Crossroads (1986) : Penebusan di Persimpangan Jalan

Courtesy of Columbia Pictures, 1986

Musik blues! Gak banyak di negeri ini yang suka sama musik yang satu ini. Unik, sendu, melankolis, cenderung bernuansa gelap, meski terkadang bisa enerjik dan passionate. Ketika pertama kali baca di Wikipedia, sebenarnya saya agak segan menontonnya. Tema musik blues, dengan lingkungan –maaf, bukan rasis- kulit hitam di Amerika, kurang menarik atensi saya.

Film Crossroads menceritakan tentang seorang anak remaja penggemar, pengkoleksi dan peneliti musik blues, bernama Eugene (Ralph Macchio), yang bersekolah di jurusan musik klasik di kota New York. Eugene dalam penelitiannya, menemukan bahwa legenda musisi blues bernama Robert Johnson, seorang musisi berbakat dari Mississippi, menjual jiwanya kepada setan di sebuah persimpangan jalan. Eugene juga tertarik, dengan kabar hilangnya lagu terkahir karya Robert Johnson yang tidak pernah ditemukan.

Eugene pun mengetahui bahwa kawan baik Robert Johnson yang bernama Willie Brown (Joe Seneca) kini berada di dalam sebuah rumah sakit penjara di New York, karena kasus pembunuhan. Eugene yang terobsesi, ingin bertemu dengan Willie. Awalnya ia ditolak, hingga ia bahkan menjadi seorang part time cleaning service di rumah sakit tersebut. Eugene yang awalnya diacuhkan Willie, terus menaruh perhatian dan memancing Willie, dengan menunjukkan sebuah foto yang merujuk kepadanya.  

Willie akhirnya menyerah dan mengaku kepada Eugene, setelah Eugene dengan gitarnya memainkan musik blues dihadapannya. Eugene yang penasaran mampus akan hilangnya lagu Robert Johnson, mendesak Willie untuk memberikan informasinya. Willie setuju, dengan syarat Eugene harus mengeluarkannya dari rumah sakit, karena ia juga ada urusan di Mississippi. Merekapun sepakat, keesokan harinya mereka diam-diam kabur dari rumah sakit.

Namun perjalanan tak semulus dari rencana awal. Ketika mereka transit menggunakan bus di Memphis, mereka kehabisan uang dan akhirnya menumpang mobil orang dengan tujuan Mississippi. Dalam perjalanan menuju Mississippi, mereka bertemu dengan Frances (Jami Gertz), seorang gadis pelarian dari Philadelphia menuju Los Angeles. Eugene dan Frances akhirnya terlibat hubungan asmara.

Berbagai peristiwa menarik pun mereka alami, seperti mengamen musik blues, berkonforntasi dengan pemilik klub, urusan dengan sheriff lokal, serta sebuah insiden yang mengakibatkan mereka bisa memainkan lagu di sebuah bar kulit hitam. Dalam perjalanan itupun ternyata diketahui bahwa Willie pun dulunya –sama seperti Robert Johnson- pernah menjual jiwanya kepada setan, di lokasi persimpangan yang sama.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju persimpangan itu, dengan harapan Willie yang hidupnya telah sengsara, segera bertemu dengan setan berwujud manusia –yang dipanggil Legba- dan ingin membatalkan perjanjiannya. Berhasilkah mereka? Lalu bagaimana dengan kelanjutan cerita lagu milik Robert Johnson yang hilang?

Film Crossroads ternyata merujuk kepada sebuah legenda –atau tepatnya, mitos- dari seorang musisi blues ternama, Robert Johnson. Beliau boleh dikatakan sebagai seorang musisi yang punya pengaruh awal dalam perkembangan musik blues di Amerika, era 30’an. Ia dikenal dengan gaya Delta Blues, sebuah gaya paling awal musik blues yang lahir di area Mississippi Delta.

John Fusco, seorang mahasiswa master sekaligus musisi blues jalanan, membuat tesis yang kemudian dijual kepada Columbia Pictures, sehingga menjadi sebuah skenario film Crossroads. Film drama musikal ini ternyata juga disutradarai oleh sineas yang biasa mengarahkan film-film action di era 80’an, yakni Walter Hill. Menurut saya, beliau berhasil dalam mengarahkan gaya dan akting yang bagus, serta koreografi yang keren di film ini.


impawards.com

Cerita di film ini awalnya dibuat menarik, dengan dibubuhi aura mistis seputar mitos musisi Robert Johnson. Adegan saat karakter Eugene yang terobsesi dengan hal tersebut, memaksakan diri untuk bertemu dengan Willie. Dan Eugene pula-lah yang ‘memaksakan’ Willie untuk ‘membangkitkannya’ dari keterpurukan di rumah sakit, dan terus berusaha berkomunikasi dengan Willie.

Awal petualangan pun dimulai tatkala mereka kabur dari rumah sakit menuju lokasi yang mereka tuju, demi ‘memecahkan misteri’ hilangnya sebuah lagu dan di satu sisi, penebusan Willie terhadap masa lalunya. Bagaimana kisah-kisah selanjutnya, terekam dalam berbagai adegan yang menurut saya cukup menarik dan simpatik.

Meski sebenarnya tokoh utamanya adalah Eugene, namun berkat akting yang mumpuni dari aktor Joe Seneca sebagai Willie, mereka berdua-lah yang memiliki masing-masing porsi seimbang. Sebagai seorang kakek berumur sekitar 70 atau 80’an, ditampilkan masih memiliki fisik prima, dengan piawai memainkan harmonika dan membawakan lagu di atas panggung. Bagaimana ia membawakan karakternya disaat sedih, ketakutan, marah, gembira dan berjingkrak-jingkrak, dilakukannya dengan sangat baik dan natural.

Akting Ralph Macchio, yang dikenal lewat franchise Karakte Kid, juga tak kalah menterengnya. Sebagai seorang remaja yang kurang diperhatikan oleh orang tuanya, ia mulai ‘keluar’ dari zona nyaman kehidupan seorang anak sekolah. Bagaimana ketika ia mulai ragu dan polos, setelah beragumen dengan Willie, pada saat perjalanan serta petualangannya dimulai. Eugene digambarkan sebagai anak yang baik-baik dan berbakat, dan sepertinya ingin menunjukkan keseriusannya dalam dunia musik blues.

Akting Jami Gertz sebagai Francis, juga berhasil menghadirkan chemistry yang terjalin dengan baik. Awalnya digambarkan sebagai seorang gadis yang galak dan judes, namun seiring petualangan mereka, menjadi seseorang yang bersahabat, meski tetap tangguh.

Di sepanjang cerita, memang tersaji berbagai dialog-dialog emosionil antara Eugene dan Willie. Bagaimana pasang-surut kedua hubungan pertemanan mereka, ditampilkan dengan dinamis. Meski berkesan bahwa karakter Eugene tidak menganggap figur ‘ayah’ terhadap Willie, namun banyak pelajaran, dukungan serta moralitas yang didapat oleh Eugene. Malah sosok Willie seperti ‘manajer’ Eugene, ketika sedang bernegosiasi dengan pemilik toko alat musik, atau pemilik mobil bekas misalnya, dan bahkan Willie pula-lah yang menyelamatkan Eugene dan Frances ketika mereka ada di bar kulit hitam. Nilai-nilai filosofis itulah yang ditanamkan Willie kepada Eugene, bagaimana menjadi seorang musisi blues. 

Yang menarik di film ini adalah kemunculan seorang gitaris kenamaan, Steve Vai. Ia berperan menjadi salah satu musisi andalan Legba. Dalam sebuah adegan, diperlihatkan ia berduel dengan Eugene dalam suatu kontes. Mereka saling beradu teknik memainkan instrumen gitar. Layaknya sebuah video clip musik rock, koreografi di adegan tersebut ditampilkan dengan performance yang keren dan menarik. Dengan latar belakang kerumunan penonton, anggota band lainnya sebagai background, serta seorang penari latar, nuansa modern blues rock begitu kental dan indah.

Satu kelemahan dari akting Ralph Macchio, ketika ia memainkan gitarnya. Menurut saya, agak kaku dan kurang stylish dalam memegang serta memainkan gitar elektriknya. Terutama adegan saat berduel dengan karakter yang dibawakan oleh Steve Vai, tampak kekakuannya dalam memadukan teknik permainan gitar dan gerak tubuhnya. Memang di sisi lain, ia berakting sebagai seorang yang grogi dan tegang, ketika beradu dengan seorang master guitarist.

Penuturan cerita film juga divisualisasikan oleh warna hitam-putih, pada saat adegan-adegan flashback. Kehadiran warna hitam-putih menguatkan suasana klasik yang terjadi ketika diceritakan karakter Robert Johnson, Willie dan Legba yang masih muda di tahun 30’an. Deskripsi suasana khas di Southern America juga ditampilkan, dengan ciri-ciri jembatan, sungai, pemukiman hingga kota kecil dengan berbagai suasana yang mendukung.

Film Crossroads secara keseluruhan menarik untuk disimak, terlebih bagi penggemar musik blues. Meski memang tidak ada eksplorasi dari musik blues itu sendiri, namun hal yang ditekankan adalah suatu perjalanan dan tekad untuk sebuah penebusan, serta maksud dibalik pencarian sebuah lagu yang hilang. Original score di film ini dimainkan oleh musisi serba bisa, Ry Cooder, dengan irama blues yang kental.

Cerita di film ini, memang tidak ada kejutan-kejutan besar, seperti di film petualangan komedi The Blues Brothers (1980). Ekspektasi saya sebenarnya melebihi akhir cerita yang ada, yang agak disayangkan dengan beberapa adegan yang sepertinya dengan mudah terjadi. Bagaimanapun juga, aktingnya hebatlah yang bisa menaikkan nilai film ini, dilengkapi dengan visual yang cukup menarik.  

Score : 3 / 4 stars

Crossroads | 1986 | Drama, Misteri, Petualangan, Musikal | Pemain: Ralph Macchio, Joe Seneca, Jami Gertz  | Sutradara: Walter Hill  |  Produser: Mark Carliner | Penulis: John Fusco | Musik: Ry Cooder | Sinematografi: John Bailey  | Distributor: Columbia Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 96 Menit


Baca juga : The Warriors (1979) : Fitnah, Solidaritas dan Eksistensi Jati Diri

Popular Posts