Ben-Hur (1959): Kejatuhan, Kebangkitan serta Proses Pengampunan

review film ben-hur
Metro-Goldwyn-Mayer

You may conquer the land, you may slaughter the people. That is not the end. We will rise again.

Konsep tentang kejatuhan, kebangkitan maupun penebusan atau juga pengampunan dalam sebuah film sepertinya sudah biasa, namun mungkin tak ada yang paling spektakuler seperti film Ben-Hur versi 1959.

Diadaptasi dari novel Ben-Hur: A Tale of the Christ karya General Lew Wallace, filmnya mengintegrasikan dua hal terpisah yang kemudian digabungkan menjadi satu, yakni karakter utama Judah Ben-Hur dengan sosok Yesus sesuai tradisi dan ajaran Kekristenan.

Sebagai kategori film yang epik dan kolosal tanpa bantuan manipulasi CGI saat itu, film Ben-Hur memiliki dampak sangat signifikan dalam industri perfilman dunia, baik melalui narasi adaptatif dari sebuah novel, performa terhadap karakterisasi kuat, sekuen aksi laga fantastis, serta masih banyak keunggulan lainnya.

Sebagai salah satu dari tiga film selain Titanic (1997) dan Lord of the Rings: The Return of the King (2003) yang meraih rekor sebanyak 11 piala Oscar, film Ben-Hur juga mencetak box office sebagai yang terlaris di tahun 1959 sekaligus kedua terlaris sepanjang masa setelah Gone with the Wind (1939) sebelum inflasi.

Pendapatan filmnya yang besar, memang awalnya mengorbankan biaya yang termahal saat itu bagi studio MGM setara sekitar 130 juta Dollar Amerika setelah inflasi. Di tahun 2004, film Ben-Hur masuk dalam daftar pelestarian oleh National Film Registry dari Library of Congress.

Di tahun 2016 film ini lagi-lagi dibuat ulang namun gagal total, sehingga entah apa yang merasuki mereka alih-alih ingin menyajikan sebuah intepretasi atau sudut pandang baru dalam total adaptasi ke-5 setelah versi bisu di tahun 1907 dan 1925, versi 1959 serta animasi di tahun 2003.

26 Masehi, masa ketika Yerusalem dikuasai Romawi, dua orang sahabat dari masa kecil bertemu kembali, yakni Judah Ben-Hur (Charlton Heston) seorang pangeran dan pengusaha kaya Yahudi, dengan Messala (Stephen Boyd), seorang komandan militer Romawi.


sinopsis film ben-hur
Metro-Goldwyn-Mayer

Reuni keduanya seketika berubah menjadi konflik dengan tensi tinggi, saat Messala dengan ambisi karir dan impian kejayaan Romawi-nya, mengajak Judah bekerjasama untuk menghancurkan gerakan perlawanan terhadap Romawi, yang ditolak Judah karena mengorbankan rakyatnya sendiri.

Keluarga Judah juga kedatangan keluarga dari budak mereka, meminta restu atas rencana pernikahan putri mereka yakni Esther (Haya Harareet) dengan pria yang akan dijodohkannya, namun Judah dan Esther saling jatuh cinta setelah mereka terakhir bertemu pada masa kecil.

Hingga suatu hari, saat ada iringan tentara Romawi menyambut seorang gubernur yang baru diangkat yakni Valerius Gratus, Judah dan adiknya, Tirzah yang menyaksikan dari atas rumah, tak sengaja menjatuhkan genteng hingga menimpa Valerius.

Atas tuduhan usah pembunuhan terhadap Gratus, Messala yang masih sakit hati terhadap Judah, menangkap Miriam ibunya Judah serta Tirzah ke dalam penjara, sementara Judah sendiri dijadikan budak tawanan.

Tiga tahun berlalu saat Judah menjadi budak pendayung di sebuah kapal perang guna persiapan peperangan di laut terbuka dengan armada Macedonia. Terkesan dengan ketngguhan Judah, pemimpin armada laut Romawi, yakni Konsul Quintus Arrius (Jack Hawkins) sengaja tidak mengikat kaki Judah agar mengantisipasi penyelamatan kapal.

Kaisar Romawi yakni Tiberius mengangkat jabatan Arrius yang kemudian mengadopsi Judah sebagai anak angkatnya karena balas budi sejak menyelamatkan nyawanya. Di kota Roma, Judah pun berulangkali menjuarai lomba pacuan kuda Romawi.
 

ulasan film ben-hur
Metro-Goldwyn-Mayer

Keresahan hatinya membuat Judah kembali ke Yerusalem bersamaan dengan pengangkatan gubernur baru yakni Ponsius Pilatus. Dalam perjalanannya, Judah bertemu dengan Balthasar (Finlay Currie) dan seroang Shiekh yang terobsesi dengan pacuan kuda.

Misi final Judah tentu saja kembali berkonfrontasi dengan Messala, sekaligus mencari keberadaan ibu dan adiknya, namun ia mengalami pertemuan tak terduga dengan Esther dan ayahnya. Esther pula yang menyarankan Judah untuk menjadi saksi Yesus dan mendengarkan ajaran-NYA.

Melalui sebuah premis dalam kronologi sejarah dan peristiwa religius, narasi Ben-Hur yang ada di dalam novel maupun adaptasi filmnya tersebut begitu mengesankan seakan seperti kisah nyata.

Karakter fiktif seperti Judah Ben-Hur dan keluarganya, Esther dan ayahnya maupun dari pihak Romawi seperti Messala dan Quintus Arrius, mampu terintegrasi ke dalam peristiwa nyata akan sosok Yesus serta sejumlah tokoh sejarah Romawi seperti Ponsius Pilatus, Kaisar Tiberias serta Balthasar.

Konsep tentang kejatuhan yang dialami Judah yakni ia sekeluarga menjadi tersangka dan dihukum oleh Romawi, karena sakit hati Messala. Ibu dan adiknya dipenjara, sedangkan ia dijadikan budak tawanan. Kasih Yesus mulai ‘menyentuh’ Judah dalam adegan saat Ia memberikan air minum.

Konsep kebangkitan dialami oleh Judah setelah tindakan heroiknya menyelamatkan Arrius sehingga ia menjadi bagian dari Romawi, yang secara duniawi begitu superior dan sedang berjaya.
 

ben-hur kejatuhan kebangkitan
Metro-Goldwyn-Mayer

Konsep pengampunan inilah yang terberat dirasakan oleh Judah saat ia dijatuhkan oleh Messala dengan kejam dan tanpa ampun, baik terhadap dirinya maupun keluarganya. Judah masih berkeras hati dan memiliki dendam serta amarah terhadap Messala, hingga melalui Esther-lah Judah mulai mengenal Yesus.

Mereka yang percaya bahwa Yesus adalah Sang Mesias, bahwa kejatuhan dan kebangkitan-NYA yakni mati di kayu salib, kemudian bangkit di hari ke-3. Pengampunan adalah bagian dari ajaran-NYA, sedangkan penebusan merupakan inti dan tujuan-NYA hidup sebagai manusia di dunia.

Maka persamaan konsep tersebut mampu memadukan narasi Ben-Hur menjadi sebuah literatur serta tontonan yang menarik. Hanya saja sepertinya tidak ada konsep penebusan yang terjadi pada diri Judah, sejak ia tidak mampu menyelamatkan ibu dan adiknya untuk terhindar dari hukuman Romawi.

Film Ben-Hur menitikberatkan pada sebuah hubungan antara dua karakter utama yang saling bertentangan, yakni Judah orang Yahudi dengan Messala orang Romawi. Meski terkesan Messala sebagai sang antagonis, namun baik dirinya maupun Judah pun sama-sama memiliki kekerasan hati yang mengubah sisi manusiawi mereka.

Hal itulah yang ditantang oleh Esther setelah ia mengikuti ajaran Yesus tentang kasih dan pengampunan. Hubungan kuat Judah dengan Esther pun juga teruji.

Lain pula dengan hubungan Judah dengan Arrius yang menekankan kepada hutang nyawa setelah Judah menyelamatkan Arrius yang sedari awal menandakan dirinya, untuk menjadi seorang yang berpotensi menjadi ‘juru selamat’ pada saat peperangan berlangsung.

Hubungan timbal-balik diantara mereka memang nyata adanya, sejak awal dikisahkan bahwa Judah tinggal bersama ibu dan adiknya tanpa sosok ayah, sedangkan Arrius juga kehilangan putranya. Sosok Arrius jauh dari kata "kejam" saat ia memperlakukan para budak tawanan.
 

ben-hur proses pengampunan
Metro-Goldwyn-Mayer

Selain karakterisasi mengagumkan dalam film ini, tentu saja berbagai set desain akan berbagai bangunan atau perkotaan, terutama arena pacuan kuda, sungguh fantastis dan luar biasa, mengingat pihak MGM menghabiskan dana yang tinggi untuk film ini.

Saya sangat mengagumi suasana dalam semua adegan terhadap set desain kediaman keluarga Judah, pelataran istana kaisar di kota Roma serta arena pacuan kuda yang lengkap dengan perincian setiap bangunan yang ada, termasuk tribun penonton.

Adegan aksi laga pacuan kuda tersebut, menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa. Bagaimana kepiawaian William Wyler dalam mengarahkan sang sinematografer, Robert L. Surtees untuk mengambil dari berbagai sudut dan arah gerak dinamis, sehingga menimbulkan mood dan memicu adrenalin secara intens.

Hebatnya lagi, bagaimana bisa dalam sorotan dari arah belakang, tampak kereta yang ditunggangi Judah dalam gerakan cepat mampu menyusul dan menyalip sekitar empat kereta di depannya, sungguh teknis yang luar biasa!

Tak lupa pula adegan pertempuran armada laut antara sejumlah kapal Romawi dengan Macedonia pun lumayan menghibur, meski terlalu kentara akan trik-nya, seperti menggerakkan miniatur, meski saya suka dengan harmonisasi dalam adegan di dalam kapal antara para budak tawanan yang mendayung sesuai arahan komando yang disampaikan melalui ritme taburan drum.

Tanpa adanya CGI, unsur kolosal yang melibatkan ribuan ekstra di film ini juga sangat berkontribusi dalam menghidupkan sejumlah adegan yang realistis, seperti dalam tribun arena pacuan kuda ataupun di perbukitan saat mereka hendak mendengar khotbah Yesus.

Maka tak heran jika urusan teknis lainnya seperti busana, desain produksi hingga musik dan scoring di film ini pun patut dipuji karena memang mengesankan. Namun ada beberapa hal yang sepertinya agak klise, seperti dalam adegan akhir bagaimana mukjizat dengan mudahnya bekerja bagiakan sulap.

Film Ben-Hur unggul dalam menyajikan hampir seluruh aspek terbaiknya, terutama bagaimana sang karakter utama mengalami konsep akan kejatuhan dan kebangkitan, melalui proses pengampunan, dan terintegrasi dengan kehidupan dan karya dari sosok Sang Juru Selamat.

Score: 3.5 / 4 stars

Ben-Hur | 1959 | Petualangan, Historikal, Religi | Pemain: Charlton Heston, Jack Hawkins, Haya Harareet, Stephen Boyd, Hugh Griffith, Martha Scott, Cathy O’Donnell, Sam Jaffe | Sutradara: William Wyler | Produser: Sam Zimbalist | Penulis: Berdasarkan novel Ben-Hur: A Tale of the Christ karya General Lew Wallace. Naskah: Karl Tunberg | Musik: Miklós Rósza | Sinematografi: Robert L. Surtees | Distributor: Metro-Goldwyn-Mayer | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 212 Menit

Comments