Bumi Manusia (2019): Ketika Perbedaan Manusia Dibatasi

review film bumi manusia
Falcon Pictures

Film Bumi Manusia merupakan adaptasi dari sebuah novel period dengan judul sama karya sastrawan legendaris Pramoedya Ananta Toer, dengan setting di masa Hindia-Belanda dan disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Dengan materi yang tidak main-main dan didukung oleh sejumlah kru ternama seperti sineas Hanung yang memiliki reputasi tinggi, serta aktor/aktris kawakan seperti Sha Ine Febriyanti dan Ayu Laksmi, film Bumi Manusia sudah sewajarnya menjadi salah satu yang terbaik sesuai kriteria umum.

Dengan durasi film selama 3 jam lamanya, Bumi Manusia sukses menjaring penonton dengan pemasukan diatas 52 miliar rupiah atas biaya produksi sebesar 30 miliar rupiah. Selain itu pula dinominasikan di sejumlah ajang bergengsi termasuk Festival Film Indonesia dengan memenangkan beberapa kategori di Piala Maya dan Festival Film Bandung.

Baca juga: Perburuan (2019): Drama Tanggung akan Pemberontakan, Pelarian dan Pengkhianatan

Rencananya film Bumi Manusia akan menjadi pembuka berdasarkan novel tetralogi untuk kelanjutan tiga judul lainnya yakni Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah serta Rumah Kaca.

Film Bumi Manusia berlatar belakang jaman Kolonialisme Belanda berlokasi di Surabaya. Minke alias R.M. Tirto Adhi Soerjo (Iqbaal Ramadhan) adalah putra seorang calon Bupati B (Donny Damara) dan istrinya (Ayu Laksmi). Minke mendapat pendidikan Belanda dengan bersekolah di Hogereburgerschool (HBS).

Suatu hari ia diajak Robert Suurhof (Jerome Kurnia) mengunjungi temannya yakni Robert Mellema (Giorgino Abraham) di Wonokromo. Karena Minke adalah seorang pribumi dan bukan Indo-Belanda, ia pun diacuhkan oleh Robert Mellema.

Namun ia terkesima pada adik Robert yakni Annelies Mellema (Mawar Eva De Jongh) yang menyambutnya dengan hangat. Tak hanya disitu, Minke pun disambut sepenuhnya oleh ibu Annelies bernama Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti).

Perkembangan hubungan Minke dengan Annelies yang semakin romantis pun akhirnya mengilhami Minke menulis artikel di sebuah surat kabar mengenai keluarga Ontosoroh berdasarkan kisah yang diutarakan oleh Annelies kepadanya.
 

ulasan sinopsis film bumi manusia
Falcon Pictures

Menggunakan nama pena Max Tollenaar, tulisannya berbuntut ditangkapnya Minke oleh polisi. Sang ayah marah kepada Minke karena berhubungan dengan Annelies yang dikhawatirkan meninggalkan budaya dan tradisi Jawa yang telah dipegang teguh oleh keluarganya.

Namun Minke tetap berhubungan dengan Annelies bahkan hingga mereka menikah yang tentu saja direstui oleh Ontosoroh serta ibunda Minke, sekaligus mencurahkan kegundahan hatinya akan jurang pemisah antara Kaum Eropa dengan Pribumi, dengan terus menulis artikel di surat kabar.

Sejumlah permasalahan berujung konflik terjadi mulai dalam trauma Annelies, saat Robert Mellema yang membenci Minke bertengkar dengan ibunya, insiden ayah mereka yang ketika berada di rumah bordil, Robert Suurhof yang iri dengan Minke dan membocorkan identitas Tollenaar di surat kabar kepada seorang guru yang malah memuji tulisannya, hingga gugatan pengadilan terhadap pernikahan Minke dengan Annelies.

Untuk kesekian kalinya, tanpa mengindahkan novelnya, saya hanya meninjau dari sisi filmnya saja. Biasanya film berdurasi yang selama tiga jam mengisahkan perjalanan seorang karakter antar waktu dan usia, namun tidak halnya dengan film Bumi Manusia.

Karakter sentral Minke merupakan perwakilan dari kaum bangsawan yang memiliki keistimewaan dibandingkan rakyat jelata, mengenyam pendidikan dan memperoleh pengetahuan dari Barat melalui sekolah Kolonial Belanda.

Maka visi dan pemikiran Minke pun luas, sehingga ia mampu membandingkan berbagai pandangan antara Nusantara dengan Dunia Barat. Melalui narasi dalam adegan awal film, tampak sosok Minke mengisyaratkan untuk menjadi jembatan antara Barat dengan Nusantara.
 

Falcon Pictures

Ironisnya, beban yang ia rasakan justru citra kebangsawanan-nya alih-alih meneruskan serta bersikukuh pada warisan akan kultur dan tradisi Jawa yang melekat dalam keluarganya, melalui tahta di masa depan. Ia sejatinya memiliki jiwa yang bebas, ingin menjadikan lingkungannya sebagai “Bumi Manusia” tanpa diskriminasi diantara mereka semua.

Baca juga: Gie (2005): Catatan Perjuangan Aktivis Kemanusiaan Menentang Tirani

Momen romansanya dengan Annelies, semakin menegaskan visi Minke dalam menjembatani jurang pemisah yang dibuat oleh Kolonial Belanda atas nama sosial-politik dan ekonomi demi memperkaya bangsanya sendiri, meski di satu sisi memberikan pengetahuan modern untuk kemajuan peradaban.

Keluarga Mellema sendiri kerap mengalami dilema dan perpecahan di dalamnya. Sang ayah yakni Herman dalam kilas balik cerita, berada dalam keterpurukan jiwa sehingga ‘menyiksa diri’ di rumah bordil untuk mabuk-mabukan termasuk memakai opium dan jarang ada di rumah bersama keluarga.

Kontras dengan sang ibu yakni Nyai Ontosoroh dari sebuah tragedi suram yang bermula sebagai gundik, menemukan cinta dalam membangun keluarga bersama dengan Herman dan memiliki kedua anak yakni Robert dan Annelies.   

Anak mereka yakni Robert terjebak dalam pandangan picik dengan statusnya sebagai anak Indo (keturunan Eopa) namun tidak menyadari bahwa dirinya bukanlah orang Eropa tulen. Sementara Annelies sendiri menyadari sepenuhnya dan bahkan ia lebih membumi sebagai pribumi.

Begitu pula dengan teman-teman Minke yang sebagian merupakan Anak Indo, dalam kekontrasan sikap dan tindakan antara Robert Suurhof yang selalu dirinya berada di level atas dengan Jan Depperste (Bryan Domani) yang lebih senang menggunakan nama Panji Darman.

Penyampaian dialog dalam tiga bahasa yang berbeda sayangnya tidak disertai teks bawaan dari filmnya itu sendiri saat karakter mengucapkan bahasa Belanda dan Jawa.

Sedangkan gaya penuturan yang terjadi terhadap kisah Minke sendiri terasa mengaburkan hingga sulit membedakan apakah alur bergerak maju, maupun hadirnya ruang realita dan ilusi secara bersamaan.
 

Falcon Pictures

Dialog pertama kalinya antara Minke dengan seseorang berkebangsaan Perancis yakni Jean Marais saat sedang melukis pun terjadi secara tiba-tiba tanpa ada isyarat akan koneksi diantara keduanya, yang ternyata mereka adalah sahabat.

Karakter Minke yang diperankan Iqbaal Ramadhan boleh dikatakan serba tanggung mengingat citranya yang terlanjur lekat dengan karakter Dilan. Melalui penampilan wajah yang berkumis, tetap saja kurangnya karisma yang memadai, terutama akan gestur tubuh dan mimik jauh dari bersahaja, meski daam beberapa adegan menuju akhir cerita cukup meyakinkan.

Performa Sha Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh adalah segalanya di film ini, mengingat ia mengulangi perannya sejak di pentas teater, begitu pula dengan dukungan Ayu Laksmi sebagai ibunda Minke yang cukup emosional.

Sinematografi yang luar biasa dalam Bumi Manusia, sungguh memanjakan mata dalam buaian setting suasana rumah perkebunan dan peternakan milik keluarga Mellema, ataupun ruang yang mampu menghadirkan nostalgia akan stasiun kereta jaman dahulu kala lengkap dengan objek kereta api.

Sementara pewarnaan yang cenderung bernada lembut, benuansa pastel dan terkadang sephia dalam sejumlah adegan tertentu, termasuk juga pencahayaan halus menegaskan aspek klasik terhadap romantisme akan drama period.  
 
Film Bumi Manusia saya rasa cukup baik dalam menyajikan sebuah tontonan karya anak bangsa, tanpa perlu berlarut dalam romantisme belaka antara Minke dengan Annelies sekaligus mampu menyeimbangkan kegundahan Minke terhadap dua pandangan dari dunia berbeda dalam konteks sosial ruang lingkupnya.

Score: 3 / 4 stars

Bumi Manusia | 2019 | Drama, Period | Pemain: Iqbaal Ramadhan, Mawar Eva De Jongh, Sha Ine Febriyanti, Ayu Laksmi, Donny Damara, Bryan Domani, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia | Sutradara: Hanung Bramantyo | Produser: Frederica | Penulis: Berdasarkan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Naskah: Hanung Bramantyo, Salman Aristo | Musik: Andhika Triyadi | Sinematografi: Ipung Rahcmat Syaiful | Distributor: Falcon Pictures, Netflix | Negara: Indonesia | Durasi: 181 Menit

Comments