Grease (1978): Jatuh-Bangun Asmara dalam Citra Diri Geng Remaja

grease jatuh bangun asmara citra diri geng remaja
Paramount Pictures

Review sinema musikal Grease, film musikal tentang jatuh-bangun asmara dalam citra diri geng remaja.

Secara umum, kultur Amerika era 50'an memang unik bagaimana greaser merupakan ciri khas sebagai identitas remaja dan anak muda.

Greaser sendiri adalah bagian dari kultur modern Amerika yang populer di era 50'an, melalui tatanan minyak rambut, jaket kulit, kaos oblong dan celana jeans.

Sebagai salah satu film musikal populer dan ikonik, Grease telah dilestarikan dalam National Film Registry oleh Library of Congress.

Baca juga: La La Land (2016): Impian dan Kebersamaan

Film ini pula sukses secara finansial dan mendapat kritik positif, melahirkan sekuel di tahun 1982, serta pengembangan serial dan prekuelnya. 

Danny (John Travolta) dan Sandy (Olivia Newton-John) bertemu dan saling jatuh cinta pada liburan musim panas.

review film musikal grease
Paramount Pictures

Mereka akhirnya berpisah, karena Sandy harus kembali ke Australia, dan kegiatan sekolah pun kembali bergulir.

Danny adalah pemimpin geng greaser yakni T-Birds, berduet dengan sahabatnya Kenickie (Jeff Conaway), dan beranggotakan Doody, Putzie, serta Sonny.

Rival mereka yakni geng Scorpion yang dipimpin Leo (Dennis Cleveland Stewart) yang memiliki kekasih yakni Charlene.

Sementara dari barisan para gadis, ada geng Pink Ladies yang terdiri dari Betty (Stockard Channing), Frenchy, Jan, serta Marty.

Rupanya Danny tidak menyadari, bahwa Sandy mendadak menetap di Amerika, dan bergabung di sekolah yang sama.

Sandy lalu berteman dengan Frenchy dan diperkenalkan dengan geng Pink Ladies, meski disambut dingin oleh Betty.

Mereka terkejut saat Sandy menceritakan kisah asmaranya dengan Danny yang terkenal sebagai seorang playboy.

Dengan sikap sinis, segera saja Betty mempertemukan Sandy kepada Danny yang syok dengan keberadaannya.

sinopsis film musikal grease
Paramount Pictures

Meski awalnya mereka bergairah satu-sama lain, namun mendadak Danny mengingkarinya dan bersikap arogan demi menjaga citranya.

Sandy yang patah hati kemudian dekat dengan Tom (Loroenzo Lamas), meski Danny meminta maaf dan berusaha mendekatinya kembali.

Sementara Betty yang selalu sinis dengan percintaan juga mengalami pasang-surut hubungannya dengan Kenickie.

Baca juga: West Side Story (1961): Narasi Drama Musikal 'Romeo and Juliet'

Rivalitas Kenickie dengan Leo pun semakin memuncak saat mereka bergantian dengan pasangannya masing-masing setelah putus, hingga adu balap mobil.

Adapun Frenchy yang menjadi sahabat terdekat Sandy, sedang galau ingin putus sekolah dan menjadi ahli kecantikan.

Film Grease diadaptasi dari drama musikal panggung hasil karya Jim Jacobs dan Warren Casey.

alur cerita film grease
Paramount Pictures

Boleh dibilang sempurna dari seluruh aspek, Grease begitu memorable dan tidak pernah bosan saya tonton.

Film ini tidak hanya fokus pada hubungan antara Danny dan Sandy saja, namun berkaitan dengan sejumlah figur di sekeliling mereka.

Danny bagaikan dua personalitas yang memiliki alter-ego, baik sebagai greaser sekaligus berpacaran dengan Sandy yang konservatif.

Citra diri Danny yakni dekat dengan banyak gadis dan sebagai pemimpin geng T-Birds dan bersahabat dengan Pink Ladies.

Kontras saat ia menjalin asmara dengan Sandy yang konservatif, namun bersahabat dengan Frenchy dan berada di lingkungan Pink Ladies.

Performa John Travolta dan Olivia Newton-John sungguh total dalam berperan, menyanyi, sekaligus melakukan gerakan dance memukau.

Chemistry diantara keduanya sangat kuat dan solid, terutama harmonisasi vokal saat berduet.

Figur Betty Rizzo mencuri perhatian, dalam masa krisis pencarian jati diri dalam pergaulan dan hubungan asmaranya.

Keunikan lain dalam Pink Ladies selain Frenchy, juga ada Marty yang terobsesi dengan pria dewasa, serta Jan yang terkesan konyol.

ulasan film musikal grease ikonik
Paramount Pictures

Banyak sekali adegan yang dikenang dan ikonik, masing-masing memiliki kesan mendalam dan emosional.

Koreografinya pun luar biasa, dan mungkin adegan paling intens dan seru, yakni saat pesta dansa perpisahan senior.

Dari sejumlah yang disajikan, tentu saja ada "Summer Nights", lalu balada tajam "Hopelessly Devoted to You", dan tentu saja "You're the One That I Want".

Akhir sekaligus lagu penutup "We Go Together" di film ini sungguh berkesan, dengan setting dalam karnaval.

Baca juga: Footloose (1984): Ketika Dansa Menjadi Aktivitas Terlarang

Selain itu, lagu "Grease Lightnin" memeriahkan suasana dan adegan diiringi "There are Worse Thing I Could Do" tak kalah emosionalnya.

Sedangkan dalam kredit pembuka maupun penutup, lagu "Grease" yang dilantunkan Frankie Valli.

Diantara sekian banyak film musikal, sulit menghindari Grease sebagai yang terfavorit menurut saya pribadi.

Film ini sangat direkomendasikan bagi yang menyukai genre sejeinis.

Itulah review sinema musikal Grease, film tentang jatuh-bangun asmara dalam citra diri geng remaja.

Score: 4 / 4 stars

Grease | 1978 | Musikal, Komedi, Remaja | Pemain: John Travolta, Olivia Newton-John, Stockard Channing, Jeff Conaway, Eve Arden, Frankie Avalon, Joan Blondell, Edd Byrnes, Sid Caesar, Alice Ghostley, Dody Goodman, Sha Na Na | Sutradara: Randal Kleiser | Produser: Robert Stigwood, Allan Carr | Penulis: Berdasarkan drama musikal panggung Grease karya Jim Jacobs dan Warren Casey. Skenario: Bronte Woodward, Allan Car | Musik: Michael Gibson | Sinematografi: Bill Butler | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 110 menit

Comments