Jangan Terpengaruh “Rating” Film

imdb, rotten tomatoes, metacritic

Seseorang ingin menonton film A di bioskop, tapi tiba-tiba mengurungkan niatnya, hanya gara-gara ia melihat buruknya "rating" (penilaian) di situs imdb.com.

Alhasil, ia akhirnya menonton film B yang memiliki "rating" lebih baik dari film A.

Pertanyaannya : Apakah hasrat orang tersebut terhadap film B, sekuat hasratnya terhadap film A? Atau film B hanya pilihan alternatif saja, daripada kecewa dengan film A?


Ilustrasi diatas adalah sebuah contoh klasik yang membuat sebagian orang membatalkan hasrat, minat, niat dan usahanya untuk menonton sebuah film tertentu, hanya gara-gara melihat rating dari film itu sendiri, begitu parahkah hal tersebut? Meski hal tersebut sangatlah lumrah dan merupakan hak semua orang.

Film adalah sebuah karya seni yang dikomersilkan, artinya film adalah salah satu wujud seni peran yang kental dengan estetika, namun sekaligus menjadi komersil dengan mempertimbangkan kelayakan nilai jual, khususnya untuk segmen yang lebih spesifik, misalnya film untuk keluarga, film untuk remaja, dan lain sebagainya. Umumnya, sebuah karya seni tidak bisa dinilai secara terukur dan akurat berdasarkan ilmu pasti, karena jelas hal tersebut membicarakan persepsi dan selera yang berbeda bagi audiens. 

Ibaratnya musik, seni lukis, seni patung, desain grafis dan kawan-kawan sejenis, biasanya film hanya bisa dikritik atau diulas (review), serta dibahas melalui tulisan, video atau diskusi langsung. Tidak hanya karya seni, bahkan makanan serta mungkin produk-produk lain pun tidak bisa terhindar dari kritikan dan review … lha, kinerja aktivitas manusia aja acapkali dikritik kok.


Kedinamisan “Rating” Film

Sebelum melangkah lebih jauh, yag dimaksud dengan "rating" disini yakni penilaian baik-buruknya sebuah film,bukan klasifikasi batasan usia. Penting atau tidaknya, sebuah film tetap saja membutuhkan kritik atau review dan penilaian. Mengapa? Sebab mungkin saja datang dari mayoritas selera audiens, bahwa film itu umumnya baik, sedang atau buruk. Namun yang perlu diperhatikan adalah kuantitas atau jumlah, berapa banyak orang yang menilai film itu sendiri.

Contoh sederhana : Di bulan Maret, film A mendapat rating tinggi sebanyak 90% dan dinilai dari 100 orang. Di bulan Juni, jumlah penilai atau yang mengkritik bertambah menjadi 300 orang, namun rating film tersebut turun menjadi 77%. Sedangkan di bulan Desember, jumlah penilai mencapai titik maksimal sebanyak 500 orang, dan hasil akhir ratingnya adalah 69%. Sehingga boleh disimpulkan bahwa hasil akhir film tersebut ternyata lumayan positif, dan tidak lagi berpredikat sebagai film ‘terbaik’ seperti yang terjadi di awal penilaian.

Hal itu sudah lumrah terjadi sejak dulu kala, bagaimana kedinamisan akan penilaian film tetap berlaku, tergantung dari kuantitas penilai, selain tentunya kualitas isi kritikannya yang tetap saja berujung pada selera masing-masing.

Contoh ekstrim juga terjadi pada beberapa film yang pernah mengalami perubahan nilai rating, yang tadinya dikatakan buruk tak lama setelah perilisannya, maka bertahun-tahun kemudian dikunjungi ulang oleh beberapa kritikus yang sama ditambah dengan para kritikus generasi baru.

Hasilnya bisa diluar dugaan, bahwa film tersebut akhrinya mendapat rating yang tinggi. Biasanya, film-film itulah mendapat status cult, artinya yang semula tidak disukai oleh para kritikus, namun akhirnya beberapa dari mereka ‘terpengaruh’ oleh orang lain untuk merevisi ulasannya sehingga yang tadinya tidak suka, malah jadi suka.

Hal itu mungkin saja berlaku untuk kita semua khususnya penikmat film, tanpa disadari misalnya saat pertama kali nonton film itu dan kurang suka, bukan berarti tidak akan pernah nonton filmnya lagi, meski kasus tersebut sepertinya jarang terjadi.




Kritik atau Ulasan Film Tetap Dibutuhkan

Menurut pandangan saya, rating sebuah film dibutuhkan sebagai tolak ukur dan indikasi yang digunakan oleh media dan institusi, untuk membuat predikat serta rekomendasi semisal dalam kategori film terbaik berdasarkan genre dan tema spesifik, kemudian dipersempit dalam kategori adegan aksi terbaik, quotes yang memorable, dan lain sebagainya. Jika membicarkan hal yang lebih jauh, bahkan bisa mengarah lagi kepada berbagai nominasi dalam ajang penghargaan film.

Situs rating film yang populer biasanya IMDB, Rotten Tomatoes dan Metacritic. Bagi saya pribadi, patokan untuk melihat kritik yang lebih berkualitas yakni di situs Rotten Tomatoes dan Metacritic, karena jelas disitulah tempat berkumpulnya penilaian dari para top kritikus dengan jam terbangnya yang tinggi dan sudah berpengalaman puluhan tahun dalam pekerjaannya.

Nama-nama besar seperti Roger Ebert, Leonard Maltin, Vincent Canby, Janet Maslin, Peter Bradshaw, Andrew Sarris, James Berardinelli atau Peter Travers terpampang di kedua situs tersebut. Profesi mereka umumnya sebagai kritikus independen atau kontributor di salah satu majalah/media terkemuka, dan memiliki latar belakang studi perfilman, sinematografi atau jurnalisme, sehingga analisa mereka umumnya lebih tajam dan mendalam, dengan menggunakan gaya bahasa intelektual.

Bandingkan dengan IMDB, yang berisikan siapa saja yang bisa memberikan kritik atau review, serta kebanyakan profil mereka pun tidak secemerlang nama-nama diatas. Mungkin saja para reviewer atau pengulas film yang memiliki website atau blog pribadi, berkontribusi dalam memberikan rating di IMDB, serta tentu saja analisanya tidak ‘secanggih’ para top kritikus di Rotten Tomatoes. Tanpa bermaksud merendahkan, bagi saya IMDB lebih berfungsi sebagai penyimpan database film yang paling lengkap, dibandingkan penilaian film.

Kiri-kanan : Kritikus film terkenal, Roger Ebert, Andrew Sarris,
Janet Maslin. Sumber : indiewire.com, vulture.com

Jadikan Kritik dan Review Film sebagai Pembelajaran

Sama sekali tidak salah untuk rajin melihat berbagai situs atau blog yang mengulas/membahas/me-review film, jika memang dirasa tidak sanggup mencerna ulasan film dari seorang kritikus top, apalagi dalam bahasa Inggris yang sebentar-bentar harus klik kamus Inggris-Indonesia, cukup merepotkan. Dan jangan pula mencibir penilaian buruk seorang kritikus atau reviewer terhadap sebuah film yang anda sukai, karena sekali lagi … bicara film adalah bicara selera, lha dalam satu film penilaian kritikus top aja antara yang satu dengan yang lain bisa bertentangan, apalagi para reviewer baru!

Dan yang paling parah dan bodoh adalah jika ada seseorang yang gusar, bahwa film kesayangannya dikritik buruk, lalu orang tersebut mengumpat-ngumpat : “Emangnya loe bisa buat film!”. Artinya dia tidak bisa membedakan profesi kritikus/jurnalis/penulis dengan pembuat film/sineas (filmmaker), serta dia tidak bisa menerima kritikan, sehingga ia tidak akan pernah dihargai oleh orang lain. Mungkin pengecualian dalam kasus ini adalah seorang Francois Truffaut.

Intinya adalah, tontonlah sebuah film yang anda hasratkan, tanpa harus melihat sebuah rating dari sumber manapun, karena akan mempengaruhi psikologis anda. Urusan kecewa atau lebih rendah dari ekspektasi adalah sebuah resiko yang harus kita alami, seperti pengalaman makan di sebuah tempat yang belum kita pernah kunjungi … sekali lagi, selera!

Saya pribadi pun baru memperhatikan rating dan kritik atau review di berbagai media, setelah saya tonton filmnya, hanya untuk belajar membandingkan dari analisa atas apa yang saya rasakan dan saya nilai sendiri, dengan apa yang mayoritas orang-orang nilai. Saya tidak peduli jika sebuah film yang saya sukai memiliki rating buruk di semua media dan sebaliknya, saya hanya berusaha untuk belajar menambah dan memperluas wawasan film. 

Penting atau tidaknya rating sebuah film, tergantung dari perspektif mana yang bisa dijadikan pembelajaran serta tujuan dan motivasinya, apakah anda hanya senang nonton film atau ingin menggali lebih dalam lagi.



Kontroversi film Captain Marvel (sumber : Screen Rant)


Politik dan Propaganda Pihak Studio terhadap Media Mainstream, Mungkinkah?

Hingga tulisan ini diturunkan, kini di dunia maya sedang 'panas' akan pertarungan dua kubu akan kontroversial film Captain Marvel yang akan tayang di bioskop. Bermula dari ucapan Brie Larson yang mempromosikan film yang dibintanginya itu dalam mengangkat isu feminisme, seksisme dan rasisme, seakan mengklaim bahwa Captain Marvel adalah karakter perempuan heroik yang akan 'memberantas' maskulinisme dan "whitewashing". 

Kontan para fans dan banyak orang marah terhadap ulah Brie Larson dan menuding Larson sebagai SJW (Social Justice Warrior) yang dilindungi oleh Disney dan media mainstream. Umumnya, SJW dipandang negatif dan annoying.

Jika dirunut, kontroversi akan kritik media mainstream dimulai sejak film Alita : Battle Angel (2019) yang hanya mendapat rating 60% di Rotten Tomatoes, namun kontras dengan penilaian Audience sebesar 94%. Umumnya, banyak yang puas dengan film Alita, terbukti di situs Cinemascore mendapat peringkat A- dan IMDB mendapat nilai 7.6/10  sehingga banyak yang menuding peran para kritikus top pun sudah semakin kacau dan mungkin disetir oleh pihak studio yang 'mengontol' media.

Jika dirunut lebih jauh lagi, film Ghostbusters (2016), Star Wars : The Last Jedi (2017), dan Ocean's 8 (2018) pun sarat dengan isu politik identitas yang berkaitan dengan peran para SJW. Ketiga film tersebut, malah yang terparah adalah The Last Jedi cenderung 'mengecewakan' para fans Star Wars terhadap kontrasnya penilaian para kritikus, jika diamati di situs Rotten Tomatoes.

Maka sejak kontroversi Brie Larson dan kampanye film Captain Marvel-nya, minat Audiens (di kolom "Audience Want to See") yang tadinya tinggi (lebih 90%) langsung turun drastis menjadi sekitar 27%. Namun konyolnya, Rotten Tomatoes langsung menutup kolom "Audience Want to See" itu, dengan alasan yang tampaknya ambigu. Dan para fans baik blogger maupun vloger dan youtuber pun kesal terhadap peranan media mainstream yang membela film Captain Marvel, sekaligus menuding balik mereka sebagai troll.

Hingga kini 'perang' antara kubu fans/audiens dengan media (mungkin juga pihak studio) yang dimanfaatkan oleh para SJW masih panas, serta mungkin akan berlanjut, yang gilanya hingga rencana produksi sekuel Ghostbusters-nya Jason Reitman juga ikutan diserang oleh para SJW. 

Dugaan saya, pihak studio mungkin saja hanya lebih peduli soal keuntungan filmnya, tanpa peduli soal feminisme, seksisme atau rasisme. Mungkinkah juga pihak studio mengontrol media yang diisi oleh para kritikus? Maybe yes, maybe no ... Sedangkan para SJW boleh jadi memanfaatkan sebuah film untuk memperjuangkan apa yang mereka yakini. Di sisi lain, para audiens dan fans-lah yang akhirnya bisa juga menentukan baik atau buruknya sebuah film.

Jadi jika penasaran terhadap film tertentu, tonton saja dan anda sendiri yang akan menlai. Tapi jika berhubungan dengan prinsip spesifik bahkan sampai memboikot filmnya, maka lain cerita ... 


Kesimpulan Akhir : Updated 10 Maret 2019 

Semenjak kontroversi seputar film Captain Marvel yang berakibat pada kejanggalan terhadap performa media, khususnya di situs Rotten Tomatoes dan bahkan mungkin bisa menjalar kepada Metacritic, IMDB atau Cinemascore dan Youtube sekalipun, membuat saya pribadi berpikir ulang dan mengevaluasi dasar pemikiran saya sebelumnya terkait tulisan diatas. 

Beberapa pihak pernah mengatakan bahwa kini para kritikus dari media mainstream sudah tidak bisa dipercaya ulasannya, berdasarkan prinsip kejujuran opini terhadap penilaian sebuah film. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan akan kebebasan beropini, yang mungkin saja semakin diperketat oleh pihak atau oknum tertentu yang memanfaatkan industri film dengan tujuan politik yang tidak pantas.

Ironis memang, seakan tulisan dalam artikel ini cenderung kontradiktif dalam memandang kredibilitas para kritikus top, meski seharusnya memang masih ada beberapa diantara mereka yang jujur dalam beropini. Semoga hal tersebut cepat terselesaikan, sehingga seperti masa lalu ketika kita semua bisa menilai sebuah film dengan tenang, tanpa campur tangan politik negatif secara terbuka.


Comments