Gempuran Film Superhero di Jaman 'Now'

greatestmovies.quora.com

Di era ‘perang’ film Superhero antara dua studio besar, yakni Marvel dan DC –tepatnya Marvel Cinematic Universe dan DC Extended Universe- yang sedang berlangsung, dan tampaknya bakal panjang ... ah, bodo amat!! Kedua studio tersebut lahir dari penerbit komik Superhero dari negara Paman Sam, dan saya sendiri adalah penggemar komik-komik Eropa. Gempuran demi gempuran terjadi dalam satu hingga dua dekade ini, yang mendominasi blockbuster summer movies setiap tahunnya, tak hanya di Amrik sana, tapi di seluruh dunia.

Kini di Hollywood, membuat film Superhero semakin mudah. Berbagai studio film raksasa –selain kedua studio film yang saya sebutkan diatas- berlomba-lomba menggelontorkan dana besar. Disney berhasil membeli Marvel Entertainment, sedangkan Warner Bros memegang lisensi karakter DC. Well, sepertinya fenomena tersebut ditujukan kepada objek yang menjadi biang kerok selama ini, apa lagi kalau bukan CGI (Computer Generated Imagery)!

Saya jadi ingat di medio 90’an, pada saat CGI itu masih mahal biayanya, saya pernah baca di satu majalah –lupa, majalah pria remaja atau majalah film- bahwa salah satu studio besar Hollywood berkeinginan membuat film yang diangkat dari komik Marvel, yakni Fantastic Four. Namun karena membutuhkan biaya yang ‘wah’, maka diurungkan. Sebuah studio independen akhirnya membuat film tersebut menjadi film kelas B, namun tidak pernah dirilis resmi.

Dunia perfilman heboh oleh efek superhalus CGI di
film Terminator 2 : Judgement Day (1991).
(TriStar Pictures)

Kendala special effect memang menjadi batu sandungan kala itu. Gara-gara film Terminator 2 : Judgement Day (1991) yang pertama kalinya mempopulerkan adanya CGI, maka gegerlah dunia perfilman! Namun mungkin saja perjudian yang dilakukan James Cameron saat itu, membuat jantungnya mungkin dag-dig-dug, apakah sukses atau jeblok. Film itu pada masanya dianggap sebagai film termahal sepanjang masa dengan biaya 100 juta dollar saja. Namun akhirnya dibayar tuntas dengan pendapatan lebih dari 200 juta dollar …. Huuufffth!

Balik lagi ke topik film Superhero!

Yang pertama kali mempopulerkan komik Superhero ke dalam layar perak adalah DC, lewat Superman : The Movie yang rilis tahun di tahun 1978 silam. Dibintangi mendiang Christoper Reeve, film tersebut menjadi box office dan mendapat sambutan meriah. Meski saya akui, parahnya special effect pada saat Superman terbang di udara, membuat saya geli gak karuan.

Dikarenakan sukses, maka dibuatlah beberapa sekuel di sepanjang tahun 80’an. Namun disayangkan akan adanya penurunan finansial dan kualitas di setiap serinya. Tragisnya lagi, franchise tersebut seakan mendapat ‘kutukan’ terhadap kru film. Hanya aktor Gene Hackman yang masih bersinar hingga kini.

Kiri : Michael Keaton sebagai Batman di tahun 1989
dan 1992. Kanan : Christopher Reeve sebagai
Superman dari tahun 1978 hingga 1987.
(liketotally80s.com)

Penyelamat sekaligus kompetitor Superhero di dalam dunia DC Comics akhirnya datang menjelang dekade 90’an. Adalah film Batman (1989) karya Tim Burton yang mendulang pundi-pundi finansial Warner Bros, seiring dengan kemajuan teknologi special effect yang semakin berkualitas tentunya.

Disajikan untuk penonton yang lebih dewasa, bernuansa gelap pula –terlebih menjadi gaya khasnya Tim Butron- yang membuat film tersebut pas dengan karakterisasi Batman di dunia malam. Film yang dibintangi Michael Keaton tersebut boleh dikatakan sebagai terobosan baru di dunia film Superhero. Kesuksesan film itu dilanjutkan dengan beberapa sekuel, dan sempat berganti pemeran seperti Val Kilmer dan George Clooney.

Sempat gonta-ganti sineas dan pemeran utama, otomatis megalami pergantian style dan visual, yang menyebabkan terjadinya pro-kontra diantara penggemar Batman. Nasib franchise Batman di era 90’an pun hampir sama dengan Superman di era 80’an.

Rencana tinggal rencana … franchise Superman yang akan dibangkitkan kembali, tentatif berjudul Superman is Dead tampaknya mengalami development hell. Nicolas Cage ditunjuk menjadi kandidat terkuat, sepeninggal Christopher Reeve. Waktu terus berlalu, karena berbagai pergantian cerita, naskah serta hal-hal teknis lain, dan Nicolas Cage pun semakin rontok rambutnya. Akhirnya proyek yang katanya mau diganti menjadi Superman Lives atau kemudian menjadi Man of Steel pun mandek.

Bagaimana dengan saingannya, Marvel?

Film The Punisher (1989) yang dibintangi Dolph
Lundgren ini tidak digarap oleh studio besar Hollywood
(New World International Pictures)

Di tahun 1990, saya pernah menonton film The Punisher di salah satu bioskop –non grup 21, XXI aja belum lahir- di kampung halaman saya. Film yang diperankan Dolph Lundgren sebagai Frank Castle sangat membuat saya terkesima, berbagai adegan action seru dan tidak berlebihan, sinematografi dan berbagai angle yang asyik untuk dinikmati.

Sayang seribu sayang, ternyata film itu adalah sebuah film kecil produksi studio independen, yang lokasi syutingnya di Australia dan hanya rilis terbatas saja, bahkan tidak rilis di bioskop di Amrik sana. Dari film itulah, saya mengenal dan mengidolakan sosok The Punisher, meski di filmnya, Frank Castle tidak menggunakan kostum berlogo tengkorak.

Oh ya, lagi-lagi digarap oleh studio kecil, dengan kru film grade-B –seperti halnya The Punisher (1989)- film Captain America juga sempat rilis setahun kemudian, kalo gak salah langsung ke dalam format video. Hingga saat ini saya belum pernah mau menontonnya, mungkin emang gak selera sih …

Film Captain America (1990) sebagai film kelas B yang
berformat direct-to-video. (21st Century Film Corporation)

Dan parahnya Marvel hampir bangkrut di medio 90’an. Namun berkah melimpah mereka terima di dekade berikutnya, akibat dari penjualan lisensi beberapa karakter Superhero-nya kepada beberapa studio besar.

Sebenarnya di medio 90’an, penggunaan efek CGI sudah berangsur-angsur mulai digunakan oleh berbagai studio besar … ya jelas, mereka punya bujet besar! Namun tetap perkembangannya tidak signifikan di era 2000’an hingga kini.

Marvel mengalami panen dengan kesuksesan besar di awal 2000’an –secara pendapatan maupun kritik- dengan hadirnya franchise Blade di khir 90'an, disusul X-Men dan Spider-Man. Lalu disusul Hulk yang kurang menguntungkan. Hal tersebut adalah awal perjalanan ‘manis’ Marvel yang mendominasi film Superhero di Hollywood.

Film X-Men (2000) yang sukses besar, menjadi tonggak
bangkitnya film-film Superhero berdasarkan karakter
Marvel, meski saat itu belum ada yang namanya
Marvel Cinematic Universe (MCU). (20th Century Fox)

Di era tersebut, DC pun tak ketinggalan untuk membangkitkan kembali Superman dan Batman. Film Superman Returns lagi-lagi tampaknya tidak bisa mengelak ‘kutukan’ yang ada. Kegagalan menimpa franchise tersebut. Bukan berarti gagal total, namun tidak booming layaknya film-film dari Marvel, meski secara kritik dianggap cukup baik.

Berbanding terbalik dengan franchise Batman yang di re-boot kembali ternyata sukses di beberapa serinya. Dimulai dari Batman Begins hingga dua seri The Dark Knight, boleh dikatakan sebagai kebangkitan Batman ‘era baru’, yang berhasil dipoles oleh sineas Christoper Nolan. Saingan Batman, Catwoman yang difilmkan boleh dikatakan sebagai sesuatu yang tidak sebaik yang diharapkan.

Di satu sisi, Marvel sedang jaya-jayanya, terlebih dengan gempuran Fantastic Four (akhirnya terealisasi ya!), Iron Man, Captain America dan masih banyak lagi, membuat dunia perfilman Hollywood didominasi oleh kesuksesan dari film-film Superhero. Akuisisi Disney terhadap Marvel dan munculnya Marvel Cinematic Universe, semakin mengokohkan posisi kekuatan dominasi film Superhero.

Di awal 2010’an, DC juga tak kalah dengan membuat DC Extended Universe dan berpartner dengan Warner Bros. Untuk kesekian kalinya, proyek Superman dibangkitkan kembali, namun tetap tidak sesuai harapan … what a loss! Sukses secara finansial, bukan berarti mendapat sambutan baik secara kritik. Bahkan film crossover antara Batman v Superman pun mengalami hal yang serupa. Sama halnya dengan Catwoman, film Green Lantern mengalami nasib serupa.

Film Wonder Woman untuk saat ini menjadi ‘penyelamat’ DC dari gempuran Marvel. Marvel yang mengumpulkan para Superhero di franchise The Avengers, disaingi oleh DC dengan Justice League-nya. Saya bukanlah penggemar komik Superhero. Karakter The Punisher kebetulan saya favoritkan, bukan berarti saya pro-Marvel. Beberapa film The Punisher yang rilis di era 2000’an bukanlah favorit bagi saya, malah dapat dikatakan mengecewakan.

Film Wonder Woman (2017) andalan DC Extended
Universe (DCEU), dalam rangka menyaingi gempuran MCU.
Film ini merupakan yang terbaik yang dimiliki DCEU
sejauh ini. (Warner Bros)

Memang secara bisnis, tampaknya Marvel masih lebih unggul dibandingkan DC. Terlepas dari jumlah atau karakter Superhero masing-masing, apakah menarik atau tidak, tema, special effect, dan lain sebagainya, film-film Superhero memang menjadi tontonan yang menghibur dan selalu ditunggu-tunggu.

Persaingan bukan hanya dari dua bendera besar tadi, namun beberapa komik Superhero independen dan graphic novel, sudah banyak difilmkan di sepanjang era millennium ini. Komik, novel dan graphic novel adalah sebuah fantasi yang dengan ‘mudah’ bisa dituangkan lewat tulisan dan gambar. Namun begitu divisualisasikan ke dalam bentuk film, tidaklah semudah yang dibayangkan.

Teknologi special effect seperti CGI, adalah sebuah bentuk evolusi dari perkembangan jaman dan revolusi dari era digital saat ini. Anak jaman ‘now’ yang lahir dan besar di era digital saat ini, banyak dimanjakan oleh video animasi yang semakin realistis ke dalam bentuk film, video games dan aplikasi ainnya.

Dengan adanya CGI, film apapun bisa dibuat dengan semakin mudah. Jika dulu film-film tersebut bisa dikatakan WOW, maka kini, saya hanya mengatakan AH … UDAH GAK ANEH, NIKMATI SAJA … 


Baca juga : Nasib Saga Terminator, The Latest and The Future 

Popular Posts