Buffalo Boys (2018) : Absurditas Koboi Nusantara

absurditas buffalo boys
Screenplay Infinte, XYZ Films, Nikkatsu

Film Buffalo Boys meski menyajikan absurditas koboi rasa Nusantara, merupakan salah satu gebrakan signifikan guna mendongkrak kualitas Perfilman Nasional yang biasanya didominasi dengan genre horor dan drama.

Sangat jarang ditemui film lokal dengan genre aksi laga atau petualangan, apalagi Superhero dan fiksi ilmiah yang digarap dengan cermat, serta mampu bersaing minimal dengan sejumlah film dari negara Asia lainnya.

Adapun beberapa film berdasarkan genre yang dimaksud, biasanya didukung oleh para produser dan sineas asing, sehingga memudahkan filmnya sendiri untuk berpeluang mendapatkan atensi di pasar internasional.

Film Buffalo Boys sendiri sejatinya diinisiasikan sekaligus didominasi oleh kru perfilman Singapura dengan aktor/aktris utama dari Indonesia, sehingga Indonesia sendiri sepertinya belum 100% mampu memproduksi film seperti itu secara mandiri.

Meskipun sineas Mike Wiluan berdarah Indonesia, namun beliau adalah warga Singapura, melalui perusahaan Infinite Frameworks miliknya yang telah dikenal global dengan berbagai karyanya.

Narasi film Buffalo Boys sendiri memang tentang orang Indonesia (dahulu Nusantara), dengan lokasi di tanah Jawa pada jaman kolonial Belanda, namun dikombinasikan dengan genre Western ala koboi Amerika. 

review film buffalo boys
Screenplay Infinte, XYZ Films, Nikkatsu
 
Buffalo Boys mengisahkan di California tahun 1860, ketika dua bersaudara Jamar (Ario Bayu) dan Suwo (Yoshi Sudarso) yang bekerja dengan paman mereka, Arana (Tio Pakusadewo) di Transcontinental Railroad, memutuskan untuk kembali ke tanah Nusantara di pulau Jawa.

Mereka sempat berziarah ke makam saudara Arana yang merupakan ayah dari Jamar dan Suwo, hingga dalam perjalanan mereka menyelamatkan Sri (Mikha Tambayong) dan Suroyo (El Manik) dari penjahat lokal bernama Fakar (Alex Abbad).

Sebagai ungkapan rasa syukur, Suroyo mengajak mereka untuk beristirahat menuju desanya, hingga mereka bertemu dengan kepala desa bernama Sakar (Donny Damara) yang merupakan ayah dari Sri dan Kiona (Pevita Pearce).

Desa mereka sendiri berada dalam wilayah kekuasaan Van Trach (Reinout Bussemaker) yang bengis dan kejam dengan pengikutnya yang setia bernama Drost (Daniel Adnan).

Tindakan semena-mena Van Trach terhadap penduduk desa tersebut, memaksa Jamar, Suwo dan Arana untuk menyerang balik Van Trach sekaligus menuntaskan tragedi masa lalu yang dialami oleh Arana.

Alur cerita di awal memperlihatkan bagaimana Arana beserta kedua keponakannya yakni Jamar dan Suwo bertualang di Amerika pada jaman Wild West dalam era tersebut, sehingga secara nalar agak absurd jika orang Nusantara bisa tiba di Amerika, kecuali menyelundup melalui kapal.

Karena umumnya orang-orang Asia yang berada di Amerika kebanyakan China daratan yang bekerja sebagai budak tambang atau pekerja rel kereta api. Bagaimanapun juga, hal tersebut memang bisa terjadi dalam realitanya.

buffalo boys koboi nusantara
Screenplay Infinte, XYZ Films, Nikkatsu

Saat mereka tiba di tanah Jawa pada jaman kolonial Belanda, topi fedora mereka pun tetap dipakai, lengkap dengan jubah koboinya yang lebih modern (ciri khas Barat), sehingga seharusnya dicurigai oleh otoritas kolonial saat itu.

Demikian pula berbagai atribut perang yang mereka pakai, serta senjata yang tidak lazim dipakai oleh para koboi juga mereka gunakan saat dalam adegan pertempuran terakhir dengan kelompok Van Trach.

Hal tersebut mengingatkan saya akan sejumlah film Period-nya Amerika yang dipadukan dengan aksi laga petualangan, sebuah modernisasi akan atribut yang dipakai oleh karakter utama, dalam fantasi Drakula/Vampire, Werewolf, Frankenstein atau Hansel and Gratel misalnya.

Meski dirasa tidak masuk akal, saat dunia Western masuk ke tanah Nusantara melalui dua karakter utamanya, namun sah secara imajinatif. Jadi, konsep cerita film Buffalo Boys memang unik dalam mengkombinasikan Western dan budaya lokal saat itu.

Wiluan mengkhususkan eksploitasi terhadap elemen Spaghetti Western yang populer di era 60’an seperti film Django (1966) atau trilogi The Man with No Name-nya Sergio Leone dan bahkan dalam adegan untuk pertempuran terakhir, mungkin terinspirasi dari film The Wild Bunch (1969), yang gayanya kembali dipopulerkan oleh Quentin Tarantino.

Baca juga: The Wild Bunch (1969) : Kontroversial dan Revolusioner dalam Narasi Anti-Western 

Penampilan karakter utamanya sendiri (Jamar, Suwo dan Arana) yang terkait dengan perjalanan mereka di alam pedesaan pada masa itu juga seklias mirip dengan petualangan ala Indiana Jones atau The Mummy-nya Brendan Fraser, dengan latar berupa pemukiman kota dan bangunan Candi.

ulasan film buffalo boys
Screenplay Infinte, XYZ Films, Nikkatsu

Sedangkan beberapa adegan saat Kiona sedang memanah merupakan performa menakjubkan, sebagai seorang wanita petarung berjiwa Ksatria, meski saat adegan ketika ia menunggang kerbau terkadang sedikit konyol.

Selain karakter orang Nusantara, tentu saja ada karakter orang Belanda seperti Van Trach dan pasukannya, Drost yang tampangnya kurang bule, orang China dan mungkin karakter Fakar seperti orang Arab dengan janggut yang dikuncir meniru Captain Jack Sparrow.

Itulah keunikan Nusantara yang kaya akan multi-etnik berdasarkan sejarah panjangnya.

Masing-masing aktor/aktrisnya menurut saya bermain cukup baik untuk film yang lebih mengutamakan unsur petualangan dan aksi laga, ketimbang eksploitasi dramatisasi dari masing-masing karakternya itu sendiri.

Hanya saja performa Yoshi Sudarso sebagai Suwo yang cenderung oriental dirasa sedikit janggal sebagai ras Austronesia, terutama saat kamera menyoroti kedua matanya dari dekat, kontras dengan karakter Jamar yang notabene adalah saudara kandungnya sendiri.

Arahan dan gaya berbagai adegan aksi laga pun merupakan tipikal sejumlah film modern yang mengandalkan gerakan slow-motion, serta sorotan kamera terhadap kaki yang melangkah ataupun orang yang tertembak senapan laras pendek hingga terpental.

sinopsis film buffalo boys
Screenplay Infinte, XYZ Films, Nikkatsu
 
Selain itu, elemen berdarah-darah di film ini masih standar dan bisa ditoleransi seperti muncratan darah dengan yang tidak terlalu banyak akibat terkena tembakan  atau kepala terpancung.

Dua adegan paling dikenang dalam film ini tentu saja perkelahian serta baku tembak di sebuah bar antara Suwo dengan para kelompok Van Trach, serta adegan baku tembak final menjelang akhir cerita.

Semuanya diimplementasikan dengan gaya khas film Western umumnya, melalui berbagai pengambilan sudut kamera yang dinamis.

Setting pemandangan indah yang didominasi oleh sawah di pedesaan, rumah pedesaan khas Nusantara atau kota kecil dengan jajaran tempat komersil seperti pertokoan dan Saloon ala Western (termasuk toko Sinshe khas China), turut mewarnai dan mamperkuat rekayasa visual berdasarkan latar sejarah.

Sebagai hiburan berkualitas, film Buffalo Boys merupakan sebuah aksi laga petualangan yang menarik, meski peran absurditas koboi Nusantara dirasa berlebihan sehingga menambah elemen fantasi dibaliknya.

Untuk sebuah hiburan dengan latar belakang sejarah beserta penonjolan akan kombinasi kultur-etnik yang kental, film ini mampu menghadirkan unsur cross-over dengan cukup memuaskan dan berkesan.

Score : 3 / 4 stars

Buffalo Boys | 2018 | Aksi Laga, Period, Petualangan, Fantasi | Pemain: Ario Bayu, Yoshi Sudarso, Pevita Pearce, Tio Pakusadewo, Reinout Bussemaker, Daniel Adnan, Alex Abbad, Conan Stevens, Alexander Winters | Sutradara: Mike Wiluan | Produser: Junxiang Huang, Kimberly James, Rayya Makarim, Fong Cheng Tan, Mike Wiluan | Penulis: Mike Wiluan. Naskah: Rayya Makarim, Raymond Lee | Sinematografi: John Radel | Musik: Yudhi Arfani, Zeke Khaseli | Distributor: Screenplay Infinte, XYZ Films (Internasional), Nikkatsu (Jepang) | Negara: Indonesia, Singapura | Durasi: 102 Menit

Comments

Popular Posts