Satria Dewa: Gatotkaca (2022), Adaptasi Pewayangan Menjadi Laga Superhero Modern

satria dewa gatotkaca adaptasi pewayangan superhero modern
Satria Dewa Studio

Sinema superhero review Satria Dewa: Gatotkaca, film adaptasi pewayangan menjadi laga superhero modern.

Apa sih yang bisa diharapkan dari film superhero Indonesia?

Sebuah pertanyaan besar yang nantinya akan kita bahas di bawah ini.

Setelah tertunda karena pandemi COVID-19, akhirnya film Satria Dewa: Gatotkaca tayang di bioskop tanah air.

Gatotkaca merupakan legenda ikon dari Kisah Pewayangan Indonesia dan telah menjadi bagian dari budaya populer.

Satria Dewa: Gatotkaca merupakan salah satu film superhero Indonesia modern, layaknya Wiro Sableng Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (2018) dan Gundala (2019).

Film ini disutradarai Hanung Bramantyo, serta diperankan oleh Rizky Nazar sebagai figur utamanya.

Narasi Satria Dewa: Gatotkaca dikisahkan dalam dunia modern, dengan setting di sebuah kota fiktif yakni Astina.

Tahun 2006 di sebuah desa, Yuda kecil bersama dengan Arimbi (Sigi Wimala) dikejar oleh pihak Kurawa melalui sosok misterius.

Yuda dewasa (Rizky Nazar) kini tinggal bersama ibunya, Arimbi (Sigi Wimala) di Kota Astina.

Arimbi dianggap "gila" oleh para tetangga, akibat guncangan jiwa karena teror Kurawa di masa lampau.

Sedangkan Yuda yang putus kuliah, suatu saat menjadi juru foto untuk mendokumentasikan wisuda sahabtanya, Erlangga (Jerome Kurnia).

Seketika ada serangan mendadak dari sosok misterius Kurawa yang mengakibatkan Erlangga tewas seketika.

Yuda pun menyelidiki kematian sahabatnya.

review ulasan film satria dewa gatotkaca
Satria Dewa Studio

Ia mendapatkan informasi tentang pertarungan Pandawa dengan Kurawa dari seorang rektor bernama Arya (Edward Akbar).

Bersama dengan putri Arya yakni Agni (Yasmin Napper), mereka mendapatkan petunjuk atas kematian Erlangga.

Pertarungan pun tak terhindarkan saat mereka menghadapi sekelompok geng Kurawa, namun diselamatkan oleh Dananjawa (Omar Daniel).

Apa yang terjadi selanjutnya, merupakan petualangan akan pertarungan Pandawa vs Kurawa, sekaligus warisan pusaka Gatotkaca yang kelak dimiliki Yuda.

Satria Dewa: Gatotkaca merupakan salah satu generasi awal dari terobosan baru film superhero Indoensia, melalui teknik yang lebih modern.  

Tampak jelas bahwa Satria Dewa Universe yang diawali dengan Gatotkaca, akan bersaing dengan Bumi Langit Universe yang diawali dengan Gundala.

Sebuah konsep brilian film superhero ala Marvel Cinematic Universe maupun DC Extended Universe.

Namun perbedaan mendasar yang perlu ditegaskan yakni, bahwa Indonesia belum mampu menyaingi Hollywood dari semua aspek.

Jadi, tidak perlu menaruh ekspektasi tinggi terhadap film superhero modern Indonesia.

Penyutradaraan Hanung Bramantyo dalam menangani film superhero, mengingatkan saya terhadap Ang Lee melalui Hulk (2003), maupun Kenneth Branagh melalui Thor (2011).

Potensi narasi Satria Dewa: Gatotkaca yang didapatasi dari Kisah Pewayangan Indonesia, teramat besar dan bahkan luas sekali.

Harus saya akui, memang agak sulit untuk terbiasa mendengarkan sejumlah nama Sankserta, baik terhadap semua figur maupun objeknya.

Alur yang dieksekusi dalam Satria Dewa: Gatotkaca selama dua jam, saya anggap terlalu padat, sehingga terkesan agak terburu-buru. 

Meski demikian secara keseluruhan, poin yang disampaikan dalam cerita sudah jelas hingga akhir cerita.

Pengembangan karakter sang figur utama yakni Yuda dalam transformasinya sebagai Gatotkaca, sangat terasa.

Satria Dewa: Gatotkaca juga menekankan tema keluarga dalam sebuah penebusan, satu hal menarik di film ini.

Maka audiens awam bisa menikmati filmnya, tanpa harus mengenal literatur Gatotkaca terlebih dahulu.

Kelihaian Hanung Bramantyo di film ini yakni mampu membawakan suasana untuk menghanyutkan audiens dari satu adegan ke adegan lain.

Hal itu diterapkan melalui visual yang kuat, adegan dan aksi laga dengan sorotan kamera steady, serta dialog mengena.

sinopsis alur satria dewa gatotkaca
Satria Dewa Studio

Beberapa humor segar pun terselip, sementara drama emosional terkadang muncul.

Oh ya, khusus sorotan kamera dalam aksi laga pertarungan memang impresif, baik dalam pengaturan sudut pandang, maupun kecepatan tangkapnya.

Permasalahan klasik film superhero Indonesia tentu saja terdapat dalam efek spesial. Terkadang memang menjadi kelemahan dasar, dan Indonesia bukanlah Hollywood.

Sedangkan hal yang paling memalukan dalam Satria Dewa: Gatotkaca adalah product placement!

Terutama dalam adegan guyon antara Semar, Petruk, Gareng, serta Bagong, bagaikan selingan komersial yang terpisah dari narasi film itu sendiri.

Karena jarang nonton film Indonesia, saya tidak tahu apakah berlaku secara umum terhadap film lainnya.

Meski ada beberapa kelemahannya, Satria Dewa: Gatotkaca tentu masih layak dinikmati sebagai satu film superhero unggul Indonesia.

Sinema superhero review Satria Dewa: Gatotkaca, film adaptasi pewayangan menjadi laga superhero modern.

Score: 3 / 4 stars

Satria Dewa: Gatotkaca | 2022 | Superhero, Aksi Laga | Pemain: Rizky Nazar, Yasmin Napper, Omar Daniel, Ali Fikry, Yayan Ruhuan, Cecep Arif Rahman, Sigi Wimala, Edward Akbar, Jerome Kurnia | Sutradara: Hanung Bramantyo | Produser: Celerina Judisari | Penulis: Berdasarkan Kisah Pewayangan Indonesia. Pengembangan cerita: Rahabi Mandra, Hanung Bramantyo | Musik: Ricky Lionardi | Sinematografer: Galang Galih | Distributor: Satria Dewa Studio | Negara: Indonesia | Durasi: 129 menit

Comments