Footloose (1984): Ketika Dansa Menjadi Aktivitas Terlarang

footloose dansa terlarang
Paramount Pictures

Bayangkan jika aktivitas berupa dansa dilarang di sebuah kota kecil, yang diperparah dengan larangan mendengar lagu-lagu hits atau pop/rock yang berpotensi mengakibatkan dosa, apa jadinya?

Ide film Footloose terinspirasi dari peristiwa nyata yang terjadi di Elmore City, Oklahoma, bahwa kota kecil yang dikontrol oleh dominasi kaum relijius tersebut melarang aktivitas dansa yang dikhawatirkan akan membuat orang menjadi mabuk dan berzinah.

Premis kontroversial tersebut kemudian dituangkan ke dalam naskah oleh Dean Pitchford, beserta lirik tema lagu –dengan judul yang sama- yang nantinya dibawakan oleh Kenny Logins.


Meski secara kritik kurang memuaskan, kesuksesan film ini berhasil meluncurkan karir Kevin Bacon dan juga Lori Singer. Adapun di film ini adalah penampilan awal dari Sarah Jessica Parker yang kemudian populer dalam serial Sex and the City.

Film yang berstatus cult dan menjadi ikonik itu pula sukses dalam penjualan soundtrack albumnya yang terjual hingga lebih dari 9 juta kopi dalam pasar domestik saja. Tema lagu Footloose yang dibawakan oleh Kenny Loggins sempat meraih nominasi Oscar dan Golden Globe Awards.


Kepopuleran film tersebut akhirnya diadaptasi melalui pertunjukkan musikal di tahun 1998 dan pembuatan ulang di tahun 2011.


sinopsis film footloose
Paramount Pictures

Footloose menceritakan tentang seorang remaja bernama Ren McCormack (Kevin Bacon) bersama ibunya dari Chicago, pindah ke kota kecil Bomont di Utah. Mereka berdua tinggal bersama dengan keluarga dari saudara kandung ibunya.


Saat di sekolah, Ren berteman dengan Willard (Chris Penn), bahwa aktivitas dansa dan mendengarkan musik pop/rock dilarang di kota tersebut.

Saat Ariel (Lori Singer) diperkenalkan oleh ayahnya yakni Pendeta Shaw (John Lithgow) kepada Ren dan ibunya, Ariel dan Ren saling tertarik. Atas kecemburuan kekasih Ariel bernama Chuck, ia pun menjebak Ren, sehingga Shaw melarang Ariel bergaul dengan Ren. 

Shaw adalah salah satu anggota Dewan sekaligus Pendeta yang mencetuskan pelarangan aktivitas dansa dan mendengarkan musik pop/rock, yang dianggapnya membawa dosa dan pengaruh negatif bagi remaja.

Ren yang memiliki hasrat akan dansa dan mempertanyakan aturan tidak masuk akal tersebut, berniat untuk mengajukan aktivitas prom night untuk kelas senior. Didukung oleh Ariel, Willard dan teman-temannya, Ren mengajukannya saat pertemuan di Balai Pertemuan.

Mirip dengan film Saturday Night Fever (1977), Flashdance (1984) atau bahkan Dirty Dancing (1987), film Footloose boleh dibilang sebagai film musikal yang fokus pada aktivitas dan hasrat akan dansa yang dilakukan oleh karakter utamanya, Ren McCormack. 


review film footloose
Paramount Pictures

Saat adegan pembuka berupa pembuka serta judul kredit-nya pun, langsung diputar tema lagu Footloose yang dinyanyikan Kenny Loggins, dengan memperlihatkan beberapa gerakan kaki yang sedang dansa.

Kemudian adegan beralih dengan memperlihatkan beberapa pemandangan indah, dengan latar pegunungan salju di sekitar kota kecil bernama Bomont. Terdengar suara khotbah Pendeta Shaw dalam kebaktian Gereja, yang bersamaan dengannya melalui teknik split, adegan beralih di dalam Gereja saat ia menyampaikan pengaruh buruk musik rock & roll dan pornografi.

Dari adegan tersebut sudah jelas, ada kesan yang timbul bahwa Pendeta Shaw sendiri tampak ‘mengerikan’. Kemudian saat kamera menyorot karakter Ren, sepertinya ia gelisah dengan khotbah Shaw.


Dan bahkan hingga Ren dan Ibunya beserta keluarga pamannya sedang berbincang dengan Shaw dan sepasang suami-istri bernama Roger dan Eleanor, ketika ia menyukai buku Slaughter House Five, sontak respon Roger-Eleanor terlihat begitu negatif.

Yang mengejutkan adalah karakter Ariel yang notabene adalah putri seorang Pendeta (Shaw) bertindak liar dan cenderung memiliki hasrat bunuh diri meski hanya iseng dan fun, saat melakukan hal nekat bediri diantara dua mobil yang sedang melaju di hadapan sebuah truk yang berlawanan arah, ataupun ketika ia dengan sengaja berdiri di hadapan kereta yang melaju ke arahnya yang membuat Ren ketar-ketir.


Dua karakter utama Ren dan Ariel adalah salah satu contoh remaja yang kritis dan mempertanyakan sesuatu yang absurd terjadi di kota Bomont. Mereka juga memiliki latar belakang keluarga dengan masa lalu yang boleh dibilang sama-sama kelam.

ulasan film footloose
Paramount Pictures

Ren sebagai anak kota (Chicago) tentunya memiliki pengalaman lebih dibandingkan remaja di kota kecil seperti Bomont, adalah seorang remaja regular yang kehilangan ayahnya sejak pergi meninggalkan ibunya.

Sementara Ariel sengaja melakukan keliaran dan kenalakan remaja pada umumnya –namun tidak berbuat kriminal- untuk mempertanyakan tindakan ‘radikal’ ayahnya terhadap kehidupan sosial yang menyangkut spiritual di kotanya itu.

Hal tersebut tentu saja berkaitan dengan trauma tewasnya beberapa remaja yang mabuk dan ngebut di jembatan, hingga mengakibatkan mereka tewas di masa lalu.

Karakter kuncinya tentu saja Pendeta Shaw yang sedang ‘tersesat’ dan sepertinya terjebak alih-alih memanfaatkan posisi tanggung jawab besar spiritual semua penduduk kota, atas dasar insiden tewasnya para remaja di masa lalu, gara-gara musik rock dan aktivitas dansa, sehingga melarang semua bentuk itu dengan dalih ‘kejahatan’. 


Untung saja ia memiliki istri (Dianne Wiest) yang sangat setia, sabar dan penuh pengertian, di saat bersamaan berusaha meluruskan kembali hati Shaw.

Meski sekilas terkesan cheesy, secara keseluruhan arahan Herbert Ross melalui dialog dan adegan mampu memainkan emosi sekaligus mempertahankan mood audiens, untuk terus larut serta terjaga mengikuti alur hingga akhir cerita.


Masing-masing aktor/aktris di film ini, terutama John Lithgow tampil prima sebagai seorang yang selama ini tidak tahu apa yang ia sesungguhnya lakukan, juga Lori Singer yang melakukan tugasnya secara impresif terutama dialog dramatisnya dengan karakter Shaw.


aktivitas dansa terlarang film footloose
Paramount Pictures

Performa Kevin Bacon dalam film ini malah lebih menarik saat melakukan berbagai adegan dansa, dengan teknik koreografi yang menakjubkan.


Terdapat dua adegan paling dikenang, yang pertama yakni ketika ia melampiaskan kemarahannya melalui berbagai gerakan dansa dalam sebuah pabrik pengolahan baja dengan sorotan semi-siluet dan gerakan slow-motion yang berulang kali, serta diiringi lagu I’m Free-nya Kenny Loggins.

Yang kedua tentu saja adegan dansa dalam acara prom night yang paling epik di film ini. Adegan yang berdurasi selama empat menit tersebut begitu ikonik dan meriah, baik dari koreografi, teknik sorotan kamera yang terkadang overlap dengan beberapa refleksi bulatan cahaya berwarna yang transparan, tumpukan balon di bagian bawah, serta tak lupa sparkling rain.

Selain itu, adegan adu balap traktor antara Ren dan Chuck yang diiringi lagu Bonnie Tyler bejudul Holding Out of a Hero yang menggenjot adrenalin, juga menarik dan seru.


Serta beberapa adegan saat Ren melatih Willard yang diiringi lagu Deniece Williams, Let’s Hear it for the Boy, terlihat sangat menarik akan berbagai sorotan dalam sekuen yang mengundang tawa.

Musik dan lagu pengiring soundtrack era 80’an menurut saya adalah yang terbaik dalam hal membangkitkan spirit akan sinkronisasi antara adegan dan lagu (atau musik) yang dilakukan secara powerfull serta sepenuh hati dan jiwa apa adanya.

Film Footloose adalah salah satu contoh film dansa musikal terbaik yang menginspirasikan banyak film sejenis dalam generasi berikutnya. Apa jadinya jika aktivitas dansa menjadi hal yang tabu dan terlarang?

Score : 4 / 4 stars

Footlose | 1984 | Drama, Musikal, Dance | Pemain: Kevin Bacon, Lori Singer, Dianne Wiest, John Lithgow, Chris Penn, Jim Youngs, Sarah Jessica Parker | Sutradara: Herbert Ross | Produser: Lewis J. Rachmil, Craig Zadan | Penulis: Dean Pitchford | Musik: Tom Snow, Jim Steinman, Kenny Loggins, Dean Pitchford | Sinematografi: Ric Waite | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 110 Menit

Comments

Popular Posts