Carrie (1976): Kekuatan Telekinesis Diantara Sosial dan Supranatural
![]() |
| United Artists |
Sinema horor fiksi ilmiah review Carrie tentang kekuatan telekinesis diantara sosial dan supranatural.
Seorang gadis yang memiliki kekuatan telekinesis menimbulkan bahaya sosial dan supranatural dalam film Carrie.
Carrie merupakan film horor adaptasi novel perdana karya Stephen King, mengangkat tema dilema gadis telekinesis yang dianggap berbahaya dari supranatural dan lingkungan sosial.
Film Carrie ini juga adaptasi film perdana dari sekian banyak karya Stephen King hingga saat ini, dan langsung meledak sukes.
Carrie yang dirilis tahun 1976 menjadi film pembuka untuk sejumlah adaptasi generasi berikutnya, termasuk sekuel, remake, serial, hingga miniseri.
Carrie versi original ini disutradarai Brian De Palma yang sebelumnya menangani horor misteri thriller Sisters (1972) dan nantinya akan mengulangi hal serupa dalam menangani film The Fury (1978).
Nama Sissy Spacek melambung tinggi berubah status menjadi bintang, setelah sebelumnya cukup dikenal melalui crime thriller Badlands (1973) bersama Martin Sheen.
![]() |
| United Artists |
Ada pula para aktor pendukung seperti Amy Irving akan kembali hadir dalam The Fury, sedangkan Nancy Allen dan John Travolta yang belum dikenal akan kembali bersama Brian De Palma dalam thriller Blow Out (1981).
Carrie menyandang banyak status sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa, dan masuk ke dalam daftar National Film Registry.
Carrie mengisahkan seorang gadis remaja lugu dan pemalu, cenderung anti sosial, Carrie White (Sissy Spacek).
Ia seringkali mengalami penganiayaan dari seorang ibu yang teramat religius fanatik, Margaret White (Piper Laurie), mereka tinggal berdua dalam sebuah rumah tertutup.
Di lingkungan sekolah, Carrie selalu menjadi sasaran perundungan, terutama dari Chris (Nancy Allen) dan Sue (Amy Irving).
Melihat situasi tersebut, wali kelas Miss Collins (Betty Buckley) tidak tinggal diam dan selalu membela Carrie. Ia menghukum sejumlah siswi termasuk Chris dan Sue akibat insiden di ruang ganti.
Menjelang acara pesta dansa, Sue diam-diam berencana mengajak Carrie ke pesta dansa, melalui kekasihnya, Tommy (William Katt).
![]() |
| United Artists |
Sementara Chris bersama dua orang teman nya, punya rencana lain yang lebih mengejutkan.
Meskipun beberapa kali gagal, akhirnya Carrie bersedia ikut pesta dansa bersama Tommy yang terus merayu nya, mengingat Chris dilarang ikut oleh Miss Collins.
Sementara Sue memang sengaja memberikan ruang kepada Tommy untuk kencan dengan Carrie, sebagai penebusan rasa bersalah yang ia lakukan sebelumnya.
Saat pesta dansa, rencana busuk Chris mulai terlaksana, agar Tommy dan Carrie menjadi pusat perhatian, namun ada hal besar dan paling mengerikan yang akan mengubah segalanya bagi mereka semua.
Menonton film Carrie selama 1,5 jam langsung tepat sasaran, bagaimana cerita film tertuju langsung kepada karakter figur utama Carrie White dengan segala problematika yang ia hadapi diantara isu sosial dan supranatural.
Horor remaja memang biasanya laris manis untuk dijadikan konsumsi hiburan, termasuk narasi Carrie yang mengangkat perundungan dengan pandangan anomali terhadap sang figur utama.
Rupanya emosi Carrie White di sekolahan masih terkendali, dalam arti kekuatan telekinesis nya tidak langsung menyerang orang.
Adegan pembuka adalah yang paling sulit untuk saya lihat setelah pertama kali menonon film ini, terasa mengganggu dan bahkan terkesan menghantui, padahal hal tersebut berangkat dari fenomena rutin seorang gadis yang menstruasi.
![]() |
| United Artists |
Karakter figur Chris yang diperankan Nancy Allen berhasil membuat saya kesal kepadanya sepanjang cerita film, adegan finale di dalam mobil sungguh memuaskan.
Begitu pula dendam yang tuntas dalam "pembantaian" akhir juga melibatkan sejumlah karakter antagonis yang ikut jadi korban, tapi sayang sekali semua dipukul rata.
Melalui adegan puncak itulah, kengerian horor film Carrie sesungguhnya, akibat amarah dan emosi yang sudah tak terkendalikan, lepas begitu saja karena sebuah kesalahpahaman.
Begitu pula tekanan besar yang dihadapi Carrie White terhadap sang ibu sendiri yang melampiaskan fanatisme religius fanatik terhadap putri nya sendiri.
Atmosfir horor pun terus berlanjut dengan nuansa cenderung dark dan depresif, melalui berbagai simbol tersirat termasuk adegan kematian, sungguh tragis.
Aktris Piper Laurie berperan sangat baik dan meyakinkan sebagai sang ibu yang antagonis, sinis, serta kejam akibat korban dari sang suami yang meninggalkan nya begitu saja.
Sementara pemeran utama film ini, Sissy Spacek begitu pas memainkan karakter figur yang lugu tapi bisa mematikan sekaligus mengerikan.
Adegan penutup film Carrie juga termasuk salah satu yang ikonik karena mengejutkan dan menjadi salah satu adegan jump scare terbaik, bukan kaleng-kaleng seperti horor modern.
![]() |
| United Artists |
Arahan Brian De Palma terutama dari aspek sinematografi film ini juga selaras dengan tema isolasi dan kengerian, melalui tone warna dan pencahayaan cenderung bergaya neo-noir.
Tidak lupa, ia memperlihatkan teknik penyajian dua layar yang terbagi secara horizontal yang menjadi ciri khas nya terinspirasi dari sejumlah film Hitchcock, dalam adegan pembantaian tersebut.
Yang dimaksud pembantaian disini tergolong sangat ringan untuk kategori horor, bukan berarti berdarah, melainkan bagaimana kengerian begitu terasa.
Film Carrie original ini sangat direkomendasikan pecinta horor apalagi penggemar Stephen King generasi muda, lupakan versi modern nya.
Demikian sinema horor fiksi ilmiah review Carrie tentang kekuatan telekinesis diantara sosial dan supranatural.
Score: 4 / 4 stars
Carrie | 1976 | Horor, Fiksi Ilmiah, Remaja | Pemain: Sissy Spacek, Piper Laurie, Amy Irving, William Katt, John Travolta, Nancy Allen, Betty Buckley, P.J. Soles | Sutradara: Brian De Palma | Produser: Paul Monash | Penulis: Berdasarkan novel Carrie karya Stephen King. Naskah: Lawrence D. Cohen | Musik: Pino Donaggio | Sinematografi: Mario Tosi | Penyunting: Paul Hirsch | Distributor: United Artists | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 98 menit





Comments
Post a Comment