Dollars Trilogy: A Fistful of Dollars (1964), For a View Dollars More (1965), The Good, the Bad and the Ugly (1966)

the man with no name dollars trilogy
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists

 
Definisi Spaghetti Western sesungguhnya dipopulerkan melalui tiga film yang digarap oleh sineas legendaris asal Italia, Sergio Leone menjelang medio 60’an. Film A Fistful of Dollars juga pada mulanya tidak ada niat untuk dilanjutkan hingga menjadi sebuah trilogi.

Salah satu ciri film Western buatan Italia yang bisa dikenali, selain dari musik dan scoring yang dramatis, juga bersifat revisionis dalam narasi disertai adegan yang lebih realistis akan kombinasi terhadap teknik visual yang dinamis.

Film yang dibuat dua sekuelnya hingga menjadi trilogi ini tentu saja melambungkan nama Clint Eastwood yang naik statusnya menjadi bintang, setelah sebelumnya dikenal melalui serial televisi dengan genre yang sama, yakni Rawhide.

Baca juga: Once Upon A Time in Hollywood (2019): Saga Epik Transisi Era 'Klasik' dan 'New Wave' Hollywood

Karakter yang ia mainkan di tiga film tersebut, tidak pernah disebut namanya serta tentu saja identitasnya juga misterius. Di Amerika sendiri, tiga film itu ditayangkan di tahun 1967. Kesuksesan dari pendapatan maupun disambut baik oleh kritikus Amerika, padahal mulanya dicerca oleh kritikus Italia di film perdananya, menjadikan trilogi ini wajib tonton untuk para penggemar film Western.

Di Amerika, trilogi film ini disebut Dollars Trilogy atau juga The Man with No Name Trilogy, seiring dengan karakter utama yang dimainkan Eastwood tersebut memang ikonik dengan jubah berupa poncho khas Meksiko serta cerutu yang kerap menempel di mulutnya. 

Tanpa panjang lebar, berikut ini adalah ulasan singkat masing-masing tiga filmnya: 

 

review dollars trilogy a fistful of dolllars
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
A Fistful of Dollars (1964) 

Baxter's over there, Rojo's there, me, right smack in the middle.”

Seorang pengembara tiba di sebuah kota San Miguel, perbatasan antara Amerika dengan Meksiko. Melalui seorang pemilik kedai dan penginapan bernama Silvanito, ia diberitahu tentang perseteruan antara keluarga Baxter dengan Rojo bersaudara, untuk bisa membuktikan siapa yang terkuat dan menguasai kota tersebut.

Demi memperoleh uang, sang pengembara mempermainkan sekaligus mengadu domba kedua pihak tersebut, dengan berpura-pura sebagai eksekutor dan penembak jitu. Maka terjadilah sejumlah insiden beruntun yang mengesankan bahwa masing-masing pihak yang berseteru sengaja menyulut pada peperangan besar.

Begitu banyak kejutan yang dilakukan oleh karakter utamanya, yang memang sulit ditebak kemana arah dan tindakannya.

Sosok yang anti-hero, pembawaan tenang namun mematikan, jago tembak dengan akurat dan cepat, sambil sesekali diselipkan dialog humor segar, menjadikan karakter tanpa nama tersebut boleh dikatakan sebagai bawaan Eastwood di hampir setiap filmnya.

Sudah tidak diragukan lagi gaya dan arahan brilian Leone yang menguasai dan membawa emosi penonton, tahu persis di poin mana saat kamera menyorot dengan dekat, ataupun mengekspos bagian spesifik lengkap dengan sejumlah gerakan dramatis.

Baca juga: Ulasan Film Trilogi ‘Back to the Future’

Salah satu adegan keluarga yang terpisahkan itulah yang paling haru dan mampu menyentuh emosi, selain tentu saja aksi seorang pengembara di akhir ceritanya yang sangat epik dan rasanya seperti ingin bersorak-sorai. 

review the man with no name trilogy a fistful of dollars
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
Ada pula adegan pembakaran rumah dan pembantaian, sangat menyayat, bagaimana penggambaran para penjahat bertindak sangat keji tanpa ampun.

Tema lagu membahana di kredit pembuka, begitu pula scoring dalam sejumlah adegan tertentu begitu menggugah rasa dan gejolak, entah itu ingin rasanya senyum atau tertawa, dan bahkan di saat bersamaan kadang terasa sedikit mengganggu dengan berulangnya nada pendek yang sama persis.

Sang maestro Ennio Morricone memang ahli dalam mempermainkan adrenalin audiens.

Film A Fistful of Dollars boleh dibilang sebagai biang revisionis sekaligus Anti-Western yang jauh dari kata “klise”, melalui narasi brilian yang sesungguhnya hasil adaptasi film Yojimbo (1961) karya Akira Kurosawa, serta teknik sorotan kamera yang boleh dibilang inovatif di jamannya. 

Score: 3.5 / 4 stars | Pemain: Clint Eastwood, Marianne Koch, Josef Egger, Wolfgang Lukschy, John Wells, Daniel Martin, Carol Brown, Benny Reeves | Sutradara: Sergio Leone | Produser: Arrigo Colombo, Giorgio Papi | Penulis: Berdasarkan film Yojimbo karya Akira Kurosawa dan Ryūzō Kikushima | Musik: Ennio Morricone | Sinematografi: Massimo Dallamano | Distributor: Unidis | Negara: Italia, Spanyol, Jerman Barat | Durasi: 99 Menit

 

review the man with no name for a few dollars more
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
For a View Dollars More (1965) 

When the chimes end, pick up your gun. Try and shoot me, Colonel. Just try.”

Sang pengembara yang menyebut dirinya Manco, harus bersaing dengan Kolonel Mortimer dalam profesi mereka berdua sebagai pemburu bayaran untuk menangkap para kriminal, baik dalam keadaan hidup maupun mati.

Mereka yang awalnya tidak saling mengenal, memburu orang sama yang dipanggil sebagai “El Indio”, seorang bandit kejam. Ia dan kelompoknya berencana akan merampok sebuah bank di kota El Paso.

Manco dan Mortimer harus bersaing terlebih dahulu dan membuktikan siapa yang terbaik dan berhak mendapatkan El Indio, namun akhirnya mereka bekerjasama dengan cara Manco menyusup ke dalam kelompok El Indio, sedangkan Mortimer beroperasi di luar.

review dollars trilogy for a few dollars more
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
Dalam sekuelnya ini, penceritaan tampak lebih rumit dari yang sebelumnya, meski jika ditelusuri lebih rinci, cukup sederhana. Bagaimanapun juga, secara keseluruhan film ini masih di bawah pendahulunya, kecuali ada elemen suspens terhadap tindak karakter antagonis utama setiap ia membuka sebuah jam saku.

Baca juga: The Buffalo Boys (2018): Absurditas Koboi Nusantara

Tentu saja dengan arahan dan gaya yang sama dari Leone, musik yang sama dari Morricone ditambah dengan alunan musik melankoli dari suara jam saku yang kuat dengan memori sendu, serta elemen humor mendapat porsi lebih dibandingkan film sebelumnya, menjadikan film ini sebagai sekuel yang masih pantas.

For a View Dollars More menambah seru akan aksi petualangan sang pengembara alias "The Man with No Name" yang dibawakan Eastwood, ditemani karakter Mortimer yang diperankan dengan baik oleh Lee Van Cleef, menjadikan duet maut meski patut dipertanyakan loyalitas kolaborasi mereka satu-sama lain. 

Score: 3 / 4 stars | Pemain: Clint Eastwood, Lee Van Cleef, Gian Maria Volonté, Mara Krup, Luigi Pistilli, Klaus Kinski, Josef Egger, Panos Papadopulos, Benito Stefanelli, Robert Camardiel, Aldo Sambrell, Luis Rodríguez, Mario Brega | Sutradara: Sergio Leone | Produser: Alberto Grimaldi | Penulis: Luciano Vicenzoni, Sergio Leone | Musik: Ennio Morricone | Sinematografi: Massimo Dallamano | Distributor: PEA, United Artists | Negara: Italia, Spanyol, Jerman Barat | Durasi: 132 Menit

 

review dollars trilogy the good the bad and the ugly
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
The Good, the Bad and the Ugly (1966)

"There are two kinds of people in the world those with guns and those that dig. You dig?"

Seorang pemburu bayaran yang dipanggil “Angel Eyes”, sedang melakukan aksinya terhadap seorang target, terkait incaran sejumlah emas dalam nilai tinggi yang dicuri oleh salah seorang Tentara Konfederasi bernama Bill Carson.

Sementara di tempat lain, seorang pemburu bayaran yang dipanggil “Blondie” sedang menangkap seorang bandit bernama Tuco namun ternyata ada sebuah permainan di dalamnya.

Saat sedang berkonfrontasi, tak sengaja mereka bertemu dengan Bill Carson yang sekarat dan memberitahukan tentang keberadaan emas yang ia sembunyikan. Tuco mengetahui lokasi berupa nama pemakaman yakni Sad Hill, sedangkan Blondie mengetahui persis di kuburan mana emas tersebut disembunyikan.

Dalam penyamaran mereka sebagai Tentara Konfederasi, akhirnya tertangkap oleh Pasukan Union yang ditengahi oleh Angel Eyes sebagai Sersan yang kebetulan sedang mengincar Carson. Maka, keterlibatan mereka bertiga dalam mengincar emas pun terbawa menuju sejumlah petualangan berbahaya.

Dari sekian film trilogi terbaik sepanjang masa, mungkin The Good, the Bad and the Ugly dianggap sebagai salah satu film penutup terbaik yang pernah ada, begitu manis dan indah. Film ini adalah puncak epik sesungguhnya, menawarkan banyak hal fantastis sebagai saga terakhir dari "The Man with No Name" tersebut.

review the man with no name the good the bad and the ugly
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
Film ini pula menjadi terfavorit bagi saya meski durasinya cukup panjang yakni hampir tiga jam lamanya. Bersama dengan film Djanggo di tahun yang sama, The Good, the Bad and the Ugly menegaskan definisi sejati Spaghetti Western dari sejumlah aspek ikonik, petualangan, aksi laga brutal serta kekejaman dan anti-hero yang efektif.

Jika film pertamanya sangat kuat dalam narasi dan adegan akhir yang begitu mengejutkan, film keduanya agak menurun namun sarat akan emosi, maka film ketiganya menggabungkan dua hal tersebut dengan skala yang masif.

Sepertinya The Good, the Bad and the Ugly adalah prekuel dari film pertamanya, tatkala Sang Pengembara/Blondie baru mengenakan pakaian yang sama di pertengahan serta poncho ikoniknya menjelang akhir cerita, selain setting waktu berada dalam masa Perang Saudara di Amerika.

Anehnya, aktor Lee Van Cleef yang kembali bermain namun dengan karakter yang berbeda, sempat membingungkan audiens jika tidak cermat. Kali ini, Van Cleef membawakan karakternya sebagai seseorang yang bengis, kejam serta tanpa ampun sejak adegan pembuka maupun adegan penyiksaan dalam barak tentara. Bagaimanapun juga ia mampu menjaga karisma-nya di dua film tersebut secara kontras.

Yang paling menarik adalah performa brilian aktor Eli Wallach sebagai Tuco, meski bergaya komik namun sungguh menghidupkan narasi film ini dengan pas, bahkan mungkin melebihi karakter Blondie sendiri.

Latar belakang karakter Tuco sempat terungkap dalam pertengahan cerita sekaligus mengejutkan dan cukup mengharukan meski tidak sekuat film sebelumnya, lain halnya dengan Blondie dan Angel Eyes yang misterius.

Ikatan kuat diantara Blondie dan Tuco, sungguh dirasakan begitu dinamis serta mengalami pasang-surut nyata dan sulit ditebak hingga menjelang akhir cerita sekalipun.

ulasan dollars trilogy the good the bad and the ugly
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
Keterlibatan mereka bertiga dalam peperangan langsung antar dua pasukan (Union dan Konfederasi), begitu membahana terutama saat Blondie dan Tuco harus menyeberang sebuah jembatan dan terjebak dengan Pasukan Union. Adegan pertempuran yang kolosal itupun diarahkan secara apik oleh Leone. 

Baca juga: The Wild Bunch (1969): Kontroversial dan Revolusioner dalam Narasi Anti-Western

Tetap saja Leone menghadirkan gaya long shot dan close-up wajah dari sejumlah karakter dalam adegan tertentu, juga pergerakan cepat kamera berubah arah saat Blondie menembak tali gantungan ataupun bagaimana gerak arah berlari sambil mengelilingi pemakaman begitu cepat dalam perspektif Tuco yang bernafsu mencari emas, sambil diiringi lagu "Ecstasy of Gold".

sinopsis the good the band and the ugly
Unidis, Produzioni Europee Associate, United Artists
Adapun sekuen Mexican Standoff di akhir cerita adalah yang paling fantastis dan mengejutkan, dengan tensi yang dibangun perlahan seiring dengan sorotan kamera terhadap masing-masing tiga karakter secara bergiliran. Leone dengan jenius mampu menggenjot adrenalin audiens mulai dari ritme lambat hingga meningkat cepat.

Dari tiga film tersebut, tema lagu The Good, the Bad and the Ugly adalah yang paling dikenali sekaligus salah satu yang ikonik dari komposer Ennio Morricone, selain juga lagu dalam adegan saat sejumlah tahanan memainkan instrumen melankolis.

Tak pelak lagi, film The Good, the Bad and the Ugly adalah sebuah penutup terbaik dari sebuah trilogi yang patut dinikmati, meski ada satu film berikutnya yang kembali digarap Leone, dengan memiliki kemiripan tema dan gaya yakni Once Upon A Time in the West (1968).

Score: 4 / 4 stars | Pemain: Clint Eastwood, Eli Wallach, Lee Van Cleef, Aldo Giuffré, Antonio Casas, Rada Rassimov, Enzo Petito, Luigi Pistilli, Aldo Sambrell, Livio Lorenzon, Al Mulloch, Sergio Mendizábal, Molino Rojo, Lorenzo Lobredo, Mario Brega | Sutradara: Sergio Leone | Produser: Alberto Grimaldi | Penulis: Luciano Vicenzoni, Sergio Leone. Naskah: Age & Scarpelli, Luciano Vicenzoni, Sergio Leone | Musik: Ennio Morricone | Sinematografi: Tonino Delli Colli | Distributor: Produzioni Europee Associate, United Artists | Negara: Italia | Durasi: 177 Menit

Comments

Popular Posts