Review Last Night in Soho, Horor Nostalgia yang Bakal Dikenang Selalu

last night in soho horor nostalgia bakal dikenang selalu
Universal Pictures

Film Last Night in Soho adalah sebuah horor nostalgia yang bakal dikenang selalu.

Elegan dan pemikat hati, narasi Last Night in Soho mampu mewujudkan nostalgia, sehingga nantinya bakal dikenang audiens selalu.

Premis yang kembali bernostalgia ke era 60'an dan eksekusi yang cerdas namun sederhana, akan dikenang selalu melalui Last Night in Soho

Di jaman sekarang ini, jarang sekali ada film thriller misteri plus elemen horor psikologis dengan kisah dan karakter yang menarik.

Sejak Far-Left merusak dunia perfilman dengan pemaksaan ideologi politik identitas, audiens normal butuh hiburan bermutu.

Film Last Night in Soho menjawab kehausan audiens akan sajian yang menarik, bertemakan pengalaman seorang gadis muda menelusuri misteri figur di masa lalu.

Sineas Edgar Wright mampu membuat premis Last Night in Soho menarik dan mengundang rasa penasaran sejak awal, melalui cuplikan filmnya. 

Wright selain dikenal karena penyutradaraan film Shaun of the Dead (2004) dan trilogi Three Flavours Cornetto, juga piawai sebagai penulis film Tintin (2011).

Last Night in Soho mengisahkan Ellie (Thomasin McKenzie) seorang gadis muda penyuka Swinging Sixties era 60'an.

Ia ditinggal mati ibunya saat masih belia dan tinggal bersama neneknya di suatu pedesaan.

Suatu hari ia diterima kuliah di London College of Fashion dan tinggal di asrama. 

Ia mendapatkan bully dari teman sekamarnya, Jocasta, namun ada John (Michael Ajao) teman kuliah yang simpati terhadapnya.

sinopsis last night in soho
Universal Pictures

Tak tahan, Ellie menyewa kamar di Goodge Street yang dimiliki Ms. Collins (Diana Rigg), dan ia malamnya bekerja di bar untuk membayar sewa kamar.

Malam pertama dalam tidurnya, Ellie mengalami mimpi berupa visi mengenai dirinya menjelma menjadi seorang gadis bernama Sandie (Anya Taylor-Joy).

Ia berada di sebuah klub di era 60'an dalam masa London Swinging, yang memiliki ambisi menjadi seorang penyanyi. 

Ellie yang terkadang menjadi Sandie sekaligus mengamatinya, bertemu dengan Jack (Matt Smith).

Sandie berhasil meyakinkan Jack dan rekannya, bahwa ia mampu bernyanyi. Namun apa yang terjadi kemudian, malah menghancurkan hidupnya.

Sementara Ellie dalam kehidupan nyata, mendesain pakaian yang terinspirasi dari Sandie.

Ellie pun setiap malam, semakin terbawa suasana yang memburuk atas apa yang menimpa Sandie.

Akibatnya dalam kehidupan nyata, ia mengalami sejumlah visi menyeramkan, seakan ia menglaami guncangan jiwa.

Film Last Night in Soho adalah salah satu contoh terbaik, bagaimana meramu cerita misteri dengan aspek nostalgia ikonik era 60'an.

Gerakan Swinging Sixties atau yang biasa disebut Swinging London di era tersebut, memang menjadi budaya tandingan menarik di jamannya.

alur cerita last night in soho
Universal Pictures

Baca juga: Blow-Up (1966): Eksploitasi Lensa Kamera

Sejumlah adegan film Last Night in Soho menyajikan hal yang ikonik, baik secara visual maupun soundtrack lagu.

Dalam adegan awal Ellie saat memasuki visi di era 60'an, tampak jelas terpampang neon box film James Bond, Thunderball (1965).

Hal paling mencolok tentu saja objek piringan hitam dan sejumlah soundtrack, termasuk lagu "Got My Mind Set on You" versi orisinal. 

Tapi di atas semuanya, lagu "You're My World" adalah yang terbaik dan paling emosional.

Hal paling utama dan krusial di film ini yakni bagaimana kepiawaian Wright dalam menyajikan sebuah thriller misteri yang enak untuk dinikmati.

Pesona Thomasin McKenzie dan Anya Taylor-Joy mampu memberikan energi tersendiri.

Sementara para pendukungnya pun tak kalah cemerlangnya, terutama dari aktor veteran Terrence Stamp yang misterius.

Alur film Last Night in Soho paling mudah diikuti, bagaimana satu-persatu sang figur utama yakni Ellie mengalami peristiwa yang semakin menghantui dirinya.

review ulasan last night in soho
Universal Pictures

Sebuah pelintiran besar pun dibangun secara perlahan, namun akhirnya mampu memperdaya audiens dengan cerdas.

Baca juga: Jacob's Ladder (1990): Jenjang Paranoia Mengerikan

Gaya penyutradaraan Wright di film ini mampu menuntun audiens, tanpa harus sibuk berpikir keras ada apa dibelakang semua ini.

Teknk pengambilan sorotan kamera, baik dari pererakan maupun angle tampak bergaya Hitchcock, pada beberapa adegan tertentu turut memompa emosi audiens.

Oh ya, eksekusi jump scare Last Night in Soho juga tidak lebay, lebih cenderung mengerikan daripada kaget semata.

Elemen noir di film ini pun kuat akan kombinasi pewarnaan dan pencahayaan neon di kamar Ellie, dipadukan dengan glamoritas di klub malam.

Saya rasa secara keseluruhan, Last Night in Soho mengingatkan akan gaya film Mulholland Drive (2001), tapi dengan versi ringan dan menghibur.

Boleh dikatakan basis film ini mungkin terinspirasi dari Alfred Hitchcock, David Lynch, Dario Argento, ataupun Brian DePalma.

Film Last Night in Soho sederhananya mampu mengkreasi kisah yang tidak klise, mudah dinikmati, serta memikat dengan tulus.

Saya yakin bahwa Last Night in Soho adalah sebuah horor nostalgia yang bakal dikenang selalu.

Score: 4 / 4 stars

Last Night in Soho | 2021 | Thriller, Misteri, Horor | Pemain: Thomasin McKenzie, Anya Taylor-Joy, Matt Smith, Michael Ajao, Terence Stamp, Diana Rigg | Sutradara: Edgar Wright | Produser: Nira Park, Tim Bevan, Eric Falner, Edgar Wright | Penulis: Edgar Wright. Naskah: Edgar Wright, Krysty Wilson-Cairns | Musik: Steven Price | Sinematografi: Chung-hoon Chung | Distributor: Universal Pictures | Negara: Inggris Raya | Durasi: 116 menit

Comments