10 Film Adaptasi Stephen King Terfavorit


Oke, sejak era 70’an dan empat dekade berikutnya, banyak sekali film-film yang diadaptasi dari novelnya Stephen King, dengan berbagai genre mulai dari horor, supranatural, psikologis, monster, mahluk asing, thriller, suspens, hingga action dan drama. Dari sekian banyak film tersebut, beberapa sineas terkenal yang handal beserta sedikit aktor dan aktris populer telah terlibat di dalamnya.

Sebagian dari film-film tersebut, ada yang sukses di box office, ada juga yang moderat, bahkan ada yang gagal. Demikian pula dari kritik atau kualitas, terkadang bervarian penilaiannya, meski beberapa filmnya memang benar-benar bagus secara umum. Stephen King sendiri memiliki daftar beberapa film adaptasinya yang ia anggap suka, beberapa pula yang ia anggap mengecewakan, karena tidak sesuai dengan visi dari novelnya itu sendiri.

Sejujurnya, sulit untuk mengumpulkan dan menyeleksi daftar dari 10 film adaptasi Stephen King, yang saya pertimbangkan sebagai favorit, artinya sesuai dengan selera pribadi yang terkadang sedikit mengacuhkan objektivitas dalam menilai sebuah film dari berbagai aspek yang ada. Kriteria utama yang digunakan dalam daftar ini, selain premis dasar dan tema cerita yang menarik, juga sejauh mana besarnya atmosfir yang dihadirkan, berdasarkan genre yang diusungnya. Untuk hal seperti akting, efek ataupun sinematografi, boleh dibilang adalah bonus untuk semakin menaikkan nilai estetikanya, meski pengaruhnya, well … cukup besar juga.

Bagaimanapun juga, karya-karya Stephen King memiliki akar kuat yang mengandung unsur thriller, sekalipun film adaptasinya memiliki genre drama murni misalnya. Dari sekian banyak film-film adaptasinya, berikut adalah beberapa honorable mentions, seperti : Carrie (1976), Misery (1990), The Shawshank Redemption (1994), Dolores Clairborne (1995), The Green Mile (1999) dan It (2017). Serta beberapa film yang lumayan ‘fun’ untuk dinikmati seperti : Creepshow (1982), Firestarter (1984), Silver Bullet (1985), Apt Pupil (1998) atau The Mist (2007). Oh ya, dua film adaptasi terbarunya di tahun 2017, Gerald’s Game dan 1922 patut diperhitungkan.

Seperti dalam Daftar 25 Film Favorit saya pribadi, kriteria lain yang tak kalah penting adalah, deretan film-film ini adalah film yang tak pernah bosan untuk saya tonton berulang kali, terutama mise-en-scĂ©ne yang begitu impresif dan selalu diingat. Beberapa film ini –terutama film klasik- mungkin saja menjadi opsi bagi anda yang belum pernah menontonnya :

Courtesy of Tristar Pictures
10. The Running Man (1987)
Mungkin tidak banyak yang mengetahui, jika film cheesy action ala 80’an yang dibintangi Arnold Schwarzenegger ini, memang hasil adaptasi lepas dari novel Stephen King yang berjudul sama. Hanya saja King memakai nama pena Richard Bachman. Ceritanya berada di masa depan, dalam masa dystopian, ketika sebuah acara live show di televisi menghadirkan para kriminal ke dalam arena gladiator sebagai “Runners” dan harus bertahan hidup, karena mereka diburu oleh para penjagal yang disebut “Stalkers” ganas dan kejam. Berbagai adegan aksi sangat menghibur saya, cukup brutal, sedikit sadis, diselingi humor segar, stylish, seksi (Amber Mendez yang diperankan oleh Maria Conchita Alonso dengan pakaian super ketatnya) dan tentunya berbagai quote khas Arnie serta kekuatan ototnya!


Courtesy of New World Pictures
9. Children of the Corn (1984)
Dengan adanya keunikan cerita ini, tentang iblis yang bertransformasi ke dalam tubuh seorang anak bernama Isaac, yang memiliki aliran kultus di ladang jagung tersebut, dengan memiliki para pengikut berupa sekumpulan anak yang setia. Berbagai adegan memorable, salah satunya adalah ketika berada di awal cerita, kengerian akan aksi horor di sebuah kota kecil tersebut, adalah sesuatu yang klasik. Penggambaran sebuah kota kecil yang religius dan tenang, diusik oleh teror dari kelompok ‘religius lain’ yang sangat kuat pengaruhnya, ditambah dengan tema musik yang menyeramkan, adalah ciri khas serta identitas sesungguhnya akan roman horor-nya Stephen King. Film cult classic yang disutradarai oleh Firtz Kiersch ini menelurkan banyak sekuel dan dibuatkan remake-nya pula.


Courtesy of Dimension Film and Metro-Goldwyn-Mayer
8. 1408 (2007)
Film yang dibintangi oleh John Cusack dan Samuel L. Jackson tersebut mengisahkan tentang seorang penulis yang skeptis dan sinis terhadap hal-hal supranatural, menantang dirinya sendiri dengan menginap di sebuah kamar hotel nomor 1408 yang terkenal angker, di tengah-tengah kota New York. Berbagai pengalaman ambigu ia alami kemudian. Film ini terasa menegangkan dan menyeramkan yang hanya terjadi di dalam satu unit kamar hotel, ketika dimulainya berbagai kejadian aneh dari karakter protagonisnya bernama Mike Enslin. Dikarenakan cerita dalam film ini lebih menekankan aspek psikologis Enslin dalam menghadapai berbagai ketakutan dan konflik disekitarnya, banyak terjadi berbagai kejutan yang tidak disangka, sehingga kitapun agak kesulitan menarik kesimpulan dan hanya menduga, apakah hanya ilusi yang mempermainkan pikiran atau memang ada keterlibatan dunia supranatural.


Courtesy of Warner Bros Television
7. It (1990)
Entah mengapa, saya malah lebih suka versi klasiknya, yang sempat tayang di salah satu stasiun televisi swasta di tanah air 28 tahun yang lalu. Film mini seri yang disutradarai oleh Tommy Lee Wallace, dengan aktor watak Tim Curry sebagai Pennywise tersebut, menceritakan tentang sekelompok remaja belia yang ‘terbuang dari sosialisasi’, disebut The Lucky Seven atau The Losers Club, mengetahui identitas Pennywise sebagai badut peneror anak-anak dan merekapun berkonfrontasi dengannya. Jalan cerita film ini terbagi dalam dua sesi, pada saat protagonis masih remaja dan telah dewasa, ketika Pennywise kembali meneror mereka. Keberhasilan film It dalam membuat kesan horor sangatlah kuat, baik secara saga storytelling, karakterisasi dan akting para aktor/aktris, baik semasa remaja maupun dewasa, hingga atmosfir dan chemistry yang dihadirkan dalam kekompakkan mereka menghadapi sang antagonis. Sebuah horor klasik, layaknya film-film adaptasi King di era 70’an dan 80an, dimainkan dengan pace dan tone yang seimbang. Untuk practical effect yang digunakan, sederhana namun efektif dan menyeramkan, terutama untuk make-up Pennywise.


Courtesy of Paramount Pictures
6. Pet Sematary (1989)
Mungkin ini adalah film adaptasi Stephen King yang paling menyeramkan, mulai dari sisi cerita, atmosfir yang dibangun, visual, sound, efek, make-up, hingga penataan kamera. Dengan mengusung tema yang unik tentang sekeluarga yang menempati rumah baru di pinggir jalan raya yang cukup sepi, namun berbahaya, karena suka ada truk besar melaju kencang! Semuanya berjalan mulus, hingga kucing peliharaan mereka dan anak bungsu mereka, tewas tertabrak truk. Dari kejadian tragis tersebut, horor dimulai ketika ada sebuah kuburan sakral dan magis di dekat pemakaman binatang peliharaan di belakang rumah mereka. Mungkin ini adalah film adaptasi Stephen King yang paling menakutkan sepanjang masa, bagaimana tidak, ambience yang terasa creepy dan merinding, sebuah tragedi, kegilaan yang absurd, ada satu adegan kekerasan yang bikin ngilu serta ending-nya itu, sungguh terasa.


Courtesy of Columbia Pictures
5. Christine (1983)
Tidak perlu diragukan lagi, jika adaptasi Stephen King digarap oleh spesialis seperti John Carpenter, yang memiliki visi luas dengan hasil yang menakjubkan, mulai dari genre horor, thriller, action, drama hingga science fiction. Hasilnya, muncullah budaya populer berupa ikon sebuah mobil Plymouth Fury merah keluaran tahun 1958 yang gentayangan itu! Ber-setting di tahun 70’an, film ini mengisahkan bagaimana sebuah mobil ‘iblis’ tersebut dapat mempengaruhi pribadi seorang anak muda hingga menjadi ‘jahat’. Efek spesial transformasi bentuk mobil secara drastis, sungguh menakjubkan, mengingat belum adanya CGI kala itu. Film ini dianggap cult classic.


Courtesy of Columbia Pictures
4. Stand by Me (1986)
Salah satu film drama petualangan pra-remaja terbaik dari novelnya Stephen King berjudul The Body, berkisah tentang keempat remaja yang menemukan jenazah di tepi sungai, dengan setting pada sebuah kota kecil yang terletak di Oregon. Banyak adegan dan dialog memorable terjadi, selain dari kekuatan karakterisasi, storytelling, humor, berbagai aksi, semuanya itu dikemas dengan brilian oleh sineas Rob Reiner sebagai tontonan yang sangat menghibur. Arti yang mendalam dan sangat bermakna akan persahabatan yang erat bagaikan persaudaraan. Para aktor utamanya bermain sangat gemilang, seperti Will Wheaton, Jerry O’Connell, Corey Feldman dan tentunya karisma dari mendiang River Phoenix yang sedang merintis karirnya kala itu.


Courtesy of Warner Bros Television
3. Salem’s Lot (1979)
Tobe Hooper berhasil mengadaptasinya di film ini, namun tidak demikian dalam film adaptasi yang ia garap selanjutnya, The Mangler (1995). Sebagai salah satu film televisi terbaik adaptasi Stephen King, sebelum film It (1990) mengudara, Salem’s Lot menyuguhkan premis sederhana yang berkisah tentang kembalinya seorang penulis bernama Ben Mears (David Soul) ke kota kelahirannya Salem’s Lot, yang terletak di wilayah Maine. Tentunya ia punya misi untuk menulis sekaligus menyelidiki sebuah rumah misterius bernama Marsten House, yang dihuni oleh Richard Straker (James Mason). Keberadaan rumah tersebut menjadi ancaman penduduk setempat, setelah terjadinya wabah mematikan yang menyebar di seluruh kota. Film yang berkisah tentang mahluk bernama vampir ini, sempat di-remake di tahun 2004 yang juga ditayangkan di televisi. Beberapa adegan memorable yang menyeramkan, sangat kuat atmosfir horor klasiknya, meski dengan practical effect seadanya. Ending dari film ini, juga sangat berkesan dan melelahkan, tentunya!


Courtesy of Warner Bros
2. The Shining (1980)
Meski Stephen King sendiri kurang menyukai filmnya, namun sangat aneh jika karya-karya Stanley Kubrick tidak membuat impresif bagi banyak orang, apalagi kritikus. Banyak yang mereferensikan film ini sebagai salah satu film psychological horror terbaik sepanjang masa. Menceritakan Jack Torrance yang mendapat tugas sebagai caretaker sebuah hotel di pegunungan, yang terisolasi dari pemukiman, selama musim dingin. Berbagai kejadian aneh yang menyeramkan dimulai, ketika Jack yang membawa keluarganya itu, juga mulai bertingkah aneh, setelah beberapa visi dan halusinasi yang ia alami. Lagi-lagi karakter ikonik Jack Torrance yang diperankan dengan sangat pas oleh Jack Nicholson, lengkap dengan sebuah kapak yang berlari-lari di dalam Overlook Hotel, tentu tidak bisa kita tolak begitu saja! Visual dan efek bermain sangat bagus di film ini, serta sebuah panggilan : “Heeeree’s Johnny!


Courtesy of Paramount Pictures
1. The Dead Zone (1983)
Inilah film terfavorit saya yang disutradarai oleh David Cronenberg, serta dibintangi oleh aktor watak, Christopher Walken, sebagai salah satu adaptasi Stephen King terbaik yang pernah ada. The Dead Zone mengisahkan tentang Johnny Smith yang memiliki kemampuan psikis melihat masa depan, gara-gara ia koma selama 5 tahun, akibat sebuah kecelakaan mobil yang dialaminya. Awal tragedi yang memilukan, karena calon istri Smith yang setia menunggunya, akhirnya terpkasa menjalani hidup baru dengan menikahi orang lain. Awalnya Smith dalam keadaan frustasi dan putus asa, mengingkari berkah yang ia anggap sebagai kutukan. Layaknya kisah pahlawan yang anti-hero, transisi karakter Smith perlahan mulai berubah, ketika ia yang merasa nothing to lose itu melihat serta berusaha mencegah suatu kejahatan besar di masa depan.
  
Penuturan cerita di film ini benar-benar brilian, dengan alur yang sangat bisa dinikmati, ditambah dengan setting kota kecil yang tenang di Castle Rock, Maine pada musim dingin, benar-benar pas untuk menyajikan kisah suspense thriller yang menjadi ciri khas cerita horor King dan gaya filmnya Cronenberg. Adu akting para aktor/aktris yang bermain sama kuatnya dan saling mengimbangi, visual dan efek yang disajikan fantastis serta lugas. Berbagai unsur kejutan dan thriller yang dihadirkan pun sangat alami, dan benar-benar membuat penasaran hingga akhir cerita yang tidak mudah ditebak. Aspek humanisme di film ini lebih diutamakan, sehingga emosi kitapun bisa dimainkan dengan dinamis.


Popular Posts