The Osterman Weekend (1983) : Jebakan Maut di Akhir Pekan

Courtesy of 20th Century Fox, 1983

Saya suka dengan film-film yang melibatkan intelijen dan konspirasi, entah ber-genre drama atau action, sama kerennya. Ini film pernah saya tonton pas di 15 menit terakhir, waktu itu sempat ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta. Saya ingat benar, siapa-siapa yang memerankan karakternya, dan jelas itu adalah film jadul. Baru sekitar setahun yang lalu, saya bisa nonton full dari awal hingga akhir, meski masih bingung sebenernya …

Dibaca dari sinopsis ceritanya, memang menarik dan tricky. Dilihat dari jajaran kru-nya, tak bisa dipandang sebelah mata! Ya gimana enggak … siapa sih yang ga kenal Sam Peckinpah (bukan ditujukkan kepada anak jaman NOW yaa)? Sineas kontroversial yang meluncurkan The Wild Bunch (1969), Straw Dogs(1971), The Getaway (1972), Pat Garrett and Billy the Kid (1973) dan Cross of Iron (1977) itu sudah teruji kemahirannya dalam mengarahkan gaya penyutradaraan yang unik dan boleh dibilang ‘nyeleneh’.

Dilihat dari jajaran aktornya juga, tak kalah meriah. Dari aktor watak Rutger Hauer, John Hurt, Dennis Hopper, lalu aktor Chris Sarandon, hingga aktor veteran Burt Lancaster. Film yang diadaptasi dari novel karya Robert Ludlum tersebut, berbicara mengenai seputar agen rahasia, tepatnya CIA dan KGB, juga biasanya terkandung adanya ‘permainan’, apapun itu bentuknya.

Setelah berperan antagonis di film Blade Runner (1982), kali ini Rutger Hauer berperan menjadi tokoh sentral bernama John Tanner, seorang jurnalis televisi, yang kerjaannya mewawancarai dan kadang mengkritik berbagai tokoh politik dan militer.

Sebelumnya, adegan pembuka film sangat ‘hot’, ketika seorang agen CIA, Lawrence Fassett (John Hurt) sedang making love dengan istrinya, orang Perancis. Ketika Fassett sedang di kamar mandi, istrinya dibunuh oleh kedua orang tak dikenal. Adegan itu pun terekam dalam sebuah video kamera pengintai, dan disaksikan oleh Maxwell Danforth (Burt Lancaster), seorang direktur CIA bersama dengan asistennya.

Kemudian mereka membicarakan tentang Agen Omega, sebuah jaringan mata-mata KGB (Uni Soviet) yang berada di Amerika. Maka mereka memanggil Fassett, yang memang sedang memburu Omega, terkait pembunuhan istrinya. Fassett menginformasikan kepada Danforth, ada tiga orang yang dicurigai sebagai Agen Omega yakni : Bernie Osterman (Craig. T Nelson), Richard Tremaye (Dennis Hopper) dan Joseph Cardone (Chris Sarandon).

Mereka bertiga diintai oleh rekaman video, ketika sedang berinteraksi dengan seseorang yang diidentifikasi sebagai agen KGB. Fassett juga mengetahui, bahwa ketiga orang tersebut adalah teman John Tanner, dan di suatu weekend akan berkunjung ke rumah Tanner. Akhirnya Danforth memanggil Tanner. Tanner yang juga bertemu dengan Fassett, awalnya enggan, setelah dibujuk untuk menjebak ketiga temannya itu. Tanner akhirnya setuju, dengan syarat salah satu agen CIA menjadi nara sumber dari acara Tanner berikutnya.

Persiapan pun dilakukan oleh Fassett dan kru, dengan memasang video kamera pengintai dan komunikasi rahasia di rumah Tanner. Ali (Meg Foster), istri Tanner dan anaknya, semula diminta pergi ke luar kota untuk sementara oleh Tanner, demi keselamatan mereka berdua. Namun, mereka diculik oleh seseorang yang tak dikenal, begitu tiba di bandara. Tanner mengejarnya dan penculik itu pun berhasil ditembak oleh kelompok Fassett yang membuntutinya, sehingga Ali dan anaknya tetap berada di rumah.

Bersamaan dengan itu, Bernie, Richard dan Joseph masing-masing diteror oleh sejumlah petunjuk melalui tayangan video, surat dan penilangan, yang membongkar konspirasi mereka akan identitas Omega. Tanpa disadari sedang disadap, mereka lalu berdiskusi dengan seorang agen KGB dan mencurigai Tanner yang bekerjasama dengan pemerintah, sebagai pelakunya. Lalu mereka menyusun rencana untuk Tanner.

Weekend pun tiba, bersamaan dengan berkunjungnya : Richard dan Joseph dengan masing-masing istrinya, serta Bernie disambut oleh Tanner dan Ali di rumahnya. Awalnya terlihat normal, seperti kunjungan teman pada umumnya. Fassett  yang terus memantau dan mengintai mereka, secara diam-diam terus berkomunikasi dengan Tanner. Lalu satu persatu kejutan mulai muncul, untuk mengundang reaksi ketiga teman Tanner.

Akhirnya berbagai intrik, konflik dan kekerasan pun mulai terjadi …

imdb.com

Hingga akhir cerita, saya rasanya sulit mencerna, ada apa sebenarnya, dan siapa atau mengapa, serta bagaimana hal-hal tersebut bisa terjadi. Ada apa dibalik semua itu? Tentu saja, jika ceritanya sesederhana itu, maka selesai dan … boom! Jadilah film kelas-B, mungkin. Entah saya yang bodoh untuk bisa mengerti atau logika saya mulai hilang, sepertinya memang tepat … ketika saya baca ulasannya, banyak yang mengkritik bahwa film ini banyak memiliki plot holes.

Istilah yang dimaksud, mulai memahami saya, bahwa berbagai pertanyaan dibalik ‘permainan’ semua itu, sulit dijelaskan atau mengambang. Kalo jaman sekarang disebut GEJE! Banyak hal-hal yang secara logis tidak bisa dijelaskan, dan sepertinya cerita tersebut mudah mengalir begitu saja.

Arahan dan gaya khas ala Sam Peckinpah juga tidak signifikan di film terakhirnya ini, sebelum beliau meninggal setahun kemudian. Yang cukup menarik, hanya beberapa adegan slow motion, seperti pergulatan fisik antara Tanner dan Bernie, juga Bernie dengan salah satu agen CIA. Salah satu gerakan slow motion tersebut dipadukan dengan efek suara yang direndahkan frekuensinya, jadi seakan terkesan nonton film-film martial arts khas 70’an… karakter Bernie memang digambarkan jago bela diri.

Satu hal yang keren, kenapa di poster filmnya, aktris Meg Foster yang berperan sebagai Ali, sedang membidik panah? Nah, adegan di filmnya memang se-keren di poster-nya. Bahkan karakter Ali dua kali memanah orang!

Atmosfir ketegangan yang dibangun di film ini juga kurang terasa gregetnya, meski adegan puncak berada di malam hari. Hanya di akhir adegan, surprise thing happens, itupun menyisakan pertanyaan bagi saya … kok bisa? Kenapa? Gimana caranya? Lagi-lagi GEJE!

Hanya akting John Hurt-lah yang bisa menolong film ini. Kualitas aktingnya tak diragukan lagi, meski lag-lagi absurd, masa seorang agen CIA punya intonasi aksen Inggris yang cukup kental? Mendingan jadi agen MI6 keleess … Dan akting klasik nan berkarisma dari mendiang aktor Burt Lancaster juga turut menyumbangkan kekuatan tema cerita. Memang aktor yang satu ini sering berperan menjadi petinggi militer atau agen rahasia di film-film berkualitas. Sedangkan Rutger Hauer dengan mimik muka yang unik penuh watak, cukup lumayan pengaruhnya, sebagai seorang tokoh utama yang terombang-ambing dalam kekacauan.

Sebenarnya aneh juga, kenapa karakter Bernie Osterman yang dijadikan judul di novel dan filmnya? Mengapa ia begitu disentralisasikan dalam sebuah judul? Padahal yang menikmati weekend tidak hanya dirinya saja, Richard dan Joseph pun turut serta. Apakah Bernie memang seorang pemimpin Omega? I don’t think soanyway, pikiran saya gak sanggup menelaahnya.

Premis film ini memang menarik, namun sayangnya tidak diisi dengan kualitas penyajian cerita yang kuat dan jelas … at least, ada sedikit pemaparan logis : how it works. Sangat disayangkan memang. Untuk kategori klasik, The Osterman Weekend tak lebih dari sebuah spy thriller flickquite entertaining, but never satisfying enough.  

Score : 2 / 4 stars

The Osterman Weekend | 1983 | Drama, Thriller, Spionase | Pemain: Rutger Hauer, John Hurt, Craig. T Nelson, Meg Foster, Dennis Hopper, Chris Sarandon, Burt Lancaster | Sutradara: Sam Peckinpah |  Produser: Peter S. Davis, Wiliam N. Panzer | Penulis: Berdasarkan Novel “The Osterman Weekend” oleh Robert Ludlum. Naskah oleh Ian Masters  | Musik: Lalo Schifrin | Sinematografi: John Coquillon| Distributor: 20th Century Fox | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 103 Menit


Baca juga : Midnight Express (1978) : Politik dan Penjara Turki | Blade Runner (1982) : Dampak Penciptaan 'Manusia' | Blade Runner 2049 (2017) : Jati Diri yang Dipertanyakan | Straw Dogs (1971) : Penyerangan Brutal yang Kontroversial

Popular Posts