Dirty Harry Movie : Sudden Impact (1983)

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1983

Bad Guy : “Who is “We”, sucker?”
Harry Callahan : “Smith, Wesson … and Me

DOR!!!
…(tembak-tembakan pun dimulai) …

Salah satu Bad Guy yang tersisa, membekap seorang wanita untuk dijadikan sandera, sementara mobil polisi berdatangan untuk mengepungnya.

Callahan sambil menodongkan pistolnya kepada Bad Guy tersebut berkata :
GO AHEAD, MAKE MY DAY


Sekuel ketiga –alias seri keempat- Dirty Harry ini kembali ‘mengguncangkan’ dunia kepolisian dan kriminal, dengan lebih dahsyat dan brutal … dengan rasa ngilu –bagi kaum pria- tentunya. Sudden Impact menandakan kembali kisah pembunuhan bergaya suspense thriller yang dipadukan tentunya dengan action tangguh, dialog dan adegan humor segar, serta catchphrase yang barusan saya sebutkan diatas, yang semakin mempopulerkan Dirty Harry sebagai ikon polisi tough guy.

Kali ini, kursi penyutradaraan ditangani langsung oleh Clint Eastwood yang sekaligus menjadi produser. Mengingat ia telah berpengalaman menangani film serupa, seperti Play Misty For Me (1971), High Plains Drifter (1973) atau The Gauntlet (1977). Yang dimaksud film serupa, adalah film action/drama-thriller dengan unsur suspens di dalamnya. Film ini terbukti sebagai film Dirty Harry yang paling sukses secara komersial, dengan pendapatan lebih dari 67 juta US$, dari biaya sekitar 22 juta US$.

Meski demikian, secara kritik menuai pro-kontra secara keseluruhan, misalnya di Rottentomatoes hanya memperoleh nilai 57%, sedangkan di Metacritic memperoleh skor 52 dari 100. Artinya, secara umum berkualitas ‘so-so’. Tetap saja bagi saya, film Sudden Impact masih menyajikan kekuatan dan energi Dirty Harry yang masih tetap terjaga image dan style-nya, serta penuturan cerita yang kembali kepada ‘akar’-nya.

Film yang langsung diawali dengan opening credits tersebut, langsung ‘hinggap’ kepada adegan pasangan sedang bercumbu di dalam mobil. Lalu, si wanita tersebut dengan perlahan, mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya kepada (maaf) kemaluan pria tersebut. Adegan pun beralih menyorot atap mobil dari kejauhan dan … DOR! DOR! Terdengar dua kali tembakan.

Sementara itu, Callahan merasa frustasi setelah seorang kriminal dibebaskan dari persidangan. Setelahnya, Callahan sempat memeriksa jenazah pria di dalam mobil dalam keadaan tertembak di bagian kemaluan dan kepalanya. Seperti biasa –adegan selingan- Callahan sempat beraksi menembak para perampok di sebuah cafĂ© dan mengintimidasi seorang kepala kriminal atas pembunuhan seorang pelacur. Intimidasi yang dilakukan Callahan, tepat di tengah perayaan pernikahan cucu dari kepala kriminal tersebut.

Akibat dari aksi-aksi ‘nekad’ Callahan tersebut, Kapten Briggs (Bradford Dillman) menegur keras dihadapan Kepala Polisi dan Letnan Donnely (Michael Currie). Kepala Polisi akhirnya menyuruh Callahan untuk rehat beberapa hari, guna menghindar kekerasan berlebihan yang dilakukan oleh penegak hukum di mata publik. Setelah terjadi insiden Callahan baku-tembak dengan para kriminal yang balas dendam terhadapnya, ia akhirnya ditugaskan kembali untuk menyelidiki pembunuhan atas pria yang di dalam mobil tersebut (di adegan awal).

Callahan akhirnya berangkat menuju kota San Paolo, terkait penyelidikan latar belakang pria yang terbunuh itu. Beberapa saat sebelumnya, wanita misterius yang menembak pria tersebut, ternyata adalah Jennifer Spencer (Sondra Locke) yang memiliki trauma masa lalu di San Paulo. Pembunuhan demi pembunuhan pun terjadi di kota itu, dengan kondisi korban berupa pria yang tertembak di bagian kemaluan dan kepala. Callahan yang sedang menyelidikinya juga harus menghadapi seorang Kepala Polisi lokal bernama Lester Jannings (Pat Hingle) yang tidak suka kepadanya.

impawards.com

Dari segi cerita, menegaskan kembalinya kekuatan film Dirty Harry yang menangani pembunuhan bernuansa suspense thriller tersebut. Tidak seperti The Enforcer (1976) yang lebih mengedepankan sisi action thriller, film ini lebih mengekspos sisi psikologi masa lalu dari karakter ‘vigilante wanita’ yakni Jennifer Spencer. Motif balas dendam jelas menjadi tujuan utama dan gol akhir, ketika hukum dan keadilan seperti dibungkam.

Disajikan dengan plot non-linear, berupa flashback masa lalu Jennifer yang tragis, satu-persatu puzzle dikumpulkan dan dicocokkan sendiri oleh audiens, sementara di dalam cerita film, Callahan juga menyelidikinya. Di sekitar 15 menit terakhir, barulah semuanya terungkap sebuah misteri dengan sentuhan twist yang menarik. Tampaknya, Clint Estwood juga secara cerdik, menyusun adegan demi adegan, mengkombinasikannya dengan selingan cerita lain, kemudian juga mempertemukan kedua plot cerita menjadi satu.   

Selain kecerdikan penyusunan cerita, naskah dan adegan yang dibangun dari awal cerita, saya sebagai audien juga merasa seperti ‘hanyut’ terbuai oleh berbagai aksi, dialog, serta ambience dari gemerlap dan semaraknya kota besar San Fransisco, hingga pada kesuraman dan kemisteriusan dari sebuah tragedi di kota kecil San Paolo.

Kisah flashback yang divisualisasikan jelas terlihat, ketika kamera menyorot dan mendekat pada kedua mata Jennifer, sementara di sekitarnya gelap gulita. Begitu pula setelah adegan flashback, kamera tertuju kembali kepada kedua mata Jennifer, kemudian kamera menjauh, dan pencahayaan di sekelilingnya menjadi normal kembali … sebuah teknik yang brilian menurut saya.

Untuk beberapa adegan aksi digarap cukup baik, standar film Dirty Harry pada umumnya. Kebrutalan adegan tembakan oleh karakter Jennifer yang menarik perhatian dan bikin saya ngilu, setiap kali ia menembak. Keseluruhan extreme violence –di jamannya- juga masih sama di tiga seri sebelumnya. Di film ini juga tampaknya Callahan sedang mencoba ‘mainan’ barunya, berupa pistol kaliber .44 Automag (http://www.automag.com/) yang digunakan di adegan akhir.

Umumnya, lokasi film di semua seri Dirty Harry berada di pusat kota San Fransisco. Namun ada satu adegan menarik, saat Callahan tiba di kota San Paolo dan mengejar seorang perampok bank. Aslinya, kota yang dimaksud adalah Santa Cruz. Keindahannya benar-benar membuat saya takjub, dengan jalanan yang tidak lebar, di sepanjang trotoar terdapat beraneka-ragam pohon yang indah, toko/resto/tempat komersial berderet di sepanjang jalan, dan yang pasti lingkungannya lebih asri, rapih, bersih serta kelihatannya sangat nyaman. Itu kesan saya.

Courtesy of Warner Bros Pictures, 1983

Bukan film Dirty Harry namanya jika bukan ada dialog, quotes atau catchphrase yang terkenal dan cerdas. Kalimat “Go ahead, make my day” dua kali diucapkan oleh Callahan. Kata “swell” yang sering diucapkan Callahan juga menggantikan kata “marvelous” di film The Enforcer. Kalimat yang dilontarkan kepada Callahan berupa : “You’re a class act, Callahan” diulang kembali, kali ini oleh Jaksa Penuntut, setelah sebelumnya dilontarkan oleh DiGiorgio di film The Enforcer.

Banyak dialog catchy yang membuat saya minimal tersenyum dan puas, apalagi dibarengi dengan gerak, gaya, mimik atau bahasa tubuh terutama dari Callahan. Adegan konyol diperlihatkan ketika Callahan melihat jenazah pria yang tertembak di bagian kepala dan ‘anu’ di dalam mobil, sementara detektif di sebelahnya sambil memakan hotdog (diperlihatkan tonjolan sosisnya), berbicara kepada Callahan. Dengan ekspresi sinis, tampak Callahan komplain kepada detektif tersebut dan sepertinya ia kehilangan selera makan.

Aktor Bradford Dillman kembali lagi, kali ini menjadi Kapten Briggs … namun tampaknya sengaja dibuat konyol kembali, dan menjadi sasaran bully dari Callahan. Pertengkaran mereka terekam, ketika Briggs marah dengan mengatakan :
Don’t you lecture me, you son of the b*tch! Do you know who I am?”
Callahan : “Yeah … you are the legend in your own mind

Aktor Albert Popwell yang sebelumnya berperan menjadi Mustapha, kali ini menjadi detektif polisi bernama Horace King. Pada pertemuannya dengan Callahan, ketika sedang latihan tembak, karakternya selalu bilang “JAMF” di akhir kalimat, artinya secara guyon ditujukkan kepada Callahan. Lalu Callahan bertanya apa itu artinya, Horace lalu menjawab “Jive A** Mother…” tapi keburu dipotong oleh Callahan yang menimpali “Forget I asked”.

Kali ini yang menarik perhatian adalah kehadiran aktris Sondra Locke sebagai Jennifer Spencer. Mantan kekasih Eastwood itu bermain cukup baik, dengan karakternya yang dingin –terihat dari tatapan matanya yang elegan- dan kaku, namun fisiknya memang menarik. Namun justru akting terbaik jatuh pada aktris veteran dan ex-model, yakni Bette Ford sebagai antagonis bernama Leah. Saya tidak menyangka, seorang mantan model di jamannya, bisa berperan sebagai wanita tomboi, agak kelaki-lakian, dengan suara kaya Mak Lampir, terkesan ‘jorok’ dan kumal … pokoknya bajingan aja!  

Callahan yang mulai tampak ‘berumur’ masih menunjukkan akting dan penampilan prima-nya, thanks to Clint Eastwood. Terutama kegesitannya dalam adegan ketika ia jungkir-balik menghindar tembakan penjahat, sambil berlindung di sebuah mobil. Saya rasa, Eastwood –baik sebagai aktor, bahkan sutradara- mampu tetap menjaga level Dirty Harry sebagaimana mestinya.

Musik yang kembali digarap oleh Lalo Schifrin, masih berbasis jazz, meski dicampur dengan sentuhan sound modern ala 80’an, dengan adanya berbagai efek suara. Saya sebenarnya lebih menyukai sentuhan aransemen jazz-nya di era 70’an, namun di ending credits, lagu “This Side of Forever” yang dinyanyikan sangat melankoli oleh suara merdu-nya Roberta Flack, berhasil menyentuh emosi saya. Lagu tersebut semakin menguatkan feel adanya tragedi, romansa dan kesuraman yang misterius dari keseluruhan cerita film.

Sudden Impact bukanlah film Dirty Harry terfavorit saya, namun ada nuansa atau sentuhan lain, meski memiliki tema yang mirip dengan Magnum Force. Kekuatan dari film ini adalah mungkinkah pelaku pembunuhan itu tercerminkan dari sikap Callahan yang sama-sama sebagai seorang vigilante, namun berada di posisi yang berbeda. Sebuah film yang masih sangat layak untuk dinikmati dan diapresiasi khususnya bagi yang menyenangi film-film detektif atau polisi.    

Score : 4 / 4 stars

Sudden Impact | 1983 | Aksi Laga, Thriller, Misteri, Suspens | Pemain: Clint Eastwood, Sondra Locke, Pat Hingle, Bradford Dillman, Paul Drake, Bette Ford, Albert Popwell, Michael Currie | Sutradara: Clint Eastwood |  Produser: Clint Eastwood | Penulis: Berdasarkan Karakter Ciptaan : Harry Julian Fink dan R.M. Fink, Jo Heims. Ditulis ulang oleh : Earl E. Smith dan Charles B. Pierce | Musik: Lalo Schifrin | Sinematografi: Bruce Surtees | Distributor: Warner Bros Pictures | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 117 Menit


Baca juga : Dirt Harry Movie : Dirty Harry (1971) | Dirty Harry Movie : Magnum Force (1973)Dirty Harry Movie : The Enforcer (1976) 

Popular Posts