Die Hard (1988) : McClane Memang Sulit Mati


Courtesy of 20th Century Fox, 1988

Yippee-ki-yay, Motherf***ker!

Sebuah ekspresi klasik khas koboi di jaman Western, ditambah dengan sebuah kata makian, maka jadilah slogan populer dari film Die Hard yang melambungkan nama Bruce Willis menjadi superstar, sekaligus menghantarkan karakter John McClane menjadi figur polisi ikonik, hingga dilanjutkan dengan Die Hard 2 (1990), Die Hard with a Vengeance (1995), Live Free or Die Hard (2007), A Good Day to Die Hard (2013) bahkan rencana sekuel terbaru berjudul McClane.

Lewat film Die Hard-lah, karakter yang diperankan Bruce Willis identik dengan berbagai film action yang lebih serius pada beberapa periode berikutnya, setelah sebelumnya ia cenderung lekat dengan karakter flamboyan dalam drama komedinya Blake Edwards, Blind Date (1987) maupun serial televisi Moonlighting (1985-1989), wajar saja awalnya pihak studio meragukan eksistensi Bruce Willis dalam Die Hard. Film tersebut mengadaptasi novel berjudul Nothing Lasts Forever yang dirilis tahun 1979 dengan duo produser Gordon dan Silver serta sineas John McTiernan yang sebelumnya sukses dengan film Predator (1987).

Die Hard adalah sebuah role model atau benchmark dari film-film action sejenis yang meniru premis dasar tentang kepahlawanan seorang protagonis yang terjebak dalam sebuah insiden terorisme, dengan lokasi berada di area terbatas untuk menghadapi dan memberantas para teroris seorang diri.

Seorang polisi New York bernama John McClane (Bruce Willis) dalam rangka rekonsiliasi dengan istrinya, Holly (Bonnie Bedelia) yang tengah merayakan Malam Natal dengan rekan-rekan kerjanya di gedung Nakatomi Plaza, Los Angeles. Namun mereka semua tidak menyadari akan bahaya yang mengintai, berupa kelompok teroris pimpinan Hans Gruber (Alan Rickman) yang mengambil alih gedung tersebut.

Gruber dan kelompoknya berniat merampok sejumlah uang yang disimpan di gedung tersebut, dengan menyandera seluruh karyawan termasuk Holly, serta menewaskan pimpinan Nakatomi Corporate. McClane yang tidak terdeteksi oleh kelompok Gruber, mengetahui hal tersebut dan dengan diam-diam meminta bantuan pada polisi Los Angeles yang direspon oleh Sersan Al Powell (Reginald VelJohnson) yang awalnya skeptis dan tidak menemukan kejanggalan setelah ia datang ke lokasi dan memeriksa keadaan sekitar gedung.

Sementara McClane berupaya seorang diri untuk diam-diam serta satu-persatu memberantas kelompok Gruber, dengan permainan ‘hit and hide’ sekaligus meyakinkan Powell bahwa terjadi sesuatu di gedung tersebut. Dalam situasi genting, McClane harus mengejar waktu untuk menyelamatkan Holly dan para sandera, membasmi Gruber dan kelompoknya, serta meminta bantuan pasukan kepada Powell …

impawards.com

Meskipun ide cerita film Die Hard diambil dari sebuah novel, namun kesempurnaan hasil akhir-lah yang menentukan kualitas hingga mencapai level tertentu dalam menggapai sebuah terobosan baru dalam dunia action modern, tentang aksi ‘one man show’ yang menghadapi para penjahat di saat kritis. 

Karakter McClane tidak sengaja berada di tempat dan waktu yang salah, karena ia sedang liburan, bukan melakukan tugas, maka atas dasar motivasi menyelamatkan istrinya serta menjadi kewajiban moral profesi seorang polisi, ia segera bertindak berdasarkan insting dan pengalamannya. Sementara lawan yang dihadapinya adalah seorang karismatik yang bukan sembarang teroris, memiliki intelijen tinggi serta pengalaman bertempur … kalo jaman sekarang, premis tersebut sangat klise, dongeng klasik.

Dari awal cerita kita diperlihatkan bagaimana McClane kelihatannya seperti seorang detektif polisi biasa, dengan karakter yang semi-flamboyan, keras kepala, serta gaya yang cuek sekaligus sinis, enggan bersosialisasi dengan rekan-rekan Holly, sehingga audeins pun sepertinya kurang terkesan pada McClane. Namun ketika Hans Gruber mulai beraksi, perlahan namun pasti McClane mulai bertindak secara sigap dan penuh kewaspaan, sambil ngoceh terhadap dirinya sendiri ia berupaya semaksimal mungkin mengakali sesuatu dan bertindak sesuai taktik yang ia kembangkan untuk memberi kejutan kepada kawanan Gruber.

Courtesy of 20th Century Fox, 1988

Berbagai tindakan cerdik yang dilakukan McClane memang penuh dengan kejutan yang tidak bisa kita duga sebelumnya, sehingga membuat gusar Gruber yang bernafsu ingin membasminya. Mulai dalam momen inilah, audiens merasakan sebuah thriller yang sebenarnya, memompa adrenalin akan berbagai aksi laga mulai dari skala kecil, hingga skala besar seperti berbagai ledakan, termasuk kendaraan berat, helikopter hingga atap gedung.

Selama lebih dari dua jam, tak terasa akan pengembangan narasi yang awalnya sederhana menjadi lumayan kompleks hingga hadirnya FBI selain LAPD, sebuah film action yang penuh dengan intrik dan adu taktik secara brilian, berbagai dialog menarik, serta tentu saja aksi laga spektakuler tanpa ada kelebayan layaknya film-film jaman NOW … plus efek spesial murni tanpa manipulasi CGI!

Courtesy of 20th Century Fox, 1988

Gaya akan beberapa elemen dari film Predator, terasa mirip terhadap implementasinya di film ini dengan setting berbeda, berkat kepiawaian brilian McTiernan dalam mengarahkan akting, aksi serta visual. Kolaborasinya dengan sinematografer sekelas Jan De Bont yang berpengalaman dalam menangani bervarian genre film, membuat Die Hard terlihat lebih epik dan dinamis.

Banyak terdapat hal yang ikonik dan memorable, selain kaos singlet putih yang dikenakan McClane tanpa alas kaki, sembari menembaki musuh dengan senjata Heckler & Koch MP5A3, berlarian terkadang melompat dari satu tempat ke tempat lainnya.    

Sungguh ngilu ketika melihat McClane setelah baku-tembak dengan musuh yang mengakibatkan pecahnya kaca-kaca besar perkantoran, sehingga melukai McClane yang harus tertatih-tatih karena luka di telapak kakinya terkena pecahan kaca. Terkadang lucu ketika melihat McClane merangkak di saluran ducting AC, sambil memegang pemantik api sebagai penerangan, sementara ia berbicara sendiri. Ada saat emosional dan sedikit haru, ketika McClane curcol dengan Powell lewat handy-talky yang sempat meninggalkan pesan kepada Holly jika terjadi apa-apa dengan dirinya.

Courtesy of 20th Century Fox, 1988

Yang menakjubkan tentunya saat McClane lompat menghindari sebuah ledakan besar, sementara kamera menyoroti dari arah bawah! Atau juga kejutan akhir ketika McClane dengan sigap melindungi Holly sambil tiarap untuk menghindari berondongan peluru.

Tentu saja, konfrontasinya dengan Hans Gruber adalah salah satu adegan action yang ikonik, penuh dengan trik ala film Western yang konon menginspirasi gaya action dari film-filmnya Quentin Tarantino.

Courtesy of 20th Century Fox, 1988

Hilang sudah keraguan pihak studio akan akting Bruce Willis sebagai John McClane yang mampu membawa sebuah karakter dengan gayanya sendiri secara meyakinkan dan terlihat cool, baik dari ekspresi, gaya bicara dan dialog, sinisme, serta berbagai aksi laga yang tidak terlalu mengandalkan otot layaknya Schwarzenegger dan Stallone. DID YOU KNOW? Sebelum masuk nama Bruce Willis, Stallone pernah menolak tawaran menjadi McClane, pun keterlibatan Arnie yang nyaris menjadikan Die Hard sebagai sekuel dari film Commando (1985).

Selain John McClane, rasanya sangat tak adil melewatkan akting prima aktor asal Inggris, Alan Rickman yang bermain gemilang sebagai seorang teroris asal Jerman bernama Hans Gruber. Karakter suaranya yang khas, serta aksen Jerman nya dalam peran tersebut sangat mengesankan. Karakter Al Powell yang diperankan Reginald VelJohnson juga lumayan mengesankan, sebagai karakter protagonis baik-baik yang selalu membantu McClane. Penampilan sesaat Robert Davi sebagai salah seorang anggota FBI, berhasil mencuri perhatian, sebagai seorang agen berkarakter kuat sekaligus seorang yang smart***.

Tidak dipungkiri lagi, film Die Hard adalah salah satu film action terbaik sepanjang masa, sangat direkomendasikan sebagai sebuah tontonan aksi laga yang wajib. Beberapa sekuelnya tidaklah sebaik dari film pertamanya, mengingat Bruce Willis sudah semakin berumur dan terlihat lebih serius, dalam arti sudah tidak se-asyik dulu.

Score : 4 / 4 stars

Die Hard | 1988 | Aksi Laga, ThrillerPemain: Bruce Willis, Alan Rickman, Reginald VelJohnson, Alexander Godunov, Bonnie Bedelia | Sutradara: John McTiernan  | Produser: Lawrence Gordon, Joel Silver | Penulis: Berdasarkan Novel “Nothing Lasts Forever” karya Roderick Thorp. Naskah: Jeb Stuart, Steven E. de Souza | Musik: Michael Kamen | Sinematografi: Jan De Bont | Distributor: 20th Century Fox Negara: Amerika Serikat | Durasi: 132 Menit



Comments