Dirty Harry Movie : Dirty Harry (1971)

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

“Now you know why they call me Dirty Harry? Every dirty job has come along”

Kalimat itulah yang diucapkan oleh Inspektur Harry Callahan kepada seorang rekannya, Gonzales, segera setelah ia menyelamatkan seseorang -dengan cara yang tidak biasa- yang urung bunuh diri dari puncak di sebuah gedung bertingkat. Karakter Harry Callahan atau yang biasa disebut Dirty Harry, sangatlah populer di Amerika sana. Filmnya pertama kali dirilis dengan judul yang sama dengan nama karakternya di tahun 1971 dilanjutkan dengan empat sekuel berikutnya, yakni Magnum Force (1973), The Enforcer (1976), Sudden Impact (1983) dan The Dead Pool (1988).

Meet Inspector Harry Callahan, a San Francisco Police Officer, who in charge in the Homicide Department …

Dengan perawakan tubuh yang tinggi dan atletis, tampang, mimik dan kadang ucapannya yang sinis, mahir menembak, serta selalu membawa senjata andalannya, yakni sebuah pistol revolver besar, Smith & Wesson Model 29 dengan Magnum .44! Sebenarnya ada alasan khusus, mengapa ia memilih senjata itu … tapi nanti aja, kita bahas di film The Enforcer di lain waktu.

Saking populernya film ini yang membawa nama Dirty Harry menjadi salah satu ikon jagoan polisi yang disegani, hingga didaulat oleh Library of Congress dalam National Film Registry sebagai yang “secara signifikan adalah kultural, historikal dan estetis” di tahun 2012. Ide cerita film ini ditulis oleh sepasang suami-istri, Harry Julian Fink dan Rita M. Fink, dan naskahnya dibuat oleh John Milius. Dari situlah, muncul sosok seorang vigilante cop atau polisi ‘edan’ dalam memberantas kriminal. Metode Harry Callahan dikenal efektif dan mematikan, diluar text book. Ia tak ragu-ragu dalam menembak mati penjahat, terkadang ia melabrak aturan-aturan standar penegak hukum.

Pemaparan cerita Dirty Harry sangat sederhana, layaknya film-film polisi lainnya. Diceritakan adalah seorang pembunuh berantai psikopat, yang menamakan dirinya Scorpio (Andy Robinson). Ia membunuh secara acak korban-korbannya, dengan menggunakan senapan bidik dari jarak jauh.

Pada saat pembunuhan pertama terjadi, Scorpio menulis pesan kepada kepolisian, dengan meminta sejumlah uang kepada Wali Kota, atau ia akan membunuh lagi. Harry Callahan (Clint Eastwood) dan rekannya, Chico Gonzales (Reni Santoni) mengintai dan menjebak Scorpio yang akan membunuh seorang Pendeta di dekat Gereja. Namun usaha tersebut gagal, setelah mereka berkonfrontasi dan saling tembak, Scorpio berhasil melarikan diri.

Scorpio lalu mengirim pesannya yang kedua kali, dengan meminta tebusan uang. Jika tidak terpenuhi, seorang gadis yang ia culik akan mati dalam waktu tertentu. Sang Wali Kota (John Vernon) pun menuruti permintaan Scorpio. Melalui bosnya, Letnan Al Bressler (Harry Guardino), Callahan (Clint Eastwood), dibantu oleh Gonzales yang membuntutinya, ditugasi untuk mengantar uangnya kepada Scorpio. Setelah Callahan ‘dikerjai’ oleh Scorpio dalam ‘permainan’ mengantar uang hingga di suatu tempat, terjadi lagi konfrontasi. Gonzales terluka parah dalam baku tembak, sedangkan Callahan babak belur dihajar Scorpio yang kembali melarikan diri.

Dari keterangan dokter setempat, Scorpio yang terluka oleh Callahan, berhasil diketahui tempat ia tinggal. Callahan yang ditemani rekannya, DiGiorgio (John Mitchum) akhirnya berhasil menangkap Scorpio. Namun terlambat, karena setelah kejadian tersebut, jasad gadis yang diculik Scorpio baru ditemukan oleh polisi.

Keesokan harinya Callahan beragumen dengan Jaksa Wilayah dan Hakim, bahwa Scorpio telah dibebaskan dan tidak memiliki bukti valid untuk menjadi terdakwa. Merekapun bahkan menuduh Callahan menganiaya Scorpio berdasarkan hak amandemen. Callahan yang frustasi, kemudian dengan sengaja membuntuti dan ‘meneror’ gerak-gerik Scorpio, dimanapun ia berada. Scorpio tak kehilangan akal, dengan sengaja ia membuat dirinya babak belur, dan mengklaim bahwa ia telah dianiaya Callahan.

Untuk ketiga kalinya, Scropio meminta uang tebusan kepada Wali Kota. Ia menculik rombongan anak sekolah dengan menggunakan sebuah bus. Wali Kota yang akan menuruti permintaannya, meminta Callahan untuk kembali mengntarkan uang kepada Scorpio. Namun dengan kesal, Callahan menolak mentah-mentah. Akhirnya, Callahan seorang diri, beraksi untuk memburu Scorpio.

impawards.com

Film Dirty Harry menyajikan aksi heroik dari seorang polisi yang terkesan main hakim sendiri. Seorang Callahan tidak bisa tinggal diam, ketika ada ketidakadilan di depan matanya, sedangkan waktu terus berputar dan prosedur akan tindakan penegak hukum dianggap terlalu birokratis.

Peran sentral Clint Eastwood memang sosok tepat sebagai Harry Callahan, terutama dari jenis vokal suara yang khas, serta mimik wajah yang sinis, juga sebagai seorang yang tangguh tanpa basa-basi. Memang sudah jadi ciri khas bawaan Eastwood kalo kita liat di film-film lainnya.

Sedangkan aktor-aktris lainnya di film ini tidak ada yang menonjol, kecuali sang pembunuh psikopat, Scorpio. Aktor Andy Robinson begitu sempurna sebagai Scorpio yang digambarkan terlihat ‘sakit dan berbahaya’ secara fisik serta dialog. Sangat berbahaya melihat dirinya, lebih baik menjauh …

Dibandingkan beberapa sekuelnya, penuturan cerita dan beberapa adegan di film ini terasa agak lambat, tapi tidak menurunkan ketegangan, adrenalin serta ambience yang ada. Untungnya, sosok Callahan yang emosional, selalu menarik perhatian kepada orang-orang yang berinterkasi dengannya. Salah satu kekuatan utama di film ini, adalah dialog atau quotes yang begitu cerdas dan catchy.

Selain dialog diatas, ada quote paling terkenal yang menjadi trademark di film ini, ketika Callahan menantang seorang kriminal :   

"Uh, uh. I know what you’re thinking : ‘Did he fire six shots or only five?’ Well to tell you the truth in all this excitement I kinda lost track myself. But being this is a .44 Magnum, the most powerful handgun in the world and would blow your head clean off, you've gotta ask yourself one question: ‘Do I feel lucky?’… Well, do ya, punk?”

Dan masih ada beberapa dialog lainnya, dengan selipan humor dan satir cerdas. Seperti ketika Callahan merespon laporan dan menjawab ketidaksukaan Wali Kota terhadap kasusnya yang lalu, dialog Callahan dengan seseorang yang akan bunuh diri, argument Callahan dengan Jaksa Wilayah, percakapan antara Digiorgio, Gonzales dan Callahan, dialog antara Scorpio dengan seorang pemukul bayaran, serta penolakan Callahan terhadap Wali Kota.

Beberapa adegan aksi pun dilakukan dengan baik, seperti cara Scorpio mengerjai Callahan yang mengantar uang di dalam tas berwarna kuning kepadanya. Bagaimana Callahan berlari tergesa-gesa -bahkan sempat menaiki Muni Metro/Trem- dari satu tempat ke tempat lainnya, mengangkat dering telepon umum guna mengikuti instruksi Scorpio. Pacuan adrenalin yang dibatasi waktu, tergantung dari aksi Callahan, karena nyawa seorang gadis yang diculik Scorpio bergantung padanya.

Adegan aksi di akhir cerita pun terasa spektakuler, ketika Callahan menyergap bus yang dibajak oleh Scorpio. Film Dirty Harry pula lah yang semakin mempopulerkan berbagai keindahan di sudut kota San Francisco, yang dikenal dengan tekstur jalanan naik-turun, serta sorotan panorama kota di pinggir laut dari udara.

Bagaimana sudut dan sorotan kamera dari satu atap ke atap gedung lainnya, kemegahan arsitektur Balai Kota San Francisco, Tugu Salib di Mount Davidson dengan sorotan close-up dan dari atas, lapangan Stadion Kezar yang disorot menjauh dan yang paling indah adalah siluet Callahan di waktu fajar dengan background jembatan Golden Gate, berhasil menangkap momen spesifik. Juga suasana hiruk-pikuk San Francisco ketika Callahan sedang menyantap burger, sambil mengunyah lalu beraksi menembak para perampok bank, turut andil dalam ‘meramaikan’ aksi dalam film.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1971

Untuk ketiga kalinya, sineas Don Siegel berkolaborasi dengan Eastwood di film ini, setelah Coogan’s Bluff (1968) dan The Beguiled (1971), dan untuk keempat kalinya di film Escape from Alcatraz (1979). Aransemen musik berupa instrumen jazz begitu dominan, layaknya film-film action era 70’an, merupakan ciri khas dari komposer Lalo Schifrin. Jasanya juga dipakai di serial Mission : Impossible dan Bullitt (1968) dan tentu di film-filmnya Eastwood.

Film Dirty Harry muncul sebagai reaksi atas meningkatnya aksi kriminal yang meningkat secara signifikan terutama di akhir 60’an. Film ini menggambarkan seakan-akan aksi kriminal yang merajalela, lebih dominan dan cenderung ‘menang’ terhadap hukum dan otoritas. Munculnya Dirty Harry ke permukaan yang menghalalkan segala cara -cenderung mengabaikan prosedur baku- mengimbangi hal tersebut, dan bahkan berusaha untuk menumpas tuntas para kriminal.

Dirty Harry merupakan role model seorang polisi, yang cenderung didambakan oleh masyarakat, di dalam sebuah kota yang sepertinya ‘tidak aman lagi’. Bersamaan dengan film The French Connection, Shaft dan Billy Jack di tahun yang sama, karakter Dirty Harry dijadikan basis dari sekian banyak film action tentang polisi fiktif lainnya yang besar di era 80’an seperti Cobra (1986), Lethal Weapon (1987) atau Above the Law (1988). Moralitas dan perlakuan hukum terhadap para kriminal pun dipertanyakan … ujung-ujungnya adalah keadilan.

Dengan perpaduan unsur kekerasan, aksi yang memorable, humor dan kecerdasan dialog, ditambah dengan thriller yang mumpuni, film Dirty Harry sangat direkomendasikan sebagai referensi atas aksi seorang polisi yang berani. Kata Dirty sendiri, mungkin bisa diinterpretasiakan bahwa Harry Callahan sering melakukan pekerjaan, ibaratnya : “kekerasan dibalas dengan kekerasan”, agar ada efek jera gitu? Lalu, ketika masyarakat geram dengan perilaku para kriminal, mungkinkah ‘Dirty Harry’ bisa muncul di dunia nyata?

Score : 4 / 4 stars

Dirty Harry | 1971 | Aksi Laga, Thriller | Pemain: Clint Eastwood, Andy Robinson, Harry Guardino, Reni Santoni, John Vernon | Sutradara: Don Siegel  |  Produser: Don Siegel, Robert Daley | Penulis: Harry Julian Fink, R.M. Fink, Jo Heims | Musik: Lalo Schifrin | Sinematografi: Bruce Surtees  | Distributor: Warner Bros | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 102 Menit


Baca juga : The French Connection (1971) : Koneksi Maut Narkoba | Straw Dogs (1971) : Penyerangan Brutal yang Kontroversial  | Lebih Baik Buat Prekuel daripada Remake

Popular Posts