Gempuran Film Superhero di Jaman NOW

Dunia Sinema Opinion The Avengers
Marvel Studios, Walt Disney Studios Motion Pictures

Dalam dua dekade terakhir ini alias jaman NOW, berbagai gempuran film superhero menjadikan sebuah genre yang berpotensi menguntungkan secara bisnis dalam perindustrian film sebesar Hollywood.

Pertempuran antara dua pihak besar, terutama Marvel melalui Marvel Cinematic Universe (MCU) dan DC melalui sebutan tak resminya, DC Extended Universe (DCEU) yang begitu mendominasi tangga box office dan semakin hype alias menjadi buah bibir hangat.

Kini, membuat film superhero atau film fantasi apapun bisa diwujudkan serta semakin mudah implementasinya, berkat perkembangan teknologi digital yang telah berevolusi dengan cepat, berkat adanya Computer Generated Imagery (CGI) yang semakin canggih itu.

Awal 90’an, ketika teknologi CGI masih mahal biayanya, ada keinginan beberapa studio besar Hollywood untuk memproduksi film adaptasi komik Marvel, yakni Fantastic Four. Namun karena tuntutan efek spesial yang tinggi, maka proyek tersebut diurungkan. Hingga akhirnya, sebuah studio independen memproduksi film tersebut dengan kualitas B alias ‘buruk’, serta tidak pernah dirilis resmi.

Era 60’an merupakan era perintisan film superhero populer, melalui serial Batman yang ditayangkan melalui layar lebar. Namun seiring dengan teknik perfilman yang lebih baik,film Superman : The Movie (1978) berhasil menggapai hype, dengan kesukesan global saat itu, hingga dibuatkan tiga sekuelnya yang semakin terpuruk.
 
Pola yang sama terulang, saat pertama kali film Batman (1989) dirilis, yang dilanjutkan dengan Batman Returns tiga tahun kemudian, meski teknologi saat itu sudah lebih baik dan cukup imresif. Film pertamanya itu merupakan salah satu versi Batman terbaik yang pernah ada, hingga mengalami penurunan performa yang semakin buruk terhadap tiga sekuel berikutnya.

Kontrak eksklusif DC dengan Warner Bros masih terus berlanjut hingga kini, tapi saat itu mereka tampaknya masih fokus seputar Batman dan Superman, dua karakter terpopulernya DC, meski serial televisi Wonder Woman telah populer di era 70’an juga The Flash di era 90’an.

Pengembangan proyek film Superman juga mengalami vakum dalam jangka waktu lama, atau istilahnya  “development hell”, karena saat itu terdapat rumor pembuatan film The Dead of Superman, dengan Nicolas Cage sebagai karakter utamanya. Karena proyek tersebut semakin tipis harapannya, maka rambut Nicolas Cage pun semakin rontok!
 
Di saat yang bersamaan, Marvel sedang mengalami kesulitan finansial, dengan tersebarnya berbagai karakter yang dimiliki oleh beberapa studio berlainan. Adapun perilisan melalui studio independen dalam format direct-to-video, terealisasi melalui film The Punisher (1989) dan Captain America (1990) yang berkategori kelas B.
 

Dunia Sinema Opinion Justice League
Warner Bros Pictures

Mirip dengan DC, kesuksesan Marvel saat itu diraih melalui format televisi dengan mempopulerkan Spider-Man dan serial The Incredible Hulk di era 70’an. Menjelang millennium, yakni tahun 1998, melalui studio New Line Cinema, film Blade menjadi awal kesuksesan karakter dari Marvel Comics, disusul oleh kepopuleran yang lebih besar melalui 20th Century Fox, yakni film X-Men (2000) dan beberapa sekuelnya, serta studio Columbia Pictures melalui trilogi Spider-Man.
 
Melalui pengenalan variasi karakter serta dibentuknya Marvel Studios yang kemudian dibeli oleh Disney, merupakan puncak kejayaan mereka di era tersebut, yang ditandai dengan dirilisnya film Iron Man (2008) oleh Paramount Pictures. Film tersebut merupakan proyek awal dari konsep besar MCU.
 
Menunggu waktu, ambisi akan terealisasinya hampir semua hak kepemilikan karakter Marvel kembali ke tangan Marvel Studios segera terwujud satu-persatu. Sementara DC masih ngotot dengan dua karakter utamanya, untung saja sukses melalui Batman Begins (2005) yang merupakan bagian dari trilogi The Dark Knight dan bahkan meraih puncak signifikan lewat The Dark Knight (2008), setelah jeblok melalui Superman Returns (2006).

Atas kesuksesan MCU, tampaknya DC mulai mengikuti pola bisnis Marvel melalui istilah non-resmi yang disebut DC Extended Universe (DCEU) melalui film Man of Steel (2013) yang lagi-lagi menghadirkan Superman dengan gaya dan tone cenderung serius serta kelam.

Kebangkitan DC mulai terasa saat merilis Wonder Woman (2017) yang meraih sambutan positif dan fenomena global, melalui perubahan gaya yang lebih menghibur.

Beberapa film superhero selain produk DC dan Marvel, juga tak kalah menterengnya seperti Hellboy, Transformers, Kick-Ass, Teenage Mutant Ninja Turtles hingga beberapa film animasi produksi Pixar.

Perkembangan evolusi CGI canggih sejak beberapa dekade yang lalu, mengakibatkan genre superhero menjadi trendsetter yang sedang berjaya yang dimulai sejak era 2000’an, terlebih komik superhero memang telah menjadi hype di kalangan penggemar komik.

Selain itu, kreativitas Hollywood sepertinya tertekan oleh berbagai gempuran dahsyat film superhero di jaman NOW, daripada melahirkan berbagai film non-superhero dalam menggapai status hype, sesuatu yang jarang terjadi saat ini. Maka tak heran, jika film superhero begitu fenomenal layaknya kita mengendarai sebuah wahana seru di sebuah taman bermain.

Semua orang hampir dipastikan nonton film, baik melalui bioskop, televisi, video ataupun jaringan digital. Tapi tidak semua orang baca komik superhero!

Comments