembelot Stormtrooper yakni Finn (John Boyega) yang membebaskannya dari tawanan New Order, namun pesawat mereka terjatuh di Planet Jakku.

Mereka terpencar, Poe bertemu dengan pengembara bernama Rey (Daisy Ridley) yang menemukan BB-8. Dikejar oleh pasukan New Order yang memburu BB-8, mereka mencuri Millenium Falcon yang telah menjadi rongsokan, meski kemudian tertangkap oleh kapal kargo milik Han Solo (Harrison Ford) yang didampingi Chewbacca.

Setelah konfrontasi kecil, mereka membawa Millenium Falcon menuju Planet Takodana untuk bertemu Maz Kanata (Lupita Nyong’o) dalam melengkapi peta tersebut, hingga tiba-tiba pasukan New Order menyerbu yang mengakibatkan diculiknya Rey oleh Kylo.

Kanata lalu menyerahkan Lightsaber tersebut kepada Finn, dan tak lama kemudian serbuan pesawat Resistance memukul mundur New Order, hingga Leia tiba dan bereuni kembali dengan Han dan Chewbacca.



Dunia Sinema Review The Force Awakens
Walt Disney Studios Motion Pictures

Pemimpin Tertinggi New Order bernama Snoke (Andy Serkis) mengijinkan penggunaan senjata baru yakni Starkiller untuk menghancurkan sejumlah planet, termasuk Ibukota Republik, Kylo mengetahui keberadaan BB-8 terkait peta lokasi Luke dan memburunya hingga ke Takodana.

Sebagai salah satu film yang paling diantisipasi menjelang perilisannya, The Force Awakens menandakan kembalinya trio Luke-Leia-Han yang diperankan masing-masing oleh Hamill, Fisher dan Ford, dengan cerita 30 tahun setelah kisah Return of the Jedi (1983).

Nostalgia itulah yang menjadi salah satu kekuatan penting, untuk menyambungkan trilogi sekuel. Kombinasi karakter orisinal dengan karakter baru pun menjadi sebuah premis menarik, terutama sentralisasi karakter Rey-Finn-Poe serta antagonis baru, Kylo Ren dan Snoke.

Karena banyaknya karakter, maka struktur melalui alur cerita yang disajikan cukup kompleks namun tetap menarik, berkat arahan dari sineas JJ Abrams.

Saga ini masih berfokus kepada pertarungan antara Jedi dan Resistance dengan Sith dan New Order, yang menjadi catatan khusus berkenaan dengan karakter Kylo Ren yang menyimpan twist besar di pertengahan cerita, sebenarnya begitu mengecewakan saya.



Dunia Sinema Review The Force Awakens
Walt Disney Studios Motion Pictures

Kelemahan paling signifikan di film ini, meski cerita dan naskahnya ditulis kembali bersama Kasdan, adalah proses karakter Rey yang mungkin saja akan menjadi Jedi dengan karunia The Force, termasuk mahir mengemudikan Millenium Falcon.

Rey yang sayangnya disajikan begitu absurd sekaligus misterius, tanpa proses wajar serta latar belakang yang belum diketahui. Harapan besarnya yakni bakal tersingkap dalam film selanjutnya.

Itulah kelemahan paling fatal The Force Awakens yang mengakibatkan kualitasnya tidak mampu mengimbangi trilogi orisinalnya.

Untung saja, berbagai kelemahan tersebut masih mampu ditutupi oleh berbagai kompleksitas alur dan aksi laga spektakuler, baik peperangan di luar angkasa maupun pertarungan di darat, serta adegan duel dengan Kylo Ren.

Bahkan karakterisasi Rey sendiri layak mendapatkan simpati, terkait pengembangan sikap, tindakan dan dialognya mulai dari awal hingga akhir cerita, melalui sisi emosional serta humor di awal petualangannya.



Dunia Sinema Review The Force Awakens
Walt Disney Studios Motion Pictures

Karakter Finn juga layak diapresiasi, melalui perpaduan humor dan berbagai aksi serta emosi yang tidak berlebihan. Ikatannya dengan Rey terjalin secara erat dan natural. Adapula Poe yang mengingatkan saya akan Luke muda yang dikombinasikan dengan Han Solo, sehingga wataknya terbentuk dengan unik dan heroik.

Abrams mampu membuat keterikatan emosional yang dikembangkan baik dari karakter Han dan Leia, dengan Rey dan Finn khususnya. Bagaimana one-liner dialog Han dengan Finn dan Rey begitu impresif sekaligus mengundang tawa segar, terutama dalam dua adegan saat mereka menginfiltrasi dan menyabotase Starkiller.

Karisma besar Leia pun terutama terhadap Rey, dalam satu adegan menjelang akhir, bagaikan figur ibu bagi Rey sendiri. Sementara Kylo yang berusaha untuk menjadi ‘The Next Darth Vader’’ dengan helm-nya, namun saat dilepas langsung menurunkan aura yang telah dibangun sedemikian rupa.

Lalu bagaimana dengan Luke? Bagaikan sebuah ironi yang saya harapkan ketiga karakter legendaris bisa muncul bersamaan dalam satu adegan, yang nyatanya jauh dari itu.

Sudah tidak perlu diragukan lagi jika mengomentari visual di film ini yang memang didukung oleh efek modern. Performa karakter Snoke yang ditampilkan melalui hologram 3D dengan ukuran raksasa di hadapan Kylo dan Jenderal Hux, terkesan sebagai ancaman nyata.

The Force Awakens berada di bawah ekspektasi awal, sehingga menimbulkan penilaian yang tidak istimewa, meski Abrams mampu menjaga esensi serta kualitas Star Wars sebagaimana mestinya.

Score: 2.5 / 4 stars | Pemain: Harrison Ford, Mark Hamill, Carrie Fisher, Adam Driver, Daisy Ridley, John Boyega, Oscar Isaac, Lupita Nyong’o, Andy Serkis, Domhnall Gleeson, Peter Mayhew, Max von Sydow, Anthony Daniels | Sutradara: J.J. Abrams | Produser: Kathleen Kennedy, J.J. Abrams, Bryan Burk | Penulis: Berdasarkan karakter karya George Lucas. Naskah: Lawrence Kasdan, J.J. Abrams, Michael Arndt | Musik: John Williams | Sinematografi: Dan Mindel | Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 135 Menit

 

Dunia Sinema Review The Last Jedi
Walt Disney Studios Motion Pictures

Star Wars : The Last Jedi (2017)

Jenderal Leia (Carrie Fisher) memimpin perlawanan Resistance melalui serangan udara yang dikomandani Poe (Oscar Isaac) terhadap New Order yang dipimpin Kylo Ren (Adam Driver) untuk menyerbu planet D’Qar, sehingga memukul Resistance untuk berkumpul di luar angkasa.

Di planet Ahch-To, Rey (Daisy Ridley) bersama Chewbacca dan R2D2 membujuk Jake Skywalker … maaf, maksudnya Luke (Mark Hamill) untuk bergabung dengan Resistance sekaligus memohon untuk dilatihnya sebagai Jedi.

Luke yang gagal melatih Kylo yang telah berpaling menuju Dark Side, menolaknya meski akhirnya bersedia melatih Rey. Kylo yang berkomunikasi dengan Rey melalui kekuatan The Force mengungkapkan mengapa ia memilih Dark Side yang kemudian diakui sendiri oleh Luke kepada Rey.

Yakin bahwa Kylo masih bisa meninggalkan Dark Side, Rey mendatanginya namun harus berhadapan dengan Snoke (Andy Serkis), sementara Finn (John Boyega) dan Rose (Kelly Marie Tran) berada di tempat yang sama guna mencari alat untuk memanipulasi pelacak dan mereka pun tertangkap oleh New Order.

Dalam kondisi Resistance yang tersudut, pengganti Leia yakni Admiral Holdo (Laura Dern) memerintahkan untuk mengadakan evakuasi Resistance dengan menggunakan kapal-kapal kecil, namun ditentang oleh Poe, sehingga ia melakukan pemberontakan.

Selama 2,5 jam saya terkesan akan dramatisasi cerita yang menarik, terutama apa yang terjadi pada karakter Rey, seta pergumulan batin Luke dan Keylo, begitu emosional yang diiringi dengan scoring menyentuh John Williams.

Namun sesaat setelahnya, saya baru sadar sekaligus bertanya-tanya, apakah saya memang menonton film Star Wars?


Dunia Sinema Review The Last Jedi
Walt Disney Studios Motion Pictures
 
Alih-alih ingin meneruskan kisah The Force Awakens yang masih menyisakan banyak pertanyaan yang ada, malah The Last Jedi dieksekusi dengan sangat buruk akan karakterisasi yang semakin absurd dan cenderung menyimpang.

Film ini sama sekali tidak menawarkan sesuatu yang baru, terutama konklusi yang harusnya mulai terungkap dari misteri yang tersimpan di film terdahulu. Meski alur ceritanya masih bisa diikuti walaupun tidak istimewa, banyak sekali adegan janggal serta cukup konyol sekaligus menggelikan.

Sepertinya Rian Johnson merubah esensi dan mitologi dari Star Wars itu sendiri, sehingga tidak memiliki pijakan kuat terhadap pengembangan karakter yang jelas.

Hadirnya beberapa karakter baru yang tidak menarik sama sekali, malah semakin menurunkan mood akan rasa petualangan baru di setiap filmnya, maka The Last Jedi bisa dianggap sebagai petualngan fiksi ilmiah generik.

Yang terparah yakni perubahan radikal Luke Skywalker menjadi “Jake”, bagaimana transformasinya saat ia sudah semakin berumur namun malah tidak semakin bijak, hanya karena kecewa dengan salah satu muridnya yang berpaling kepada Dark Side.

Masih tidak diketahui sosok Rey, siapa dia sebenarnya dan semakin jago tanpa melewati proses alamiah seperti halnya manusia berlatih untuk menjadi seorang Ksatria Jedi.

Adegan yang paling mengejutkan, tentu saja saat Luke melempar benda pusaka berupa lightsaber berwarna biru peninggalan Anakin seperti sampah, saat Rey bermaksud menyerahkan kepadanya.

Untungnya, ada adegan ‘hiburan’ yang mampu memberikan saya peringatan terhadap produk susu berwarna hijau, saat Luke memerah cairan dari mahluk berupa binatang besar layaknya peternak sapi!


Dunia Sinema Review The Last Jedi
Walt Disney Studios Motion Pictures
 
Lemahnya pengembangan karakter Finn, sehingga performanya menurun dibandingkan dalam film terduhulu, maka tidak ada lagi adegan atau dialog yang cukup renyah serta sedikit humor segar darinya. 

Hanya karakter Poe yang masih sama di film terdahulu, namun sayangnya karakter tersebut dibuat seakan ia selalu dinilai gegabah dan salah. Ia diinjak oleh karakter inferior tipe aktivis seperti Admiral Holdo, bukan tipe ksatria semacam Admiral Ackbar. 

Adapun karakter Rose Tico dengan penampilan yang sangat tidak impresif, tidak menarik, diperburuk dengan performa yang medioker dan membosankan. Begitu pula ikatan emosi absurd-nya dengan Finn, melalui beberapa adegan yang tidak enak dilihat dan dipaksakan. 

Padahal karakter Holdo dan Rose diperankan oleh kedua aktris yang punya potensi emas, jika naskahnya dikerjakan dengan baik. Dan kasihan sekali saat menyaksikan adegan Leia berubah menjadi “Mary Poppins”.

Buruknya eksekusi terhadap karakter super lemah seperti Snoke, serta Kylo tanpa helm, serta bertelanjang dada yang berinteraksi melalui kekuatan The Force dengan Rey mampu menciptakan fantasi konyol akan romantisme “Rey-Lo”.

Banyak sekali kejanggalan yang menjadikan The Last Jedi sebagai film Star Wars terburuk sepanjang masa, meski berbagai aksi laga pertempuran pesawat dan pertarungan cukup menghibur.

Jika Attack of the Clones (2002) diargumentasikan sebagai penghubung yang buruk bagi sebagian orang, maka bagi saya The Last Jedi merupakan sebuah jembatan yang ambruk!

Score: 0.5 / 4 stars | Pemain: Mark Hamill, Carrie Fisher, Adam Driver, Daisy Ridley, John Boyega, Oscar Isaac, Lupita Nyong’o, Andy Serkis, Domhnall Gleeson, Anthony Daniels, Gwendoline Christie, Kelly Marie Tran, Laura Dern, Benicio Del Toro, Frank Oz, Joonas Suotamo | Sutradara: Rian Johnson | Produser: Kathleen Kennedy, J.J. Abrams, Bryan Burk | Penulis: Berdasarkan karakter karya George Lucas. Naskah: Rian Johnson | Musik: John Williams | Sinematografi: Steve Yedlin | Distributor: Walt Disney Studios Motion Pictures | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 152 Menit

Comments