Lebih Baik buat Prekuel daripada Remake

Prometheus (2012), courtesy of 20th Century Fox

Dari sekian banyak sekuel, prekuel, remake, re-boot ataupun spin-off, crossover, serta istilah lainnya, membuat sebuah film masuk ke dalam sebutan franchise. Dari berbagai lintas generasi, genre, dan elemen lainnya, sebuah franchise akan selalu diingat oleh para penggemar film, kritikus serta tentunya media.

Sebuah franchise film ‘hidup’ di berbagai dekade dan generasi. Meski mungkin sempat vakum di beberapa dekade, tidaklah serta-merta menjadi usang dan terkubur, serta digilas oleh  berbagai franchise baru lainnya sesuai dengan perkembangan jaman.  Sebuah franchise film sejatinya adalah sebuah karakter yang memiliki keunikannya sendiri.

Semakin tua usia dunia perfilman, semakin maju pula teknik perfilman dan yang paling krusial adalah perubahan pola hidup yang mungkin terjadi karena munculnya berbagai sub-kultur modern. Aaahh … mungkin tulisan ini terlalu ilmiah untuk dibaca, karena saya hanya mencoba menyambungkan topik bahasan berikut.

Ini suatu kebetulan saja, film-film favorit saya kebanyakan masuk ke dalam ‘kategori’ oldies/jadul/klasik yang juga tidak pernah bosan saya tonton berulang-ulang. Dari berbagai film favorit tersebut, beberapa diantaranya berupa franchise. Dan dari franchise tersebut, beberapa diantaranya telah lama (terlalu lama) dirilis.

Karena saking lamanya tidak ada perkembangan baru, entah sekuel, prekuel ataupun remake … atau mungkin development hell! … saya pun jadi berangan-angan akan adanya kelanjutan dari franchise tersebut. Jujur saya kurang suka yang namanya remake. Namun gak bakal kebayang, jajaran aktor-aktris yang kembali hadir di film tersebut. Rentang waktu yang lama dan panjaaaaang dari seri terakhir tampaknya sulit untuk direalisasikan.

Angan-angan saya untuk merealisasikan hal tersebut adalah dengan membuat prekuel, minimal oleh kru atau sineas yang sama. Contoh paling ekstrim adalah Prometheus (2012) yang merupakan prekuel dari film Alien (1979) beserta seri-nya. Seri Alien yang terakhir –tanpa kita perhitungkan crossover Alien v Predator- adalah Alien : Ressurection yang dirilis pada 1997 silam.

Jadi bayangkan, rentang waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan kembali franchise Alien ke ‘tangan yang benar’ (langsung ditangani Ridley Scott), adalah 33 tahun lamanya! Saya sih sebenarnya gak ngikuti perkembangannya, namun satu hal yang pasti, usia tidak pernah berbohong. Apakah Ellen Ripley masih bisa ‘menjual’ sebagai pahlawan wanita tangguh? Ketuaan keleeesss … dan saya rasa, sulit untuk bisa menggantikan posisinya selain Sigourney Weaver.

Makanya kenapa dibuat prekuel, ya mungkin itu bagian dari strategi perfilman secara umum. Sama halnya dengan John Carpenter’s The Thing (1982).  Dari rentang waktu selama 29 tahun itupun tampaknya akan sulit diulangi oleh wajah keriput Kurt Russell dengan adanya sekuel, kecuali setting waktu cerita yang diatur sedemikian rupa. Meski John Carpenter sudah tidak menyutradarai lagi, The Thing (2011) tetap menghadirkan tone yang sama dengan pendahulunya. 

Jarak yang panjang akan penantian kelanjutan sebuah franchise untuk dihidupkan kembali, tentu saja selain adanya hambatan usia aktor/aktris yang konyol rasanya jika dipoles oleh CGI, juga sang sineas belum tentu mau comeback … entah itu sibuk dengan proyek lain atau lagi enggak mood, who knows. Sementara pihak lain atau studio begitu menggebu untuk melanjutkannya.

Mungkin opsi prekuel lebih baik dibandingkan remake, mengapa? Ada beberapa faktor krusial yang berkaitan dengan nilai dari franchise film itu sendiri. Yang pertama adalah orisinalitas. Sebuah remake ibaratnya adalah sebuah perjudian, apakah berhasil : membuat lebih baik, mempertahankan atau bahkan menghancurkan orisinalitas dari versi pendahulunya. Umumnya sih yaa ada di opsi ke-3, meski gak semua kaya gitu.

Yang kedua adalah perbedaan kru film antara film orisinal dengan remake, terutama sineas dan aktor/aktris. Hal itulah yang merubah nilai, visi dan kualitas franchise, entah ke arah yang lebih baik atau lebih buruk. Yang terakhir, tentunya adalah ‘pengulangan’ atau menceritakan kembali hal yang sama, dengan gaya dan perspektif yang berbeda … so, apakah produk daur ulang memang layak pakai? It’s your choice.

Selama ceritanya bisa dikembangkan menjadi sebuah prekuel, saya rasa lebih baik dibandingkan remake. Prekuel menghadirkan cita rasa baru dari sebuah cerita di masa lalu. Prekuel tidak ‘mengganggu’ orisinalitas cerita berseri, bahkan mungkin saja bisa dibuatkan stand alone trilogy atau series (seperti halnya Star Wars), namun ceritanya tetap nyambung dan menjadi satu-kesatuan yang solid.  

Saya sih mengharapkan deretan movie franchise yang telah lama tidak dikembangkan, yang (mungkin) seharusnya dibuatkan prekuel. Berikut beberapa daftar yang sekilas muncul di benak saya saat ini :

1.       Dirty Harry

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

Pertama kali muncul di tahun 1971 dan berakhir di tahun 1988, hingga saya pada titik tertentu bosan menontonnya berulang-kali, membuat saya bertanya-tanya, kenapa sih gak dibuatkan kelanjutannya? Maksudnya, gak mungkin kan opa Eastwood yang seharusnya pensiun, masih tembak-tembakan, lari-larian ngejar penjahat di kota San Fransisco. Coba deh kalo dibuatkan prekuel Harry Callahan muda, yang mungkin baru lulus dari akademi kepolisian atau awal cerita dia jadi seorang ‘vigilante cop’ yang menghalalkan kekerasan untuk menumpas penjahat, pasti seru kan? Clint Eastwood yang kini fokus jadi sutradara, kenapa tidak menggarap saja tuh film. Mungkinkan Scott Eastwood pantas didapuk mejadi Harry Callahan muda? Why not? It would be awesome, dude!  

2.       Snake Plissken
Courtesy of AVCO Embassy Pictures, 1981

Kurt Russell sulit untuk kembali, mengingat faktor usia, maka serahkanlah kepada yang lebih muda. Saya baca di sebuah media, bahwa Escape From New York akan dibuatkan remake, oh GOD! (lagi-lagi). Sayang seribu sayang, jika anda ingat dengan dialog di kedua filmnya Plissken, pembuatan prekuel dengan cerita aksi perampokan sebuah bank di Cleveland atau di Dallas bareng Brain, pasti bakal seru lho! Come on John (Carpenter), aktif lagi dong garap film!

3.       Rambo
Courtesy of Orion Pictures, 1982

Kegalauan Stallone untuk meneruskan cerita Rambo, berakhir dengan non aktifnya sebuah sekuel, yang katanya akan berlanjut di serial televisi. Sly yang ogah melepas bajunya, memang malu mempertontonkan ototnya yang sudah keriput, seperti di film Rambo (2007). Padahal, banyak ide cerita yang digarap semasa Rambo dan kawan-kawan –bareng Trautman- saat aktif di Special Force, dengan setting cerita sebelum kejadian di film pertamanya. Sly, mending kamu di belakang layar aja!


4.       Indiana Jones
Courtesy of Paramount Pictures, 1981

Mungkin Harrison Ford masih bisa jadi ‘Old Indy’ untuk beberapa tahun terakhir, berpetualang bareng anaknya lagi? Hmmm … maybe. Memang dia tak tergantikan. Tapi tak ada salahnya jika mencoba flashback di masa muda, seperti halnya banyak cerita di serial televisi, The Young Indiana Jones Chronicles. Selain fresh, diharapkan prekuel tersebut mampu ‘merekrut’ fans dari generasi ‘jaman now’. Ford tetap main, mungkinkah ada plot non-linear yang menceritakan kenangan Indy di masa lalu? Sayangnya River Phoenix telah tiada.

5.       Horror Movies

Ngomongin horor tentu gak akan habis. Banyaak banget yang bisa digarap, setelah beberapa franchise tampaknya mulai frustasi dengan sekuel ngawur dan remake memble, which are rasanya tidak perlu disebutkan lagi satu-persatu … meski memang gak semuanya sih. Contoh paling gampang yang mudah diingat, ketika dulu saya pernah baca rencana prekuel A Nightmare on Elm Street, yang mengisahkan bagaimana awal Freddy Krueger membunuh anak-anak.

Mungkin akan keren, jika Freddy pada saat dibakar hidup-hidup, melakukan perjanjian dengan setan, yang kelak akan meneror generasi berikutnya melalui mimpi buruk. Tampaknya rencana tersebut masih belum terealisasi. Pun dengan flashback di film Phantasm IV : Oblivion (1998), yang menceritakan sekilas masa lalu The Tall Man yang melegenda tersebut. Sebenarnya akan seru, jika melihat asal-mula The Tall Man sebagai iblis. Ngomong-ngomong asal-muasal manusia menjadi iblis, eksploitasi dari karakter Candyman, Pinhead, bahkan tidak mungkin mahluk The Creeper (Jeepers Creepers)? It’s all possible and I think worth to be watched




Popular Posts