Memburu Easter Egg dalam 'Ready Player One (2018)'

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Get ready to find an Easter Egg!

Rasanya tidak ada yang tidak istimewa, setiap film yang disutradarai oleh Steven Spielberg, apapun tema dan genre yang diusungnya, selalu menarik atensi audiens. Tak lama berselang, setelah menyutradarai film The Post (2017) tentang konspirasi politik pada era Pemerintahan Nixon, beberapa bulan yang lalu, ia menyuguhkan film Ready Player One, tentang dunia game.

Perkembangan jaman seiring dengan kemajuan teknologi berbasis digital, sangat mempengaruhi seluruh aspek kehidupan, salah satunya di dunia game. Mungkin saat ini, masyarakat luas masih menggunakan komputer, konsol atau gadget untuk main game. Dan mungkin saja bakal diterapkan semacam virtual reality, dengan menggunakan beberapa perangkat, user seakan-akan terlibat langsung berada di dunia maya tersebut … and I believe that!

Lagi-lagi film ini diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama, karya Ernest Cline, yang terbit di tahun 2011. Tak heran kalo novelnya aja dirilis di era digital (belum lama ini), artinya kalo boleh jujur menurutku, ide-ide dasar ataupun premis cerita itu sendiri berdasarkan fakta bahwa dominasi dunia game atau sosialisasi digital, bisa saja membuat tatanan sosial-politik berubah … akankah manusia jadi lebih individualis dalam perilaku sosial?

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Jalan ceritanya cukup sederhana, yakni James Halliday (Mark Rylance) seorang kreator game favorit, yakni OASIS, sebelum meninggal, mewariskan sebuah kontes kepada para pemain game. Kontesnya berupa perburuan ketiga kunci yang harus ditemukan oleh peserta, sehingga setelah menemukannya, hanya satu peserta yang berhak mendapatkan Easter Egg dan memegang otoritas penuh terhadap OASIS.

Tahun 2045, adalah Wade Watts (Tye Sheridan), seorang remaja dari pemukiman kumuh di kota Columbia, yang memiliki bakat dan pengetahuan yang dalam tentang OASIS dan Halliday, kesehariannya bermain di OASIS, dengan menggunakan avatar bernama Parzival. Ia dalam dunia maya yang bersahabat dengan Aech (Lena Waithe), Sho (Philip Zhao) dan Daito (Win Morisaki), otomatis ikut berkompetisi dalam memperebutkan Easter Egg tersebut.

Dalam perburuannya, Parzival bertemu dengan karakter terkenal, yakni Art3mis (Olivia Cooke) yang ia selamatkan dari ancaman bahaya. Parzival berhasil mendapatkan kunci pertama, setelah menyelidiki arsip kehidupan pribadi Halliday di sebuah galeri bernama Halliday Journals, yang ditemani seorang Kurator (Simon Pegg). Dan kebetulan, sahabat Parzival dan Art3mis pun menyusulnya dengan mendapatkan kunci pertama, mereka akhirnya sepakat untuk menemukan kedua kunci lainnya bersama-sama, sementara Parzival juga tertarik kepada Art3mis.

Namun usaha mereka disaingi oleh pimpinan perusahaan kompetitor IOI, yakni Nolan Sorrento (Ben Mendelsohn) dan pasukannya yang diberi nama Sixers. Dalam menjalankan strateginya, ia dibantu oleh seorang user game handal, yakni i-R0K (T.J. Miller). Ambisi Nolan adalah untuk mendapatkan Easter Egg, sekaligus ingin menguasai OASIS.


impawards.com

Film Ready Player One yang berurusan dunia virtual reality tersebut, mengingatkan saya akan film-film serupa macam Tron (1982) dan sekuelnya, atau The Lawnmower Man (1992), bahwa manusia memasuki dunia maya dan berinteraksi di dalamnya, sehingga bisa merubah keadaan dirinya di dunia nyata. Bedanya, film ini lebih menitik-beratkan kepada pencarian akan kehidupan pribadi seorang James Halliday, jati diri serta heroisme karakter Wade serta tentunya mengangkat isu humanitas … tipikal film-film Spielberg umumnya.

Boleh dikatakan klise, karakter Wade yang terobsesi dengan Halliday dan OASIS-nya, sebenarnya memiliki bakat luar biasa, kecerdasan serta kecerdikan, namun karena sebuah insiden yang memaksa dirinya dendam terhadap Nolan, sekaligus bertekad menyelamatkan sebuah misi besar, yakni meneruskan ‘warisan dan visi’ dari Halliday. Wade dalam petualangannya, menemukan jati diri, potensi besar dalam dirinya serta cinta dan persahabtan sejati.

Dari kacamata Wade pun, sosok Halliday sebagai seorang manusia jenius, tetap memiliki segala kekurangannya. Dinamika hubungan dengan seorang wanita yang dicintainya, yakni Kira dan sahabat sekaligus partner bisnisnya, Ogden Morrow, berhasil membuat simpati dari saya sebagai audiens. Juga dari sudut pandang karakter Wade yang ingin selalu penasaran lebih dalam, apa yang ada di benak Halliday, dan apa sesungguhnya yang diinginkannya terhadap masa depan OASIS.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Yang membuat cerita menjadi seru adalah pertemuan Wade dengan Samantha sebagai Art3mis dan tiga orang sahabatnya di dunia nyata, ketika mereka diburu oleh anak buah Nolan yang kejam. Masing-masing karakter mereka di dunia nyata pun unik dan mengejutkan, yang ternyata bisa menjadi pahlawan di dunia maya, sesuatu yang berlaku bagi para pemain game umumnya.

Masing-masing aktor/aktris yang namanya tidak saya kenal tersebut -lagi-lagi tipikal film Spielberg- memainkan perannya dengan cukup baik. Hanya ada nama Simon Pegg yang familiar bagi saya, meski aktingnya standar. Yang disayangkan adalah karakter antagonis Nolan, digambarkan sebagai seorang ‘penjahat’ yang berkesan ‘kurang jahat atau kejam’ dan serba tanggung dalam bertindak. Mungkinkah karena film ini merupakan tribut terhadap film-film pop era 80’an dengan rating PG-13, bahwasanya karakter penjahat digambarkan cukup konyol dan seperti tokoh kartun?


Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Malah dalam dunia OASIS, karakter Nolan terlihat lebih beringas, bahkan ketika ia berubah menjadi Mechagodzilla. Namun aktor Mark Rylance sebagai Halliday berhasil mencuri perhatian, sebagai seorang yang nerd, jenius dan introvert. Dialog memorable-nya dengan Wade menjelang akhir film, bisa jadi merupakan nilai utama dari filosofi cerita keseluruhan. Penampilan fisiknya yang bergaya nyeleneh tersebut, mengingatkan saya akan karakter Garth Algar di film Wayne’s World (1992).

Ada satu adegan yang mengganggu saya, ketika Samantha menyelinap masuk ke ruangan Nolan dan memainkan OASIS, setelahnya tiba-tiba Nolan dan beberapa anak buahnya memasuki ruangan, seketika juga Samantha bersembunyi di balik sofa, mengendap-ngendap, menyelinap keluar melalui pintu lain, tanpa sama sekali diketahui oleh mereka … what an absurd sequence!

Kalo mau jujur, unsur thriller di film dirasa kurang ditekan secara optimal, meski ritme yang dimainkan sudah pas atau seimbang antara suasana tenang, exciting atau menegangkan, masih kalah dengan filmnya James Cameroon, Avatar (2009). Namun hal tersebut diobati oleh banyak kehadiran aspek pop culture yang dominan sepanjang cerita.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Secara visual di beberapa sekuen, tampaknya Spielberg sengaja tidak membuat kekontrasan atau keindahan warna, malah cenderung lebih soft dengan sedikit pengurangan saturasi … jadi teringat film Saving Private Ryan, Munich atau The Post. Apakah hal tersebut memang ingin fokus kepada para karakter utamanya? Bisa jadi! Efek animasi fantastisnya pun malah bergaya mirip film yang pernah diproduserinya, yakni The Adventures of Tintin : The Secret of the Unicorn (2011). Dinamika sorotan kamera dimainkan dengan cemerlang, baik dari zoom, speed atau angle yang bergerak indah, serta bisa dinikmati tanpa membuat kepala ‘pusing’

Kekuatan utama tadi, merupakan tribut yang menegaskan atau memperkenalkan kembali budaya pop, mulai dari era 70’an hingga 90’an, mulai dari lagu, karakter, objek, alur integral, penampilan, hingga dialog yang tersaji. Bagi anda yang berusia 35 tahun keatas, pasti senyum-senyum atau ketawa sendiri, begitu banyak menemukan ‘sesuatu’ yang mengejutkan dan WOW di film ini, seperti :

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Keterlibatan Parzival dan kawan-kawan yang memasuki dunia film horor The Shining, adalah bukti kepiawaian kru-nya Spielberg dengan Industrial Light & Magic-nya itu, dengan hasil yang fantastis, mampu mengkombinasikan antara mungkin footage film aslinya di tahun 1980, dengan animasi, sehingga mampu mereproduksi berbagai sekuen, dengan keterlibatan Parzival, dkk untuk menggantikan karakter-nya Jack Nicholson.

Adegan dimulai dari ketika mereka memasuki ruangan besar di sebuah hotel, ada bola tenis yang dilempar, kehadiran anak perempuan kembar di ujung koridor yang menyeramkan itu, derasnya lautan darah dari pintu lift menuju koridor, seorang perempuan telanjang yang berubah menjadi zombie yang menggoda Aech, hantaman kapak yang menjebol sebuah pintu (adegan ikonik), pengejaran di labirin terbuka yang dilapisi es, figura foto kuno yang memperlihatkan staf dan kru hotel, hingga tiba di sebuah ballroom yang berisi banyak orang sedang berdansa.

Alur integral berupa film The Shining tersebut, menurut saya menjadikan dua opsi kepada penonton : Bagi yang pernah nonton The Shining, yakni mengajak nostalgia ke dalam dunia film tersebut dengan beberapa adegan yang memorable, tentunya dengan karakter yang berbeda. Sedangkan opsi yang kedua adalah rekomendasi film yang patut ditonton, sebagai salah satu film horor terbaik yang pernah ada.


Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Dalam dunia OASIS, manusia bebas menginginkan apapun didalamnya, mau memainkan games apapun seperti Minecraft misalnya, atau menjadi siapapun sah-sah saja. Begitu banyak sekali karakter yang dihadirkan, mulai dari superhero seperti : Batman, Spawn, Catwoman, Deathstroke, Harley Quinn, The Joker, hingga Ninja Turtles. Dari dunia film seperti : T-Rex dari Jurrasic Park, King-Kong, The Iron Giant, Mechagodzilla, Gundam, Stormtroopers dari Star Wars, RoboCop, Chucky, Freddy Krueger, Jason Voorhees, Alien, Beetlejuice, hingga Gizmo dari The Gremlins. Dari dunia games seperti : H.A.L.O, Duke Nukem, Lara Croft dari Tomb Raider, Goro dari Mortal Kombat, hingga Chun-Li dari Street Fighter. Sedangkan karakter kartun lainnya seperti Sonic the Hedgehoc dan Hello Kitty juga hadir memeriahkannya.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Untuk objek kendaraan yang dipakai oleh Parzival adalah mobil DeLorean dari trilogi Back to the Future, sedangkan motor yang dikendarai oleh Art3mis adalah motornya karakter Akira, dan kendaraan Bigfoot yang dipakai oleh Aech adalah ikon Amerika. Tampak juga mobil Plymouth tahun ’58 dari film Christine (1983), mobil van dari film seri The A Team dan mobil Mach 5 dari film Speedracer. Dalam sekuen adegan pengejaran oleh King-Kong, tampak pula Batmobile klasik dari tahun 60’an. Oh ya, Zemeckis Cube yang dipakai oleh Parzival untuk ke masa lalu, adalah referensi kepada sutradara Robert Zemeckis. Tampak pula berjajar mesin Ding-dong di Halliday Journals.

Nah … ini ada beberapa objek yang memerlukan ketajaman mata dalam adegan balapan di kota New York, tampak sebuah bioskop di area Chinatown yang menayangkan film “Jack Slater” dari Last Action Hero (1993), lettering sign bertuliskan “Silvercup” berwarna merah dari film Highlander (1986) serta billboard bertuliskan “Delta City” dari film Robocop (1987). Sedangkan di kediaman Aech, ada lettering sign bertuliskan “Cocktails & Dreams” dari film Cocktail (1988), serta poster film Mad Max (1979), The Fly (1986), The Beastmaster (1982), Big Trouble in Little China (1986) dan Raiders of the Lost Ark (1981).


Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Di kediaman Aech pula, tatkala berbicara dengannya, tampak Parzival pun sempat berganti-ganti penampilan seperti menjadi : Prince di film Purple Rain (1984), Michael Jackson di klip video Thriller, Simon LeBon dari Duran-Duran, hingga akhirnya memilih sebagai Buckaroo Banzai di film The Adventures of Buckaroo Banzai Across the 8th Dimension (1984). Sebelumnya, Parzival berpenampilan sebagai Clark Kent ketika bertemu dengan Art3mis di Halliday Journals. Gara-gara inilah, saya jadi nonton film Buckaroo Banzai.

Dalam dialog, tak kalah banyak yang jadi referensinya, salah satu memorable dialognya ketika Parzival menguji Nolan soal sineas John Hughes yang terkenal menggarap film-film remaja di era 80’an, seperti The Breakfast Club (1985) dan Ferris Bueller’s Day Off (1986), dengan memberi petunjuk dua nama sekolah dari film Fast Times at Ridgemont High (1982) dan National Lampoon’s Animal House (1978). Era 80’an memang terkenal dengan film-film remaja ikonik yang melahirkan generasi emas dan menginspirasikan film-film dengan tema sejenis di beberapa masa berikutnya.

Sedangkan dalam adegan aksi penyerbuan, ketika robot The Iron Giant tenggelam dalam sebuah ledakan, ia masih sempat mengacungkan jempolnya, referensi dari film Terminator 2 : Judgement Day (1991). Juga ketika Parzival mengangkat sebuah portable radio tape sambil berjalan, adalah referensi dari film Say Anyhting (1986).

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Lagu menjadi salah satu elemen terpenting di film ini, mulai di adegan pembuka ketika Wade melompat turun dari rumahnya yang diiringi lagu Jump dari Van Halen, lagu Joan Jett I Hate Myself for Loving You mengiringi saat mulai balapan di kota New York, Parzival dan Art3mis berdansa ala film Saturday Night Fever (1977) diiringi lagu Stayin’ Alive dari BeeGees, hingga pertempuran masif yang diiringi lagu klasik We’re Not Gonna Take It dari Twisted Sister, dan masih banyak lagi artis lain seperti New Order, Hall & Oates, Earth, Winds & Fire, dan lain-lain.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 2018

Film Ready Player One merupakan salah satu ‘kendaraan’ untuk mengingatkan kembali atau bernostalgia, dengan merujuk berbagai referensi berbagai budaya populer. Film tersebut seakan-akan mengajak dan memperkenalkan kepada audiens, bahwa berbagai objek yang dimaksud adalah sebuah warisan yang direkomendasikan untuk dipelajari dan dinikmati.

Tidak dapat dipungkiri, beberapa objek yang kita temui di film ini, juga pernah disutradari atau diproduseri oleh Spielberg sendiri, yang merupakan salah satu benefit baginya dalam urusan perizinan sebuah franchise. Meski secara kritik film ini tidak bagus-bagus amat, namun dengan pendapatan yang tinggi, film ini pula terbukti akan kekuatan nilai jualnya yang mumpuni.  

Film Ready Player One bukanlah salah satu film terbaiknya Spielberg, tapi film ini pantas untuk dikenang sepanjang masa. Direkomendasikan sebagai hiburan sekaligus memiliki nilai filosofis dan menarik secara estetis …

Score : 3.5 / 4 stars

Ready Player One | 2018 | Fiksi Ilmiah, Petualangan, Aksi Laga | Pemain: Tye Sheridan, Olivia Cooke, Ben Mendelsohn, T.J. Miller, Simon Pegg, Mark Rylance | Sutradara: Steven Spielberg  |  Produser: Steven Spielberg, Donald De Line, Dan Farah, Kristie Macosko Krieger  | Penulis: Berdasarkan Novel “Ready Player One” oleh Ernest Cline. Skenario : Zak Penn dan Ernest Cline  | Sinematografi: Janusz Kamiński | Musik: Alan Silvestri | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 140 Menit


Baca juga :

Comments