Apocalypse Trilogy : Prince of Darkness (1987), In the Mouth of Madness (1994)

Setelah mengulas film The Thing (1982) yang merupakan bagian pertama dari Apocalypse Trilogy, kali ini saya akan membahas langsung dua film berikutnya, yakni Prince of Darkness dan In the Mouth of Madness, yang sebenarnya tidak sepopuler The Thing, serta agaknya underrated moviesyet still a horror cult classic.


Prince of Darkness (1987)

Courtesy of Universal Pictures, 1987

Dulu sempat ditayangkan di salah satu televisi swasta, film ini memiliki premis yang unik dengan manggabungkan supranatural dan science (mungkin metafisika). Bercerita tentang kebangkitan iblis yang menyebarkan benih kejahatan kepada manusia, sehingga akan mengakibatkan kekacauan secara global. Di film ini, kredit Carpenter sebagai penulis digunakan nama Martin Quatermass sebagai tribut terhadap karakter horor fiktif, Bernard Quatermass.

Prince of Darkness mengisahkan tentang seorang Pastur yang tidak diketahui namanya (Donald Pleasence) mengundang seorang ilmuwan fisika kuantum, Profesor Howard Birack (Victor Wong) beserta tiga belas akademisi, terkait penemuan sebuah tabung silinder besar yang berisikan cairan warna hijau yang berputar-putar, di sebuah basement Gereja yang ditinggalkan.

Mereka menemukan dalam sebuah teks kuno, bahwa cairan tersebut tak lain adalah wujud jasmani dari iblis atau setan. Cairan yang disinyalir ‘hidup’ tersebut lalu diteliti dan mengelurkan berbagai data kompleks. Tiba-tiba saja semburan kecil dari cairan tersebut mengenai salah satu akademisi, sehingga ia bertingkah seperti kerasukan sesuatu dan mulai meneror satu sama lainnya.

impawards.com

Memiliki premis dasar mengenai penularan ‘wabah bencana’ terhadap manusia, dimulai dari sebuah lokasi yang terdiri dari komunitas atau grup kecil, itulah persamaan antara film The Thing (1982) dan Prince of Darkness, sehingga dapat disebut sebagai apocalypse movie, artinya kiamat atau kehancuran bumi yang akan terjadi dalam waktu dekat. Film ini juga menghasilkan sebuah kolaborasi solid antara lembaga keagamaan dengan ilmu pengetahuan ilmiah yang disampaikan melalui cerita dan karakterisasi.

Dengan gaya penyajian alur drama lambat yang dijejali banyak dialog pada awal cerita hingga pertengahan, jangan harap ada berbagai aksi horor seru dan mendebarkan disertai efek spesial menakjubkan di film ini. Hal mengerikan yang cukup membuat jantung dag-dig-dug adalah beberapa sekuen yang mirip dengan film Halloween (1978), ketika karakter protagonis berhadapan dengan karakter yang berubah menjadi antagonis.

Berbagai adegan aksi konfrontasi antara beberapa karakter protagonis (survivors) dengan beberapa karakter antagonis (possessed), situasi dan gayanya pun mirip dengan film Assault on the Precinct 13th (1976). Efek spesial disajikan apa adanya, namun tetap terlihat mengerikan, sedangkan di film ini lebih banyak memakai efek make-up yang terlihat efektif dan menakutkan.

Courtesy of Universal Pictures, 1987

Kepiawaian Carpenter dalam merindingkan bulu kuduk, terlihat dari adegan menegangkan dan greget, penataan sorotan kamera dan pencahayaan, serta akting para aktor/aktris yang cukup impresif. Sedangkan scoring yang dikerjakan bersama antara Carpenter dan Alan Howarth, menghasilkan latar musik khas synthesizer dalam memadukan mistis, thriller dan fiksi ilmiah layaknya di film Escape from New York (1981).

Kolaborasi akting antara Donald Pleasence sebagai Pendeta dan Victor Wong sebagai ilmuwan, menghadirkan chemistry yang cukup baik, dalam kekompakan maupun beberapa intrik pertentangan diantara mereka. Selain Victor Wong, dua aktor Asia lainnya juga terlibat, yakni Dennis Dun - sebelumnya terlibat di film Big Trouble in Little China (1986)- sebagai karakter yang menyebalkan dan aktris Ann Yen. Sedangkan penampilan aktor/aktris lainnya terkesan standar … oh ya, bintang rock Alice Cooper berperan kecil sebagai salah seorang gelandangan kejam.

Tema dari film Prince of Darkness memang unik dan menarik serta memiliki struktur cerita yang kuat, namun penggarapannya terkesan agak membosankan hingga hampir setengah cerita. Film ini mungkin saja dapat disebut sebagai dark horror atau film horor paranoia, sejauh ini beberapa adegan memorable-nya pun tidak sehebat film The Thing (1982), karena menurut saya kurang impresif, meski overall cukup bagus.  

Score : 3 / 4 stars

Prince of Darkness | 1987 |   Horor, Supranatural, Fiksi Ilmiah  Pemain: Donald Pleasence, Lisa Blount, Victor Wong, Dirk Blocker, Jameson Parker | Sutradara: John Carpenter  | Produser: Larry J. Franco | Penulis: Martin Quatermass (John Carpenter) | Musik: John Carpenter, Alan Howarth | Sinematografi: Gary B. Kibbe | Distributor: Universal Pictures (Amerika Utara), Carolco Pictures (Internasional) | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 101 Menit 



In the Mouth of Madness (1994)

Courtesy of New Line Cinema, 1994

Film In the Mouth of Madness yang dibintangi oleh Sam Neill, sebenarnya lebih mengarah kepada psychological horror, dengan menekankan kebingungan antara dunia nyata (realita) dengan dunia fiktif yang dialami oleh karakter protagonis. Selain itu pula terdapat sebuah istilah dengan apa yang disebut dengan narasi dalam narasi atau film dalam film, yang membuat audiens awam turut bingung.

Dr. Wrenn (David Warner) mengunjungi seorang pasien di rumah sakit jiwa, bernama John Trent (Sam Neill). Trent kemudian mengisahkan kepada Wrenn sebuah flashback dari apa yang ia alami sebagai berikut :

Trent adalah seorang penyelidik asuransi, ketika ia diminta oleh koleganya untuk menyelidiki kasus klaim dari Arcane Publishing, tiba-tiba ia diserang oleh seseorang yang akhirnya ditembak mati polisi. Orang tersebut diketahui menjadi gila dan telah membunuh seluruh keluarganya setelah ia membaca salah satu novel horor yang ditulis oleh Sutter Cane (Jürgen Prochnow). Cane sendiri telah menulis beberapa novel horor laris yang mempengaruhi banyak orang yang mengakibatkan guncangan jiwa dan cenderung melakukan kekerasan setelah membacanya.

Trent lalu bertemu dengan direktur Arcane Publishing, yakni Jackson Harglow (Charlton Heston) yang memintanya untuk menyelidiki misteri hilangnya Sutter Cane, sekaligus berusaha menemukan kembali manuskrip untuk novel terakhirnya. Jackson mengutus Linda Styles (Julie Carmen) untuk menemani Trent dalam penyelidikan tersebut.

Dengan menemukan sebuah petunjuk dari sampul novelnya Cane, mereka berangkat menuju ke suatu lokasi guna mencari Cane. Namun apa yang mereka alami, sungguh diluar dugaan dan sangat berbahaya …

impawards.com

Dari judul filmnya sendiri, kita tentunya bisa menebak bahwa cerita di film ini pasti berhubungan dengan suatu kegilaan atau gangguan jiwa dalam diri seseorang. Kisah dalam film dibuka saat karakter utama dinyatakan ‘tidak waras’ hingga dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa. Dengan mengusung plot non-linear, ternyata apa yang dialami sebelumnya oleh karakter utama yang bernama Trent tersebut mengalami kebingungan antara realitas dan fantasi.

Transformasi karakter Trent yang semula tidak percaya akan hal-hal mistis, mulai kehilangan kewarasannya, menganggap bahwa semua yang ia alami adalah nyata. Banyak sekuen dan adegan berupa beberapa petunjuk yang mengarah kepada kesimpulan akhir cerita, disajikan dengan begitu apik serta menarik. Ritme yang dimainkan dan diarahkan oleh Carpenter di sepanjang cerita pun dirasa pas serta enak untuk diikuti, sembari saya berpikir kira-kira apa motivasi dibalik cerita misterius itu.

Berbagai adegan horor dan kekerasan diperlihatkan secara implisit, tanpa harus menampilkan extreme gory menjijikan. Efek spesial yang digunakan pun terlihat halus dan berkualitas, tak salah memang karena memakai jasa Industrial Light & Magic yang sarat akan practical dan optic effect brilian, seperti berbagai sosok monster dan efek dekorasi yang organik. Begitu juga dengan teknik sinematografi yang handal dan manipulatif, seperti menyorot beberapa monster besar yang sedang mengejar Trent, tanpa harus memperlihatkan seluruh tubuhnya dengan utuh.

Courtesy of New Line Cinema, 1994

Penggunaan setting serta latar pun dieksekusi secara estetis, dengan menghadirkan beberapa mise-en-scéne yang enak dipandang, seperti sekuen di depan dan sekitar kemegahan Gereja Byzantine di tengah-tengah lapang hijau yang luas, lingkungan kota kecil bernama Hobb’s End yang tidak berpenduduk, tampak banyak daun berwarna kuning kecoklatan bergururan di sepanjang jalan, atau lingkungan dan eksterior hotel kecil Hobb’s End yang bergaya klasik dan kuno serta dikelilingi oleh pohon rimbun dengan warna dedaunan hijau, kuning dan merah.

Beberapa adegan unik sekaligus memorable pun disajikan dengan atmosfir horor misterius, seperti seorang lanjut usia pengendara sepeda di malam hari dengan fisik menyeramkan dan penampilan nyentrik, serta adegan yang bikin kesal sekaligus menggelikan yakni ketika berulang kali mendatangi ke satu lokasi dengan situasi yang sama persis dalam titik konflik cerita.


Courtesy of New Line Cinema, 1994

Premis cerita yang ditulis oleh Michael De Luca, banyak terinspirasi dari berbagai cerita klasik karya H.P. Lovecraft. Elemen ketidakwarasan di ceria film ini juga berdasarkan novel Lovecraft berjudul At the Mountains of Madness. Juga dalam cerita film ini, beberapa judul novel karya Sutter Cane, dibuat mirip berdasarkan beberapa judul novel karya Lovecraft. Selain itu, terdapat referensi terhadap Stephen King akan setting cerita di kota fiktif serta dibandingkan dengan popularitas Sutter Cane dalam sebuah dialog.

Tidak seperti biasanya, scoring dalam opening dan ending credits di film ini menggunakan instrumen melodi gitar listrik bergaya musik rock, hasil kolaborasi Carpenter dengan Jim Lang, cukup inovatif dan stylish. Akting Sam Neill sebagai Trent sebagai karakter skeptis dan karakter yang depresi hingga memiliki kegilaan, cukup impresif dan dalam. Dua aktor kawakan Charlton Heston dan David Warner juga cukup penting dalam mengangkat kehadiran dua figur yang berpengaruh. Sedangkan akting Jürgen Prochnow sebagai Cane sudah tak diragukan lagi kualitasnya.

Film In the Mouth of Madness adalah konklusi yang tepat dalam mengakhiri Apocalypse Trilogy, mungkin anda akan memiliki pandangan sendiri setelah mengikuti jalan ceritanya yang misterius dan absurditas narasi yang dikembangkan dengan cukup kompleks dan membingungkan untuk dimengerti secara gamblang.

Score : 3.5 / 4 stars

In the Mouth of Madness | 1994 |   Horor, Psikologis, Supranatural  Pemain: Sam Neill, Julie Carmen, Jürgen Prochnow, Charlton Heston, David Warner | Sutradara: John Carpenter  | Produser: Sandy King | Penulis: Michael De Luca | Musik: John Carpenter, Jim Lang | Sinematografi: Gary B. Kibbe | Distributor: New Line Cinema | Negara: Amerika Serikat | Durasi: 95 Menit 



Comments