Perburuan (2019) : Drama Tanggung akan Pemberontakan, Pelarian dan Pengkhianatan

film perburuan drama tanggung
Falcon Pictures

Film Indonesia berdasarkan sejarah perjuangan kemerdekaan, kembali dirilis tahun lalu yang diadaptasi dari dua novel karya Pramoedya Ananta Toer, yakni Bumi Manusia dan Perburuan.

Khususnya untuk judul terakhir, saya baru mengetahui tema filmnya setelah ditonton, dengan mengambil kesimpulan tentang drama pemberontakan Tentara PETA, namun karena gagal maka timbul adanya pelarian seseorang. Dibalik semua itu, ada pengkhianatan yang menjadi hal umum berkenaan dengan politik dalam peperangan.

Sebelumnya, tanpa pernah mengetahui premis, saya langsung tonton dengan seditkit sekali informasi mengenainya sekaligus agak mengacuhkan para kru yang terlibat, mengingat saya hingga saat ini memang belum sanggup melahap sejumlah film produksi tanah air.

Berlatar belakang penjajahan Jepang, narasi film Perburuan mengangkat tema tentang pemberontakan Tentara PETA (Pembela Tanah Air) di Blitar tahun 1945 yang dipimpin Supriyadi, menjelang kejatuhan Jepang yang kemudian menyerah kepada Sekutu, sekaligus diakhiri dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Film Perburuan mengisahkan kegagalan pemberontakan PETA, maka pihak Jepang yang dipimpin Shidokan (Michael Kho) memburu dan mengeksekusi para pemberontak yang masih hidup.

Adapun Hardo (Adipati Dolken) yang selamat beserta beberapa rekannya termasuk Dipo serta Kartiman, harus bertahan hidup di hutan. Setelah berargumen, Hardo ditinggalkan oleh mereka sendirian untuk tinggal di sebuah gua dalam keadaan terguncang.

Setelah sekian lama, Hardo kembali ke Blora dan tak sengaja ditemukan oleh Lurah Kaliwangan (Egy Fedly), ayah Ningsih (Ayushita) yang merupakan kekasih Hardo. Sejak ibunya meninggal, serta keadaan ayahnya yang memprihatinkan, Hardo hidup dalam pelarian saat seseorang mengadu pada Shidokan, sehingga ia pun diburu oleh PETA.


pemberontakan pelarian pengkhianatan film perburuan
Falcon Pictures

Namun hal yang lebih pahit terjadi, bahwa sahabat sekaligus rekan Hardo, yakni Karmin (Khiva Ishak) lebih memilih setia kepada Shidokan untuk memburu dirinya. Sementara dalam perburuan tersebut, Hardo kembali bertemu dengan Dipo dan Kartiman.

Dalam durasi singkat sekitar 1,5 jam, rasanya sedikit aneh sebuah kepadatan skenario film ini mampu eksis dari adaptasi novelnya. Bagaimanapun juga, narasinya memang menarik terhadap kisah seseorang yakni seorang Tentara PETA, dalam hal ini karakter Hardo.

Aksi pengkhianatan terjadi pada dua sisi yang berlawanan, yakni Indonesia yang dikhianati oleh Karmin untuk memilih berada di pihak Jepang sebagai Tentara PETA, serta rekannya yakni Hardo yang melancarkan aksi pemberontakan dalam tubuh PETA terhadap Jepang.

Maka konflik internal dalam tubuh PETA pun yang berisi orang Indonesia, terbagi menjadi dua kubu.

Sejak saat itu, alurnya pun dibuat penasaran akan apa yang bisa dilakukan selanjutnya oleh sang karakter utama dalam hal ini Hardo, apakah menyusun rencana perlawanan, terus menghindar atau apakah ada kejutan lain menanti.

Sayangnya, skema cerita yang menarik itu pun kurang mampu diimbangi dengan performa optimal para aktor/aktrisnya, terutama dalam mengeksploitasi emosi serta ikatan diantara mereka. Mungkin yang terbaik yakni adegan dan dialog pertemuan Hardo dengan ayahnya.

Beberapa adegan dalam momen kejatuhan Jepang disertai dengan berita tentang proklamasi kemerdekaan, tentu saja mengharukan, bahkan dimulai dari adegan saat Hardo berargumen emosional dengan Dipo.

Adapun sejumlah kelemahan yang sangat terasa bagaikan sinetron yakni dalam adegan akhir yang begitu datar, sejak karakter kunci yang diharapkan melakukan sebuah reaksi, malah diluar ekspektasi. Hal tersebut malah sepertinya menjauhi logika dalam beraksi, yang secara teknis tidak bisa saya ungkapkan, berhubung dengan bocoran kisahnya.

eview ulasan sinopsis film perburuan
Falcon Pictures
 
Diperparah dengan aksi laga baku-tembak akan aksi pertama para pemberontak PETA yang dikoordinir oleh Hardo, begitu lemah dalam menyajikan berbagai mobilitas para karakternya, mungkin dikarenakan kurangnya visi terhadap teknik pengambilan gambar yang tidak mampu memberikan intensitas nyata terhadap audiens. 

Transformasi karakter Hardo yang diperankan Adipati Dolken cukup meyakinkan meski terlihat dengan brewok yang sepertinya artifisial. Sedangkan karakter lainnya cukup standar dan tidak ada yang istimewa.

Hal lainnya sepertinya memang klise akan perfilman nasional, bagaimana pemilihan para aktor/aktris yang lebih tepat untuk memerankan karakternya sendiri. Seperti Adipati Dolken yang memiliki wajah blasteran kulit putih, serta karakter Supriyadi dengan hal yang sama bahkan cenderung berwajah seperti orang Jepang.    

Sejumlah setting lokasi seperti ladang jagung beserta gubuk bambu, untungnya cukup mampu menolong visualisasi indahnya pedesaan serta panorama hutan lengkap dengan sungainya.

Sedangkan scoring yang dilantunkan terasa berlebihan, dengan mendominasi sepanjang adegan dari awal hingga akhir.

Entah apa yang salah: Narasi dari novelnya-kah, skenario adaptasi filmnya-kah atau saya yang tidak mampu mencerna dengan baik? Sehingga membuat film Perburuan tidak optimal dalam menyampaikan hal signifikan, setidaknya dari satu sisi saja secara memuaskan.

Bagi saya film Perburuan merupakan drama serba tanggung dalam menuntaskan eksplorasi lebih dalam terhadap aksi pemberontakan, pengkhianatan, maupun pelarian dan perlawanan, sehingga kurang terasa akan sebuah semangat emosional, kemarahan, tragedi atau bahkan kegembiraan sejati. 

Score: 1.5 / 4 stars

Perburuan | 2019 | Drama, Perang | Pemain: Adipati Dolken, Ayushita, Ernest Samudra, Khiva Ishak, Michael Kho, Egy Fedly, Nobuyuki Suzuki | Sutradara: Richard Oh | Produser: Frederica | Penulis: Berdasarkan novel Perburuan karya Pramoedya Ananta Toer. Naskah: Richard Oh, Husein M. Atmodjo | Musik: Purwacaraka | Sinematografi: Yoyok Budi Santoso | Distributor: Falcon Pictures | Negara: Indonesia | Durasi: 98 Menit

Comments

Popular Posts