West Side Story (1961) : Narasi Drama Musikal ‘Romeo and Juliet’

review film west side story
United Artists, MGM Pictures

Terinspirasi dari karya Shakespeare yakni Romeo and Juliet, kisah drama teater West Side Story diadaptasi ke dalam film musikal, sebagai salah satu format live-action dengan ide orisinal yang terpopuler dan fenomenal.

Sebagai film terlaris sepanjang tahun 1961, West Side Story juga memborong 10 penghargaan Oscar dari total 11 nominasi, termasuk kategori Best Picture, sebuah rekor yang belum terpatahkan oleh film musikal lainnya.

Selain itu, film West Side Story juga masuk dalam National Film Registry sebagai yang signifikan secara kultur. Rencananya di bulan Desember nanti, pembuatan ulang filmnya akan disutradarai Steven Spielberg. Kita lihat saja hasilnya nanti.
 
Baca juga: La La Land (2016): Impian dan Kebersamaan

West Side Story berlatar belakang di era 50’an, berlokasi di Upper West Side kota New York, yang didominasi dengan lingkungan kelas pekerja dan warga multi-etnik.

Adapun dikisahkan tentang dua geng remaja yang berseteru, yakni the Jets yang dipimpin oleh Riff (Russ Tamblyn) dan beranggotakan para remaja kulit putih dengan the Sharks yang dipimpin oleh Bernardo (George Chakiris) beranggotakan keturunan Puerto Rico.

Perseteruan mereka kerap menyulitkan Letnan Polisi Schrank (Simon Oakland) yang berupaya melerainya, sejak kedua geng tersebut saling mengklaim wilayahnya masing-masing.

ulasan film west side story
United Artists, MGM Pictures

Situasi menjadi rumit tatkala Riff suatu hari meminta bantuan pada Tony (Richard Beymer) mantan the Jets guna mengumpulkan kekuatan, yang jatuh cinta pada Maria (Natalie Wood) yakni adik kandung Bernardo, dalam sebuah pesta dansa.

Keributan hampir saja terjadi, hingga kedua geng bersepakat untuk bertemu di sebuah apotik milik Doc, guna membahas “pertarungan akbar” mereka untuk selamanya. Meski demikian, Tony sebagai penengah berupaya untuk menghentikan permusuhan.

Hubungan romantis terlarang antara Tony dengan Maria, akhirnya diketahui oleh kekasih Bernardo yakni Anita (Rita Moreno) yang memang tidak pernah menyukai pihak the Jets.

Pada saat kedua kubu hendak bertarung antara Bernardo dengan Riff, tiba-tiba Tony datang untuk melerainya. Namun apa yang terjadi kemudian, merupakan sebuah kejutan menuju tragedi yang mempengaruhi kehidupan mereka sesaat setelahnya.

Dengan premis yang tipikal akan kisah Romeo and Juliet, narasi West Side Story tentu saja agak mudah ditebak arahnya, saat saya berada di pertengahan cerita. Hubungan dua insan yang terlarang dalam perseteruan diantara dua geng, memberikan pelajaran bahwa kebencian akan menjadi sia-sia dan menimbulkan tragedi.

Baca juga: Double Review : Romeo and Juliet (1968 dan 1996)

Dengan cukup terperinci, film ini menggambarkan kehidupan sosial yang sama, seperti problema ekonomi serta dampak psikologis dalam keluarga yang malah tidak memperlihatkan figur ayah atau ibu mereka, seakan geng the Sharks yang notabene adalah imigran asal Puerto Rico, tinggal di apartemen murah tanpa orang tua mereka.

sinopsis film west side story
United Artists, MGM Pictures

Dalam sebuah adegan the Jets yang mengekspresikan diri mereka, melalui dialog nyanyian, dengan jelas mengungkapkan tekanan psikologis dalam keluarga yang berantakan, minimnya edukasi, serta masa depan suram yang berakibat kepada penyakit sosial.

Elemen yang paling menonjol dan menarik adalah penggambaran kedua geng tersebut, yang mampu mengenyahkan eksistensi protagonis maupun antagonis, tidak seperti film sejenis yakni Streets of Fire (1984), meski memiliki keunggulan dari sisi yang berbeda.

Meski demikian, ada saja karakter yang menyebalkan yakni Action sebagai anggota the Jets yang selalu emosional dan kekurangan logika, dan bahkan sang polisi Schrank yang cenderung memiliki pandangan negatif terhadap imigran (dalah narasi ini, yakni etnik Latin), melalui salah satu dialog yang saya yakini sebagai satir sosial-politik.

Melawan arus supremasi kulit putih, film West Side Story berusaha menampilkan sisi para etnik Latin tersebut, melalui karakter simpatik Bernardo yang memiliki hubungan harmonis dengan kekasihnya yakni Anita dan sebagai pengasuh sekaligus penjaga adik kandungnya yakni Maria.

Dalam sebuah adegan melalui nyanyian dan gerakan dansa dalam dialog, geng the Sharks berserta para kekasihnya sempat berargumen tentang tujuan mereka datang dan menetap di Amerika, ingin menggapai impian namun memiliki kemampuan terbatas. 

drama musikal film west side story
United Artists, MGM Pictures

Itulah fakta umum kaum Latin di Amerika dan mungkin kaum minoritas lainnya, berdasarkan kultur yang berhubungan dengan etos kerja dan tekad untuk mengembangkan diri.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam penampilan dua karakter utamanya yakni  Natalie Wood sebagai Maria dan Richard Beymer sebagai Tony, baik melalui dialog pengucapan dan bernyanyi, maupun gerakan dansanya. Hanya saja sejumlah lagu yang dinyanyikan karakter Maria cukup menarik dengan vokal tingginya bak opera.

Baca juga: Rebel Without a Cause (1955) : Balada Remaja Ikonik

Malah performa gemilang aktris asli Puerto Rico, yakni Rita Moreno sebagai Anita, begitu impresif dan terasa nyata melalui ekspresi nyanyian serta gerak akting yang enerjik.

Begitu pula dengan aktor keturunan Yunani, George Chakiris yang tak kalah mengkilapnya dan mampu menjadikan karakternya memiliki karisma dalam menghilangkan stereotip dan anti-antagonis.

Entah mengapa saya kurang tertarik akan sekian banyak lagu yang dibawakan sepanjang cerita, terkecuali “Somewhere (There’s a Place for Us)” yang dibawakan Maria dan Tony terasa begitu akrab karena sudah pernah dengar sebelumnya dan memang menyentuh, ternyata aslinya berasal dari naskah drama ini.

narasi romeo and juliet film west side story
United Artists, MGM Pictures

Sedangkan lagu “Tonight” dibawakan cukup baik dalam menjembatani nyanyian yang semula dibawakan Maria dan Tony yang kemudian dipadukan dengan vokal dari the Jets dan the Sharks.

Koreografi yang impresif dan mengundang keseruan, sudah eksis sejak awal adegan terutama pergumulan dan konfrontasi antara kedua geng tersebut, mulai dari sebuah lapangan olah raga hingga menuju gang sempit di sudut jalanan kota New York.

Termasuk pula adegan pesta dansa di sebuah ruang besar, begitu kentara persaingan diantara mereka yang ingin menunjukan hal yang terbaik secara bergantian, alih-alih diinstruksikan oleh guru mereka dalam dansa gabungan. Gerakan yang mengejutkan.

Keunggulan terbaik di film ini adalah visualisasi yang mampu menghanyutkan emosi akan sejumlah atmosfir dramatis yang estetis. Mulai saat peralihan adegan saat Maria mencoba gaun barunya menuju pesta dansa, pandangan pertama dirinya dengan Tony diantara kerumunan dansa, hingga persiapan menuju pertarungan akbar kedua geng tersebut.
 
film west side story seteru dua geng
United Artists, MGM Pictures
 
Aspek pewarnaan di film ini juga menarik, melalui ruang, busana serta sorotan lampu tanpa harus menimbulkan kekontrasan warna primer (merah, kuning, biru) antara objek dengan lingkungannya.

Sejumlah setting yang terperinci, yang saya rasa mungkin berada dalam studio saat syuting, sungguh menekankan suasana mendalam terkait emosi dalam adegannya masing-masing.

Hal itu terukir dalam suasana senja di atas atap gedung dalam rangka the Jets dan the Sharks mempersiapkan pertarungan, sebuah apotik milik Doc, adegan Maria dan teman-temannya lalu dilajutkan dengan Tony di dalam sebuah toko busana, the Jets berada di sekitar parkiran mobil, hingga lokasi pertarungan di bawah jembatan jalan raya.

Film West Side Story merupakan drama musikal yang berkualitas akan eksekusi secara sinematografi yang handal, meski secara keseluruhan performa akting yang impresif melalui gerak yang tidak monoton, dialog dan nyanyian yang cukup baik, serta beberapa momen tertentu agak menjenuhkan mengingat narasi tipikal Romeo and Juliet.      

Sebuah tontonan drama musikal yang rasanya patut anda simak sebelum menyaksikan versi remake-nya, meski film ini bukanlah favorit saya pribadi.

Score: 3 / 4 stars

West Side Story | 1961 | Drama, Musikal | Pemain: Natalie Wood, Richard Beymer, Rita Moreno, George Chakiris, Russ Tamblyn, Simon Oakland | Sutradara: Robert Wise, Jerome Robbins | Produser: Robert Wise | Penulis: Berdasarkan drama teater West Side Story karya Jerome Robbins. Naskah: Ernest Lehman | Musik: Leonard Bernstein, Stephen Sondheim | Sinematografi: Daniel L. Fapp | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 152 Menit

Comments

Popular Posts