Lebih Baik Buat 'Prekuel' Daripada 'Remake'

Dunia Sinema Opinion Alien Convenant
20th Century Fox

Pembuatan ulang atau remake maupun reboot dari sebuah film, adalah hal biasa sekaligus wajar, yang dilakukan oleh industri perfilman dunia sejak dulu kala. Melalui berbagai motif dan tujuannya, film remake atau reboot sejatinya untuk memberikan hal baru, penyegaran kembali ataupun alternatif bagi generasi baru.
 
Namun anehnya, jika film tersebut telah populer dan dianggap sebagai salah satu yang terbaik, serta berpengaruh terhadap beberapa generasi setelahnya, ketika akan atau sedang dibuat ulang kembali, maka pertanyaan besar pun muncul: Buat apa?

Celakanya, film yang dimaksud telah menjadi sebuah franchise, yang artinya memiliki salah satu kriteria berikut : Film yang telah memiliki satu atau lebih akan sekuel, prekuel atau terkadang sempalan (spin-off), crossover, dan bahkan adaptasi ke dalam bentuk serial melalui jaringan televisi, video maupun digital.

Jika film orisinal yang berstatus single maupun yang telah berupa
waralaba dan memiliki penggemar melalui jalur mainstream maupun cult, maka sebaiknya jangan diganggu-gugat dengan pembuatan ulang, alih-alih ingin memperkenalkan kepada generasi baru.
 
Padahal di Amerika sana, beberapa film tertentu yang telah menjadi bagian dari pop culture, biasanya memutar ulang film tersebut secara periodik, misalnya setiap 10 atau 15 tahun sekali atau istilahnya, Anniversary

Meski demikian, dari sekian banyak film yang dibuat ulang, beberapa diantaranya tidaklah mengecewakan dan bahkan ada yang bagus, dalam arti setara atau malah lebih baik dari versi orisinalnya. Namun hal tersebut jarang terjadi, kecuali film orisinalnya memang dinilai kurang menarik bagi audiens, penggemar dan kritikus.

Sementara pembuatan ulang yang merupakan hasil adaptasi dari film asing, juga tergantung penilaian dari sudut pandang kultural antara negara atau bangsa yang satu dengan yang lainnya, sehingga cukup sulit dinilai secara universal.
 
Era 2000’an merupakan puncak dari sejumlah film pembuatan ulang yang dirilis dari berbagai genre, kebanyakan daur ulang terhadap waralaba populer, terutama dari era 70’an hingga 90’an.

Sedangkan dalam pertengahan dekade berikutnya, perubahan tren cenderung ke arah sekuel terhadap waralaba dari era yang sama, menimbulkan nostalgia dengan kembalinya para karakter lama yang diperankan oleh aktor/aktris yang sama, berkolaborasi dengan para karakter baru.

Dunia Sinema Opinion The Hobbit
Warner Bros Pictures

Sekuel adalah hal yang menarik sekaligus mengkhawatirkan, terlepas dari jangka waktu perilisan dari film terakhirnya. Bagaimanapun juga, sekuel tetap menjadi bagian penting dari sebuah waralaba yang saling berkaitan satu sama lain, umumnya berada dalam satu semesta yang sama, serta setia pada kontinuitas saga dari film pertamanya.
 
Lain halnya dengan remake atau reboot, juga ada istilah re-imagine maupun re-envision, pada dasarnya mendaur ulang sebuah materi orisinal dengan hal-hal baru ataupun mengambil basis dan entitasnya, dengan menghadirkan sebuah alternatif baru.

Pembuatan ulang film atau waralaba yang telah populer atau berstatus cult, sama saja dengan kemalasan industri perfilman tersebut, daripada melahirkan berbagai ide baru yang lebih segar, padahal masih banyak sumber materi yang belum diadaptasi ke dalam bentuk film.

Terdapat dua faktor signifikan yang mungkin mempengaruhi industri perfilman, ketika membuat ulang film atau waralaba populer. Faktor pertama, yakni mengurangi nilai dan esensi dari orisinalitas film atau waralabanya, melalui sebuah ‘duplikasi resmi’ sehingga terkesan mengacuhkan loyalisme terhadap kontinuitas saga secara keseluruhan.

Sedangkan faktor kedua, yakni menawarkan sebuah alternatif lain, sehingga berpotensi membingungkan generasi baru, terutama bagi mereka yang kurang akan informasi terhadap film atau waralaba orisinalnya.

Pengecualiannya, mungkin pembuatan ulang film-film kuno atau klasik dari era Golden Age of Hollywood atau era bahkan sebelumnya, dengan rentang waktu perbedaan besar, sehubungan dengan aspek teknologi, meliputi sound, visual atau efek spesial.


Pembuatan ulang sebuah waralaba yang telah menemukan jalan buntu, terhadap sekuel terakhir yang dirasa semakin terpuruk, juga menjadi salah satu pertimbangan oleh para eksekutif studio, distributor maupun produser serta sineas.

Namun, pembuatan prekuel terhadap hal tersebut, malah sepertinya lebih menarik sekaligus benar-benar merupakan penyegaran kembali
waralaba yang telah lama tidak disentuh.

Tanpa mengurangi esensi dan nilainya, pengembangan narasi akan saga serta pengembangan karakternya, malah semakin menambah warna tersendiri, dengan menghadirkan aktor/aktris darah muda, masih dengan karakter yang sama.

Istilah prekuel sendiri, yakni kisah yang terjadi sebelum kisah dari film orisinalnya. Contoh signifikan dari prekuel
waralaba populer seperti Star Wars Episode I-III dari Episode IV-VI, Prometheus dan Alien Convenant dari film Alien, The Hobbit dari trilogi Lord of the Rings atau Fantastic beast dari Harry Potter.

Adapun beberapa
waralaba yang telah lama hadir sejak pertama kali dirilisnya film orisinal beberapa puluh tahun yang lalu, mungkin akan menarik jika dibuatkan prekuelnya. Berikut ini, terdapat tiga waralaba yang berpotensi dijadikan prekuel di masa datang:

  
Dunia Sinema Opinion Dirty Harry
Warner Bros Pictures
Dirty Harry
 
Pertama kali muncul di tahun 1971 dan berakhir di tahun 1988, waralaba film Dirty Harry merupakan warisan klasik akan kisah polisi vigilante yang sempat kontroversial di masa nya. Sang pemeran Harry Callahan, yakni Clint Eastwood sejak era 90’an enggan melanjutkan sekuelnya, karena kahwatir akan dijadikan parodi, mengingat faktor usia yang memang sudah harus pensiun sebagai polisi. Sepertinya akan menarik, jika menyaksikan sepak terjang Callahan muda mengalami transisi sebagai polisi ‘brutal’ tersebut. Selagi Clint masih hidup, mengapa ia tidak berinisiasi untuk menyutradarai putranya bernama Scott sebagai Callahan muda?

Dunia Sinema Opinion Snake Plissken
AVCO Embassy Pictures
Snake Plissken

Seperti halnya Mel Gibson yang terlalu uzur jika bermain dalam Mad Max : Fury Road (2015), pun demikian dengan Kurt Russell jika melanjutkan Escape from L.A. (1996) sebagai Snake Plissken, apalagi dalam dunia post-apocalyptic. Asalkan pemilihan aktor yang pas, harapan kembalinya John Carpenter sebagai sutradara, adalah hal yang bakal luar biasa. Masih ingatkah dialog dalam Escape from New York (1981), bagaimana masa lalu Plissken sebagai tentara yang badass, sebelum menjadi tawanan, ia beraksi di Cleveland maupun di Dallas bersama dengan karakter Brain?


Dunia Sinema Opinion Indiana Jones
Paramount Pictures
Indiana Jones
 
Meski film Indiana Jones and the Temple of Doom (1984) adalah prekuel dari Raiders of the Lost Ark (1981), tidak selamanya Harrison Ford terus berperan sebagai Indiana Jones setelah perilisan sekuel terbarunya di sekitar tahun 2021 mendatang. Mengingat usia di masa yang seharusnya pensiun, serta adanya sinyal penyerahan tongkat estafet kepada Shia LaBeouf dalam Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull (2008), ada kalanya kisah masa muda Indy jadi pertimbangan serius untuk diangkat ke layar lebar, tatkala menyaksikan adegan awal di film Indiana Jones and the Last Crusade (1989) dan serial televisi The Young Indiana Jones Chronicles.


Sejumlah Film Lainnya

Sangat disayangkan, ketika pembelian Disney terhadap Fox, merubah rencana prekuel Die Hard yang sepertinya hanya akan tayang melalui serial dalam jaringan Disney+. Sedangkan film Dune (1984) masih banyak yang bisa dieksplorasi daripada membuat ulang, begitu pula halnya dengan film Alien Nation (1988) ataupun Big Trouble in Little China (1986).
 
Genre horor adalah yang paling mudah diusik dalam pembuatan ulang, baik yang telah terjadi maupun rencana yang akan datang. Potensi prekuel yang paling memungkin seperti waralaba film Phantasm, A Nightmare on Elm Street, Hellraiser, Candyman atau Jeepers Creepers, sangatlah menarik mengingat latar kisah terhadap karakter antagonisnya.

Comments