Twister (1996): Obsesi Tornado Atas Kehilangan Sang Ayah

twister obsesi tornado kehilangan sang ayah
Warner Bros Pictures

Sinema drama petualangan review Twister tentang obsesi terhadap tornado atas kehilangan sang ayah.

Twister adalah film genre disaster tentang tornado melalui kisah obsesi atas masa lalu kehilangan sang ayah.

Film terbaik tentang angin tornado melalui efek modern memang ada dalam Twister dengan dukungan kisah masa lalu kelam.

Dalam rangka menyambut film Twisters yang akan tayang di bioskop, anda wajib tonton Twister yang superior di jaman nya.

Twister berada di posisi kedua film terlaris sepanjang tahun 1996, seiring dengan pujian kritik.

Film ini disutradarai Jan de Bont yang populer melalui Speed (1994), serta sosok Steven Spielberg dalam posisi sebagai produser eksekutif.

Helen Hunt yang saat itu sedang naik daun kebagian jadi peran utama, didukung Bill Paxton, serta sejumlah aktor lain.

Twister mengisahkan Bill (Bill Paxton), mantan peneliti dan pengejar tornado mendatangi sang istri, Jo (Helen Hunt) untuk menagih tanda tangan surat cerai.

Bill bersama dengan tunangan nya, Melissa (Jami Gertz), mendatangi Jo dan sejumlah kru yang dulunya adalah rekan di masa lalu meneliti tornado.

sinopsis alur film twister
Warner Bros Pictures

Penelitian mereka memiliki tujuan untuk peringatan dini dan pencegahan kerusakan akan potensi angin tornado.

Kebetulan, Jo memperlihatkan kepada Bill, proyek Dorothy yang telah rampung dan pernah mereka kerjakan sebelum nya.

Tak lama kemudian, angin tornado muncul dekat lokasi yang memang telah diincar Jo beserta kru.

Bill pun dengan antusias penasaran, apakah Dorothy memang bisa digunakan di lapangan, mengajak Melissa bersama mereka mengejar tornado.

Jonas (Cary Elwes) dan kru adalah kompetitor mereka dengan bantuan sponsor dari korporat besar membawa alat yang lebih canggih dari Dorothy.

Kehadiran Jonas selalu membuat persaingan sengit dan konflik diantara kedua kelompok itu.

Sementara, obsesi Jo terhadap tornado dinilai Bill sudah kelewat batas dan dianggap membahayakan dirinya sendiri, karena masa lalu yang kehilangan sang ayah.

Twister sejatinya adalah drama tentang bencana alam berupa angin tornado, berkenaan dengan obsesi seseorang setelah kehilangan sang ayah.

review twister genre disaster steven spielberg jan de bont
Warner Bros Pictures

Hal itu disajikan dalam adegan pembuka cerita, saat figur Jo Harding masa kecil harus kehilangan sang ayah yang berupaya melindungi keluarga.

Sejak saat itulah motivasi sekaligus "dendam" Jo Harding untuk mencegah dan menngurangi jumlah korban manusia, sekaligus memberikan peringatan dini akan bahaya angin tornado.

Salah satu penulis handal Twister, yaitu Michael Crichton telah terbukti dalam mengangkat isu humanisme dalam setiap narasi, baik novel maupun film.

Jo Harding yang diperankan Helen Hunt, adalah sosok traumatis yang boleh dibilang bahkan "menantang" tornado yang besar sekalipun.

Apakah ini disebut bagaikan mati jiwa dan rasa, apalagi jika dikaitkan dengan proses perceraian dengan Bill?

Dalam sebuah adegan melalui dialog paling mengena, terjadi saat argumen sengit keduanya, setelah gagal menerbangkan Dorothy di tengah tornado.

Bill tampak berupaya untuk sembuhkan luka trauma Jo, sekaligus ingin jadi suami yang baik, alih-alih dirinya untuk gantikan "figur ayah".

Namun di tengah proses perceraian itulah, keduanya memang sudah terobsesi dengan tornado demi kebaikan umat manusia dari bencana alam.

review film twister helen hunt bill paxton
Warner Bros Pictures

Maka tak heran, jika lagu tema Twister berjudul "Human Being" yang dibawakan Van Halen, tak lupa dalam kredit penutup diiringi alunan gitar Eddie Van Halen "Respect The Wind".

Karakter Jo Harding itu termasuk salah satu wanita heroik tangguh, meski menyimpan masa lalu tragis.

Kekuatan cerita inilah terdapat karakter Bill dengan keseimbangan sosok yang sesungguh nya dibutuhkan Jo.

Selain itu, konflik mereka berdua juga datang dari figur Jonas yang diperankan Cary Elwes.

Sedangkan figur Melissa yang diperankan Jami Gertz tampak bingung berada dalam situasi cepat, hingga akhir nya membuat keputusan krusial.   

Dua aktor pendukung dalam film ini yaitu Philip Seymour-Hoffman yang bakal populer, namun sayang nya seperti Bill Paxton, mereka telah tiada.

Sedangkan aktor Alan Ruck yang dikenal dalam Ferris Bueller's Day Off (1986), berperan sebagai Rabbit.

Sebagai film genre disaster, Twister akan kurang tanpa tangan dingin Steven Spielberg, terutama melalui sinematografi fantastis.

Perlu diingat, bahwa film ini rilis tahun 1996 saat efek digital CGI masih berada dalam generasi awal. 

Saya waktu itu memang tonton Twister di bioskop, namun wujud tornado puting beliung itu terkesan nyata.

review film twister cary elwes
Warner Bros Pictures

Jika dibandingkan saat ini tahun 2024, jelas efek nya terkesan agak kasar.

Namun demikian hal itu mampu ditutupi berbagai sorotan dan arah gerakan diantara latar setting dengan objek.

Mula nya yaitu tornado pertama dengan skala kecil F2 dalam adegan laju truk di pinggir jalan raya hingga bersembunyi di bawah jemabatan kecil.

Berlanjut dengan tornado di atas danau, saat figur protagonis mengejar dengan laju mobil di atas jembatan, hingga terlihat seekor sapi terbang!

Tentu saja puncak aksi mendebarkan adalah tornado super besar yang sepertinya disebut dengan skala F5 itu.

Twister adalah film disaster yang komplit, baik dari sisi drama emosional bahakan dari adegan pembuka, maupun sisi visual dan sound mengagumkan.

Terdengar jelas, efek suara menyeramkan angin puting beliung itu, belum lagi visual saat berada dalam pusat pusaran nya.

Twister sangat direkomendasikan untuk ditonton sebagai salah satu genre disaster terbaik. 

Demikian sinema drama petualangan review Twister tentang obsesi terhadap tornado atas kehilangan sang ayah.

Score: 4 / 4 stars

Twister | 1996 | Drama, Petualangan, Disaster | Pemain: Hellen Hunt, Boll Paxton, Cary Elwes, Jami Gertz, Lois Smith, Alan Ruck | Sutradara: Jan de Bont | Produser: Ian Bryce, Michael Crichton, Kathleen Kennedy | Penulis: Michael Crichton, Anne-Marie Martin | Musik: Mark Manina | Sinematografi: Jack N Green | Penyunting: Michael Kahn | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 112 menit

Comments