3 Film 'Terminator' yang Kini Menjadi Alternatif

Dunia Sinema 3 Film Terminator Poster Film Rise of the Machines, Slavation dan Genisys
Warner Bros, Columbia Pictures, Paramount Pictures

“I’ll be back”

Sekuel terbaru Terminator yang berjudul Terminator : Dark Fate, yang merupakan kelanjutan langsung dari film Terminator 2 : Judgment Day (1991) sebentar lagi akan tayang. Mirip kondisinya dengan franchise film Halloween, sang kreator orisinal, James Cameron kembali menangani film ini sebagai produser.

Kemunduran franchise film Terminator sudah terkena dampak sejak dirilisnya seri ke-3, lalu diperparah melalui film reboot berjudul Terminator Genisys. Entah seperti menjilat ludah sendiri, Cameron yang menyukai Genisys karena premisnya berdasarkan kisah di film pertama dan keduanya, malah memproduksi sekuel baru bersama sutradara Tim Miller.

Sehingga film Dark Fate merupakan sekuel dari Judgment Day yang mengacuhkan film Rise of the Machines dan Salvation, apalagi Genisys. Kini ketiga film tersebut dianggap sebagai alternatif, akibat semakin terpuruknya seri Terminator tersebut. Berikut ketiga ulasan singkatnya :

 
Terminator 3 : Rise of the Machines (2003)
Dunia Sinema Rise of the Machines T-850
Warner Bros, Columbia Pictures

Di tahun 2004, John Connor (Nick Stahl) dan Kate Brewster (Claire Danes), diburu oleh cyborg T-X (Kristanna Lokken) dari masa depan yang dikirim Skynet, sedangkan T-850 (Arnold Schwarzenegger) memproteksinya. Trauma Connor di masa lalu kembali bangkit, bersama dengan Brewster dan T-850, mereka berusaha menghentikan amukan virus di Cyberdine System.

Terminator 3 : Rise of the Machine (T3) mengusung premis klise, dengan cara formula yang sama persis dari film sebelumnya, kemudian diolah dengan pengembangan karakter John Connor yang diekspos melalui sisi psikologis, sehingga berakhir dengan sebuah twist yang tidak terhindar. Itulah kira-kira penilaian keseluruhan dari film tanpa Cameron kembali terlibat di dalamnya.

Tidak ada sesuatu baru yang dihidangkan dalam T3, selain action pack megah dan kembalinya Arnie sebagai karakter ikonik yang terlihat mulai menua, sekaligus akting terakhirnya sebelum ia menjabat sebagai Gubernur California. Melalui atmosfir serta feel yang cenderung suram, film T3 tampaknya berusaha keras memaksakan sentralisasi John Connor sebagai sebuah saga lanjutan, kembali ‘bersahabat’ dengan T-800 yang kini menjadi T-850, selain menghadapi Terminator antagonis yang lebih canggih.

Tampaknya perihal dalam mencegah atau bahkan menghancurkan Cyberdine Systems bukan lagi menjadi agenda hidupnya, John terperangkap dalam pesimisme serta paranoid masa lalu sejak ditinggal mati ibunya (Sarah Connor). Keunggulan film ini saya akui cukup cermat dalam mengekspos psikologis John yang diceritakan telah dewasa, hidup mengembara tanpa tujuan, melarikan diri dari ‘takdir’ dan tidak siap menghadapi jika sewaktu-waktu ada Terminator yang mengincarnya.

Sayangnya chemistry John dan T-850 jelas jauh di bawah film T2. Sementara kecanggihan T-X sang antagonis yang diperankan pendatang baru Kristanna Lokken, tak lebih sebagai pemanis belaka yang digambarkan lebih mematikan dari T-1000.

Copas dari film T2, saat T-850 mendatangi sebuah strip bar, juga cenderung cringe meski masih hilarious dan bisa dinikmati. Tapi untungnya, alur yang memperlihatkan adegan dan setting berubah meninggalkan dua film terdahulunya. Beberapa aksi laga memorable di area pemakaman saat T-850 sambil mengangkat peti mati dan menembaki polisi, pengejaran dengan mobil pemadam kebakaran, hingga baku tembak di area Cyberdine Systems masih mengesankan.

Kocaknya dalam adegan di pemakaman, karakter psikolog Dr. Silberman kembali muncul setelah di dua film sebelumnya, dan lagi-lagi ia syok bertemu kembali dengan T-850! Berkat rating R dalam film ini, beberapa adegan pembunuhan cukup gory yang dilakukan oleh T-X, mengejutkan saya. Berkat kecanggihan CGI, adegan pembuka berupa perang manusia dengan mesin, terutama Endoskeleton terlihat sangat bagus, namun sayangnya tema musik khas Terminator tidak dihadirkan dalam opening dan title credits.

Tidak ada sesuatu yang mengena dalam film ini, kecuali menghadirkan ending yang cukup menyentuh dan tak pernah disangka. Saat ini, film T3 hanya sebagai sekuel alternatif yang seharusnya mengakhiri sebuah franchise populer itu.  

Score: 2.5 / 4 stars | Pemain: Arnold Schwarzenegger, Nick Stahl, Claire Daines, Kristanna Lokken, David Andrews  | Sutradara: Jonathan Mostow | Produser: Hal Lieberman, Colin Wilson, Mario F. Kassar, Andrew G. Vajna, Joel B. Michaels | Penulis: Berdasarkan karakter karya James Cameron dan Gale Anne Hurd. Naskah: John Brancato, Michael Ferris | Musik: Marco Beltrami | Sinematografi: Don Burgess  | Distributor: Warner Bros Pictures (Amerika Serikat), Columbia Pictures (Internasional) | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 109 Menit

 
Terminator Salvation (2009)
Dunia Sinema Terminator Salvation : John Connor dan Kyle Reese
Warner Bros, Columbia Pictures

Tahun 2018 pada masa post-apocalyptic, John Connor (Christian Bale) menemukan pengembangan cyborg model terbaru oleh Skynet. Ia juga mengetahui bahwa dirinya dan Kyle Reese (Anton Yelchin) adalah sasaran utama Skynet. Dalam usaha gerilya untuk menghancurkan Skynet dan menyelamatkan Reese, Connor harus berhadapan dengan sosok misterius bernama Marcus (Sam Worthington).

Saya tidak pernah membayangkan saat rencana perilisan film Terminator Salvation, yang berada dalam dunia post-apocalyptic, apalagi tanpa kehadiran Arnie sebagai Terminator ikonik, rasanya akan hampa. Ambisi belaka para eksekutif studio untuk melanjutkan franchise tersebut, sungguh diluar imajinasi atas time circulation yang tidak perlu lagi diteruskan, meski karakter sentralnya adalah John Connor.

Premis film ini mencoba mengalihkan sekaligus menghadirkan sedikit elemen suspens melalui kehadiran karakter baru bernama Marcus. Hal itu dibuktikan dalam hubungan yang lambat laun terjalin dengan akrab antara dirinya dengan Kyle Reese remaja yang diperankan dengan baik oleh Anton Yelchin, casting yang pas akan impresi Michael Biehn.

Aktor Sam Worthington yang saat itu lumayan laris dalam film-film berbujet besar namun kualitasnya medioker, berbanding lurus terhadap perannya sebagai Marcus. Sementara Christian Bale yang memerankan John Connor pun terasa sama mediokernya, meski sesekali mengingat masa lalu akan perkataan ibunya (Sarah Connor), melalui sebuah tape recorder yang masih utuh.

Tidak banyak adegan impresif di film ini selain dari “kembalinya Arnie” versi CGI, sebagai proptotipe T-800 model 101 ketika berhadapan dengan John, mengingat ia juga sibuk sebagai gubernur dan sulit untuk jadwal aktingnya. Kembalinya Linda Hamilton melalui perekam suara, serta saat John memutar lagu You Could be Mine-nya Guns N’ Roses, membangkitkan kembali nostalgia kehebatan film T2.

Hadirnya objek ikonik berupa robot raksasa, yakni humanoid Harvesters dalam adegan memburu dan menangkap para Resistance pun cukup impresif. Namun puncaknya terdapat pada adegan munculnya Moto-Terminators dalam pengejaran di jalan raya melalui adegan aksi spektakuler mungkin yang paling memorable. Pesawat Aerial Hunter Killers yang membawa para tahanan manusia, dalam pertempurannya dengan pesawat ‘kuno’ A-10 Thunderbolt, tak kalah menggelegarnya.

Selain Endoskeleton T-800, hadir pula T-600 dan T-700 yang sama sekali tidak menyeramkan namun masih mematikan, serta Hydrobot yang memang desainnya merupakan tipikal film-film science fiction modern. Efek spesial di film memang impresif, mengingat semakin majunya teknologi digital dalam memasuki dekade baru, tidak terbayang jika Cameron membuat film ini di tahun 1984, dengan setting waktu di masa depan dari awal hingga akhir cerita!

Alih-alih rencana stand-alone trilogy, sineas McG sengaja menggunakan tema musik yang berbeda dari film-film sebelumnya, kecuali dalam adegan Arnie CGI. Sayangnya trilogi tersebut tidak pernah terwujud, jadi saya batal bakal menyaksikan kehadiran T-1000 dan T-X, atau bahkan Arnie dan Linda Hamilton yang kembali memerankan perannya masing-masing.

Terminator Salvation meski dianggap kurang menarik, namun tetap setia dalam mengikuti sekaligus mengembangkan ceritanya, tanpa mencela berbagai aspek dari franchise tersebut, jauh lebih baik dibandingkan Genisys!

Score: 2.5 / 4 stars | Pemain: Christian Bale, Sam Worthington, Anton Yelchin, Moon Bloodgood, Bryce Dallas Howard, Common, Michael Ironside, Helena Bonham Carter  | Sutradara: McG | Produser: Derek Anderson, Moritz Borman, Victor Kubicek, Jeffrey Silver | Penulis: Berdasarkan karakter karya James Cameron dan Gale Anne Hurd. Naskah: John Brancato, Michael Ferris | Musik: Danny Elfman | Sinematografi: Shane Hurlbut  | Distributor: Warner Bros Pictures (Amerika Serikat), Columbia Pictures (Internasional) | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 115 Menit

 
Terminator Genisys (2015)
Dunia Sinema Terminator Genisys T-800
Paramount Pictures

Awal cerita memiliki premis yang sama persis dengan film The Terminator (1984), namun ternyata Sarah Connor (Emilia Clarke) dan T-800 versi tua (Arnold Schwarzenegger) mempu membasmi T-800 dan T-1000 antagonis, saat bertemu dengan Kyle Reese (Jai Courtney). Mereka menyadari bahwa di tahun 2017 telah terjadi perubahan jalur di masa depan, sekaligus berencana menghancurkan Skynet dan berhadapan dengan T-3000.

Terminator Genisys adalah bentuk ‘pelecehan’, alih-alih sebagai tribut dari dua film Terminator awal yang begitu superior tanpa tertandingi. Dengan merusak plot cerita sehingga menciptakan circulation time alternatif, tampak jelas semakin membingungkan audiens dengan pemaksaan akan permainan waktu yang meloncat kesana-kemari. Ingin ceritanya seperti film Back to the Future part II (1989)? Jangan harap!

Kecuali Arnie yang tentu saja tak tergantikan, karakter hebat seperti Kyle Reese direndahkan derajatnya oleh akting buruk Jai Courtney yang begitu kaku bagaikan cyborg, hingga terkadang saya sulit membedakan, apakah miscasting atau memang lelucon studio.

Begitu pula karakter Sarah Connor yang diperankan Emilia Clarke begitu heroik belaka tanpa bermakna. Bahkan Christian Bale masih jauh lebih pantas sebagai John Connor dibandingkan Jason Clarke, dan yang paling parah yakni twist mengecewakan terhadap karakter John Connor sendiri!

Tanpa buang-buang waktu mempertanyakan hal-hal detail yang memang tidak perlu, karena lagian dari awal hingga akhir cerita tidak menarik sama sekali, efek spesial terutama polesan CGI akan re-kreasi adegan tibanya T-800 seperti di film The Terminator sedikit menghibur meski penuh dengan kepalsuan, sangat kontras dengan CGI saat transformasi karakter, bagaikan film animasi sesungguhnya.

Film ini mutlak terlupakan dari segala aspek, hingga saya pun lupa akan sosok T-3000 seperti apa, sound akan tema musik dan scoring-nya bagaimana, hingga hal lainnya. Sebagai penggemar Terminator, film ini cukup sekali saya tonton, lalu buang ke tempat sampah.

Score: 0 / 4 stars | Pemain: Arnold Schwarzenegger, Jason Clarke, Emilia Clarke, Jai Courtney, J.K. Simmons, Dayo Okeniyi, Matt Smith, Courtney B. Vance, Lee Byung-hun  | Sutradara: Alan Taylor | Produser: David Ellison, Dana Goldberg | Penulis: Berdasarkan karakter karya James Cameron dan Gale Anne Hurd. Naskah: Laeta Kalogridis, Patrick Lussier | Musik: Lorne Balfe | Sinematografi: Kramer Morgenthau  | Distributor: Paramount Pictures | Negara: Amerika Serikat  | Durasi: 126 Menit

Comments