Enter the Dragon (1973): Jembatan Kultur Martial Arts 'Sang Naga'

enter the dragon jembatan kultur martial arts sang naga
Golden Harvest, Warner Bros Pictures

Bruce Lee adalah figur sekaligus perwakilan Asia, dalam menghantarkan martial arts menjadi bagian dari budaya populer (pop culture) terhadap perfilman Amerika secara global.

Melalui film Enter the Dragon, ia bagaikan 'Sang Naga' yang menjembatani perbedaan kultur dan menghapus citra negatif terhadap stereotip imigran Asia Timur dalam sejarah panjangnya di negara Barat.

Publik mulai terkesima dengan keunikan gaya bertarung-nya Bruce Lee yang mengkreasi aliran bela diri Jeet Kune Do hasil kombinasi dari sejumlah aliran yang ia pelajari, termasuk dari gurunya yakni Ip Man.

Di sepanjang karirnya, Lee hanya membintangi beberapa film lepas produksi Hongkong yang dirilis antara tahun 1971 hingga 1972, namun kini berstatus legendaris. Karirnya di Amerika dikenal melalui serial The Green Hornet di era 60’an sebagai Kato.

Baca juga: Once Upon A Time in Hollywood (2019): Saga Epik Transisi Era 'Klasik' dan 'New Wave' Hollywood

Filmnya yang terlaris dan seharusnya membuka jalan lebar bagi karirnya yakni Enter the Dragon, menjadi film terakhirnya setelah kematian mendadak di usia 32 tahun. Sedangkan film Game of Death (1978) pun sejatinya belum tuntas proses produksinya saat itu.

Sebagai salah satu film martial arts terbaik dan terlaris sepanjang masa, di tahun 2004 Enter the Dragon dinobatkan oleh Library of Congress sebagai yang signifikan secara kultur, historis, atau estetis. Film ini pula yang menjadi pelopor kombinasi antara Blaxploitation dengan bela diri menuju jalur utama.

Enter the Dragon mengisahkan Lee (Bruce Lee) adalah seorang artis bela diri dan instrukstur shaolin di Hongkong. Ia ditugasi oleh gurunya yang bekerjasama dengan seorang agen, untuk menyelidiki sekaligus menangkap seorang kriminal bernama Han (Shih Kien).

review film enter the dragon
Golden Harvest, Warner Bros Pictures

Melalui informasi dari gurunya, Han adalah mantan muridnya yang mencederai nilai-nilai shaolin dengan berpaling menjadi jahat. Seorang agen bernama Braithwaite (Geoffrey Weeks), memberikan info kepada Lee, bahwa Han mengasingkan diri di sebuah pulau yang dibelinya dan mengadakan turnamen bela diri secara rutin.

Sebagai motivasi atas terbunuhnya adik kandung Lee, penyusupan dilakukan dengan mendaftarkan diri sebagai salah satu peserta kompetisi. Dalam perjalanan menuju kompetisi di pulau milik Han, seorang penjudi bernama Roper (John Saxon) dan seorang pelarian polisi bernama Wiliams (Jim Kelly) juga turut serta.

Mereka tiba di pulau tersebut yang dipandu oleh Tania (Ahna Capri). Dibantu oleh seorang mata-mata bernama Mei Ling (Betty Chung), Lee setiap malam menyelidiki komplek tersebut, guna mengumpulkan bukti bahwa Han memproduksi dan mengoperasikan narkoba.

Rupanya Han mengetahui ada seorang peserta kompetisi yang hendak mengacaukan operasi terselubungnya, hingga ia berupaya dengan segala cara menghancurkan mereka melalui adu domba, termasuk berhadapan dengan pengawal pribadinya yakni O’ Hara (Bob Wall) dan petarung terbaiknya yakni Bolo (Bolo Yeung).

Film Enter the Dragon sangatlah sederhana dalam penyampaian premis yang mengisahkan karakter heroik dalam menumpas seorang kriminal, namun yang paling menarik tentunya pengenalan gaya bertarung ala Bruce Lee kepada publik internasional, sehingga menjadi jembatan ideal antara Dunia Timur dengan Barat dalam konteks dunia modern.

Film ini menjadi sebuah acuan bagi para generasi penerus yang melibatkan sejumlah aktor/aktris bela diri terhadap tema yang mengeskploitasi kompetisi dan pertarungan individu. Tambahan elemen thriller petualangan agen rahasia yang terasa bagaikan menikmati film James Bond era 70’an bergaya martial arts … terkesan berlebihan, tapi cukup pantas.

film enter the dragon martial arts sang naga
Golden Harvest, Warner Bros Pictures

Pertarungan internasional dalam kompetisi yang diselenggarakan sang antagonis Han, sejatinya merepresentasikan keberagaman sosok protagonis meski terkandung anti-hero seperti halnya karakter Kulit Putih Roper dan Kulit Hitam Williams yang kontras dengan motivasi seorang Lee.

Maka martial arts adalah seni bela diri inklusif dan universal melalui Enter the Dragon, meski dapat diargumentasikan bahwa sejumlah film yang dibintangi Chuck Norris, Cynthia Rothrock, Jean-Claude Van Damme, Steven Seagal, Jason Statham hingga Scott Adkins dalam pembentukan citra ‘Whitewashing’ misalnya, tetap saja beberapa diantaranya menghadirkan film yang impresif.

Kebetulan film Enter the Dragon memiliki segalanya dalam pembentukan citra positif yang lepas dari politik identitas omong kosong karena semakin merajalela saat ini, melalui narasi terpilih, skenario menarik, karakterisasi kuat, arahan dan gaya fantastis dalam implementasi elemen thriller dan aksi laga, serta koreografi solid.

Banyak sekali adegan memorable yang hadir dan bahkan terjalin dalam rangkaian di sepanjang cerita film, seperti karisma Lee saat mendidik anak buahnya, kilas balik trio Lee-Roper-Williams saat berada di atas perahu, pesta sebelum kompetisi dimulai, pengintaian malam, hingga tentu saja adegan pertarungan baik satu-persatu hingga menuju akhir cerita yang begitu epik.

Bruce Lee sebagai bintang utama, saya rasa memegang kendali penuh atas kreativitas adegan laga-nya, sesuatu yang bisa Jackie Chan lakukan di era 90’an dalam kerjasama dengan Hollywood. Performa aktor veteran John Saxon dan debutan saat itu, Jim Kelly tak kalah impresifnya. Catatan tersendiri bagi karakter Williams yang mengangkat Blaxploitation secara pas.

Sang antagonis Han yang diperankan Shih Kien memang klise dan dibuat sesederhana mungkin, sebagai seorang yang kejam, tanpa ampun serta licik. Berbanding lurus dengan karakter Tania yang diperankan Ahna Capri sebagai seorang femme fatale dan O’ Hara yang diperankan Bob Wall, juga tidak sesuai ekspektasi menuju akhir.

ulasan sinopsis enter the dragon
Golden Harvest, Warner Bros Pictures

Namun peran Bolo Yeung yang mematikan tersebut, menjadi nilai tersendiri di film ini sebagai sosok yang patut ditakuti oleh lawan-lawannya. Sebuah kejutan terjadi menuju hasil akhir terhadap karakternya itu. Adapun peran kecil Sammo Hung dan Jackie Chan, turut serta meramaikan Enter the Dragon sebagai awal karir perfilman mereka.

Film Enter the Dragon yang disutradarai spesialis aksi laga yakni Robert Clouse, mampu menjadikan momentum perdananya menangani genre martial arts sesuai dengan porsi yang estetis. Begitu pula scoring ikonik yang diaransemen Lalo Schrifin, memperkuat suasana era 70’an yang kental dengan kombinasi kultur Barat dan Timur.

Bagi para penggemar film aksi laga dan martial arts khususnya, Enter the Dragon adalah tontonan wajib yang membuka jalan untuk masuk ke dalam sarang 'Sang Naga’ sebagai jembatan dari simbol keunggulan kultur Oriental di dunia Barat.

Happy Chinese New Year!                

Score: 4 / 4 stars

Enter the Dragon | 1973 | Aksi Laga, Martial Arts | Pemain: Bruce Lee, John Saxon, Ahna Capri, Bob Wall, Shih Kien, Jim Kelly | Sutradara: Robert Clouse | Produser: Fred Weintraub, Paul Heller, Raymond Chouw | Penulis: Michael Allin | Musik: Lalo Schrifin | Sinematografi: Gilbert Hubbs | Distributor: Golden Harvest (Hongkong), Warner Bros Pictures (Internasional) | Negara: Hongkong, Amerika Serikat | Durasi: 99 Menit

Comments