Dirty Harry Movie : Magnum Force (1973)

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1973

Awal : Opening credits berupa latar belakang solid berwarna merah, tampak tangan seseorang memegang pistol jenis revolver Magnum, dengan posisi menyamping dan hendak menembak.

Prolog : Di akhir kredit, pelatuk pistol diatrik ke belakang, kamera dan pergerakan tangan yang memegang pistol Magnum pun, mengarah kepada audiens : “This is a 44. Magnum, the most powerful handgun in the world, and it could blow your head clean off. Do you feel lucky?”

DOR!!! Pistol Magnum-pun meletus …


Lebih kejam, lebih brutal, lebih sinis, lebih misterius dan tentunya lebih seru action-nya … sekaligus lebih ironis sih. Sekuel dari film Dirty Harry (1971) ini kembali menggebrak dunia kriminalitas di kota San Fransisco dengan beberapa unsur kejutan signifikan. Kali ini bukan hanya Harry Callahan saja sebagai vigilante cop, namun polisi patroli lalu-lintas juga tak kalah dahsyatnya.

Adegan awal memperlihatkan ketika seorang Mafia bernama Carmine Ricca, yang bebas dari tuduhan pembunuhan, keluar dari sebuah gedung pengadilan dan diwawancarai oleh beberapa jurnalis, sementara banyak kerumunan orang yang protes terhadap kasus yang dinilai tidak adil tersebut. Ketika Ricca dan koleganya berada di dalam mobil di jalan tol, mereka dicegat oleh seorang polisi patroli dan menyuruhnya berhenti. Polisi tersebut dengan brutal menembak satu-persatu mereka yang ada di dalam mobil, dari jarak dekat.

Harry Callahan (Clint Eastwood) dan rekannya, Earlington “Early” Smith (Felton Perry) yang kebetulan dekat dengan lokasi, segera menghampiri namun segera dihalangi oleh atasannya, Letnan Neil Briggs (Hal Holbrook). Briggs menegaskan bahwa tugas Callahan dan Early hanyalah mengintai dan mengamati, bukan menyelidiki penembakan tersebut.

Suatu ketika, Callahan yang tiba di kantor polisi dan akan latihan menembak, tak sengaja bertemu dengan sahabatnya, Charlie McCoy (Mitchell Ryan) seorang polisi patroli. McCoy sedang mengalami masa frustasi dan kecenderungan untuk bunuh diri, setelah pisah dengan keluarganya. Setelah itu, Callahan juga bertemu dengan empat orang polisi pemula dalam latihan menembak, yakni Phil Sweet (Tim Matheson), John Davis (David Soul), Alan Astrachan (Kip Niven) dan Mike Grimes (Robert Urich). Callahan terkesan dengan skill mereka yang rata-rata jago tembak, dan menawarkan mereka untuk segera bergabung di departemen pembunuhan.

Kemudian, pembunuhan terjadi lagi, ketika seorang mucikari tewas ditembak dengan kejadian yang sama, yakni diberhentikan oleh seorang polisi patroli dengan dalih melanggar lalu lintas. Briggs segera menugaskan pasukan polisi –termasuk Callahan- untuk segera mengintai serta membekuk Lou Guzman dan Frank Palanci yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan Ricca dan seorang mucikari. Callahan yang selalu berselisih dengan Briggs, merasa ada yang tidak beres dan menduga pelakunya adalah seorang polisi. Lalu siapakah sebenarnya polisi yang melakukan pembunuhan tersebut?

impawards.com

Tidak seperti paparan cerita di seri pertamanya yang begitu lugas mengisahkan seorang pembunuh maniak bernama Scorpio yang diperlihatkan sejak awal cerita, film Magnum Force sengaja menyimpan misteri siapa karakter antagonisnya hingga di pertengahan cerita. Nah, unsur suspense thriller inilah yang menjadi kekuatan di film ini.

Tampaknya memang keseluruhan misteri cerita itu sengaja disimpan, dengan jeda berupa beberapa selingan ketika kisah Callahan menghentikan pembajakan pesawat terbang, atau penangkapan perampok di sebuah supermarket, atau pengintaian terhadap Lous Guzman atau juga penyerbuan di kantor operasional Palancio. Tak lupa pula, dihadirkan adegan pada saat kepolisian San Fransisco sedang melakukan kompetisi menembak yang diikuti oleh para anggotanya.

Cerita semakin rumit dengan adanya konflik Callahan dan Briggs yang saling tidak menyukai satu sama lain, ditambah banyak adegan kebrutalan dan kekerasan yang semakin lugas, membuat Magnum Force dapat mengimbangi kualitas dari film pertamanya secara keseluruhan.

Shocking elements tersaji tanpa malu-malu di adegan awal dan pertengahan, ketika seorang polisi patroli lalu lintas, dengan dingin dan kejamnya membunuh keempat orang yang berada di dalam mobil, dengan menggunakan sebuah pistol Magnum, dan berjarak dekat pula. Sebuah inovasi akan disturbing image adanya graphic violence di jaman itu, diperlihatkan cukup detail bagaimana muncratan darah yang tersembur dari kepala atau tubuh saat ditembak dengan sadis.

Bukan seri Dirty Harry namanya, jika tidak dibubuhkan humor cerdas dan segar, seperti ketika Early yang kehilangan selera makan siang setelah melihat Carmine Ricca dan koleganya menjadi korban penembakan brutal, ditambah lagi dialog humor dari seorang penjual makanan di konter burger di sebuah bandara. Bisa dilihat ekspresi Early yang menggelikan.

Atau adegan ketika Callahan berseteru dengan salah satu tenant di apartemen yang merasa terusik dengan locker-nya, setelah Callahan membongkar dan menemukan bom di dalamnya. Juga dialog ketika Callahan akan bercumbu dengan seorang wanita di apartemennya, tiba-tiba Briggs meneleponnya dengan kata-kata : “…put your pants back on, Callahan …” dan memerintahkan untuk menemuinya di ruang jenazah para korban penembakkan.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1973

Dan yang paling mengena adalah ketika Callahan berbincang dengan Early di kantor polisi, sambil mereferensikan keempat polisi muda yang jago tembak, dengan mengatakan kurang lebih “Jika kalian semua (polisi) bisa menembak seperti mereka (keempat polisi muda itu) … saya tidak peduli jika semua polisi itu gay”. Ketika Callahan mengatakan demikian, kebetulan ada seorang polisi yang lewat mendengarnya dengan ekspresi yang terhina!

Di semua seri Dirty Harry, selalu ada catchy quotes, termasuk di film ini. Selain famous quote dari seri pertamanya diulang dalam opening scene, uniknya ada kalimat baru yang bahkan diulang hingga sebanyak tiga kali. Kalimat yang diucapkan oleh Callahan berupa “A man has got to know his limitation”, adalah sebuah sindiran kepada Briggs.

Jika anda pernah nonton Dirty Harry (1971), boleh dikatakan fokus ceritanya dicurahkan kepada bagaimana memburu dan menangkap pembunuh maniak, Scorpio. Disajikan dengan pace yang agak lambat di sepanjang cerita, lebih banyak menghadirkan unsur thriller dibandingkan action spektakuler, kecuali adegan Callahan menyergap sebuah bus yang dibajak oleh Scorpio.

Namun di film ini, beberapa adegan action disajikan lebih segar dan seru, baik dari kejar-kejaran mobil, baku tembak hingga ledakan. Ceritanya pun tidak 90% fokus pada penyelidikan pembunuhan itu, namun lebih bervariasi dan beberapa adegan selingan mungkin untuk meredakan intensitas kebrutalan penembakan sadis yang dilakukan polisi patroli terhadap para kriminal.

Oh ya, juga jika dicermati, ada beberapa adegan yang disajikan dengan kamera sedikit ‘bergoyang’ atau istilah teknisnya … handheld camera, meski tidak berpengaruh bagi saya, Thanks GOD for that! Film suspens ini juga jelas menyoroti sang polisi misterius hanya setengah badan saja atau sejajar dengan mata manusia saat mengendarai mobil.

‘Keindahan’ kontur jalanan kota San Fransisco yang terkenal naik-turun itupun terlihat fantastis, ketika adegan kejar-mengejar mobil yang dikendarai oleh Callahan dengan polisi patroli antagonis, mengingatkan saya akan film yang beberapa tahun sebelumnya booming, yakni Bullitt (1968). Juga bayangkan, kecepatan mobil yang berada di jalan menurun, dengan sudut-sudut tajam berliku-liku, terlihat ngilu, apalagi itu jalanan adalah dua arah!

Sekali lagi, Clint Eastwood mengulangi tugasnya dengan baik sebagai Harry Callahan yang sinis, nekad, main hajar dan emosional. Sedangkan mendiang aktor veteran, Hal Holbrook yang biasanya saya liat di beberapa filmnya memerankan karakter karismatik, malah disini terlihat seakan-akan tegas namun terasa konyol sekaligus menyebalkan. Overall, sang sutradara Ted Post berhasil meneruskan warisan dari Don Siegel dengan pengembangan yang lebih berani dan cukup inovatif.

Bahkan, dari kelima serial Dirty Harry saya pun paling memfavoritkan yang satu ini, adegan aksi akhir pun mungkin sebagai yang paling memorable … tapi, seri pertama juga is the best sih … ah, sama aja deh (linglung)!

Film Magnum Force wajib ditonton, bagi penggemar film action tentang polisi dengan segala kerumitan dan intrik di dalamnya. Belum kenal Dirty Harry? Saatnya harus ‘kenalan’ …

Score : 4 / 4 stars

Magnum Force | 1973 | Aksi Laga, Thriller | Pemain: Clint Eastwood, Hal Holbrook, Mitchell Ryan, David Soul, Felton Perry, Robert Urich, Tim Matheson, Kip Niven | Sutradara: Ted Post  |  Produser: Robert Daley | Penulis: Berdasarkan Karakter Ciptaan : Harry Julian Fink dan R.M. Fink, Jo Heims . Naskah oleh : John Milius | Musik: Lalo Schifrin | Sinematografi: Frank Stanley | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 124 Menit


Baca juga : Dirty Harry Movie : Dirty Harry (1971) | Dirty Harry Movie : The Enforcer (1976)

Popular Posts