The Company of Wolves (1984) : Dongeng Unik Kawanan Serigala

Courtesy of ITC Entertainment, 1984

Ada dongeng dalam dongeng atau cerita dalam cerita … sebuah antologi? Well, setidaknya itu semua terangkai dalam satu mimpi seseorang saja.

Namun benarkah itu semuanya hanya mimpi?

Sebuah keluarga yang terdiri dari seorang ayah (David Warner) dan ibu (Tusse Silberg) baru saja pulang ke rumahnya yang disambut oleh anak sulungnya (Gerogia Slowe). Mereka menyuruh untuk membangunkan adiknya yang bernama Rosaleen (Sarah Patterson), sedang tertidur pulas hingga terbawa mimpi. Begini mimpinya :

Pada abad ke-18, kakak perempuan Rosaleen itu suatu hari tewas oleh kawanan serigala. Karena sang ibu yang sedang berduka, sang ayah meminta Rosaleen untuk sementara tinggal di rumah neneknya (Angela Lansbury). Rosaleen diperingati sang nenek untuk tetap berada di jalur setapak ketika mereka menuju rumahnya dan hati-hati terhadap pria yang memiliki alis mata menyatu. Dan suatu malam pun sang nenek menceritakan tentang legenda werewolf kepada Rosaleen. Begini ceritanya :

“Seorang pengembara menikahi gadis desa, hingga suatu malam di bulan purnama, ia lari meninggalkan rumah. Gadis tersebut terus menunggunya, hingga ia menikahi pria lain dan memiliki tiga anak. Hingga suatu malam pengembara tersebut kembali ke rumahnya …”

Sang nenek membuat sendiri dan memberikan sweater dengan kerudung berwarna merah kepada Rosaleen yang kembali menuju desanya. Rosaleen pun bertemu dengan seorang anak lelaki tetangganya yang tertarik kepadanya, hingga di hari Minggu ia pun mengajak Rosaleen jalan-jalan menuju hutan. Namun mereka terpisah dan anak lelaki itu menemukan seekor sapi tewas oleh serangan serigala.

Penduduk yang geram pun memasang jebakan untuk membunuh serigala, sementara setelah itu, Rosaleen bertemu dengan pemuda yang menarik baginya saat ia dalam perjalanan menuju rumah sang nenek.  

imdb.com

Adalah novelis dan penulis Angela Carter yang mengadaptasi dari karya novelnya sendiri berjudul The Bloody Chamber, berupa kumpulan cerita pendek yang diantaranya ada kisah mengenai werewolves, yang juga diadaptasi ke dalam drama radio. Bersama dengan sineas Neil Jordan, Carter mengembangkan naskah tersebut, hingga terciptalah sebuah cerita unik ke dalam bentuk film.

Saran saya, anda lebih baik fokus untuk menyimak cerita dari awal hingga akhir, karena poin penting dalam kisah tersebut berada di dunia ‘mimpi’ saat karakter Rosaleen yang hidup bersama keluarganya di abad ke-18. Dalam dunia ‘mimpi’ tersebut, terdapat beberapa karakter penting selain Rosaleen tentunya, yakni sang nenek, ayah dan ibu, bocah lelaki yang tertarik pada Rosaleen, serta yang terakhir adalah seorang pemuda yang menarik hati Rosaleen ketika ia sedang dalam perjalanan menuju rumah sang nenek.

Setelah itu, maka setidaknya ada empat kisah atau dongeng yang diceritakan : Dua kisah yang diceritakan sang nenek kepada Rosaleen, yang pertama yakni tentang seorang pengembara dan serigala, yang kedua yakni kisah tentang seorang anak muda yang bertemu dengan sang iblis.

Courtesy of ITC Entertainment, 1984

Kemudian ada satu kisah yang diceritakan Rosaleen kepada ibunya, yakni tentang seorang wanita hamil yang mendatangi pesta pernikahan pria selingkuhannya. Dan yang terakhir yakni satu kisah yang diceritakan Rosaleen kepada seorang pemuda yang ditemuinya di hutan dalam perjalanan menuju rumah sang nenek, yakni kisah tentang tentang wanita serigala yang keluar dari sebuah sumur.

Courtesy of ITC Entertainment, 1984

Saya tidak ingin membocorkan lebih lanjut bagaimana beberapa kisah tersebut disusun, dirangkai, serta dikemas dalam sebuah cerita menyeluruh hingga di akhir film secara solid, estetis, mempesona, hingga rasanya durasi sekitar 1,5 jam tidaklah cukup … dan jujur, saya tidak merasa puas akan ending ceritanya, I want more and more!

Courtesy of ITC Entertainment, 1984

Saat karakter Rosaleen mulai mimpi, sangat terasa sebuah atmosfir kuat akan dongeng bernuansa gothic horror ataupun dunia fairy tale seperti halnya dalam film The Labyrinth (1986), bagaimana kehidupan mereka di sebuah pedesaan yang selalu diselimuti kabut tebal, berada di dekat hutan lebat karena rimbunnya pepohonan yang besar, suasana suram, indahnya langit saat senja hari berawan dan sebagainya. Berbagai setting yang dihadirkan pun tampak seperti berada di dalam studio, lengkap dengan berbagai latar dengan keindahan visual berupa matte paintings yang dengan sempurna mampu memanipulasi mata.

Courtesy of ITC Entertainment, 1984

Dengan mengandalkan teknik practical effect yang jitu, seperti layaknya An American Werewolf in London (1981) beserta film-film sejenis, beberapa adegan transformasi manusia serigala serta penampakan sosok serigala itu sendiri dalam kegelapan begitu terasa riil serta tentunya lebih mengerikan, termasuk juga make-up yang digunakan. Hal tersebut sangat terbantu berkat kelihaian permainan cahaya, teknik pewarnaan, serta pengambilan berbagai sudut akan sorotan kamera yang didukung dengan keterlibatan berbagai prop menakjubkan, sehingga terlihat estetis dan memorable.

Courtesy of ITC Entertainment, 1984

Di setiap segmen cerita, hampir semua terdapat banyak kejutan yang terkadang mengerikan, namun juga ada beberapa hal yang sepertinya ambigu dalam arti sulit untuk diintepretasikan secara nalar termasuk di akhir cerita, apakah bisa dikatakan adanya unsur surealisme diantara mimpi, fantasi atau kenyataan. Sulit untuk dipahami dengan gamblang.

Penampilan aktris Sarah Patterson sebagai seorang gadis lugu bernama Rosaleen, membuktikan bahwa karakternya memiliki suatu pesona kuat, sekaligus membuat audiens jatuh hati dan bersimpati kepadanya. Karakter Rosaleen juga merupakan perwujudan dari kisah dongeng populer Little Red Riding Hood yang melegenda tersebut. Selain itu, penampilan aktris veteran Angela Lansbury sebagai sang nenek tak kalah menariknya, sebagai seorang yang bijak dan berkarisma sekaligus penuh misteri.

Film The Company of Wolves mengambil basis dari tradisi dongeng klasik Eropa, yang diwujudkan dengan begitu menarik dan membuat penasaran hingga akhir cerita. Hadir di berbagai dimensi kehidupan antara kenyataan atau bukan, pengembangan narasi cerita tersebut disampaikan dengan teratur tanpa harus mengacak plot, sekaligus menghindari kesesatan jalan pikiran audiens untuk memahami sepanjang jalan cerita itu sendiri. Hanya saja mungkin perbedaan intepretasi dari masing-masing audiens sepertinya tidak menjadikan film tersebut sulit untuk dinikmati, malah sebaliknya.

Bagi penyuka film horor, khususnya yang bertemakan gothic atau klasik, sangat direkomendasikan menonton The Company of Wolves sebagai sebuah tontonan dengan gaya yang berbeda.

Score : 3.5 / 4 stars

The Company of Wolves | 1984 | Horor, FantasiPemain: Angela Lansbury, David Warner, Micha Bergese, Sarah Patterson, Tusse Silberg | Sutradara: Neil Jordan | Produser: Chris Brown, Stephen Woolley | Penulis: Adaptasi dari beberapa cerita dalam novel “The Bloody Chamber” karya Angela Carter. Naskah: Angela Carter, Neil Jordan | Musik: George Fenton | Sinematografi: Bryan Loftus | Distributor: ITC Entertainment Negara: Inggris | Durasi: 95 Menit



Comments